alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Kilas Santri Membangun Bangsa

TULANG punggung bangsa besar ini terletak di tangan santri. Mungkin banyak kurang sepakat. Walaupun diam-diam akan mengakui dan membenarkan bangsa besar ini didirikan umat Islam sebagai umat yang pertama menyambut kedatangan penjajah. Sekaligus, pertama berperang dengan penjajah.

Tak semua kita memahami siapa dan bagaimana sosok pembangun bangsa itu sebenarnya. Penulis menyampaikan beberapa hal tersembunyi terkait sosok santri dalam membangun bangsa ini. Bersyukurlah Radar Madura membikin rubrik khusus ”Suara Santri”. Paling tidak santri di Madura lebih paham eksistensinya sejak ratusan tahun silam.

Kita mulai di zaman Malaka. Tahun 1511 adalah kekuasaan terakhir Sultan Mahmud Syah, cucu pelarian kerajaan Sriwijaya, Parameswara. Setelah masuk Islam berganti nama menjadi Muhammad Syah (berkuasa 1400–1414). Inilah perang pertama kaum muslimin nusantara melawan keangkuhan pimpinan penjajahan Portugis Alfonso de Al’burquerque.

Mahmud Syah (w. 1511) adalah santri dari ibundanya sendiri, Unang Kening binti Mansyur Syah. Mansyur Syah adalah raja termasyhur kesultanan Kelantan. Di samping seorang sultan, Mansyur merupakan seorang ulama besar yang nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW.

Kontribusi Mahmud atas bangsa ini adalah niai-nilai juangnya dalam menghadapi serbuan pasukan Portugis hingga syahid dalam pertempuran. Nilai juangnya terwariskan kepada Sultan Iskandar Muda (w. 1636) dan keturunannya. Mereka, juga santri Meunasah Banda Aceh sehingga kesultanan Aceh sangat sulit ditaklukkan Hindia Belanda. Menjadi wilayah kesultanan di nusantara yang paling terakhir dikuasai penjajah. Keberadaan Meunasah sebagai pondok pesantren di Aceh mendahului pondok pesantren pertama tanah Jawa yang didirikan Sunan Giri. Yang kita kenal dengan nama Padepokan Giri Kedaton (1490-an) di Gresik.

Setelah Malaka dapat dihancurkan Portugis, bangsa penjajah ini berlayar ke arah timur dan bersandar di Pulau Ternate, Maluku. Portugis berniat menguasai daerah penghasil cengkeh dan lada. Waktu itu, Ternate dipimpin Sultan Bayanullah (berkuasa 1500–1521).

Karena Portugis beriktikad baik, Bayanullah menyambut baik. Bayanullah wafat dan diganti adiknya, Sultan Khairun (berkuasa 1521–1570). Pada masa Sultan Khairun itulah watak culas penjajah mulai terlihat pada Portugis.

Demi slogan 3G (gold, gospel, dan glory), Portugis menjebak Sultan Khairun yang datang tanpa pengawalan ke benteng Sao Paulo, Ternate. Setibanya, sang sultan dibunuh atas perintah penguasa benteng, Lopez de Mesquita (berkuasa 1566–1570). Khairun tewas atas suatu kehendak perjuangan bangsa Barat melanjutkan cita-cita 3G.

Baca Juga :  Form C1 Sudah Dientri ke KPU Pusat

Syukurlah, maksud Portugis untuk memusnahkan dakwah santri di bumi Maluku tak tersampaikan. Sebab, Sultan Khairun punya keturunan yang mengantarkan babak baru Bumi Raja-Raja, demikian julukan Maluku. Perannya menenggelamkan Portugis hingga penjajah ini menyingkir ke Pulau Timor dan Pulau Makau. Putra Sultan Khairun ini kita kenal dengan nama Babullah (berkuasa 1570–1583).

Siapakah Sultan Zainal Abidin dan keturunannya? Mereka adalah santri-santri Padepokan Giri Kedaton, Gresik. Tahun 1494 Zainal Abidin berangkat ke Gresik demi memperdalam agama Islam dari sang Mufti Tanah Jawa, demikian gelar Sunan Giri (w. 1506). Hubungan ini dilanjutkan keturunan Zainal Abidin dan keturunan Sunan Giri, sehingga terjalin hubungan dakwah Islam di nusantara berabad-abad kemudian.

Demikian pula, jika kita bergeser ke Sulawesi. Sultan-sultan, sebut saja misalnya Sultan Hasanuddin Makassar (w. 1670), Sultan Wajo, Sultan Enrekang, Sultan Mamuju, kerajaan Palu dan kesultanan Buton adalah santri-santri hasil didikan Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang dari Minangkabau. Konsentrasi ketiga ulama tersebut berada di Sulawesi Selatan.

Namun lembaga pendidikan yang mereka dirikan dengan gemilang dapat mengislamkan di sebagian besar Pulau Sulawesi. Khusus Sultan Amai Gorontalo (w. 1550), berhasil masuk Islam setelah berinteraksi dengan ulama-ulama Ternate dan Tidore. Dapat diartikan bahwa pelajaran agama Islam yang mereka terima berasal dari santri-santri Giri.

Kita ke Madura. Pangeran Trunojoyo (w. 1680) adalah pahlawan tanah Madura bertempur melawan kesewenang-wenangan Mataram dan kezaliman VOC. Masa kecil hingga remaja dihabiskan menuntut ilmu pada ulama-ulama Mataram.

Ulama-ulama Mataram mempunyai silsilah keilmuwan mengakar kuat pada Wali Sanga. Lebih-lebih Pesantren Giri dan Pesantren Ampel Denta. Semua bangsawan Mataram masa Sultan Agung adalah santri. Bahkan Sultan Agung, Panembahan Pemanahan, Jaka Tingkir, Hadiwijaya, Pati Unus, Trenggono, Fatahillah, Sultan Ageng Tirtayasa, sampai Raden Fattah adalah santri langsung Wali Sanga. Fakta ini tak mungkin bisa ditutup-tutupi siapa pun.

Baca Juga :  Mudik Rohani

Kesantrian Trunojoyo dapat disaksikan dari keuletan berjuang melawan Amangkurat I dan VOC. Tanpa lelah mengobarkan perjuangan rakyat Madura dibantu pasukan Banjar, Bugis, dan Makassar. Bahkan, sampai ia terbunuh di tangan Amangkurat II, sifat ksatria ia pegang dengan kuat.

Pangeran Diponegoro (w. 1855) seorang bangsawan keturunan Sultan Agung sekalipun, adalah santri yang amat dalam pengetahuan agama islamnya. Haji Miskin atau Imam Bonjol juga santri. Cuma, setelah Hindia Belanda semakin dalam cengkeraman kekuasaannya, dan banyak kesultanan-kesultanan nusantara dihapus, pesantren-pesantren menjadi terdistorsi.

Belanda sangat berhasil dalam taktik Devide et Impera-nya. Dalam masalah keilmuan itu Belanda berhasil membuat dikotomi. Sampai saat ini ada asumsi ilmu itu ada umum dan agama.

Sejak kebangkitan nasional menggema kembali di awal abad XX, santri-santri mulai menunjukkan perannya lagi dalam pembentukan karakter (character building) bangsa. Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, H Agus Salim, sampai HAMKA adalah santri. Tokoh-tokoh seperti Moh. Hatta atau Soekarno adalah santri.

Hatta pernah menjadi santri di Surau Syekh Batu Hampar. Soekarno pun pernah ”nyantri” di bawah kepengasuhan Haji Omar Said Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan. Soekarno memperdalam agama Islam secara progresif dan mendalam. Sewaktu ia dibuang ke Bengkulu, sampai mengikrarkan menjadi pengurus perserikatan Muhammadiyah cabang Bengkulu, sambil mengajar di sekolah perserikatan dan berjodoh dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Soekarno juga sangat mencintai NU. Dalam muktamar ke-23 NU, 28 Desember 1962, Soekarno berpidato: ”Saya sangat cinta kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak cinta pada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU.”

Tulisan ini refleksi kegelisahan penulis seakan-akan santri tak pernah berkontribusi dalam mendirikan bangsa ini. Walau hanya sekilas, semoga bermanfaat.

 

*)Pengajar sejarah di SMA 3 Annuqayah dan SMA Assalam Cenlecen, Pakong.

TULANG punggung bangsa besar ini terletak di tangan santri. Mungkin banyak kurang sepakat. Walaupun diam-diam akan mengakui dan membenarkan bangsa besar ini didirikan umat Islam sebagai umat yang pertama menyambut kedatangan penjajah. Sekaligus, pertama berperang dengan penjajah.

Tak semua kita memahami siapa dan bagaimana sosok pembangun bangsa itu sebenarnya. Penulis menyampaikan beberapa hal tersembunyi terkait sosok santri dalam membangun bangsa ini. Bersyukurlah Radar Madura membikin rubrik khusus ”Suara Santri”. Paling tidak santri di Madura lebih paham eksistensinya sejak ratusan tahun silam.

Kita mulai di zaman Malaka. Tahun 1511 adalah kekuasaan terakhir Sultan Mahmud Syah, cucu pelarian kerajaan Sriwijaya, Parameswara. Setelah masuk Islam berganti nama menjadi Muhammad Syah (berkuasa 1400–1414). Inilah perang pertama kaum muslimin nusantara melawan keangkuhan pimpinan penjajahan Portugis Alfonso de Al’burquerque.


Mahmud Syah (w. 1511) adalah santri dari ibundanya sendiri, Unang Kening binti Mansyur Syah. Mansyur Syah adalah raja termasyhur kesultanan Kelantan. Di samping seorang sultan, Mansyur merupakan seorang ulama besar yang nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW.

Kontribusi Mahmud atas bangsa ini adalah niai-nilai juangnya dalam menghadapi serbuan pasukan Portugis hingga syahid dalam pertempuran. Nilai juangnya terwariskan kepada Sultan Iskandar Muda (w. 1636) dan keturunannya. Mereka, juga santri Meunasah Banda Aceh sehingga kesultanan Aceh sangat sulit ditaklukkan Hindia Belanda. Menjadi wilayah kesultanan di nusantara yang paling terakhir dikuasai penjajah. Keberadaan Meunasah sebagai pondok pesantren di Aceh mendahului pondok pesantren pertama tanah Jawa yang didirikan Sunan Giri. Yang kita kenal dengan nama Padepokan Giri Kedaton (1490-an) di Gresik.

Setelah Malaka dapat dihancurkan Portugis, bangsa penjajah ini berlayar ke arah timur dan bersandar di Pulau Ternate, Maluku. Portugis berniat menguasai daerah penghasil cengkeh dan lada. Waktu itu, Ternate dipimpin Sultan Bayanullah (berkuasa 1500–1521).

Karena Portugis beriktikad baik, Bayanullah menyambut baik. Bayanullah wafat dan diganti adiknya, Sultan Khairun (berkuasa 1521–1570). Pada masa Sultan Khairun itulah watak culas penjajah mulai terlihat pada Portugis.

Demi slogan 3G (gold, gospel, dan glory), Portugis menjebak Sultan Khairun yang datang tanpa pengawalan ke benteng Sao Paulo, Ternate. Setibanya, sang sultan dibunuh atas perintah penguasa benteng, Lopez de Mesquita (berkuasa 1566–1570). Khairun tewas atas suatu kehendak perjuangan bangsa Barat melanjutkan cita-cita 3G.

Baca Juga :  Desak Tertibkan APK di MPU

Syukurlah, maksud Portugis untuk memusnahkan dakwah santri di bumi Maluku tak tersampaikan. Sebab, Sultan Khairun punya keturunan yang mengantarkan babak baru Bumi Raja-Raja, demikian julukan Maluku. Perannya menenggelamkan Portugis hingga penjajah ini menyingkir ke Pulau Timor dan Pulau Makau. Putra Sultan Khairun ini kita kenal dengan nama Babullah (berkuasa 1570–1583).

Siapakah Sultan Zainal Abidin dan keturunannya? Mereka adalah santri-santri Padepokan Giri Kedaton, Gresik. Tahun 1494 Zainal Abidin berangkat ke Gresik demi memperdalam agama Islam dari sang Mufti Tanah Jawa, demikian gelar Sunan Giri (w. 1506). Hubungan ini dilanjutkan keturunan Zainal Abidin dan keturunan Sunan Giri, sehingga terjalin hubungan dakwah Islam di nusantara berabad-abad kemudian.

Demikian pula, jika kita bergeser ke Sulawesi. Sultan-sultan, sebut saja misalnya Sultan Hasanuddin Makassar (w. 1670), Sultan Wajo, Sultan Enrekang, Sultan Mamuju, kerajaan Palu dan kesultanan Buton adalah santri-santri hasil didikan Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang dari Minangkabau. Konsentrasi ketiga ulama tersebut berada di Sulawesi Selatan.

Namun lembaga pendidikan yang mereka dirikan dengan gemilang dapat mengislamkan di sebagian besar Pulau Sulawesi. Khusus Sultan Amai Gorontalo (w. 1550), berhasil masuk Islam setelah berinteraksi dengan ulama-ulama Ternate dan Tidore. Dapat diartikan bahwa pelajaran agama Islam yang mereka terima berasal dari santri-santri Giri.

Kita ke Madura. Pangeran Trunojoyo (w. 1680) adalah pahlawan tanah Madura bertempur melawan kesewenang-wenangan Mataram dan kezaliman VOC. Masa kecil hingga remaja dihabiskan menuntut ilmu pada ulama-ulama Mataram.

Ulama-ulama Mataram mempunyai silsilah keilmuwan mengakar kuat pada Wali Sanga. Lebih-lebih Pesantren Giri dan Pesantren Ampel Denta. Semua bangsawan Mataram masa Sultan Agung adalah santri. Bahkan Sultan Agung, Panembahan Pemanahan, Jaka Tingkir, Hadiwijaya, Pati Unus, Trenggono, Fatahillah, Sultan Ageng Tirtayasa, sampai Raden Fattah adalah santri langsung Wali Sanga. Fakta ini tak mungkin bisa ditutup-tutupi siapa pun.

Baca Juga :  Membangun Kebersamaan dalam Perbedaan

Kesantrian Trunojoyo dapat disaksikan dari keuletan berjuang melawan Amangkurat I dan VOC. Tanpa lelah mengobarkan perjuangan rakyat Madura dibantu pasukan Banjar, Bugis, dan Makassar. Bahkan, sampai ia terbunuh di tangan Amangkurat II, sifat ksatria ia pegang dengan kuat.

Pangeran Diponegoro (w. 1855) seorang bangsawan keturunan Sultan Agung sekalipun, adalah santri yang amat dalam pengetahuan agama islamnya. Haji Miskin atau Imam Bonjol juga santri. Cuma, setelah Hindia Belanda semakin dalam cengkeraman kekuasaannya, dan banyak kesultanan-kesultanan nusantara dihapus, pesantren-pesantren menjadi terdistorsi.

Belanda sangat berhasil dalam taktik Devide et Impera-nya. Dalam masalah keilmuan itu Belanda berhasil membuat dikotomi. Sampai saat ini ada asumsi ilmu itu ada umum dan agama.

Sejak kebangkitan nasional menggema kembali di awal abad XX, santri-santri mulai menunjukkan perannya lagi dalam pembentukan karakter (character building) bangsa. Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, H Agus Salim, sampai HAMKA adalah santri. Tokoh-tokoh seperti Moh. Hatta atau Soekarno adalah santri.

Hatta pernah menjadi santri di Surau Syekh Batu Hampar. Soekarno pun pernah ”nyantri” di bawah kepengasuhan Haji Omar Said Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan. Soekarno memperdalam agama Islam secara progresif dan mendalam. Sewaktu ia dibuang ke Bengkulu, sampai mengikrarkan menjadi pengurus perserikatan Muhammadiyah cabang Bengkulu, sambil mengajar di sekolah perserikatan dan berjodoh dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Soekarno juga sangat mencintai NU. Dalam muktamar ke-23 NU, 28 Desember 1962, Soekarno berpidato: ”Saya sangat cinta kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak cinta pada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU.”

Tulisan ini refleksi kegelisahan penulis seakan-akan santri tak pernah berkontribusi dalam mendirikan bangsa ini. Walau hanya sekilas, semoga bermanfaat.

 

*)Pengajar sejarah di SMA 3 Annuqayah dan SMA Assalam Cenlecen, Pakong.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/