alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Digugat hingga MA, RSIA Mukti Husada Menang

PAMEKASAN – Sengketa lahan antara manajemen RSIA Mukti Husada dengan belasan sejumlah warga yang mengaku pemilik lahan, tuntas. Juru sita Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan melakukan eksekusi Rabu (6/6).

Sengketa lahan tersebut berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Lahan seluas 540 meter persegi rumah sakit ibu dan anak (RSIA) itu diklaim milik perorangan. Tak ayal, manajemen rumah sakit menyengketakan secara perdata melalui PN Pamekasan.

Panitera PN Pamekasan Suwandi mengatakan, sengketa lahan itu masuk ke pengadilan pada 2014. Manajemen RSIA Mukti Husada menggugat 14 orang yang mengklaim memiliki hak atas tanah rumah sakit tersebut. Kemudian, majelis hakim memutus manajemen rumah sakit menang atas gugatan itu.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Putusan Nomor 9.pdt.G/2014/PN.pmk. Putusan tersebut tidak membuat tergugat puas. Mereka melanjutkan upaya hukum banding. Putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur sama. Memenangkan penggugat. Putusan tersebut tertuang dalam Surat Putusan Nomor 695/PDT/2015/PT SBY.

Baca Juga :  Abang Becak Dihukum Percobaan Sebulan

Putusan banding itu belum juga memuaskan bagi penggugat. Tak ayal, mereka melanjutkan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Namun, lagi-lagi upaya yang dilakukan itu kandas.

MA tetap memenangkan penggugat. Gugatan kasasi itu ditolak yang tertuang dalam Surat Putusan Nomor 3073 K/Pdt/2016. Bahkan, pemohon kasasi itu dihukum dengan harus membayar Rp 500 ribu. ”Kasus ini sudah inkrah,” katanya.

Putusan kasasi itu diberitahukan kepada para pihak. PN Pamekasan mendapat surat permohonan sita eksekusi dari pemohon. PN Pamekasan mengeluarkan aanmaning (teguran, Red) sebanyak tiga kali kepada tergugat.

Suwandi mengatakan, yang dilakukan juru sita itu yakni eksekusi. Dengan demikian, objek yang disita tetap dikuasai tergugat. Hanya, objek itu tidak boleh dipindahtangankan atau dijual. ”Semoga penggugat dan tergugat segera ada titik temu,” katanya.

Baca Juga :  Tukang Becak Mencari Keadilan

Pada saat sita eksekusi, tidak satu pun pihak tergugat hadir. Sementara pihak penggugat diwakili Moh. Taufik selaku pendamping hukum. ”Alhamdulillah sita eksekusi ini berjalan lancar,” kata Taufik.

Menurut dia, ada indikasi lahan yang diklaim milik perorangan itu dijual. Dengan demikian, manajemen rumah sakit menindaklanjuti dengan pelaporan ke Mapolda Jatim dari sisi pidana.

PAMEKASAN – Sengketa lahan antara manajemen RSIA Mukti Husada dengan belasan sejumlah warga yang mengaku pemilik lahan, tuntas. Juru sita Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan melakukan eksekusi Rabu (6/6).

Sengketa lahan tersebut berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Lahan seluas 540 meter persegi rumah sakit ibu dan anak (RSIA) itu diklaim milik perorangan. Tak ayal, manajemen rumah sakit menyengketakan secara perdata melalui PN Pamekasan.

Panitera PN Pamekasan Suwandi mengatakan, sengketa lahan itu masuk ke pengadilan pada 2014. Manajemen RSIA Mukti Husada menggugat 14 orang yang mengklaim memiliki hak atas tanah rumah sakit tersebut. Kemudian, majelis hakim memutus manajemen rumah sakit menang atas gugatan itu.


Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Putusan Nomor 9.pdt.G/2014/PN.pmk. Putusan tersebut tidak membuat tergugat puas. Mereka melanjutkan upaya hukum banding. Putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur sama. Memenangkan penggugat. Putusan tersebut tertuang dalam Surat Putusan Nomor 695/PDT/2015/PT SBY.

Baca Juga :  Aparat Desa-Warga Tolak Penertiban Aset

Putusan banding itu belum juga memuaskan bagi penggugat. Tak ayal, mereka melanjutkan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Namun, lagi-lagi upaya yang dilakukan itu kandas.

MA tetap memenangkan penggugat. Gugatan kasasi itu ditolak yang tertuang dalam Surat Putusan Nomor 3073 K/Pdt/2016. Bahkan, pemohon kasasi itu dihukum dengan harus membayar Rp 500 ribu. ”Kasus ini sudah inkrah,” katanya.

Putusan kasasi itu diberitahukan kepada para pihak. PN Pamekasan mendapat surat permohonan sita eksekusi dari pemohon. PN Pamekasan mengeluarkan aanmaning (teguran, Red) sebanyak tiga kali kepada tergugat.

Suwandi mengatakan, yang dilakukan juru sita itu yakni eksekusi. Dengan demikian, objek yang disita tetap dikuasai tergugat. Hanya, objek itu tidak boleh dipindahtangankan atau dijual. ”Semoga penggugat dan tergugat segera ada titik temu,” katanya.

Baca Juga :  Akhir Tahun, PN Tolak Perkara Baru

Pada saat sita eksekusi, tidak satu pun pihak tergugat hadir. Sementara pihak penggugat diwakili Moh. Taufik selaku pendamping hukum. ”Alhamdulillah sita eksekusi ini berjalan lancar,” kata Taufik.

Menurut dia, ada indikasi lahan yang diklaim milik perorangan itu dijual. Dengan demikian, manajemen rumah sakit menindaklanjuti dengan pelaporan ke Mapolda Jatim dari sisi pidana.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Angin Kencang, Nelayan Tidur di Perahu

Tuding DPMPTSP Pelihara Calo

Persesa Dorong Liga 3 Digulirkan

Artikel Terbaru

/