alexametrics
21.5 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Yakin Bisa Dongkrak Tingkat Partisipasi Pemilih

SUMENEP – Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) serentak tinggal hitungan hari. Seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya, angka partisipasi pemilih di Sumenep selalu rendah. Termasuk saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 lalu yang tidak sampai 60 persen.

Berdasarkan data yang dihimpun RadarMadura.id, dari waktu ke waktu angka golput semakin meningkat. Pada Pemilu Presiden 2004 lalu, partisipasi pemilih mencapai 77,65 persen pada putaran pertama. Artinya ada sekitar 22,35 persen pemilih yang golput. Pada putaran kedua, tingkat kehadiran menurun menjadi 71,64 persen atau 28,36 persen golput.

Angka partisipasi pemilih semakin menurun pada Pilpres 2009. Saat itu warga Sumenep yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS) hanya 66,29 persen atau sebanyak 33,71 persen warga golput. Kemudian tingkat kehadiran pada Pilpres 2014 sekitar 65 persen atau 35 persen golput.

Baca Juga :  Tiga Panitia Pemilu Gugur

Tingginya ancaman golput ini pun disadari oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumenep A. Warits. Menurut dia, golput memang menjadi fenomena setiap pelaksanaan pesta demokrasi. Penyelenggara sudah berupaya meningkatkan angka partisipasi pemilih.

”Kami tetap optimistis untuk Pemilu 2019 ini angka kehadiran pemilih di atas 70 persen,” kata Warits kemarin (10/4).

Banyak cara yang sudah dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Salah satunya dengan meningkatkan peran relawan demokrasi. Mereka diberi tugas untuk sosialisasi ke bawah agar warga tidak golput.

Selain itu, pihaknya juga menginstruksikan kepada panitia penyelenggara, baik dari tingkat kecamatan, desa hingga masing-masing TPS. Di Sumenep, anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) mencapai 30 ribu orang lebih. Mereka telah ditugaskan untuk sosialisasi ke pemilih agar datang ke TPS dan menggunakan hak suaranya.

Baca Juga :  Parsindo dan PIK Tak Ikut Verifikasi

”Kami juga libatkan tokoh masyarakat agar mereka menyerukan warga untuk memilih,” tambah Warits.

Sementara itu, anggota panitia pemungutan suara (PPS) Desa Palokloan, Kecamatan Gapura Masjudi mengaku terus melakukan sosialisasi ke masyarakat agar datang ke TPS. Berkaca pada pemilihan gubernur 2018 lalu, angka partisipasi di desa tersebut tidak maksimal. Tetapi dia yakin, untuk pemilu tahun ini bisa melebihi dari angka partisipasi Pilgub Jatim 2018.

”Kalau pilgub kan hanya gubernur yang dipilih. Sekarang ini serentak mulai dari presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi dan kabupaten,” jelasnya. ”Saya kira warga akan rugi kalau tidak menggunakan hak suaranya, sebab pemilu ini memilih lima calon sekaligus,” tambahnya.

SUMENEP – Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) serentak tinggal hitungan hari. Seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya, angka partisipasi pemilih di Sumenep selalu rendah. Termasuk saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 lalu yang tidak sampai 60 persen.

Berdasarkan data yang dihimpun RadarMadura.id, dari waktu ke waktu angka golput semakin meningkat. Pada Pemilu Presiden 2004 lalu, partisipasi pemilih mencapai 77,65 persen pada putaran pertama. Artinya ada sekitar 22,35 persen pemilih yang golput. Pada putaran kedua, tingkat kehadiran menurun menjadi 71,64 persen atau 28,36 persen golput.

Angka partisipasi pemilih semakin menurun pada Pilpres 2009. Saat itu warga Sumenep yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS) hanya 66,29 persen atau sebanyak 33,71 persen warga golput. Kemudian tingkat kehadiran pada Pilpres 2014 sekitar 65 persen atau 35 persen golput.

Baca Juga :  Diam-Diam RAB Panwaslu Diubah, DPRD Lakukan Pemanggilan

Tingginya ancaman golput ini pun disadari oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumenep A. Warits. Menurut dia, golput memang menjadi fenomena setiap pelaksanaan pesta demokrasi. Penyelenggara sudah berupaya meningkatkan angka partisipasi pemilih.

”Kami tetap optimistis untuk Pemilu 2019 ini angka kehadiran pemilih di atas 70 persen,” kata Warits kemarin (10/4).

Banyak cara yang sudah dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Salah satunya dengan meningkatkan peran relawan demokrasi. Mereka diberi tugas untuk sosialisasi ke bawah agar warga tidak golput.

Selain itu, pihaknya juga menginstruksikan kepada panitia penyelenggara, baik dari tingkat kecamatan, desa hingga masing-masing TPS. Di Sumenep, anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) mencapai 30 ribu orang lebih. Mereka telah ditugaskan untuk sosialisasi ke pemilih agar datang ke TPS dan menggunakan hak suaranya.

Baca Juga :  Prediksi Kunjungan Wisata Religi Bangkalan Meningkat

”Kami juga libatkan tokoh masyarakat agar mereka menyerukan warga untuk memilih,” tambah Warits.

Sementara itu, anggota panitia pemungutan suara (PPS) Desa Palokloan, Kecamatan Gapura Masjudi mengaku terus melakukan sosialisasi ke masyarakat agar datang ke TPS. Berkaca pada pemilihan gubernur 2018 lalu, angka partisipasi di desa tersebut tidak maksimal. Tetapi dia yakin, untuk pemilu tahun ini bisa melebihi dari angka partisipasi Pilgub Jatim 2018.

”Kalau pilgub kan hanya gubernur yang dipilih. Sekarang ini serentak mulai dari presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi dan kabupaten,” jelasnya. ”Saya kira warga akan rugi kalau tidak menggunakan hak suaranya, sebab pemilu ini memilih lima calon sekaligus,” tambahnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Pasien Positif Menolak Dirawat

Matangkan Konsep Bazar Takjil

RSUD Isolasi Pemudik dari Jakarta

Artikel Terbaru

/