alexametrics
20.8 C
Madura
Tuesday, August 16, 2022

Sinergi Kebijakan Digitalisasi, FEKDI 2022 Resmi Dibuka

JAKARTA – Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2022 bertema Advancing Digital Economy and Finance: Synergistic and Inclusive Ecosystem for Accelerated Recovery resmi dibuka Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (11/7).

FEKDI merupakan ajang etalase inovasi produk, layanan serta sinergi kebijakan ekonomi dan keuangan digital prakarsa Bank Indonesia dan Kemenko Perekonomian yang didukung oleh kementerian/lembaga dan industri. Tujuannya, untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Sinergi tersebut diperkuat dengan komitmen bersama melalui peluncuran Gerakan Sinergi Nasional Ekonomi dan Keuangan Digital. Perhelatan itu merupakan side event dalam rangkaian G20 Finance Track: Finance and Central Bank Deputies (FCBD) dan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Nusa Dua, Bali.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, digitalisasi menjadi pilar Indonesia maju. “Hari ini kita memperkuat sinergi dan kolaborasi digitalisasi Indonesia dalam FEKDI 2022. Sinergi dan inovasi yang inklusif diperlukan untuk memajukan bangsa agar dapat bersaing secara global. Mari tunjukkan ke dunia dan G20, bahwa Indonesia sudah maju secara digital,” katanya.

“Dukungan BI dalam mewujudkan ekonomi keuangan digital nasional guna mengakselerasi pemulihan ekonomi semakin diperkuat. Khususnya melalui kebijakan digitalisasi sistem pembayaran. BI berkomitmen untuk mendukung sinergi bauran kebijakan ekonomi dan keuangan digital nasional, sejalan dengan komitmen pemerintah dan visi Presiden Jokowi untuk menuju Indonesia Maju,” pungkas Perry.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang hadir mewakili Presiden Jokowo dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pandemi Covid-19 juga telah menciptakan prospek cerah pada potensi ekonomi dan keuangan digital Indonesia. Pada tahun 2021, nilai perdagangan digital mencapai Rp 401 triliun. Hal itu, seiring dengan meningkatnya akseptasi dan preferensi berbelanja daring serta didukung perluasan sistem pembayaran digital dan akselerasi digital banking.

Baca Juga :  Menko Airlangga Ingatkan Pentingnya Vaccine Nationalism Dalam Negeri

“Tahun 2025, potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai Rp 2,050 triliun. Pada 2030 diproyeksikan naik menjadi Rp 4,531 triliun. Indonesia juga menjadi tujuan investasi digital terpopuler di Asia Tenggara atau mewakili 40 % digitalisasi di Asia Tenggara. Itu jika didukung perbaikan iklim usaha yang kondusif,” kata Airlangga.

Airlangga menuturkan, lemerintah saat ini sedang mengoptimalkan peluang digitalisasi melalui implementasi sinergi kebijakan ekonomi dan keuangan digital. Selain itu, melakukan penguatan kerjasama dan konektivitas pada lingkup regional maupun global di berbagai sektor. Termasuk sektor perdagangan dan pembayaran di ASEAN.

“Digitalisasi ekonomi dan keuangan digital terus diakselerasi dengan perbaikan-perbaikan dan telah mendorong capaian inklusi keuangan nasional,” kata Airlangga.

FEKDI 2022 hadir setiap hari hingga15 Juli 2022 secara hybrid. Topik bahasan FEKDI 2022 meliputi sinergi dan kolaborasi EKD, mata uang digital, ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, pembayaran lintas negara (cross border payment), pembiayaan hijau (green financing), serta strategi kebijakan dalam mendorong digitalisasi untuk pemulihan ekonomi.

FEKDI 2022 juga menyuguhkan showcasing yang menampilkan berbagai produk dan inovasi, implementasi kebijakan serta pencapaian dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan digital. Sebelumnya, telah digelar berbagai kegiatan ­pre-event FEKDI di 46 wilayah di Indonesia. Masyarakat dapat memperoleh informasi lengkap serta mengikuti sesi diskusi dan hadir dalam FEKDI 2022 secara virtual dengan mengunjungi laman www.fekdi.co.id.

Baca Juga :  Pembangunan SDM dan Digitalisasi Jadi Kendaraan Menuju Ekomomi Baru

Sinergi dan inovasi bauran kebijakan ekonomi dan keuangan digital nasional dilaksanakan bukan hanya pada level nasional namun juga regional. Tujuannya untuk memperkuat integrasi ekosistem ekonomi dan keuangan digital. Berbagai inisiatif telah dilakukan melalui percepatan dan perluasan digitalisasi daerah. Termasuk transaksi pemerintah daerah, digitalisasi bantuan sosial, sektor transportasi dan jalan tol, digitalisasi UMKM melalui Gerakan Bangga Buatan Indonesia (GBBI) dan Gerakan Bangga Wisata Indonesia (GBWI), program Kartu Prakerja, dan implementasi Strategi Nasional Keuangan Inklusif.

Lalu dukungan kebijakan fiskal, penguatan infrastruktur digital serta pengembangan inovasi dan SDM menjadi penopang untuk percepatan digitalisasi. Akselerasi digitalisasi telah mendorong perbaikan inklusi keuangan yang tercermin pada hasil Survei Nasional Keuangan Inklusif 2021 yang mencatat kepemilikan akun sebesar 65,4 %, penggunaan produk dan layanan keuangan sebesar 83,6 %. Angka tersebut menunjukkan perbaikan inklusi keuangan. Sehingga timbul optimisme tercapainya target inklusi keuangan sebesar 90 % pada tahun 2024.

Pada acara pembukaan juga dilaksanakan Leader’s Talk bertajuk Advancing Digital Economy and Finance: Synergistic and Inclusive Ecosystem for Accelerated Recovery sejalan dengan tema FEKDI 2022. Termasuk Casual Talk bertema Dukungan Industri dalam Inisiatif Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Digital Nasional. Diskusi dihadiri Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menkominfo Johny G. Plate. Selain itu, Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Santoso Liem, Sekretaris Jenderal AFTECH Budi Gandasoebrata, Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Kewirausahaan Aldi Haryopratomo, dan Ketua Kompartemen Digitalisasi Perbankan Perbanas Kaspar Situmorang. (*/par)

JAKARTA – Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2022 bertema Advancing Digital Economy and Finance: Synergistic and Inclusive Ecosystem for Accelerated Recovery resmi dibuka Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (11/7).

FEKDI merupakan ajang etalase inovasi produk, layanan serta sinergi kebijakan ekonomi dan keuangan digital prakarsa Bank Indonesia dan Kemenko Perekonomian yang didukung oleh kementerian/lembaga dan industri. Tujuannya, untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Sinergi tersebut diperkuat dengan komitmen bersama melalui peluncuran Gerakan Sinergi Nasional Ekonomi dan Keuangan Digital. Perhelatan itu merupakan side event dalam rangkaian G20 Finance Track: Finance and Central Bank Deputies (FCBD) dan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Nusa Dua, Bali.


Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, digitalisasi menjadi pilar Indonesia maju. “Hari ini kita memperkuat sinergi dan kolaborasi digitalisasi Indonesia dalam FEKDI 2022. Sinergi dan inovasi yang inklusif diperlukan untuk memajukan bangsa agar dapat bersaing secara global. Mari tunjukkan ke dunia dan G20, bahwa Indonesia sudah maju secara digital,” katanya.

“Dukungan BI dalam mewujudkan ekonomi keuangan digital nasional guna mengakselerasi pemulihan ekonomi semakin diperkuat. Khususnya melalui kebijakan digitalisasi sistem pembayaran. BI berkomitmen untuk mendukung sinergi bauran kebijakan ekonomi dan keuangan digital nasional, sejalan dengan komitmen pemerintah dan visi Presiden Jokowi untuk menuju Indonesia Maju,” pungkas Perry.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang hadir mewakili Presiden Jokowo dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pandemi Covid-19 juga telah menciptakan prospek cerah pada potensi ekonomi dan keuangan digital Indonesia. Pada tahun 2021, nilai perdagangan digital mencapai Rp 401 triliun. Hal itu, seiring dengan meningkatnya akseptasi dan preferensi berbelanja daring serta didukung perluasan sistem pembayaran digital dan akselerasi digital banking.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto: Tingkatkan Inovasi dan Daya Saing Industri

“Tahun 2025, potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai Rp 2,050 triliun. Pada 2030 diproyeksikan naik menjadi Rp 4,531 triliun. Indonesia juga menjadi tujuan investasi digital terpopuler di Asia Tenggara atau mewakili 40 % digitalisasi di Asia Tenggara. Itu jika didukung perbaikan iklim usaha yang kondusif,” kata Airlangga.

- Advertisement -

Airlangga menuturkan, lemerintah saat ini sedang mengoptimalkan peluang digitalisasi melalui implementasi sinergi kebijakan ekonomi dan keuangan digital. Selain itu, melakukan penguatan kerjasama dan konektivitas pada lingkup regional maupun global di berbagai sektor. Termasuk sektor perdagangan dan pembayaran di ASEAN.

“Digitalisasi ekonomi dan keuangan digital terus diakselerasi dengan perbaikan-perbaikan dan telah mendorong capaian inklusi keuangan nasional,” kata Airlangga.

FEKDI 2022 hadir setiap hari hingga15 Juli 2022 secara hybrid. Topik bahasan FEKDI 2022 meliputi sinergi dan kolaborasi EKD, mata uang digital, ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, pembayaran lintas negara (cross border payment), pembiayaan hijau (green financing), serta strategi kebijakan dalam mendorong digitalisasi untuk pemulihan ekonomi.

FEKDI 2022 juga menyuguhkan showcasing yang menampilkan berbagai produk dan inovasi, implementasi kebijakan serta pencapaian dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan digital. Sebelumnya, telah digelar berbagai kegiatan ­pre-event FEKDI di 46 wilayah di Indonesia. Masyarakat dapat memperoleh informasi lengkap serta mengikuti sesi diskusi dan hadir dalam FEKDI 2022 secara virtual dengan mengunjungi laman www.fekdi.co.id.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Didukung Kebijakan People First

Sinergi dan inovasi bauran kebijakan ekonomi dan keuangan digital nasional dilaksanakan bukan hanya pada level nasional namun juga regional. Tujuannya untuk memperkuat integrasi ekosistem ekonomi dan keuangan digital. Berbagai inisiatif telah dilakukan melalui percepatan dan perluasan digitalisasi daerah. Termasuk transaksi pemerintah daerah, digitalisasi bantuan sosial, sektor transportasi dan jalan tol, digitalisasi UMKM melalui Gerakan Bangga Buatan Indonesia (GBBI) dan Gerakan Bangga Wisata Indonesia (GBWI), program Kartu Prakerja, dan implementasi Strategi Nasional Keuangan Inklusif.

Lalu dukungan kebijakan fiskal, penguatan infrastruktur digital serta pengembangan inovasi dan SDM menjadi penopang untuk percepatan digitalisasi. Akselerasi digitalisasi telah mendorong perbaikan inklusi keuangan yang tercermin pada hasil Survei Nasional Keuangan Inklusif 2021 yang mencatat kepemilikan akun sebesar 65,4 %, penggunaan produk dan layanan keuangan sebesar 83,6 %. Angka tersebut menunjukkan perbaikan inklusi keuangan. Sehingga timbul optimisme tercapainya target inklusi keuangan sebesar 90 % pada tahun 2024.

Pada acara pembukaan juga dilaksanakan Leader’s Talk bertajuk Advancing Digital Economy and Finance: Synergistic and Inclusive Ecosystem for Accelerated Recovery sejalan dengan tema FEKDI 2022. Termasuk Casual Talk bertema Dukungan Industri dalam Inisiatif Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Digital Nasional. Diskusi dihadiri Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menkominfo Johny G. Plate. Selain itu, Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Santoso Liem, Sekretaris Jenderal AFTECH Budi Gandasoebrata, Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Kewirausahaan Aldi Haryopratomo, dan Ketua Kompartemen Digitalisasi Perbankan Perbanas Kaspar Situmorang. (*/par)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/