alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Hasil Survei Pilgub Jatim Khofifah-Emil Ungguli Gus Ipul-Puti

POTENSI kemenangan yang bakal diraih pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak pada Pilgub Jatim 2018 cukup tinggi. Ini jika mengacu pada hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas. Dalam survei tersebut terungkap pasangan Khofifah-Emil unggul elektabilitas (tingkat keterpilihan) di empat dari enam zonasi wilayah. Keunggulan Khofifah-Emil mencapai 44,5 persen.

Pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Fahrul Razziqi menjelaskan, tren elektabilitas Khofifah-Emil dinilai naik dan berpotensi unggul. ”Kalau sedari awal (elektabilitas) Gus Ipul (Saifullah Yusuf) potensi naiknya sudah relatif. Namun, elektabilitas Bu Khofifah justru naiknya sangat besar.  Itu perlu dipertahankan, kalau bisa ditingkatkan,” katanya.

Fahrul menyatakan, Khofifah bisa menggenjot elektabilitasnya dengan memaksimalkan suara dari Emil. Bupati Trenggalek nonaktif tersebut dinilai pasangan yang tepat untuk mendulang suara di sejumlah wilayah. ”Sekarang yang perlu digenjot wakil dari pasangan calon. Celah itu bisa dimanfaatkan Pak Emil untuk memaksimalkan elektabilitasnya,” jelas dia.

Berdasar data terbaru Litbang Kompas, pasangan Khofifah-Emil unggul di empat wilayah Jawa Timur. Mulai dari Mataraman Pesisir (Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban) 54,1 persen. Di Mataraman (Pacitan, Madiun, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung), duo NU ini unggul 47,2 persen. Di Madura (Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep) Khofifah-Emil meraih 50,7 persen. Sedangkan di wilayah Osing (Banyuwangi) Khofifah-Emil unggul 53,1 persen.

Baca Juga :  Warga Indonesia Sukses Buka Usaha Kuliner di Korea Selatan

Senada yang dikatakan Fahrul, peneliti The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandez menilai, pasangan Khofifah-Emil terus mengejar pasangan Gus Ipul-Puti. Kontribusi Emil di sejumlah wilayah memberikan dampak suara terhadap pasangan ini. ”Kontribusi wakil sangat memengaruhi,” tandas Arya.

Kemudian, Arya menilai adanya keraguan pemilih dari kader simpatisan partai pengusung Gus Ipul: PKB dan PDIP. Sementara dukungan partai Khofifah-Emil semakin solid. ”Pemilih ini otonom. Bisa saja mereka memiliki pilihan berbeda dengan dukungan partai. Dalam banyak pilkada, pemilih partai politik tidak linier dengan usungan partai. Karena pemilu kan otonomi punya metode sendiri, punya penilaian sendiri. Jika terjadi posisi itu, partai tidak memiliki kuasa 100 persen untuk menentukan pilihan kader atau  simpatisan,” ucapnya.

Baca Juga :  Bupati Larang ASN Berpolitik Praktis

Khofifah yang memiliki label Nahdlatul Ulama (NU) disebut akan terus memengaruhi pilihan kader partai. Sementara Puti Guntur Soekarno yang menjadi pasangan Gus Ipul, Arya menyebut belum memberikan pengaruh elektabilitas. Sebab, Puti bukan warga Jawa Timur. ”PDIP di bawah 50 persen. Itu menarik, sisi ini tidak mengakar. Puti ’diimpor’ dari Jawa Barat sehingga tidak mengakar di Jawa Timur. Sementara PKB tidak begitu optimal karena basis lari ke Khofifah. Kalau Khofifah ambil suara PKB, itu akan membantu Khofifah,” ucapnya.

Seperti diketahui, Litbang Kompas menyebutkan, partai pengusung Khofifah-Emil sangat memengaruhi pilihan. Dari hasil survei menyebutkan, PAN 78,6 persen; Hanura 66,7 persen; Golkar 44,7 persen; Demokrat 41,4 persen; Nasdem 38,5 persen; dan PPP 33,3 persen. Sementara itu, Gus Ipul-Puti dari Gerindra 57,7 persen; PKB 47,5 persen; PDIP 45,5 persen; dan PKS 36,4 persen. 

 

 

POTENSI kemenangan yang bakal diraih pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak pada Pilgub Jatim 2018 cukup tinggi. Ini jika mengacu pada hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas. Dalam survei tersebut terungkap pasangan Khofifah-Emil unggul elektabilitas (tingkat keterpilihan) di empat dari enam zonasi wilayah. Keunggulan Khofifah-Emil mencapai 44,5 persen.

Pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Fahrul Razziqi menjelaskan, tren elektabilitas Khofifah-Emil dinilai naik dan berpotensi unggul. ”Kalau sedari awal (elektabilitas) Gus Ipul (Saifullah Yusuf) potensi naiknya sudah relatif. Namun, elektabilitas Bu Khofifah justru naiknya sangat besar.  Itu perlu dipertahankan, kalau bisa ditingkatkan,” katanya.

Fahrul menyatakan, Khofifah bisa menggenjot elektabilitasnya dengan memaksimalkan suara dari Emil. Bupati Trenggalek nonaktif tersebut dinilai pasangan yang tepat untuk mendulang suara di sejumlah wilayah. ”Sekarang yang perlu digenjot wakil dari pasangan calon. Celah itu bisa dimanfaatkan Pak Emil untuk memaksimalkan elektabilitasnya,” jelas dia.


Berdasar data terbaru Litbang Kompas, pasangan Khofifah-Emil unggul di empat wilayah Jawa Timur. Mulai dari Mataraman Pesisir (Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban) 54,1 persen. Di Mataraman (Pacitan, Madiun, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung), duo NU ini unggul 47,2 persen. Di Madura (Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep) Khofifah-Emil meraih 50,7 persen. Sedangkan di wilayah Osing (Banyuwangi) Khofifah-Emil unggul 53,1 persen.

Baca Juga :  Komunitas Motor Juga Peduli Palestina

Senada yang dikatakan Fahrul, peneliti The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandez menilai, pasangan Khofifah-Emil terus mengejar pasangan Gus Ipul-Puti. Kontribusi Emil di sejumlah wilayah memberikan dampak suara terhadap pasangan ini. ”Kontribusi wakil sangat memengaruhi,” tandas Arya.

Kemudian, Arya menilai adanya keraguan pemilih dari kader simpatisan partai pengusung Gus Ipul: PKB dan PDIP. Sementara dukungan partai Khofifah-Emil semakin solid. ”Pemilih ini otonom. Bisa saja mereka memiliki pilihan berbeda dengan dukungan partai. Dalam banyak pilkada, pemilih partai politik tidak linier dengan usungan partai. Karena pemilu kan otonomi punya metode sendiri, punya penilaian sendiri. Jika terjadi posisi itu, partai tidak memiliki kuasa 100 persen untuk menentukan pilihan kader atau  simpatisan,” ucapnya.

Baca Juga :  Panwaslu Sumenep Temukan Ratusan Pelanggaran Pilgub

Khofifah yang memiliki label Nahdlatul Ulama (NU) disebut akan terus memengaruhi pilihan kader partai. Sementara Puti Guntur Soekarno yang menjadi pasangan Gus Ipul, Arya menyebut belum memberikan pengaruh elektabilitas. Sebab, Puti bukan warga Jawa Timur. ”PDIP di bawah 50 persen. Itu menarik, sisi ini tidak mengakar. Puti ’diimpor’ dari Jawa Barat sehingga tidak mengakar di Jawa Timur. Sementara PKB tidak begitu optimal karena basis lari ke Khofifah. Kalau Khofifah ambil suara PKB, itu akan membantu Khofifah,” ucapnya.

Seperti diketahui, Litbang Kompas menyebutkan, partai pengusung Khofifah-Emil sangat memengaruhi pilihan. Dari hasil survei menyebutkan, PAN 78,6 persen; Hanura 66,7 persen; Golkar 44,7 persen; Demokrat 41,4 persen; Nasdem 38,5 persen; dan PPP 33,3 persen. Sementara itu, Gus Ipul-Puti dari Gerindra 57,7 persen; PKB 47,5 persen; PDIP 45,5 persen; dan PKS 36,4 persen. 

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/