alexametrics
21.3 C
Madura
Saturday, October 1, 2022

Beri Layanan Terbaik ke Nasabah, BRI Pakai Strategi Hybrid Bank

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berkomitmen merealisasikan salah satu aspirasi besarnya pada 2025, yaitu menjadi Champion of Financial Inclusion. Karena itu, bank terbesar milik negara tersebut mengusung konsep hybrid bank agar mampu melayani seluruh lapisan masyarakat hingga pelosok negeri di era transformasi digital.

Dirut BRI Sunarso mengatakan, perseroan berupaya keras mendidik dan mengajarkan masyarakat untuk masuk ke ekosistem keuangan dengan tidak membeda-bedakan. Terlebih di era digital, BRI tidak hanya melayani masyarakat yang bisa disentuh dengan digital saja. Tapi juga melayani yang belum melek digital.

“Karena itu strategi hybrid bank yang paling tepat bagi BRI. Tidak melulu digital, tapi tidak juga melulu konvensional. Nanti masyarakat bertransformasi menjadi masyarakat digital, kita siapkan dengan digital banking. Nasabah sekarang masih ada yang harus dilayani secara manual, bahkan didatangi ke kampung dan desa. Mereka membutuhkan kehadiran BRI,” ujar Sunarso.

Berdasar Laporan Keuangan BRI hingga akhir Kuartal II 2022, kontribusi transaksi melalui outlet konvensional kantor hanya 1,9 % dibanding total transaksi. Persentase itu berbanding jauh dengan transaksi e-channel yang mencapai 98,1 %. Di dalamnya termasuk transaksi dari ATM, CDM, BRILink, BRIMO dan internet banking.

Baca Juga :  Polisi Buru Pembuang Bayi Malang

Untuk merealisasikan hybrid bank, kini BRI memiliki sumber daya yang sangat memadai. Hingga semester I/2022, BRI memiliki branchless network melalui Agen BRILink sebanyak 570 ribu di seluruh Tanah Air. Target jumlah Agen BRILink hingga akhir 2022 mencapai 600.000. Jumlah branch network BRI terus menurun hingga akhir Kuartal II dan jumlah kantor BRI tercatat 8.804 kantor.

Untuk memperkuat layanan, BRI gencar menurunkan penyuluh digital dan keuangan ke desa-desa. Tugasnya utamanya, mengajari masyarakat membuka rekening secara digital. Kedua, mengajari masyarakat bertransaksi secara digital. Ketiga, mengajari masyarakat untuk menjaga rekeningnya dari kejahatan digital.

“Melalui strategi tersebut, BRI bisa menjangkau masyarakat terluar, tertinggal, dan terdepan yang kita sebut 3T. Yang paling penting, jangan tinggalkan masyarakat yang masih konvensional. Tapi juga jangan antipati kepada masyarakat yang sudah bertransformasi menjadi masyarakat digital,” tuturnya.

Alasan Kuat
Apa yang diupayakan BRI tak terlepas dari hasil riset internal atas pasar utama perseroan yaitu pelaku UMKM. Nasabah UMKM terutama di mikro dan ultra mikro, sudah familiar dengan gawai. Tetapi pengetahuannya masih terbatas dengan produk-produk keuangan.

Baca Juga :  Kenapa Harus Membuat Laporan Keuangan dengan Aplikasi Pengatur Keuangan?

“Kemudian cash transaction masih menjadi pilihan utama dan mereka lebih senang memilih lembaga keuangan bersifat lokal. Kenapa demikian? Karena mereka sebenarnya butuh agility, butuh flexibility. Mereka memiliki cash flow rata-rata tidak stabil. Lalu mereka memilih berhubungan dengan agen daripada lewat institusi keuangan formal,” imbuh Sunarso.

Berdasar hal tersebut, BRI menyimpulkan untuk bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia hingga di daerah-daerah tertinggal, terdepan, terbelakang, diperlukan hybrid antara digital dan juga manual.

Dengan demikian, BRI diharapkan menjadi yang terdepan dalam mewujudkan aspirasi pemerintah untuk menciptakan inklusi keuangan yang mencapai 90 % pada 2024. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui riset 3 tahunan menyatakan indeks inklusi keuangan Indonesia baru sekitar 76 % pada 2019.

“Kesimpulannya, kita siapkan digital banking, tetapi jangan meninggalkan yang manual. Sebab, masyarakat masih membutuhkan itu. Kita ikuti saja journey-nya masyarakat dan memastikan seluruh program BRI (baik manual ataupun yang digital) dari atas sampai bawah bisa dieksekusi dengan baik,” pungkas Sunarso. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berkomitmen merealisasikan salah satu aspirasi besarnya pada 2025, yaitu menjadi Champion of Financial Inclusion. Karena itu, bank terbesar milik negara tersebut mengusung konsep hybrid bank agar mampu melayani seluruh lapisan masyarakat hingga pelosok negeri di era transformasi digital.

Dirut BRI Sunarso mengatakan, perseroan berupaya keras mendidik dan mengajarkan masyarakat untuk masuk ke ekosistem keuangan dengan tidak membeda-bedakan. Terlebih di era digital, BRI tidak hanya melayani masyarakat yang bisa disentuh dengan digital saja. Tapi juga melayani yang belum melek digital.

“Karena itu strategi hybrid bank yang paling tepat bagi BRI. Tidak melulu digital, tapi tidak juga melulu konvensional. Nanti masyarakat bertransformasi menjadi masyarakat digital, kita siapkan dengan digital banking. Nasabah sekarang masih ada yang harus dilayani secara manual, bahkan didatangi ke kampung dan desa. Mereka membutuhkan kehadiran BRI,” ujar Sunarso.


Berdasar Laporan Keuangan BRI hingga akhir Kuartal II 2022, kontribusi transaksi melalui outlet konvensional kantor hanya 1,9 % dibanding total transaksi. Persentase itu berbanding jauh dengan transaksi e-channel yang mencapai 98,1 %. Di dalamnya termasuk transaksi dari ATM, CDM, BRILink, BRIMO dan internet banking.

Baca Juga :  Pemkab Bakal Libatkan Profesor

Untuk merealisasikan hybrid bank, kini BRI memiliki sumber daya yang sangat memadai. Hingga semester I/2022, BRI memiliki branchless network melalui Agen BRILink sebanyak 570 ribu di seluruh Tanah Air. Target jumlah Agen BRILink hingga akhir 2022 mencapai 600.000. Jumlah branch network BRI terus menurun hingga akhir Kuartal II dan jumlah kantor BRI tercatat 8.804 kantor.

Untuk memperkuat layanan, BRI gencar menurunkan penyuluh digital dan keuangan ke desa-desa. Tugasnya utamanya, mengajari masyarakat membuka rekening secara digital. Kedua, mengajari masyarakat bertransaksi secara digital. Ketiga, mengajari masyarakat untuk menjaga rekeningnya dari kejahatan digital.

“Melalui strategi tersebut, BRI bisa menjangkau masyarakat terluar, tertinggal, dan terdepan yang kita sebut 3T. Yang paling penting, jangan tinggalkan masyarakat yang masih konvensional. Tapi juga jangan antipati kepada masyarakat yang sudah bertransformasi menjadi masyarakat digital,” tuturnya.

- Advertisement -

Alasan Kuat
Apa yang diupayakan BRI tak terlepas dari hasil riset internal atas pasar utama perseroan yaitu pelaku UMKM. Nasabah UMKM terutama di mikro dan ultra mikro, sudah familiar dengan gawai. Tetapi pengetahuannya masih terbatas dengan produk-produk keuangan.

Baca Juga :  KPU Temukan Surat Suara Rusak

“Kemudian cash transaction masih menjadi pilihan utama dan mereka lebih senang memilih lembaga keuangan bersifat lokal. Kenapa demikian? Karena mereka sebenarnya butuh agility, butuh flexibility. Mereka memiliki cash flow rata-rata tidak stabil. Lalu mereka memilih berhubungan dengan agen daripada lewat institusi keuangan formal,” imbuh Sunarso.

Berdasar hal tersebut, BRI menyimpulkan untuk bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia hingga di daerah-daerah tertinggal, terdepan, terbelakang, diperlukan hybrid antara digital dan juga manual.

Dengan demikian, BRI diharapkan menjadi yang terdepan dalam mewujudkan aspirasi pemerintah untuk menciptakan inklusi keuangan yang mencapai 90 % pada 2024. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui riset 3 tahunan menyatakan indeks inklusi keuangan Indonesia baru sekitar 76 % pada 2019.

“Kesimpulannya, kita siapkan digital banking, tetapi jangan meninggalkan yang manual. Sebab, masyarakat masih membutuhkan itu. Kita ikuti saja journey-nya masyarakat dan memastikan seluruh program BRI (baik manual ataupun yang digital) dari atas sampai bawah bisa dieksekusi dengan baik,” pungkas Sunarso. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

Artikel Terkait

Most Read

Ajak Dua Kelompok Nelayan Damai

Warga Temukan Bayi Dekat Selokan

Carpan Madura: Pana

MUI: Pertanyakan Keseriusan Polres

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/