alexametrics
21.5 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Tingkatkan Pembiayaan Hijau, BNI Terbitkan Green Bond

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (kode saham: BBNI) kembali memperkuat komitmen di segmen green banking. Cara yang dipilih, dengan menawarkan obligasi korporasi berwawasan lingkungan (green bond) sebanyak Rp 5 triliun.

Sebagai pioneer green banking, BNI menjadi bank nasional pertama yang menerbitkan green bond dalam denominasi rupiah. Dana yang terhimpun akan digunakan untuk pembiayaan dan pembiayaan kembali proyek-proyek dalam kategori Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL).

Surat utang tersebut ditawarkan dalam tiga seri. Yakni seri A dengan jangka tiha tahun, seri B jangka lima tahun, dan seri C jangka tujuh tahun. KUBL adalah proyek-proyek yang berkaitan dengan energi terbarukan, efisiensi energi, pengolahan sampah menjadi energi dan manajemen limbah.

Termasuk penggunaan sumber daya alam dan penggunaan tanah yang berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati darat dan air, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan air dan air limbah yang berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, gedung berwawasan lingkungan, serta pertanian berkelanjutan.

Berkaitan dengan pembiayaan KUBL, BNI telah menyusun Kerangka Kerja Green Bond (Green Bond Framework) yang didalamnya terdapat pengaturan mengenai mekanisme pemilihan proyek (project selection). Termasuk, penggunaan dana serta mekanisme pelaporan yang diperoleh dari Penawaran Umum Green Bond.

Wakil Dirut BNI Adi Sulistyowati menuturkan, green banking merupakan salah satu sektor yang masuk dalam kategori sangat strategis bagi BNI. Selain karena manfaatnya yang sangat tinggi terhadap kestabilan dan keberlanjutan ekonomi jangka panjang, perseroan memiliki banyak nasabah, debitur, serta mitra yang dapat diajak untuk bersama-sama mendorong terwujudnya green ekonomi di Indonesia.

Baca Juga :  Kerusuhan Antardusun Pecah di Sapeken

“Green Ekonomi merupakan salah satu komitmen jangka panjang BNI. Tentunya seluruh Penawaran Umum Green Bond ini akan kami gunakan untuk pembiayaan dan pembiayaan kembali proyek-proyek dalam kategori KUBL sebagaimana arahan pemerintah dan otoritas,” ucapnya dalam Public Expose dan Penawaran Awal Green Bond BNI, Rabu (11/5).

Adi Sulistyowati menuturkan, telah terjadi perkembangan signifikan di sektor teknologi, informasi, dan ekonomi dalam 20 tahun terakhir. Perkembangan tersebut harus memiliki pertumbuhan berkelanjutan untuk melestarikan lingkungan hidup agar dapat senantiasa memenuhi kebutuhan manusia.

Sehubungan dengan hal tersebut, BNI sebagai lembaga keuangan yang bertindak sebagai perantara siap menyalurkan investasi dalam aset berwawasan lingkungan.

Dijelaskan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menerbitkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap I (2015- 2019) dan Tahap II (2021-2025). Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas sektor jasa keuangan untuk beroperasi secara ramah lingkungan.

Inisiatif keuangan berkelanjutan yang dikembangkan melalui Roadmap Tahap II OJK akan mengintegrasikan tujuh komponen utama dalam satu ekosistem. Terdiri dari kebijakan, produk, infrastruktur pasar, koordinasi antar kementerian/lembaga, dukungan nonpemerintah, sumber daya manusia, dan kesadaran.

Menurut Adi Sulistyowati, BNI akan berkontribusi pada bidang pengembangan produk dan infrastruktur pasar. Termasuk, pendanaan proyek-proyek yang akan membantu mewujudkan Indonesia yang lebih berwawasan lingkungan di masa depan. Misalnya sektor energi dan transportasi.

“Sebagai tanggapan terhadap permohonan pemerintah Indonesia dan OJK, perseroan sebagai perantara bagi pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia, berkomitmen mendukung pembiayaan berwawasan lingkungan,” imbuhnya.

Baca Juga :  BNI Boyong 23 Penghargaan pada Ajang Infobank Digital Brand Award 2022

Filosofi Perusahaan
Adi Sulistyowati menambahkan, pendekatan perseroan dilandasi filosofi triple bottom line atau 3P. Yakni people, planet, dan profit, yang menyatakan bahwa proyek-proyek yang disponsori BNI akan memberikan keuntungan pada masyarakat yang terdampak. Termasuk, pada lingkungan selain keuntungan finansial.

“Kami juga menggunakan panduan dan kerangka kerja Perlindungan Lingkungan Hidup dan Sosial untuk mencapai komitmen tersebut. Tentunya, yang konsisten dengan hukum negara dan tunduk pada evaluasi berkala. Kerangka kerja dan panduan tersebut merupakan Kerangka Kerja Manajemen Lingkungan Hidup dan Sosial. Termasuk, Sistem Manajemen Lingkungan Hidup dan Sosial,” tambahnya.

BNI membukukan catatan kinerja positif baik dari ekspansi portofolio hijau sekaligus implementasi ESG di semua lini bisnis. Portofolio hijau BNI mencapai Rp 170,5 triliun pada Q1 2022. Nilai tersebut mengambil porsi 28,9 % dari total portofolio kredit BNI.

Pembiayaan hijau tersebut diberikan untuk kebutuhan pengembangan ekonomi sosial masyarakat melalui pembiayaan UMKM. Sedangkan total portofolio mencapai Rp 115,2 triliun. Selebihnya digunakan untuk kebutuhan pembangunan ekosistem lingkungan hijau, energi baru terbarukan Rp 10,3 triliun. Termasuk, pengelolaan polusi Rp 6,8 triliun serta pengelolaan air dan limbah Rp 23,3 triliun.

Ditambahkan, kinerja pembiayaan hijau yang positif serta didukung kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi, serta praktik Tata Kelola Perusahaan yang unggul, mendorong peningkatan rating ESG BNI dari MSCI menjadi A sejak November 2021.

“Rating A itu tertinggi di antara perbankan Indonesia. Dan itu menegaskan posisi kami sebagai pioneer dalam implementasi keuangan berkelanjutan,” tandasnya. (*/par)

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (kode saham: BBNI) kembali memperkuat komitmen di segmen green banking. Cara yang dipilih, dengan menawarkan obligasi korporasi berwawasan lingkungan (green bond) sebanyak Rp 5 triliun.

Sebagai pioneer green banking, BNI menjadi bank nasional pertama yang menerbitkan green bond dalam denominasi rupiah. Dana yang terhimpun akan digunakan untuk pembiayaan dan pembiayaan kembali proyek-proyek dalam kategori Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL).

Surat utang tersebut ditawarkan dalam tiga seri. Yakni seri A dengan jangka tiha tahun, seri B jangka lima tahun, dan seri C jangka tujuh tahun. KUBL adalah proyek-proyek yang berkaitan dengan energi terbarukan, efisiensi energi, pengolahan sampah menjadi energi dan manajemen limbah.

Termasuk penggunaan sumber daya alam dan penggunaan tanah yang berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati darat dan air, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan air dan air limbah yang berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, gedung berwawasan lingkungan, serta pertanian berkelanjutan.

Berkaitan dengan pembiayaan KUBL, BNI telah menyusun Kerangka Kerja Green Bond (Green Bond Framework) yang didalamnya terdapat pengaturan mengenai mekanisme pemilihan proyek (project selection). Termasuk, penggunaan dana serta mekanisme pelaporan yang diperoleh dari Penawaran Umum Green Bond.

Wakil Dirut BNI Adi Sulistyowati menuturkan, green banking merupakan salah satu sektor yang masuk dalam kategori sangat strategis bagi BNI. Selain karena manfaatnya yang sangat tinggi terhadap kestabilan dan keberlanjutan ekonomi jangka panjang, perseroan memiliki banyak nasabah, debitur, serta mitra yang dapat diajak untuk bersama-sama mendorong terwujudnya green ekonomi di Indonesia.

Baca Juga :  BNI Ekspansi Green Banking Korporasi Rp 6,1 Triliun

“Green Ekonomi merupakan salah satu komitmen jangka panjang BNI. Tentunya seluruh Penawaran Umum Green Bond ini akan kami gunakan untuk pembiayaan dan pembiayaan kembali proyek-proyek dalam kategori KUBL sebagaimana arahan pemerintah dan otoritas,” ucapnya dalam Public Expose dan Penawaran Awal Green Bond BNI, Rabu (11/5).

Adi Sulistyowati menuturkan, telah terjadi perkembangan signifikan di sektor teknologi, informasi, dan ekonomi dalam 20 tahun terakhir. Perkembangan tersebut harus memiliki pertumbuhan berkelanjutan untuk melestarikan lingkungan hidup agar dapat senantiasa memenuhi kebutuhan manusia.

Sehubungan dengan hal tersebut, BNI sebagai lembaga keuangan yang bertindak sebagai perantara siap menyalurkan investasi dalam aset berwawasan lingkungan.

Dijelaskan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menerbitkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap I (2015- 2019) dan Tahap II (2021-2025). Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas sektor jasa keuangan untuk beroperasi secara ramah lingkungan.

Inisiatif keuangan berkelanjutan yang dikembangkan melalui Roadmap Tahap II OJK akan mengintegrasikan tujuh komponen utama dalam satu ekosistem. Terdiri dari kebijakan, produk, infrastruktur pasar, koordinasi antar kementerian/lembaga, dukungan nonpemerintah, sumber daya manusia, dan kesadaran.

Menurut Adi Sulistyowati, BNI akan berkontribusi pada bidang pengembangan produk dan infrastruktur pasar. Termasuk, pendanaan proyek-proyek yang akan membantu mewujudkan Indonesia yang lebih berwawasan lingkungan di masa depan. Misalnya sektor energi dan transportasi.

“Sebagai tanggapan terhadap permohonan pemerintah Indonesia dan OJK, perseroan sebagai perantara bagi pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia, berkomitmen mendukung pembiayaan berwawasan lingkungan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Berkat BNI, Penantian 20 Tahun Swiss Open Terjawab

Filosofi Perusahaan
Adi Sulistyowati menambahkan, pendekatan perseroan dilandasi filosofi triple bottom line atau 3P. Yakni people, planet, dan profit, yang menyatakan bahwa proyek-proyek yang disponsori BNI akan memberikan keuntungan pada masyarakat yang terdampak. Termasuk, pada lingkungan selain keuntungan finansial.

“Kami juga menggunakan panduan dan kerangka kerja Perlindungan Lingkungan Hidup dan Sosial untuk mencapai komitmen tersebut. Tentunya, yang konsisten dengan hukum negara dan tunduk pada evaluasi berkala. Kerangka kerja dan panduan tersebut merupakan Kerangka Kerja Manajemen Lingkungan Hidup dan Sosial. Termasuk, Sistem Manajemen Lingkungan Hidup dan Sosial,” tambahnya.

BNI membukukan catatan kinerja positif baik dari ekspansi portofolio hijau sekaligus implementasi ESG di semua lini bisnis. Portofolio hijau BNI mencapai Rp 170,5 triliun pada Q1 2022. Nilai tersebut mengambil porsi 28,9 % dari total portofolio kredit BNI.

Pembiayaan hijau tersebut diberikan untuk kebutuhan pengembangan ekonomi sosial masyarakat melalui pembiayaan UMKM. Sedangkan total portofolio mencapai Rp 115,2 triliun. Selebihnya digunakan untuk kebutuhan pembangunan ekosistem lingkungan hijau, energi baru terbarukan Rp 10,3 triliun. Termasuk, pengelolaan polusi Rp 6,8 triliun serta pengelolaan air dan limbah Rp 23,3 triliun.

Ditambahkan, kinerja pembiayaan hijau yang positif serta didukung kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi, serta praktik Tata Kelola Perusahaan yang unggul, mendorong peningkatan rating ESG BNI dari MSCI menjadi A sejak November 2021.

“Rating A itu tertinggi di antara perbankan Indonesia. Dan itu menegaskan posisi kami sebagai pioneer dalam implementasi keuangan berkelanjutan,” tandasnya. (*/par)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/