alexametrics
30.2 C
Madura
Monday, July 4, 2022

Indonesia dan Bosnia Eratkan Kerja Sama Perdagangan dan Investasi

JAKARTA – Indonesia dan Bosnia sepakat mendorong kerja sama ekonomi yang lebih intensif serta memanfaatkan potensi perdagangan dan investasi yang dimiliki oleh kedua pihak. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Luar Negeri Bosnia dan Herzegovina Y.M. Bisera Turkovic di kantor Kemenko Perekonomian, Senin (13/6).

Pada kesempatan tersebut, Menlu Turkovic menyampaikan, kerja sama antar kamar dagang dan industri (Kadin) kedua negara dapat membantu mendorong upaya peningkatan kerja sama ekonomi.

Menanggapi pernyataan Menlu Turkovic, Airlangga menegaskan dukungannya untuk meningkatkan kerja sama di sektor industri pertahanan dan business-to-business, termasuk kerja sama hospitality.

”Pelaku bisnis antar kedua negara penting untuk saling mengunjungi negara satu sama lain. Indonesia percaya bahwa kedekatan historis serta hubungan bilateral yang baik sejak puluhan tahun yang lalu dapat dijadikan sebagai modal dasar bagi setiap langkah strategis. Tujuannya, mengeksplorasi lebih lanjut setiap potensi kerja sama antara Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina,” kata Airlangga.

Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina memiliki potensi yang besar dalam aspek perdagangan. Nilai perdagangan antara kedua negara pada 2021 tercatat USD 1,85 juta. Komoditas unggulan Indonesia yang diekspor ke Bosnia adalah cocoa powder (USD 188 ribu), musical instruments (USD 45 ribu), dan telephones sets (USD 44 ribu).

Baca Juga :  Jadi Motor Penggerak Ekonomi Nasional dan Global

Sedangkan komoditas impor utama Indonesia dari Bosnia adalah centrifuges (USD 439 ribu), footwear with outers and uppers of rubber (USD 226 ribu), dan footwear with uppers other than rubber (USD 95 ribu).

”Bosnia dan Herzegovina terbuka dan mendukung masuknya komoditas minyak sawit asal Indonesia. Termasuk menawarkan Indonesia untuk berinvestasi di sektor produk makanan di Bosnia dan Herzegovina,” kata Menlu Turkovic.

Sebagai informasi, saat ini terdapat pabrik mi instan Indomie di wilayah Serbia. Pemerintah Bosnia dan Herzegovina menawarkan agar pabrik yang sama dapat dibuka di wilayah Bosnia dan Herzegovina.

Salah satu tantangan dari upaya penguatan kerja sama bidang ekonomi antara kedua negara adalah hambatan logistik untuk melakukan perdagangan langsung dengan Bosnia dan Herzegovina. Hambatan tersebut disebabkan oleh kondisi geografi Bosnia dan Herzegovina serta ketergantungan pada pelabuhan negara tetangga untuk arus keluar masuk barang.

Menlu Turkovic pada kesempatan tersebut mengusulkan agar kedua pihak mulai membahas secara intensif terkait pembentukan direct connection dari Jakarta ke Sarajevo, begitu juga sebaliknya.

Baca Juga :  Airlangga: Halal Bihalal Golkar Momen Persiapkan Kemenangan 2024

Airlangga dan Menlu Turkovic juga membahas kondisi terkini dari dampak konflik di Ukraina, khususnya untuk Kawasan Balkan Barat. Keduanya berdiskusi terkait energy security dan food security yang saat ini menjadi perhatian banyak negara di dunia.

Menlu Turkovic menyampaikan bahwa untuk saat ini negaranya tidak mengimpor banyak gandum dari Ukraina. Sehingga, bisa dipastikan imbas buruk dari konflik di sektor pangan kecil kemungkinan terjadi.

Pada akhir pertemuan, Menlu Turkovic juga menginformasikan bahwa salah satu fokus dari pemerintah Bosnia adalah meningkatkan kerja sama di bidang militer/pertahanan dengan Indonesia. Kususnya dengan PT Pindad.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga didampingi Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Edi P. Pambudi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina Roem Kono, serta Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Eropa, Afrika, dan Timur Tengah Fajar Wirawan Harijo.

Sementara, Menlu Turkovic didampingi oleh Chief of Cabinet Denis Hadžović, Minister-Counselor Šaban Forić, Advisor of the Cabinet Samir Karić, serta Duta Besar Bosnia, dan Herzegovina untuk RI Mehmed Halilović. (dep7/ltg/fsr/*/par)

JAKARTA – Indonesia dan Bosnia sepakat mendorong kerja sama ekonomi yang lebih intensif serta memanfaatkan potensi perdagangan dan investasi yang dimiliki oleh kedua pihak. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Luar Negeri Bosnia dan Herzegovina Y.M. Bisera Turkovic di kantor Kemenko Perekonomian, Senin (13/6).

Pada kesempatan tersebut, Menlu Turkovic menyampaikan, kerja sama antar kamar dagang dan industri (Kadin) kedua negara dapat membantu mendorong upaya peningkatan kerja sama ekonomi.

Menanggapi pernyataan Menlu Turkovic, Airlangga menegaskan dukungannya untuk meningkatkan kerja sama di sektor industri pertahanan dan business-to-business, termasuk kerja sama hospitality.


”Pelaku bisnis antar kedua negara penting untuk saling mengunjungi negara satu sama lain. Indonesia percaya bahwa kedekatan historis serta hubungan bilateral yang baik sejak puluhan tahun yang lalu dapat dijadikan sebagai modal dasar bagi setiap langkah strategis. Tujuannya, mengeksplorasi lebih lanjut setiap potensi kerja sama antara Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina,” kata Airlangga.

Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina memiliki potensi yang besar dalam aspek perdagangan. Nilai perdagangan antara kedua negara pada 2021 tercatat USD 1,85 juta. Komoditas unggulan Indonesia yang diekspor ke Bosnia adalah cocoa powder (USD 188 ribu), musical instruments (USD 45 ribu), dan telephones sets (USD 44 ribu).

Baca Juga :  Perolehan Suara Sesuai Nomor Urut Paslon

Sedangkan komoditas impor utama Indonesia dari Bosnia adalah centrifuges (USD 439 ribu), footwear with outers and uppers of rubber (USD 226 ribu), dan footwear with uppers other than rubber (USD 95 ribu).

”Bosnia dan Herzegovina terbuka dan mendukung masuknya komoditas minyak sawit asal Indonesia. Termasuk menawarkan Indonesia untuk berinvestasi di sektor produk makanan di Bosnia dan Herzegovina,” kata Menlu Turkovic.

Sebagai informasi, saat ini terdapat pabrik mi instan Indomie di wilayah Serbia. Pemerintah Bosnia dan Herzegovina menawarkan agar pabrik yang sama dapat dibuka di wilayah Bosnia dan Herzegovina.

Salah satu tantangan dari upaya penguatan kerja sama bidang ekonomi antara kedua negara adalah hambatan logistik untuk melakukan perdagangan langsung dengan Bosnia dan Herzegovina. Hambatan tersebut disebabkan oleh kondisi geografi Bosnia dan Herzegovina serta ketergantungan pada pelabuhan negara tetangga untuk arus keluar masuk barang.

Menlu Turkovic pada kesempatan tersebut mengusulkan agar kedua pihak mulai membahas secara intensif terkait pembentukan direct connection dari Jakarta ke Sarajevo, begitu juga sebaliknya.

Baca Juga :  Partai Belum Setor Rekening Kampanye

Airlangga dan Menlu Turkovic juga membahas kondisi terkini dari dampak konflik di Ukraina, khususnya untuk Kawasan Balkan Barat. Keduanya berdiskusi terkait energy security dan food security yang saat ini menjadi perhatian banyak negara di dunia.

Menlu Turkovic menyampaikan bahwa untuk saat ini negaranya tidak mengimpor banyak gandum dari Ukraina. Sehingga, bisa dipastikan imbas buruk dari konflik di sektor pangan kecil kemungkinan terjadi.

Pada akhir pertemuan, Menlu Turkovic juga menginformasikan bahwa salah satu fokus dari pemerintah Bosnia adalah meningkatkan kerja sama di bidang militer/pertahanan dengan Indonesia. Kususnya dengan PT Pindad.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga didampingi Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Edi P. Pambudi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina Roem Kono, serta Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Eropa, Afrika, dan Timur Tengah Fajar Wirawan Harijo.

Sementara, Menlu Turkovic didampingi oleh Chief of Cabinet Denis Hadžović, Minister-Counselor Šaban Forić, Advisor of the Cabinet Samir Karić, serta Duta Besar Bosnia, dan Herzegovina untuk RI Mehmed Halilović. (dep7/ltg/fsr/*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/