alexametrics
28.5 C
Madura
Saturday, August 13, 2022

Bekerja dan Beribadah

SEORANG kawan mengirimkan status via WhatsApp: Moto kami di sini: Bekerja itu hanya selingan, untuk menunggu datangnya waktu salat.

Entah, perusahaan apa yang mengunakan moto seperti ini. Atau, instansi mana yang mengutamakan salat daripada bekerja. Atau, moto ini semacam majas ironi untuk menyadarkan kita, yang sering kali mengutamakan kerja daripada salat.

Paling tidak, jika dalam hal bekerja kita memiliki semangat empat lima, maka dalam hal ibadah pun harus menduduki posisi utama. Yang jelas, ini merupakan hal menarik untuk direnungkan.

Sebuah perusahaan biasanya memiliki profit oriented. Secara kalkulatif, bisnis harus memiliki keuntungan. Keuntungan tersebut selain untuk biaya produksi, juga untuk membayar gaji karyawan.

Perusahaan akan bertahan lama jika keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya pengeluaran. Namun, jika perusahaan ini menganut sistem besar pasak daripada tiang, maka tunggulah waktu kehancuran.

Saya akan memandang ini dari posisi karyawan. Bagi saya, sebesar apa pun gaji seseorang, jika melalaikan waktu ibadah, dia tidak termasuk orang yang sukses. Boleh saja kita memiliki rumah mewah, mobil berkelas, berlibur ke tempat indah, atau memiliki puluhan rekening dengan saldo ratusan juta, melupakan Allah sama dengan melupakan kesuksesan.

Usaha dan doa atau ibadah adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Seorang milyarder dianggap sukses apabila harta yang diperoleh menggunakan cara halal dan tidak melalaikan waktu ibadah. Seorang milyarder tidak dikatakan sukses apabila melupakan ibadah kepada Allah.

Baca Juga :  Ngaku Orang Tua Mati, Penumpang Rampas Mobil

Maklum, dia ”berhasil” dalam hal materi, sebab dia telah mencuri waktu untuk menghadap Allah. Dia termasuk koruptor yang telah menyelewengkan waktunya sendiri. Seharusnya, dia menyisihkan waktu untuk beribadah, di samping memaksimalkan usaha meraup keuntungan duniawi.

Sebaliknya, beribadah secara an-sich, tanpa dibarengi usaha mencari rezeki adalah kekonyolan belaka. Sebab, hidup di dunia butuh materi sebagai bekal ibadah. Saya lebih suka seorang mukmin kaya daripada mukmin miskin. Dengan catatan, seorang mukmin kaya tersebut mau menafkahkan hartanya di jalan Allah. Tidak pelit. Tidak kikir.

Jika ada pembangunan masjid, dia merupakan orang pertama yang mendaftarkan diri menjadi donatur. Meminta-meminta di jalan raya untuk pembangunan masjid bisa dihindari. Jika ada orang miskin atau orang-orang telantar, dia menjadi orang pertama yang mau memperbaiki nasib mereka. Walhasil, harta yang mereka miliki dijadikan alat untuk kemaslahatan bersama.

Aura Husna membagi kategori kaya menjadi kaya majasi dan kaya hakiki. Kaya majasi adalah kekayaan yang diukur berdasarkan parameter harta atau materi yang dimiliki. Semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, semakin kaya dalam pengertian ini.

Sedangkan kaya hakiki adalah kekayaan yang hadir dalam jiwa. Jiwa yang kaya adalah jiwa yang tidak tertindas keinginan yang dapat menggelincirkan pada jurang dosa dan kehinaan.

Nah, bagi saya, ada kombinasi antara kaya majasi dan kaya hakiki. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk kategori ini adalah Ustman bin Affan. Khalifah ketiga pasca Nabi Muhammad SAW wafat ini terkenal dermawan. Dalam Ekspedisi Tabuk yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda, dan uang tunai 1.000 dinar.

Baca Juga :  Berdasar Hasil Survei Lingkar Jatim, Ra Latif di Atas Angin

Ustman memiliki peran penting dalam perkembangan Islam. Jiwa dan hartanya dipersembahkan untuk agama sehingga membuat Nabi Muhammad SAW mencintainya sepenuh hati. Bagi Ustman, segala gerak-gerik dan tingkah lakunya harus bernilai ibadah sehingga tidak ada pekerjaan yang sia-sia.

Orang Islam memiliki kunci niat yang akan menentukan hasilnya. Kegiatan ibadah yang tidak diniatkan ibadah bisa menjadi pekerjaan sia-sia. Sebaliknya, aktivitas yang berkaitan erat dengan kegiatan duniawi akan bernilai ibadah jika diniatkan ibadah. Dengan catatan, pekerjaan yang dimaksud bukan pekerjaan yang dilarang Allah.

Bekerja di kantor akan bernilai ibadah jika diniatkan sebagai cara untuk memenuhi kewajiban keluarga atau sebagai bekal ibadah. Jika menggunakan cara seperti ini, waktu salat pun tidak akan tersita. Melaksanakan salat juga tidak akan terasa berat. Sebab, semua aktivitasnya akan bermuara pada kegiatan ibadah.

Maka, ketika moto di atas menjadi salah satu pegangan hidup, sungguh, sepanjang hari akan terasa damai. 

 

*Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Mengabdi sebagai dosen IAIN Madura.

 

SEORANG kawan mengirimkan status via WhatsApp: Moto kami di sini: Bekerja itu hanya selingan, untuk menunggu datangnya waktu salat.

Entah, perusahaan apa yang mengunakan moto seperti ini. Atau, instansi mana yang mengutamakan salat daripada bekerja. Atau, moto ini semacam majas ironi untuk menyadarkan kita, yang sering kali mengutamakan kerja daripada salat.

Paling tidak, jika dalam hal bekerja kita memiliki semangat empat lima, maka dalam hal ibadah pun harus menduduki posisi utama. Yang jelas, ini merupakan hal menarik untuk direnungkan.


Sebuah perusahaan biasanya memiliki profit oriented. Secara kalkulatif, bisnis harus memiliki keuntungan. Keuntungan tersebut selain untuk biaya produksi, juga untuk membayar gaji karyawan.

Perusahaan akan bertahan lama jika keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya pengeluaran. Namun, jika perusahaan ini menganut sistem besar pasak daripada tiang, maka tunggulah waktu kehancuran.

Saya akan memandang ini dari posisi karyawan. Bagi saya, sebesar apa pun gaji seseorang, jika melalaikan waktu ibadah, dia tidak termasuk orang yang sukses. Boleh saja kita memiliki rumah mewah, mobil berkelas, berlibur ke tempat indah, atau memiliki puluhan rekening dengan saldo ratusan juta, melupakan Allah sama dengan melupakan kesuksesan.

Usaha dan doa atau ibadah adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Seorang milyarder dianggap sukses apabila harta yang diperoleh menggunakan cara halal dan tidak melalaikan waktu ibadah. Seorang milyarder tidak dikatakan sukses apabila melupakan ibadah kepada Allah.

Baca Juga :  Tarbiyah Nasawiyah
- Advertisement -

Maklum, dia ”berhasil” dalam hal materi, sebab dia telah mencuri waktu untuk menghadap Allah. Dia termasuk koruptor yang telah menyelewengkan waktunya sendiri. Seharusnya, dia menyisihkan waktu untuk beribadah, di samping memaksimalkan usaha meraup keuntungan duniawi.

Sebaliknya, beribadah secara an-sich, tanpa dibarengi usaha mencari rezeki adalah kekonyolan belaka. Sebab, hidup di dunia butuh materi sebagai bekal ibadah. Saya lebih suka seorang mukmin kaya daripada mukmin miskin. Dengan catatan, seorang mukmin kaya tersebut mau menafkahkan hartanya di jalan Allah. Tidak pelit. Tidak kikir.

Jika ada pembangunan masjid, dia merupakan orang pertama yang mendaftarkan diri menjadi donatur. Meminta-meminta di jalan raya untuk pembangunan masjid bisa dihindari. Jika ada orang miskin atau orang-orang telantar, dia menjadi orang pertama yang mau memperbaiki nasib mereka. Walhasil, harta yang mereka miliki dijadikan alat untuk kemaslahatan bersama.

Aura Husna membagi kategori kaya menjadi kaya majasi dan kaya hakiki. Kaya majasi adalah kekayaan yang diukur berdasarkan parameter harta atau materi yang dimiliki. Semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, semakin kaya dalam pengertian ini.

Sedangkan kaya hakiki adalah kekayaan yang hadir dalam jiwa. Jiwa yang kaya adalah jiwa yang tidak tertindas keinginan yang dapat menggelincirkan pada jurang dosa dan kehinaan.

Nah, bagi saya, ada kombinasi antara kaya majasi dan kaya hakiki. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk kategori ini adalah Ustman bin Affan. Khalifah ketiga pasca Nabi Muhammad SAW wafat ini terkenal dermawan. Dalam Ekspedisi Tabuk yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda, dan uang tunai 1.000 dinar.

Baca Juga :  Pesantren Periodik Kaum Beriman

Ustman memiliki peran penting dalam perkembangan Islam. Jiwa dan hartanya dipersembahkan untuk agama sehingga membuat Nabi Muhammad SAW mencintainya sepenuh hati. Bagi Ustman, segala gerak-gerik dan tingkah lakunya harus bernilai ibadah sehingga tidak ada pekerjaan yang sia-sia.

Orang Islam memiliki kunci niat yang akan menentukan hasilnya. Kegiatan ibadah yang tidak diniatkan ibadah bisa menjadi pekerjaan sia-sia. Sebaliknya, aktivitas yang berkaitan erat dengan kegiatan duniawi akan bernilai ibadah jika diniatkan ibadah. Dengan catatan, pekerjaan yang dimaksud bukan pekerjaan yang dilarang Allah.

Bekerja di kantor akan bernilai ibadah jika diniatkan sebagai cara untuk memenuhi kewajiban keluarga atau sebagai bekal ibadah. Jika menggunakan cara seperti ini, waktu salat pun tidak akan tersita. Melaksanakan salat juga tidak akan terasa berat. Sebab, semua aktivitasnya akan bermuara pada kegiatan ibadah.

Maka, ketika moto di atas menjadi salah satu pegangan hidup, sungguh, sepanjang hari akan terasa damai. 

 

*Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Mengabdi sebagai dosen IAIN Madura.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/