alexametrics
21.3 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Mendag Lutfi: Anggota WTO Harus Jalankan Fungsi untuk Atasi Krisis Global

JAKARTA – Semua anggota World Trade Organization (WTO) diingatkan untuk menjalankan fungsi organisasi dan sepenuhnya menerima manfaat dari sistem perdagangan multilateral. Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi.

Lutfi minta agar WTO bisa menjadi bagian solusi dalam mengatasi krisis ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan keamanan. Penegasan itu disampaikan dalam rekaman pernyataan umum pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-12 WTO di Jenewa, Swiss pada 12–15 Juni 2022.

Dijelaskan, Indonesia ingin berkontribusi untuk memajukan negosiasi pertanian. Sebab, pertanian tetap menjadi pilar ekonomi bagi banyak anggota WTO. Khususnya negara berkembang dan negara kurang berkembang (least developed countries/LDCs).

”Anggota WTO perlu mengatasi isu-isu krusial. Termasuk ketahanan pangan, kesejahteraan, dan pembangunan perdesaan,” tegas Lutfi.

Sebelumnya, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Djatmiko B. Witjaksono mewakili Mendag Lutfi memimpin pertemuan Kelompok G33 di Jenewa, Minggu (12/6). Sebagai Koordinator Kelompok Indonesia mendorong agar semua anggota G33 terus memperkuat persatuan dan solidaritas dalam memperjuangkan kepentingan negara berkembang dan LDCs.

Anggota G33 sepakat bahwa isu ketahanan pangan dan pertanian menjadi paket kebijakan pada KTM ke-12 WTO. Beberapa isu prioritas lainnya antara lain ketahanan pangan, stok pangan untuk ketahanan pangan (public stockholding for food security purposes) dan special safeguard Mmchanism sebagai instrumen perlindungan kepada petani kecil saat terjadinya lonjakan impor.

Baca Juga :  Mendag Lutfi Pimpin Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN

”Kelompok G33 berkepentingan untuk mengawal isu tersebut. Sebab, berpengaruh terhadap kebutuhan stok pangan serta ketahanan pangan,” kata Djatmiko.

Dalam pertemuan Cairns Group (CG) yang digelar Minggu (12/6), Djatmiko juga mengingatkan perlunya mengakomodasi kepentingan negara berkembang seperti Indonesia dan LDCs terkait subsidi domestik (domestic support) pertanian yang mendistorsi perdagangan dunia. CG merupakan kelompok anggota WTO yang mengekspor produk pertanian.

Lutfi menuturkan, sistem perdagangan multilateral memiliki peran untuk mempromosikan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs). Salah satunya terkait subsidi perikanan yang dapat mencegah kerusakan laut yang lebih parah.

Indonesia setuju bahwa prinsip dasar disiplin perikanan adalah memastikan pengurangan yang signifikan dari subsidi berbahaya yang berkontribusi pada penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, tidak diatur (IUUF).

”Disiplin tersebut tidak boleh mengabaikan tujuan pembangunan negara-negara yang mengandalkan perikanan rakyat dan skala kecil untuk ekonomi lokal serta pengentasan kemiskinan,” ulasnya.

Perihal penangguhan kekayaan intelektual pada persetujuan Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights(TRIPs), Lutfi menegaskan pentingnya respons WTO terhadap pandemi.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Sempat Baikot Anggaran untuk Tiga OPD

”Kita harus menunjukkan bahwa WTO dapat mengatasi hambatan utama terhadap akses universal dan setara untuk vaksin Covid-19, barang penting, dan teknologi. Saya percaya TRIPs Waiver menjadi bagian utama dan menjadi jawaban WTO pada dunia dalam penanganan pandemi,” kata Lutfi.

Sekilas tentang Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO merupakan pertemuan pengambilan keputusan tertinggi di WTO dan diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Pertemuan terakhir dilaksanakan pada 2017 di Argentina.

Pertemuan KTM WTO ke-12 seharusnya dilaksanakan pada 2019 dan membahas beberapa isu. Antara lain, pembahasan respons WTO terhadap pandemi, termasuk penangguhan kekayaan intelektual pada persetujuan TRIPs, reformasi aturan sektor pertanian, subsidi perikanan, moratorium bea masuk atas transmisi elektronik.

”Reformasi WTO KTM ke-12 WTO diharapkan dapat menyepakati beberapa isu prioritas dengan hasil berupa keputusan, program kerja, dan deklarasi,” ulasnya.

Dalam pembukaan KTM ke-12 WTO Minggu (12/6), Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala mendesak anggota WTO agar memberjkan kontribusi nyata kepada masyarakat internasional. ”Saat dunia bergulat dengan ketidakpastian dan krisis di berbagai bidang,” pungkas Ngozi. (*/par)

JAKARTA – Semua anggota World Trade Organization (WTO) diingatkan untuk menjalankan fungsi organisasi dan sepenuhnya menerima manfaat dari sistem perdagangan multilateral. Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi.

Lutfi minta agar WTO bisa menjadi bagian solusi dalam mengatasi krisis ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan keamanan. Penegasan itu disampaikan dalam rekaman pernyataan umum pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-12 WTO di Jenewa, Swiss pada 12–15 Juni 2022.

Dijelaskan, Indonesia ingin berkontribusi untuk memajukan negosiasi pertanian. Sebab, pertanian tetap menjadi pilar ekonomi bagi banyak anggota WTO. Khususnya negara berkembang dan negara kurang berkembang (least developed countries/LDCs).


”Anggota WTO perlu mengatasi isu-isu krusial. Termasuk ketahanan pangan, kesejahteraan, dan pembangunan perdesaan,” tegas Lutfi.

Sebelumnya, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Djatmiko B. Witjaksono mewakili Mendag Lutfi memimpin pertemuan Kelompok G33 di Jenewa, Minggu (12/6). Sebagai Koordinator Kelompok Indonesia mendorong agar semua anggota G33 terus memperkuat persatuan dan solidaritas dalam memperjuangkan kepentingan negara berkembang dan LDCs.

Anggota G33 sepakat bahwa isu ketahanan pangan dan pertanian menjadi paket kebijakan pada KTM ke-12 WTO. Beberapa isu prioritas lainnya antara lain ketahanan pangan, stok pangan untuk ketahanan pangan (public stockholding for food security purposes) dan special safeguard Mmchanism sebagai instrumen perlindungan kepada petani kecil saat terjadinya lonjakan impor.

Baca Juga :  Jadi BA, Cinta Laura: What I Love is BRI, Perempuan Bisa Memulai Bisnis

”Kelompok G33 berkepentingan untuk mengawal isu tersebut. Sebab, berpengaruh terhadap kebutuhan stok pangan serta ketahanan pangan,” kata Djatmiko.

Dalam pertemuan Cairns Group (CG) yang digelar Minggu (12/6), Djatmiko juga mengingatkan perlunya mengakomodasi kepentingan negara berkembang seperti Indonesia dan LDCs terkait subsidi domestik (domestic support) pertanian yang mendistorsi perdagangan dunia. CG merupakan kelompok anggota WTO yang mengekspor produk pertanian.

Lutfi menuturkan, sistem perdagangan multilateral memiliki peran untuk mempromosikan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs). Salah satunya terkait subsidi perikanan yang dapat mencegah kerusakan laut yang lebih parah.

Indonesia setuju bahwa prinsip dasar disiplin perikanan adalah memastikan pengurangan yang signifikan dari subsidi berbahaya yang berkontribusi pada penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, tidak diatur (IUUF).

”Disiplin tersebut tidak boleh mengabaikan tujuan pembangunan negara-negara yang mengandalkan perikanan rakyat dan skala kecil untuk ekonomi lokal serta pengentasan kemiskinan,” ulasnya.

Perihal penangguhan kekayaan intelektual pada persetujuan Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights(TRIPs), Lutfi menegaskan pentingnya respons WTO terhadap pandemi.

Baca Juga :  Pemerintah Implementasikan SINSW untuk Permudah Perizinan Ekspor Impor

”Kita harus menunjukkan bahwa WTO dapat mengatasi hambatan utama terhadap akses universal dan setara untuk vaksin Covid-19, barang penting, dan teknologi. Saya percaya TRIPs Waiver menjadi bagian utama dan menjadi jawaban WTO pada dunia dalam penanganan pandemi,” kata Lutfi.

Sekilas tentang Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO merupakan pertemuan pengambilan keputusan tertinggi di WTO dan diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Pertemuan terakhir dilaksanakan pada 2017 di Argentina.

Pertemuan KTM WTO ke-12 seharusnya dilaksanakan pada 2019 dan membahas beberapa isu. Antara lain, pembahasan respons WTO terhadap pandemi, termasuk penangguhan kekayaan intelektual pada persetujuan TRIPs, reformasi aturan sektor pertanian, subsidi perikanan, moratorium bea masuk atas transmisi elektronik.

”Reformasi WTO KTM ke-12 WTO diharapkan dapat menyepakati beberapa isu prioritas dengan hasil berupa keputusan, program kerja, dan deklarasi,” ulasnya.

Dalam pembukaan KTM ke-12 WTO Minggu (12/6), Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala mendesak anggota WTO agar memberjkan kontribusi nyata kepada masyarakat internasional. ”Saat dunia bergulat dengan ketidakpastian dan krisis di berbagai bidang,” pungkas Ngozi. (*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/