alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Mamaca Mengandung Nilai Spiritual dan Pendidikan

SUMENEP – M. Ridwan menyelesaikan ujian disertasi di Universitas Negeri Malang pada Selasa (2/8). Dia menyelesaikan karya ilmiah berjudul Konstruksi Budaya dalam Wacana Tegges Mamaca Madura. Dia mengangkat itu untuk mempertahankan budaya mamaca yang kini hampir punah.

”Kebetulan saya ingin mengangkat tema-tema budaya yang ada di Madura,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Dalam disertasinya itu ada tiga hal yang dibahas. Yakni, berkaitan dengan mamaca Layang Jatiswara, Layang Candra Jagad, dan Layang Babad Songennep. Selama melakukan penelitian, Ridwan menemukan banyak hal dalam macapat. Salah satunya, peminat budaya mamaca mulai sedikit. Bahkan, pelaku mamaca mayoritas tua, usia 60 tahun ke atas.

Baca Juga :  Bupati Ra Latif Blusukan untuk Menyerahkan Bantuan Sembako

”Anggota kompolan memang tidak ada yang muda. Jadi, ini kalau tidak diteliti, dilestarikan, dan diselamatkan bisa punah,” ucapnya.

Sebelumnya, Ridwan hanya mengetahui dan mendengar mamaca. Akan tetapi, dirinya tidak mengetahui secara pasti bagaimana budaya itu. Setelah melakukan penelitian itu, dirinya memahami bahwa mamaca itu mengandung banyak makna yang dalam.

”Ternyata di dalamnya itu ada nilai-nilai spiritual dan pendidikan,” jelas putra pasangan Zaini dan Sadrima itu. ”Jadi, dapat kita ambil hikmahnya. Makanya, ini harus terus dilestarikan dan harus ada generasi penerusnya,” tutup pegiat Lembaga Kajian Seni Budaya Pangesto Ne-t_Think Community itu. (iqb/luq)

SUMENEP – M. Ridwan menyelesaikan ujian disertasi di Universitas Negeri Malang pada Selasa (2/8). Dia menyelesaikan karya ilmiah berjudul Konstruksi Budaya dalam Wacana Tegges Mamaca Madura. Dia mengangkat itu untuk mempertahankan budaya mamaca yang kini hampir punah.

”Kebetulan saya ingin mengangkat tema-tema budaya yang ada di Madura,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Dalam disertasinya itu ada tiga hal yang dibahas. Yakni, berkaitan dengan mamaca Layang Jatiswara, Layang Candra Jagad, dan Layang Babad Songennep. Selama melakukan penelitian, Ridwan menemukan banyak hal dalam macapat. Salah satunya, peminat budaya mamaca mulai sedikit. Bahkan, pelaku mamaca mayoritas tua, usia 60 tahun ke atas.

Baca Juga :  Santri Harus Siap Hadapi Zaman

”Anggota kompolan memang tidak ada yang muda. Jadi, ini kalau tidak diteliti, dilestarikan, dan diselamatkan bisa punah,” ucapnya.


Sebelumnya, Ridwan hanya mengetahui dan mendengar mamaca. Akan tetapi, dirinya tidak mengetahui secara pasti bagaimana budaya itu. Setelah melakukan penelitian itu, dirinya memahami bahwa mamaca itu mengandung banyak makna yang dalam.

”Ternyata di dalamnya itu ada nilai-nilai spiritual dan pendidikan,” jelas putra pasangan Zaini dan Sadrima itu. ”Jadi, dapat kita ambil hikmahnya. Makanya, ini harus terus dilestarikan dan harus ada generasi penerusnya,” tutup pegiat Lembaga Kajian Seni Budaya Pangesto Ne-t_Think Community itu. (iqb/luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/