alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Merekatkan Hubungan Silaturahmi

ISLAM adalah agama yang indah dan paripurna mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga harmonisasi keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan.

Agar hubungan persaudaraan tetap terjalin erat, perlu membangun hubungan silaturahmi dengan sesama umat, kekerabat atau menyambung sanak saudara. Perintah menyambung silaturahmi tidak memiliki time limit apalagi kadaluwarsa.

Quraish Shihab berpandangan, silaturahmi adalah menyambung dan menghimpun sesuatu yang putus dan terserak. Seruan menyambung silaturahmi termasuk perkara pertama yang diserukan Nabi Muhammad di awal pengangkatan beliau sebagai Nabi.

Di antara bentuk taqarrub paling berharga, ketaatan paling agung, memiliki kedudukan paling tinggi, keberkahan agung, mendatangkan manfaat besar serta menyeluruh di dunia dan akhirat adalah silaturahmi. Orang yang memutus tali silaturahmi terancam tidak bisa masuk surga sebagaimana disampaikan Abu Muhammad Jubair bin Muth’im RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam banyak literatur klasik, manfaat silaturahmi menjadi sebab pintu rezeki terbuka dan panjang umur di dunia. Sementara di akhirat kelak akan mendapatkan kemenangan dengan memperoleh surga dan keselamatan dari neraka.

Banyak cara untuk menyambung silaturahmi. Misalnya dengan saling berziarah atau berkunjung, saling memberi hadiah, atau dengan pemberian lain. Menyambung silaturahmi dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, menjaga hubungan sebagai tetangga, rekan seprofesi, hubungan antar sahabat, hubungan relasi bisnis, hubungan sebagai keluarga muslim, dan hubungan sesama manusia.

Agama juga mengatur hubungan manusia dengan hewan, tanah, dan alam raya. Semua memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Dengan saling menjaga hak dan kewajiban tersebut akan terbentuk masyarakat yang berdiri di atas rasa saling memiliki, saling menghargai, dan saling berempati untuk bersama-sama membangun demi kebaikan dunia dan akhirat.

Silaturahmi dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, dimaksudkan menjaga hubungan baik dengan seluruh elemen masyarakat mulai dari level tertinggi sampai level terbawah. Apalagi, bangsa ini baru menggelar hajatan besar pesta rakyat 17 April 2019.

Baca Juga :  Juara Gala Desa Masuk Program Pembinaan

Hiruk pikuk pemilihan umum tahun ini telah memekakkan telinga berbagai pihak. Arus gelombang yang begitu dahsyat pasca pemungutan suara terus meningkat seiring terjadinya klaim kemenangan masing-masing pasangan calon. Dagelan politik tengah dimainkan para elite politik untuk merebut simpati masyarakat agar tetap mendapatkan dukungan untuk melegitimasi kekuatan yang tengah mereka bangun.

Beberapa hari terakhir, kita disuguhkan gencarnya pemberitaan di media sosial terkait rencana silaturahmi Joko Widodo dengan Prabowo Subianto pasca pelaksanaan pemungutan suara. Agenda silaturahmi kedua tokoh bangsa ini ternyata tak kunjung bersambut dengan baik oleh Probowo Subianto. Dari peristiwa ini kemudian muncul beragam asumsi.

Melalui juru bicaranya, Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan, alasan Probowo Subianto menolak bertemu Joko Widodo karena Prabowo dan Tim BPN ingin fokus mengawal perolehan suara sampai rekapitulasi di KPU selesai.

Sepertinya ketegangan ini akan terus berlanjut sampai semua pihak menurunkan ego masing-masing. Klaim kemenangan sah-sah saja, sebab mereka merasa yakin dengan perolehan suara yang signifikan berdasarkan hasil hitung cepat survei internal kedua belah pihak.

Keyakinan tingkat akurasinya quick count terungkap dari beberapa pelaksanaan pemilu sebelumnya, baik di pilkada atau pilgub. Terlepas, apakah hasil hitung cepat itu diakui atau tidak sebagai sebuah kebenaran. Namun, poin pentingnya adalah kondisi bangsa ini tetap dalam keadaan sejuk dan damai. Demi menjaga keteduhan dan keamanan tersebut, alangkah lebih eloknya jika masing-masing pasangan capres-cawapres menahan diri sembari menunggu sampai ada keputusan resmi dari KPU pada 22 Mei 2019.

Jika hasil rekapitulasi KPU dianggap tidak mewakili hasil yang diperoleh masing-masing calon atau ditemukan ada kejanggalan, semua pihak bisa menyalurkan lewat prosedur hukum. Saluran penyelesaian sengketa pemilu harusnya lewat jalur konstitusi melalui Bawaslu atau lewat Mahkamah Konstitusi. Bukan justru lewat cara-cara inkonstitusional.

Baca Juga :  Panitia Matangkan Rangkaian Acara Ludruk Santri

Proses pemilu yang berjalan begitu panjang ini hanya tinggal menunggu hasil akhir. Siapa pun yang diputuskan sebagai pemenang, semua pihak harus menerima dan menghormati keputusan KPU. Kebesaran hati dan jiwa kesatria harus ditunjukkan masing-masing calon dan pendukung yang dinyatakan kalah atau yang menang sekalipun. Yang menang tidak boleh jemawa, dan yang kalah harus legawa.

Saatnya bangsa ini bersatu. Lupakan persaingan antar pendukung. Hari ini bukan waktunya berbicara kelompok. Kita adalah saudara sebangsa dan setanah air. Jika hal ini kita sadari, apa saja yang akan mengarah pada disintegrasi bangsa dapat dihindari. Perlu kita galakkan membangun hubungan antar tokoh bangsa dan tokoh agama untuk merekatkan kembali hubungan silaturahmi yang nyaris putus akibat egoisme masing-masing.

Angin segar mulai berembus dari konsolidasi para kiai sepuh dan pimpinan pondok pesantren pendukung Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin dan Probowo Subianto-Sandiaga Uno di kediaman Gus Ipul, Surabaya, pada 19 April 2019. Konsolidasi ini adalah langkah konkret mengembalikan situasi politik yang tak kunjung adem ayem pasca pilpres dan pileg. Kita juga berharap, ketegangan dan kegaduhan ini segera berakhir sehingga bangsa ini tetap menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, dan tetap menjunjung tinggi persaudaraan dalam perbedaan.

Tidak ada yang lebih penting untuk kita sikapi dari situasi politik tanah air, kecuali kita mampu merawat dan menjaga agar Negara ini segera hijrah dari sekat-sekat dan kelompok-kelompok yang justru akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak luar yang ingin membuat Negara ini kembali menjadi Negara pulau kecil. Lebih baik kita merawat kebinekaan ini daripada hancur akibat egoisme berlebihan.

Siapa pun Anda, apa pun ikhtiar politiknya, kita tetap satu susa, satu bangsa. Indonesia. 

 

*Alumnus Ponpes Raudlah Najiyah Lengkong, Bragung, Guluk-Guluk, Sumenep.

ISLAM adalah agama yang indah dan paripurna mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga harmonisasi keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan.

Agar hubungan persaudaraan tetap terjalin erat, perlu membangun hubungan silaturahmi dengan sesama umat, kekerabat atau menyambung sanak saudara. Perintah menyambung silaturahmi tidak memiliki time limit apalagi kadaluwarsa.

Quraish Shihab berpandangan, silaturahmi adalah menyambung dan menghimpun sesuatu yang putus dan terserak. Seruan menyambung silaturahmi termasuk perkara pertama yang diserukan Nabi Muhammad di awal pengangkatan beliau sebagai Nabi.


Di antara bentuk taqarrub paling berharga, ketaatan paling agung, memiliki kedudukan paling tinggi, keberkahan agung, mendatangkan manfaat besar serta menyeluruh di dunia dan akhirat adalah silaturahmi. Orang yang memutus tali silaturahmi terancam tidak bisa masuk surga sebagaimana disampaikan Abu Muhammad Jubair bin Muth’im RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam banyak literatur klasik, manfaat silaturahmi menjadi sebab pintu rezeki terbuka dan panjang umur di dunia. Sementara di akhirat kelak akan mendapatkan kemenangan dengan memperoleh surga dan keselamatan dari neraka.

Banyak cara untuk menyambung silaturahmi. Misalnya dengan saling berziarah atau berkunjung, saling memberi hadiah, atau dengan pemberian lain. Menyambung silaturahmi dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, menjaga hubungan sebagai tetangga, rekan seprofesi, hubungan antar sahabat, hubungan relasi bisnis, hubungan sebagai keluarga muslim, dan hubungan sesama manusia.

Agama juga mengatur hubungan manusia dengan hewan, tanah, dan alam raya. Semua memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Dengan saling menjaga hak dan kewajiban tersebut akan terbentuk masyarakat yang berdiri di atas rasa saling memiliki, saling menghargai, dan saling berempati untuk bersama-sama membangun demi kebaikan dunia dan akhirat.

Silaturahmi dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, dimaksudkan menjaga hubungan baik dengan seluruh elemen masyarakat mulai dari level tertinggi sampai level terbawah. Apalagi, bangsa ini baru menggelar hajatan besar pesta rakyat 17 April 2019.

Baca Juga :  Yang Tidak Kiai Katakan

Hiruk pikuk pemilihan umum tahun ini telah memekakkan telinga berbagai pihak. Arus gelombang yang begitu dahsyat pasca pemungutan suara terus meningkat seiring terjadinya klaim kemenangan masing-masing pasangan calon. Dagelan politik tengah dimainkan para elite politik untuk merebut simpati masyarakat agar tetap mendapatkan dukungan untuk melegitimasi kekuatan yang tengah mereka bangun.

Beberapa hari terakhir, kita disuguhkan gencarnya pemberitaan di media sosial terkait rencana silaturahmi Joko Widodo dengan Prabowo Subianto pasca pelaksanaan pemungutan suara. Agenda silaturahmi kedua tokoh bangsa ini ternyata tak kunjung bersambut dengan baik oleh Probowo Subianto. Dari peristiwa ini kemudian muncul beragam asumsi.

Melalui juru bicaranya, Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan, alasan Probowo Subianto menolak bertemu Joko Widodo karena Prabowo dan Tim BPN ingin fokus mengawal perolehan suara sampai rekapitulasi di KPU selesai.

Sepertinya ketegangan ini akan terus berlanjut sampai semua pihak menurunkan ego masing-masing. Klaim kemenangan sah-sah saja, sebab mereka merasa yakin dengan perolehan suara yang signifikan berdasarkan hasil hitung cepat survei internal kedua belah pihak.

Keyakinan tingkat akurasinya quick count terungkap dari beberapa pelaksanaan pemilu sebelumnya, baik di pilkada atau pilgub. Terlepas, apakah hasil hitung cepat itu diakui atau tidak sebagai sebuah kebenaran. Namun, poin pentingnya adalah kondisi bangsa ini tetap dalam keadaan sejuk dan damai. Demi menjaga keteduhan dan keamanan tersebut, alangkah lebih eloknya jika masing-masing pasangan capres-cawapres menahan diri sembari menunggu sampai ada keputusan resmi dari KPU pada 22 Mei 2019.

Jika hasil rekapitulasi KPU dianggap tidak mewakili hasil yang diperoleh masing-masing calon atau ditemukan ada kejanggalan, semua pihak bisa menyalurkan lewat prosedur hukum. Saluran penyelesaian sengketa pemilu harusnya lewat jalur konstitusi melalui Bawaslu atau lewat Mahkamah Konstitusi. Bukan justru lewat cara-cara inkonstitusional.

Baca Juga :  Juara Gala Desa Masuk Program Pembinaan

Proses pemilu yang berjalan begitu panjang ini hanya tinggal menunggu hasil akhir. Siapa pun yang diputuskan sebagai pemenang, semua pihak harus menerima dan menghormati keputusan KPU. Kebesaran hati dan jiwa kesatria harus ditunjukkan masing-masing calon dan pendukung yang dinyatakan kalah atau yang menang sekalipun. Yang menang tidak boleh jemawa, dan yang kalah harus legawa.

Saatnya bangsa ini bersatu. Lupakan persaingan antar pendukung. Hari ini bukan waktunya berbicara kelompok. Kita adalah saudara sebangsa dan setanah air. Jika hal ini kita sadari, apa saja yang akan mengarah pada disintegrasi bangsa dapat dihindari. Perlu kita galakkan membangun hubungan antar tokoh bangsa dan tokoh agama untuk merekatkan kembali hubungan silaturahmi yang nyaris putus akibat egoisme masing-masing.

Angin segar mulai berembus dari konsolidasi para kiai sepuh dan pimpinan pondok pesantren pendukung Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin dan Probowo Subianto-Sandiaga Uno di kediaman Gus Ipul, Surabaya, pada 19 April 2019. Konsolidasi ini adalah langkah konkret mengembalikan situasi politik yang tak kunjung adem ayem pasca pilpres dan pileg. Kita juga berharap, ketegangan dan kegaduhan ini segera berakhir sehingga bangsa ini tetap menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, dan tetap menjunjung tinggi persaudaraan dalam perbedaan.

Tidak ada yang lebih penting untuk kita sikapi dari situasi politik tanah air, kecuali kita mampu merawat dan menjaga agar Negara ini segera hijrah dari sekat-sekat dan kelompok-kelompok yang justru akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak luar yang ingin membuat Negara ini kembali menjadi Negara pulau kecil. Lebih baik kita merawat kebinekaan ini daripada hancur akibat egoisme berlebihan.

Siapa pun Anda, apa pun ikhtiar politiknya, kita tetap satu susa, satu bangsa. Indonesia. 

 

*Alumnus Ponpes Raudlah Najiyah Lengkong, Bragung, Guluk-Guluk, Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/