alexametrics
19.5 C
Madura
Tuesday, August 9, 2022

Pengembangan Pariwisata Miskin Inovasi

PAMEKASAN – Pemerintah dinilai miskin inovasi dalam pengembangan pariwisata. Sejumlah destinasi yang dikelola pemkab dibiarkan tanpa perubahan. Akibatnya, wisatawan lebih tertarik berkunjung ke lokasi wisata yang dikembangkan swasta.

Forum Pemuda Sadar Wisata (Pasta) Homaidi mengatakan, sejak dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) dibentuk, belum ada pengembangan signifikan terhadap destinasi wisata. Sejumlah objek dibiarkan dalam kondisi rusak. Pantai Jumiang adalah salah satu destinasi wisata andalan.

Objek wisata di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu itu sempat menjadi jujukan wisatawan. Namun, mulai ditinggalkan lantaran fasilitasnya dibiarkan rusak. Fasilitas yang ada, seperti gazebo dan sarana bermain rusak. Bahkan, hamparan pasirnya tergerus abrasi. ”Kondisi seperti ini (rusak) dibiarkan sampai sekarang,” katanya Rabu (13/9).

Pantai Talang Siring bernasib sama. Pengelolaannya cenderung monoton. Kolam renang yang dibangun lengkap dengan air mancur itu kurang mendapat perawatan dengan baik. Sebagian pohon cemara yang menghiasi kolam tersebut kering.

Baca Juga :  Ngaku Tak Punya Anggaran, Disparbud Belum Bisa Rawat Cagar Budaya

Akibatnya, aksesori wisata yang menghabiskan Rp 800 juta itu tidak mampu mendongkrak jumlah pengunjung. ”Pantai Jumiang dan Talang Siring sangat sepi pengunjung. Kalaupun ada (pengunjung), hanya akhir pekan, itu pun jumlahnya tidak seberapa,” katanya.

Selain dua destinasi itu, objek wisata yang masih dijujuki wisatawan adalah Api Tak Kunjung Padam. Sayang, hingga sekarang ikon wisata Pamekasan itu dikelola swasta. Pemerintah belum berhasil menjalin kerja sama dengan pemilik lahan.

Homaidi mengatakan, pemerintah butuh suntikan inovasi. Pengembangan pariwisata khas dan kekinian harus menjadi prioritas utama. Jika pengembangan wisata Pamekasan hanya meniru daerah lain, diyakini tidak akan mampu mendongkrak jumlah pengunjung.

Sebab, daerah lain sudah lebih dulu mengemas potensi alamnya menjadi objek pariwisata. Sementara Pamekasan baru mau memulai. ”Sektor pariwisata sangat berdampak pada peningkatan perekonomian jika dikembangkan dengan baik,” katanya.

Baca Juga :  Melanggar, Pj Bupati Bangkalan Kembalikan 144 Pejabat

Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifudin mengatakan, instansinya baru terbentuk pasca ada perubahan struktur organisasi perangkat daerah (OPD) baru. Dengan demikian, program kerja yang dimulai dari nol, butuh proses dan penyesuaian.

Meski demikian, pemerintah akan terus berupaya mengembangkan pariwisata agar bisa membantu meningkatkan perekonomian warga. Kemudian, juga mampu menyumbang kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Achmad meminta dukungan dari semua pihak. Sebab, tanpa dukungan dari seluruh elemen masyarakat, pengembangan pariwisata sulit terwujud. ”Mari sama-sama mendukung pengembangan sektor pariwisata,” tandasnya. 

PAMEKASAN – Pemerintah dinilai miskin inovasi dalam pengembangan pariwisata. Sejumlah destinasi yang dikelola pemkab dibiarkan tanpa perubahan. Akibatnya, wisatawan lebih tertarik berkunjung ke lokasi wisata yang dikembangkan swasta.

Forum Pemuda Sadar Wisata (Pasta) Homaidi mengatakan, sejak dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) dibentuk, belum ada pengembangan signifikan terhadap destinasi wisata. Sejumlah objek dibiarkan dalam kondisi rusak. Pantai Jumiang adalah salah satu destinasi wisata andalan.

Objek wisata di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu itu sempat menjadi jujukan wisatawan. Namun, mulai ditinggalkan lantaran fasilitasnya dibiarkan rusak. Fasilitas yang ada, seperti gazebo dan sarana bermain rusak. Bahkan, hamparan pasirnya tergerus abrasi. ”Kondisi seperti ini (rusak) dibiarkan sampai sekarang,” katanya Rabu (13/9).


Pantai Talang Siring bernasib sama. Pengelolaannya cenderung monoton. Kolam renang yang dibangun lengkap dengan air mancur itu kurang mendapat perawatan dengan baik. Sebagian pohon cemara yang menghiasi kolam tersebut kering.

Baca Juga :  Ringankan Beban Korban Banjir, BRI Salurkan Bantuan ke Warga Banten dan Jabar

Akibatnya, aksesori wisata yang menghabiskan Rp 800 juta itu tidak mampu mendongkrak jumlah pengunjung. ”Pantai Jumiang dan Talang Siring sangat sepi pengunjung. Kalaupun ada (pengunjung), hanya akhir pekan, itu pun jumlahnya tidak seberapa,” katanya.

Selain dua destinasi itu, objek wisata yang masih dijujuki wisatawan adalah Api Tak Kunjung Padam. Sayang, hingga sekarang ikon wisata Pamekasan itu dikelola swasta. Pemerintah belum berhasil menjalin kerja sama dengan pemilik lahan.

Homaidi mengatakan, pemerintah butuh suntikan inovasi. Pengembangan pariwisata khas dan kekinian harus menjadi prioritas utama. Jika pengembangan wisata Pamekasan hanya meniru daerah lain, diyakini tidak akan mampu mendongkrak jumlah pengunjung.

Sebab, daerah lain sudah lebih dulu mengemas potensi alamnya menjadi objek pariwisata. Sementara Pamekasan baru mau memulai. ”Sektor pariwisata sangat berdampak pada peningkatan perekonomian jika dikembangkan dengan baik,” katanya.

Baca Juga :  Pembangunan Wisata Mangrove Lamban

Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifudin mengatakan, instansinya baru terbentuk pasca ada perubahan struktur organisasi perangkat daerah (OPD) baru. Dengan demikian, program kerja yang dimulai dari nol, butuh proses dan penyesuaian.

Meski demikian, pemerintah akan terus berupaya mengembangkan pariwisata agar bisa membantu meningkatkan perekonomian warga. Kemudian, juga mampu menyumbang kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Achmad meminta dukungan dari semua pihak. Sebab, tanpa dukungan dari seluruh elemen masyarakat, pengembangan pariwisata sulit terwujud. ”Mari sama-sama mendukung pengembangan sektor pariwisata,” tandasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/