alexametrics
27.1 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Cara Bahagia di Pengantar Kebahagiaan

Setelah saya membaca antologi puisi Pengantar Kebahagiaan Faidi Rizal Alief ini, ada gaya baru dalam menulis. Dari pertama saya kenal dan berkencan dengan Faidi di Jogjakarta 2006 tidak seperti ini puisinya. 

 

Dalam catatan ini saya akan fokus pada latar belakang judul ini muncul dan bagaimana relasi makna antara judul dengan subjudul puisi. Tulisan hanya sebagai pintu awal untuk kita diskusi. Memahami adalah proses menangkap maksud atau makna dari puisi-puisi yang diucapkan atau dituliskan.

Saya membaca antologi puisi yang berisi 45 judul puisi dalam perspektif filosofis secara garis besar ada dua gerbong. Pertama dalam antologi puisi ini menawarkan ”kesejukan, kedamaian, keindahan, kasih sayang atau kegembiraan”. Kedua menawarkan cara bagaimana kesejukan, kedamaian, keindahan, kasih saying, dan kegembiraan itu dibangun.

Perspektif filosofis bukan kemudian saya ingin membahas satu per satu dalam puisi ini. Tidak. Saya ingin mencari gagasan besar yang terkandung dalam antologi puisi ini, tentu dengan paradigma saya. Paradigma untuk melihat konteks dewasa ini yang booming dengan wacana kekerasan antarpelajar, kekerasan atas nama agama atau keyakinan, perang ideologi, perang karena persoalan identitas struktural dan kultural serta bagaimana antologi puisi ini memberikan jawaban atas persoalan masyarakat.

Antologi puisi ini ada cara (metodologi) untuk berbagi kebahagiaan. Bukan kebahagiaan dalam arti dahir (materi). Akan tetapi, kebahagiaan dalam arti kebahagiaan seseorang yang mampu menggapai ketenangan dalam menjalani kehidupan. Mengapa? Di tengah gempuran ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dan kompleks, orang-orang semakin sulit menemukan kegembiraan. Semakin sulit menemukan kebahagiaan dan semakin sulit menemukan kedamaian. Tentu kebahagiaan yang menggembirakan dan membahagiakan.

Antologi puisi ini hadir untuk memberi metode baru (angin segar) bagi pembaca bahwa kegembiraan, kebahagiaan dan kedamaian masih ada. Maka, dibutuhkan cara atau metode untuk menguak agar muncul ke permukaan sebagai relasi dialektika bagi kita.

Baca Juga :  Dhari Sakeng Bungana, Manggana Esonsona

Ada 17 judul puisi yang menjadi jembatan untuk menuju rumah kegembiraan, kebahagiaan, dan kedamaian. Salah satunya puisi Pohon Kenangan;

 

Telah basah tubuhku mencari jalan. Lorong kosong menuju kebun kenangan

Berkali-kali aku padamkan lampu. Kulirik rembulan dari balik pintu

 

Mendesak masuk sajak yang berimpitan. Dari luka ke luka kubertahan

Aku menyusuri pasir dan batu. Bergilir kumengalir rindu ke rindu

 

Tidak ada keputusasaan dalam puisi ini. Ia terus berjalan mencari, belajar, hingga menemukan kebun-kebun kenangan yang berserakan. Ia terus masuk walau berimpitan dengan kesumat kompleksitas kemanusiaan. Ia terus bergerak maju walau luka. Mengapa? Karena di perjalanan selalu ada rindu.

Kerinduan itulah yang ternyata membuat kita semakin kuat untuk menuju rumah kedamaian dan kegembiraan. Kerinduan seperti apa yang membuat seseorang semakin kuat untuk terus berjalan dan membangun rumah kedamaian? Ketika seseorang di mabuk rindu, ia tidak akan mau untuk sembuh. Apalagi dimabuk cinta.

Adalah kerinduan yang hijau (Kuberteduh di bawah pohon rindu). Sebab kehijauan tempat yang teduh. Dan di dalam keteduhan itulah hati damai. Dan di dalam kedamaian itulah (Aku menyandarkan hati pada rindu), jadilah manusia yang selalu rindu (dengan cinta baru). Dengan kerinduan seseorang akan menemukan kegembiraan baru (fresh love). Artinya pengetahuan kita harus selalu di-update agar hujan rindu dalam pikiran dan hati kita tak henti-henti mengalir.

Ketika pikiran dan hati kita hujan rindu, kedamaian dan kegembiraan akan tercipta. Bagaimana caranya untuk membangun perkampungan puisi yang penuh kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan? Adalah dengan membangun rumah;

Rumahku

 

Akhirnya selesai juga rumah tenang. Rumah yang kubangun untuk berlindung

Tinggal aku buat halaman belakang. Tempat menanam rindu dengan senang

 

Halaman depan aku bikin persegi. Bunga-bunga bermekaran tiap hari

Baca Juga :  Kades Basoka Dukung Bambang Heriyanto

Pagar tegak, rapi, kubuat sendiri. Hati terasa nyaman menyimpan mimpi

 

Di sini aku hidup berkecukupan. Aku menata hidup tak berlebihan

Tiap hari aku bersenyuman. Tiap malam mimpi indah berdenyaran

 

Ini rumahku, rumah yang sederhana. Tempatku berlindung dari banyak dosa

Selalu aku buka pintu, jendela. Doa-doa datang menyalakan mata

 

Sebab kita akan berakhir pada satu titik. Titik itu adalah sebuah perkampungan. Perkampungan itu boleh apa saja. Terserah Anda mau diisi apa. Tapi yang jelas, antologi puisi ini mengajak kita untuk selalu memberi kegembiraan kepada siapa pun dan kapan pun (rahmatan lil alamin) dengan cara kita harus menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain.

Kegembiraan bagi puisi Rizal sederhana, yaitu cukup kita membangun rumah. Hiasilah rumah itu dengan kesejukan. Untuk menjadi sejuk sebuah rumah, tanamilah ia bunga-bunga, pohon, tumbuhan atau kehijauan dan siramlah ia dengan rindu.

Seorang petani akan selalu rindu bertani, rindu mata cangkul, rindu buah, karena rindu si petani terus berjuang agar apa yang dia tanam menjadi lebat, rimbun dan subur. Maka ketika kerinduan untuk membangun kedamaian, kegembiraan, dan kedamaian kita akan sampai;

Pada Akhirnya

 

Pada akhirnya aku cukup diam. Menyaksikan petani tak pernah diam

Gagal panen tahun lalu dibuang. Hujan sehari tak mampu dibendung

 

Pada akhirnya aku menutup pintu. Dalam sunyi aku mengirim doaku

Semoga akar masih akan menjalar. Hingga mereka memetik buah segar

 

Kumpulan puisi Pengantar Kebahagiaan ini lebih banyak membahas persoalan tani. Dari 45 puisi yang ada, 20 membahas tani, pohon, atau sesuatu yang hidup dan hijau. Semoga antologi puisi ini menjadi pintu awal dalam menapaki keberlanjutan. Amin. 

 

*)Esais, penyair, dosen di STKIP PGRI Sumenep.

Setelah saya membaca antologi puisi Pengantar Kebahagiaan Faidi Rizal Alief ini, ada gaya baru dalam menulis. Dari pertama saya kenal dan berkencan dengan Faidi di Jogjakarta 2006 tidak seperti ini puisinya. 

 

Dalam catatan ini saya akan fokus pada latar belakang judul ini muncul dan bagaimana relasi makna antara judul dengan subjudul puisi. Tulisan hanya sebagai pintu awal untuk kita diskusi. Memahami adalah proses menangkap maksud atau makna dari puisi-puisi yang diucapkan atau dituliskan.


Saya membaca antologi puisi yang berisi 45 judul puisi dalam perspektif filosofis secara garis besar ada dua gerbong. Pertama dalam antologi puisi ini menawarkan ”kesejukan, kedamaian, keindahan, kasih sayang atau kegembiraan”. Kedua menawarkan cara bagaimana kesejukan, kedamaian, keindahan, kasih saying, dan kegembiraan itu dibangun.

Perspektif filosofis bukan kemudian saya ingin membahas satu per satu dalam puisi ini. Tidak. Saya ingin mencari gagasan besar yang terkandung dalam antologi puisi ini, tentu dengan paradigma saya. Paradigma untuk melihat konteks dewasa ini yang booming dengan wacana kekerasan antarpelajar, kekerasan atas nama agama atau keyakinan, perang ideologi, perang karena persoalan identitas struktural dan kultural serta bagaimana antologi puisi ini memberikan jawaban atas persoalan masyarakat.

Antologi puisi ini ada cara (metodologi) untuk berbagi kebahagiaan. Bukan kebahagiaan dalam arti dahir (materi). Akan tetapi, kebahagiaan dalam arti kebahagiaan seseorang yang mampu menggapai ketenangan dalam menjalani kehidupan. Mengapa? Di tengah gempuran ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dan kompleks, orang-orang semakin sulit menemukan kegembiraan. Semakin sulit menemukan kebahagiaan dan semakin sulit menemukan kedamaian. Tentu kebahagiaan yang menggembirakan dan membahagiakan.

Antologi puisi ini hadir untuk memberi metode baru (angin segar) bagi pembaca bahwa kegembiraan, kebahagiaan dan kedamaian masih ada. Maka, dibutuhkan cara atau metode untuk menguak agar muncul ke permukaan sebagai relasi dialektika bagi kita.

Baca Juga :  Baperwil Launching Kerja Sama Antar Daerah

Ada 17 judul puisi yang menjadi jembatan untuk menuju rumah kegembiraan, kebahagiaan, dan kedamaian. Salah satunya puisi Pohon Kenangan;

 

Telah basah tubuhku mencari jalan. Lorong kosong menuju kebun kenangan

Berkali-kali aku padamkan lampu. Kulirik rembulan dari balik pintu

 

Mendesak masuk sajak yang berimpitan. Dari luka ke luka kubertahan

Aku menyusuri pasir dan batu. Bergilir kumengalir rindu ke rindu

 

Tidak ada keputusasaan dalam puisi ini. Ia terus berjalan mencari, belajar, hingga menemukan kebun-kebun kenangan yang berserakan. Ia terus masuk walau berimpitan dengan kesumat kompleksitas kemanusiaan. Ia terus bergerak maju walau luka. Mengapa? Karena di perjalanan selalu ada rindu.

Kerinduan itulah yang ternyata membuat kita semakin kuat untuk menuju rumah kedamaian dan kegembiraan. Kerinduan seperti apa yang membuat seseorang semakin kuat untuk terus berjalan dan membangun rumah kedamaian? Ketika seseorang di mabuk rindu, ia tidak akan mau untuk sembuh. Apalagi dimabuk cinta.

Adalah kerinduan yang hijau (Kuberteduh di bawah pohon rindu). Sebab kehijauan tempat yang teduh. Dan di dalam keteduhan itulah hati damai. Dan di dalam kedamaian itulah (Aku menyandarkan hati pada rindu), jadilah manusia yang selalu rindu (dengan cinta baru). Dengan kerinduan seseorang akan menemukan kegembiraan baru (fresh love). Artinya pengetahuan kita harus selalu di-update agar hujan rindu dalam pikiran dan hati kita tak henti-henti mengalir.

Ketika pikiran dan hati kita hujan rindu, kedamaian dan kegembiraan akan tercipta. Bagaimana caranya untuk membangun perkampungan puisi yang penuh kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan? Adalah dengan membangun rumah;

Rumahku

 

Akhirnya selesai juga rumah tenang. Rumah yang kubangun untuk berlindung

Tinggal aku buat halaman belakang. Tempat menanam rindu dengan senang

 

Halaman depan aku bikin persegi. Bunga-bunga bermekaran tiap hari

Baca Juga :  Matangkan Persiapan Madura Awards, Radar Madura Temui Bupati Sumenep

Pagar tegak, rapi, kubuat sendiri. Hati terasa nyaman menyimpan mimpi

 

Di sini aku hidup berkecukupan. Aku menata hidup tak berlebihan

Tiap hari aku bersenyuman. Tiap malam mimpi indah berdenyaran

 

Ini rumahku, rumah yang sederhana. Tempatku berlindung dari banyak dosa

Selalu aku buka pintu, jendela. Doa-doa datang menyalakan mata

 

Sebab kita akan berakhir pada satu titik. Titik itu adalah sebuah perkampungan. Perkampungan itu boleh apa saja. Terserah Anda mau diisi apa. Tapi yang jelas, antologi puisi ini mengajak kita untuk selalu memberi kegembiraan kepada siapa pun dan kapan pun (rahmatan lil alamin) dengan cara kita harus menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain.

Kegembiraan bagi puisi Rizal sederhana, yaitu cukup kita membangun rumah. Hiasilah rumah itu dengan kesejukan. Untuk menjadi sejuk sebuah rumah, tanamilah ia bunga-bunga, pohon, tumbuhan atau kehijauan dan siramlah ia dengan rindu.

Seorang petani akan selalu rindu bertani, rindu mata cangkul, rindu buah, karena rindu si petani terus berjuang agar apa yang dia tanam menjadi lebat, rimbun dan subur. Maka ketika kerinduan untuk membangun kedamaian, kegembiraan, dan kedamaian kita akan sampai;

Pada Akhirnya

 

Pada akhirnya aku cukup diam. Menyaksikan petani tak pernah diam

Gagal panen tahun lalu dibuang. Hujan sehari tak mampu dibendung

 

Pada akhirnya aku menutup pintu. Dalam sunyi aku mengirim doaku

Semoga akar masih akan menjalar. Hingga mereka memetik buah segar

 

Kumpulan puisi Pengantar Kebahagiaan ini lebih banyak membahas persoalan tani. Dari 45 puisi yang ada, 20 membahas tani, pohon, atau sesuatu yang hidup dan hijau. Semoga antologi puisi ini menjadi pintu awal dalam menapaki keberlanjutan. Amin. 

 

*)Esais, penyair, dosen di STKIP PGRI Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/