alexametrics
21.6 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Dijanjikan Naik Pangkat, Guru SDN Pademawu Barat 1 Tertipu

PAMEKASAN – Masyarakat perlu hati-hati terhadap oknum yang menjanjikan kenaikan pangkat atau menjanjikan mengangkat jadi aparatur sipil negara (ASN). Jika tidak mawas diri, bisa bernasib sama dengan Zainal Abidin, guru SDN Pademawu Barat 1, Kecamatan Pademawu, Pamekasan. Dia tertipu oleh orang yang mengaku sebagai Direktur Pengembangan dan Ketenagakerjaan Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Kronologinya, Rabu (6/12), seorang pria datang ke SDN Pademawu Barat 1. Lelaki tersebut mengaku bernama Suprapto, asal Kabupaten Nganjuk. Kepada Zainal, Suprapto mengaku pejabat Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Awalnya, Suprapto bercerita bahwa kedatangannya ingin meninjau lokasi tempat anaknya bekerja. Dia mengaku, anaknya sedang prajabatan di Malang dan akan ditugaskan di SDN Pademawu Barat 3. Padahal, SDN Pademawu Barat 3 sudah digabung dengan SDN Pademawu Barat 1. ”SDN Pademawu Barat 3 sudah dihapus,” kata Zainal Abidin kemarin (11/12).

Suprapto juga mengaku pernah menjadi guru di SPG Pamekasan pada 1983. Zainal Abidin pun merasa bahwa orang yang dihadapinya itu merupakan gurunya sendiri. Sebab, pada tahun tersebut dia sedang menempuh pendidikan di SPG Pamekasan.

”Saya tanya, kalau bapak guru SPG, kenapa saya tidak pernah lihat bapak. Lalu dia jawab bahwa dia hanya mengajar tiga bulan dan dipindah ke Surabaya,” tegasnya.

Baca Juga :  Ratusan PNS Pensiun, Mayoritas Eselon III dan IV

Singkat cerita, Suprapto diajak ke rumah Zainal Abidin. Di rumah itulah, Suprapto semakin beraksi. Dia bercerita bahwa akan ada rekrutmen 11 ribu guru ASN di Jawa Timur. Dia menjamin bisa meloloskan pendaftar.

Zainal menyampaikan, anaknya juga ingin diangkat menjadi guru ASN. Hanya, saat ini anaknya belum memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK). Mendengar cerita itu, Suprapto langsung menjanjikan membantu mengeluarkan NUPTK.

Suprapto juga menjanjikan kepada Zainal Abidin untuk naik pangkat. Zainal tergiur. Secara manusiawi dia ingin naik pangkat sebagaimana diiming-iming Suprapto.

Untuk naik pangkat dan mendapat NUPTK, harus mengisi formulir. Suprapto mengatakan bahwa setiap formulir ada biayanya. Total Zainal Abidin mengeluarkan biaya Rp 600 ribu untuk kenaikan pangkat dirinya dan NUPTK anaknya. ”Tapi, saat itu formulirnya tidak ada. Saya disuruh mengambilnya di Surabaya,” terang Zainal.

Minggu (10/12), dia berangkat ke Surabaya. Suprapto mengaku beralamat di Jalan RA Kartini Nomor 28 Lidah Barat, Surabaya. Sementara kantornya di lantai lima ruang tujuh kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur.

”Ternyata alamat yang diberikan itu palsu. Tidak ada alamat Lidah Barat di Surabaya, adanya Lidah Kulon,” paparnya. ”Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur ternyata hanya lantai empat. Tidak ada lantai lima,” tegasnya.

Baca Juga :  Bertambah 174, Butuh Ribuan Guru PNS

Saat itulah dia sadar sudah ditipu oleh Suprapto. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sebab Suprapto tidak memberikan nomor telepon atau fotokopi KTP. Kepada Zainal Abidin, Suprapto mengaku sedang dalam pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga tidak bisa memberi nomor telepon dan alamat ke sembarang orang.

Dia menyesal karena sudah percaya kepada orang yang baru dikenal. Tetapi, penyesalan itu sudah terlambat. Dia hanya menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran. ”Saya harap teman-teman ASN dan para guru honorer hati-hati dengan modus penipuan ini. Kalau ada yang menjanjikan, mintalah nomor telepon dan KTP,” sarannya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan Moch. Tarsun mengatakan, dari kronologi yang diceritakan Zainal Abidin, jelas itu penipuan. Sebab, rekrutmen guru ASN ataupun kenaikan pangkat pasti melalui jalur resmi.

Yakni, dari dinas pendidikan dan dikirim ke sekolah-sekolah. ”Makanya, kalau ada informasi dari orang lain atau ada orang yang menjanjikan kenaikan pangkat, tidak usah dipercaya. Kecuali informasi itu datang dari dinas pendidikan,” tegas Tarsun.

PAMEKASAN – Masyarakat perlu hati-hati terhadap oknum yang menjanjikan kenaikan pangkat atau menjanjikan mengangkat jadi aparatur sipil negara (ASN). Jika tidak mawas diri, bisa bernasib sama dengan Zainal Abidin, guru SDN Pademawu Barat 1, Kecamatan Pademawu, Pamekasan. Dia tertipu oleh orang yang mengaku sebagai Direktur Pengembangan dan Ketenagakerjaan Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Kronologinya, Rabu (6/12), seorang pria datang ke SDN Pademawu Barat 1. Lelaki tersebut mengaku bernama Suprapto, asal Kabupaten Nganjuk. Kepada Zainal, Suprapto mengaku pejabat Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Awalnya, Suprapto bercerita bahwa kedatangannya ingin meninjau lokasi tempat anaknya bekerja. Dia mengaku, anaknya sedang prajabatan di Malang dan akan ditugaskan di SDN Pademawu Barat 3. Padahal, SDN Pademawu Barat 3 sudah digabung dengan SDN Pademawu Barat 1. ”SDN Pademawu Barat 3 sudah dihapus,” kata Zainal Abidin kemarin (11/12).


Suprapto juga mengaku pernah menjadi guru di SPG Pamekasan pada 1983. Zainal Abidin pun merasa bahwa orang yang dihadapinya itu merupakan gurunya sendiri. Sebab, pada tahun tersebut dia sedang menempuh pendidikan di SPG Pamekasan.

”Saya tanya, kalau bapak guru SPG, kenapa saya tidak pernah lihat bapak. Lalu dia jawab bahwa dia hanya mengajar tiga bulan dan dipindah ke Surabaya,” tegasnya.

Baca Juga :  Ratusan PNS Pensiun, Mayoritas Eselon III dan IV

Singkat cerita, Suprapto diajak ke rumah Zainal Abidin. Di rumah itulah, Suprapto semakin beraksi. Dia bercerita bahwa akan ada rekrutmen 11 ribu guru ASN di Jawa Timur. Dia menjamin bisa meloloskan pendaftar.

Zainal menyampaikan, anaknya juga ingin diangkat menjadi guru ASN. Hanya, saat ini anaknya belum memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK). Mendengar cerita itu, Suprapto langsung menjanjikan membantu mengeluarkan NUPTK.

Suprapto juga menjanjikan kepada Zainal Abidin untuk naik pangkat. Zainal tergiur. Secara manusiawi dia ingin naik pangkat sebagaimana diiming-iming Suprapto.

Untuk naik pangkat dan mendapat NUPTK, harus mengisi formulir. Suprapto mengatakan bahwa setiap formulir ada biayanya. Total Zainal Abidin mengeluarkan biaya Rp 600 ribu untuk kenaikan pangkat dirinya dan NUPTK anaknya. ”Tapi, saat itu formulirnya tidak ada. Saya disuruh mengambilnya di Surabaya,” terang Zainal.

Minggu (10/12), dia berangkat ke Surabaya. Suprapto mengaku beralamat di Jalan RA Kartini Nomor 28 Lidah Barat, Surabaya. Sementara kantornya di lantai lima ruang tujuh kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur.

”Ternyata alamat yang diberikan itu palsu. Tidak ada alamat Lidah Barat di Surabaya, adanya Lidah Kulon,” paparnya. ”Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur ternyata hanya lantai empat. Tidak ada lantai lima,” tegasnya.

Baca Juga :  KPU Wujudkan Pilkada Berintegritas dan Bermartabat

Saat itulah dia sadar sudah ditipu oleh Suprapto. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sebab Suprapto tidak memberikan nomor telepon atau fotokopi KTP. Kepada Zainal Abidin, Suprapto mengaku sedang dalam pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga tidak bisa memberi nomor telepon dan alamat ke sembarang orang.

Dia menyesal karena sudah percaya kepada orang yang baru dikenal. Tetapi, penyesalan itu sudah terlambat. Dia hanya menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran. ”Saya harap teman-teman ASN dan para guru honorer hati-hati dengan modus penipuan ini. Kalau ada yang menjanjikan, mintalah nomor telepon dan KTP,” sarannya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan Moch. Tarsun mengatakan, dari kronologi yang diceritakan Zainal Abidin, jelas itu penipuan. Sebab, rekrutmen guru ASN ataupun kenaikan pangkat pasti melalui jalur resmi.

Yakni, dari dinas pendidikan dan dikirim ke sekolah-sekolah. ”Makanya, kalau ada informasi dari orang lain atau ada orang yang menjanjikan kenaikan pangkat, tidak usah dipercaya. Kecuali informasi itu datang dari dinas pendidikan,” tegas Tarsun.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/