alexametrics
28.2 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Divonis 6 Tahun, HZF Bakal Dipindah ke LPKA Kelas 1 Blitar

SAMPANG – HZF (inisial), siswa yang didakwa menganiaya Achmad Budi Cahyanto hingga meninggal, menjalani sidang vonis di Pengadilan Negeri (PN) Sampang Selasa (6/3). Majelis hakim menjatuhkan vonis enam tahun penjara kepada HZF. Selanjutnya, dia akan ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Blitar.

Sidang perkara penganiayaan guru hingga meninggal itu dimulai pukul 11.00 di ruang sidang anak PN Sampang. Sidang HZF dilaksanakan secara terbuka dan dihadiri keluarga Achmad Budi Cahyanto. Keluarga terdakwa juga hadir.

Sidang dijaga ketat aparat kepolisian bersenjata lengkap, baik di dalam maupun di luar ruangan. Sidang vonis perkara penganiayaan guru itu berlangsung lancar dan aman sampai selesai.

Humas PN Sampang I Gede Perwata menyatakan, atas pertimbangan hasil pemeriksaan saksi di persidangan, hakim memutuskan menjatuhkan hukuman enam tahun penjara kepada HZF. Majelis hakim memerintahkan, HZF dikirim ke LPKA Kelas 1 Blitar.

Baca Juga :  Berkas Kasus Pengembangan Tebu Pindah Tangan

Menurut dia, LPKA Kelas 1 Blitar merupakan salah satu tempat yang tepat dibandingkan dengan rumah perlindungan sosial (RPS) Dinas Sosial Sampang. Sebab, di Blitar tempatnya memang didedikasikan untuk anak.

Mengenai vonis yang dijatuhkan kepada HZF tersebut, para pihak masih berhak mengajukan banding. Baik dari penasihat hukum HZF maupun jaksa penuntut umum. ”Hakim memberikan waktu kepada penasihat hukum dan jaksa untuk pikir-pikir atas vonis itu,” ujarnya.

Hafidz Syafii, penasihat hukum HZF, menegaskan, bakal pikir-pikir terlebih dahulu atas vonis enam tahun yang dijatuhkan majelis hakim. ”Satu minggu ini kami akan pikir-pikir, terutama mengenai putusan tempat HZF menjalani hukuman,” katanya.

Jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Munarwi juga menyampaikan pikir-pikir atas putusan enam tahun yang diberikan majelis hakim. Menurut dia, putusan itu akan disampaikan kepada pimpinan kejari.

Baca Juga :  Mendikbud Bertekad Bangun SMK Garam di Madura

”Kami akan sampaikan hasil sidang vonis. Selanjutnya, saya menunggu petunjuk dan perintah dari pimpinan karena saya hanya jaksa,” paparnya.

Kuasa hukum Achmad Budi Cahyanto mengakui bahwa putusan enam tahun dari tuntutan tujuh tahun lima bulan itu sudah bagus. Namun, pihaknya berjanji akan mencari kebenaran dari identitas HZF.

Sebab, informasi yang diterimanya, HZF lahir pada 13 Maret 2000. Berdasar informasi itu, pihaknya akan mengkroscek lagi kebenarannya ke sekolah HZF. ”Putusan hakim sudah bagus. Tapi, kami akan cari kebenaran identitasnya. Jika benar HZF kelahiran tahun 2000, maka kami akan meminta jaksa untuk PK,” ujarnya.

Keluarga Achmad Budi Cahyanto enggan berkomentar setelah persidangan. Mereka yang berjumlah sekitar delapan orang memilih langsung pulang usai sidang.

 

SAMPANG – HZF (inisial), siswa yang didakwa menganiaya Achmad Budi Cahyanto hingga meninggal, menjalani sidang vonis di Pengadilan Negeri (PN) Sampang Selasa (6/3). Majelis hakim menjatuhkan vonis enam tahun penjara kepada HZF. Selanjutnya, dia akan ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Blitar.

Sidang perkara penganiayaan guru hingga meninggal itu dimulai pukul 11.00 di ruang sidang anak PN Sampang. Sidang HZF dilaksanakan secara terbuka dan dihadiri keluarga Achmad Budi Cahyanto. Keluarga terdakwa juga hadir.

Sidang dijaga ketat aparat kepolisian bersenjata lengkap, baik di dalam maupun di luar ruangan. Sidang vonis perkara penganiayaan guru itu berlangsung lancar dan aman sampai selesai.


Humas PN Sampang I Gede Perwata menyatakan, atas pertimbangan hasil pemeriksaan saksi di persidangan, hakim memutuskan menjatuhkan hukuman enam tahun penjara kepada HZF. Majelis hakim memerintahkan, HZF dikirim ke LPKA Kelas 1 Blitar.

Baca Juga :  Pendaftar Verifikasi Parpol Peserta Pemilu 2019 Sedikit

Menurut dia, LPKA Kelas 1 Blitar merupakan salah satu tempat yang tepat dibandingkan dengan rumah perlindungan sosial (RPS) Dinas Sosial Sampang. Sebab, di Blitar tempatnya memang didedikasikan untuk anak.

Mengenai vonis yang dijatuhkan kepada HZF tersebut, para pihak masih berhak mengajukan banding. Baik dari penasihat hukum HZF maupun jaksa penuntut umum. ”Hakim memberikan waktu kepada penasihat hukum dan jaksa untuk pikir-pikir atas vonis itu,” ujarnya.

Hafidz Syafii, penasihat hukum HZF, menegaskan, bakal pikir-pikir terlebih dahulu atas vonis enam tahun yang dijatuhkan majelis hakim. ”Satu minggu ini kami akan pikir-pikir, terutama mengenai putusan tempat HZF menjalani hukuman,” katanya.

Jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Munarwi juga menyampaikan pikir-pikir atas putusan enam tahun yang diberikan majelis hakim. Menurut dia, putusan itu akan disampaikan kepada pimpinan kejari.

Baca Juga :  Pekan Depan Sidang Kasus Guru Budi

”Kami akan sampaikan hasil sidang vonis. Selanjutnya, saya menunggu petunjuk dan perintah dari pimpinan karena saya hanya jaksa,” paparnya.

Kuasa hukum Achmad Budi Cahyanto mengakui bahwa putusan enam tahun dari tuntutan tujuh tahun lima bulan itu sudah bagus. Namun, pihaknya berjanji akan mencari kebenaran dari identitas HZF.

Sebab, informasi yang diterimanya, HZF lahir pada 13 Maret 2000. Berdasar informasi itu, pihaknya akan mengkroscek lagi kebenarannya ke sekolah HZF. ”Putusan hakim sudah bagus. Tapi, kami akan cari kebenaran identitasnya. Jika benar HZF kelahiran tahun 2000, maka kami akan meminta jaksa untuk PK,” ujarnya.

Keluarga Achmad Budi Cahyanto enggan berkomentar setelah persidangan. Mereka yang berjumlah sekitar delapan orang memilih langsung pulang usai sidang.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/