alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Berkas Perkara Pemukulan Guru Budi Masuk Kejaksaan

SAMPANG – Polres Sampang bekerja cepat menangani kasus penganiayaan yang mengakibatkan Achmad Budi Cahyanto meninggal dunia. Berkas perkara penganiayaan guru honorer SMAN 1 Torjun itu selesai dalam lima hari. Sejak Selasa (6/2) berkas tersebut telah masuk ke kejaksaan negeri (kejari).

Saksi yang dimintai keterangan penyidik bertambah dua orang menjadi sebelas orang. Terdiri dari siswa, guru, dan keluarga korban. Perinciannya, tiga orang guru, tujuh siswa, dan Sianit Sinta yang merupakan istri almarhum.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, kasus yang melibatkan anak di bawah umur segera ditangani. Pihaknya sudah merampungkan berkas perkara dengan tersangka siswa berinisial HZF. ”Berkas sudah kami limpahkan. Tinggal menunggu jawaban dari kejaksaan,” ucapnya saat menghadiri sosialisasi KPU pada Selasa (6/2) malam.

Tersangka beberapa kali dipanggil bagian bimbingan konseling (BK) sekolah. Karena itu, sangat mungkin berarti melanggar aturan sekolah. Itu sesuai keterangan saksi. ”Bolos atau mungkin nakal dan lain-lain. Intinya, yang dipanggil lebih dari sekalilah,” ujar mantan Kaden A Pelopor Satbrimob Polda Jatim.

Baca Juga :  Suara Caleg Kelahiran┬áSumatera Unggul di Sampang

Perwira menengah asal Ciamis, Jawa Barat itu menjelaskan, tersangka dititipkan di Rutan Kelas II-B Sampang. Di rutan itu ada ruangan khusus karena dikategorikan anak di bawah umur. ”Itu harus dilakukan,” tandasnya.

Humas Kejari Sampang Joko Suharyanto mengakui menerima berkas perkara penganiayaan murid kepada guru itu. Pihaknya segera meneliti berkas tersebut. ”Kalau ada kekurangan kami kembalikan. Perkara anak memang harus cepat,” katanya.

Pria asal Lampung itu menegaskan, pihaknya memiliki waktu tujuh hari untuk menyelesaikan berkas tersebut. Kemungkinan, dalam bulan ini bisa disidangkan. ”Sebelum tujuh hari harus selesai. Kami secepatnya P21,” pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombespol Frans Barung Mangera menerangkan, tersangka mempunyai hak-hak sebagai anak. Penanganan perkara anak memiliki spesifikasi. ”Kita harus tahu bahwa anak didampingi psikolog maupun pemerhati anak,” jelasnya.

Baca Juga :  Pasutri di Pulau Sapudi Dibacok Orang Tak Dikenal

Meskipun HZF melakukan penganiayaan hingga menyebabkan orang lain meninggal dunia, penahanan tersangka tidak boleh digabung dengan tahanan lain. Polisi tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. ”Tahanan lain harus dipisah dengan yang bersangkutan. Dia harus sendiri,” tegasnya.

Kasus penganiayaan siswa kelas XII SMAN 1 Torjun berinisial HZF terhadap Achmad Budi Cahyanto terjadi Kamis (1/2). HZF tidak mengikuti arahan guru dan justru mengganggu teman-temannya. Remaja 17 tahun itu malah mencoret-coret lukisan milik teman-temannya.

Saat ditegur, anak kepala pasar itu tak menghiraukan. Budi menyanksi dengan memoleskan cat ke pipinya sesuai perjanjian. HZF tidak terima dan memukul gurunya. Budi kemudian mengambil kertas presensi dan memukul ke arah korban.

HZF menangkis dan memukul sang guru. Pukulan itu mengenai pelipis kanan dan mengakibatkan guru yang juga musisi itu terjatuh. Korban meninggal dunia di rumah sakit. HZF ditetapkan tersangka dan ditahan di Rutan Kelas II-B Sampang.

SAMPANG – Polres Sampang bekerja cepat menangani kasus penganiayaan yang mengakibatkan Achmad Budi Cahyanto meninggal dunia. Berkas perkara penganiayaan guru honorer SMAN 1 Torjun itu selesai dalam lima hari. Sejak Selasa (6/2) berkas tersebut telah masuk ke kejaksaan negeri (kejari).

Saksi yang dimintai keterangan penyidik bertambah dua orang menjadi sebelas orang. Terdiri dari siswa, guru, dan keluarga korban. Perinciannya, tiga orang guru, tujuh siswa, dan Sianit Sinta yang merupakan istri almarhum.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, kasus yang melibatkan anak di bawah umur segera ditangani. Pihaknya sudah merampungkan berkas perkara dengan tersangka siswa berinisial HZF. ”Berkas sudah kami limpahkan. Tinggal menunggu jawaban dari kejaksaan,” ucapnya saat menghadiri sosialisasi KPU pada Selasa (6/2) malam.


Tersangka beberapa kali dipanggil bagian bimbingan konseling (BK) sekolah. Karena itu, sangat mungkin berarti melanggar aturan sekolah. Itu sesuai keterangan saksi. ”Bolos atau mungkin nakal dan lain-lain. Intinya, yang dipanggil lebih dari sekalilah,” ujar mantan Kaden A Pelopor Satbrimob Polda Jatim.

Baca Juga :  Keluarga Tersangka Kunjungi Rumah Duka Guru Budi

Perwira menengah asal Ciamis, Jawa Barat itu menjelaskan, tersangka dititipkan di Rutan Kelas II-B Sampang. Di rutan itu ada ruangan khusus karena dikategorikan anak di bawah umur. ”Itu harus dilakukan,” tandasnya.

Humas Kejari Sampang Joko Suharyanto mengakui menerima berkas perkara penganiayaan murid kepada guru itu. Pihaknya segera meneliti berkas tersebut. ”Kalau ada kekurangan kami kembalikan. Perkara anak memang harus cepat,” katanya.

Pria asal Lampung itu menegaskan, pihaknya memiliki waktu tujuh hari untuk menyelesaikan berkas tersebut. Kemungkinan, dalam bulan ini bisa disidangkan. ”Sebelum tujuh hari harus selesai. Kami secepatnya P21,” pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombespol Frans Barung Mangera menerangkan, tersangka mempunyai hak-hak sebagai anak. Penanganan perkara anak memiliki spesifikasi. ”Kita harus tahu bahwa anak didampingi psikolog maupun pemerhati anak,” jelasnya.

Baca Juga :  Suara Caleg Kelahiran┬áSumatera Unggul di Sampang

Meskipun HZF melakukan penganiayaan hingga menyebabkan orang lain meninggal dunia, penahanan tersangka tidak boleh digabung dengan tahanan lain. Polisi tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. ”Tahanan lain harus dipisah dengan yang bersangkutan. Dia harus sendiri,” tegasnya.

Kasus penganiayaan siswa kelas XII SMAN 1 Torjun berinisial HZF terhadap Achmad Budi Cahyanto terjadi Kamis (1/2). HZF tidak mengikuti arahan guru dan justru mengganggu teman-temannya. Remaja 17 tahun itu malah mencoret-coret lukisan milik teman-temannya.

Saat ditegur, anak kepala pasar itu tak menghiraukan. Budi menyanksi dengan memoleskan cat ke pipinya sesuai perjanjian. HZF tidak terima dan memukul gurunya. Budi kemudian mengambil kertas presensi dan memukul ke arah korban.

HZF menangkis dan memukul sang guru. Pukulan itu mengenai pelipis kanan dan mengakibatkan guru yang juga musisi itu terjatuh. Korban meninggal dunia di rumah sakit. HZF ditetapkan tersangka dan ditahan di Rutan Kelas II-B Sampang.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/