alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Pasutri Jadi Bos Narkoba

SAMPANG – Penggeledahan rumah pasangan suami istri (pasutri) Aldo, 35, dan Erlin, 32, Sabtu (2/2) sekitar pukul 16.30 mulai ada titik terang. Warga Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Sampang, tersebut diduga terlibat penyelundupan narkoba jenis sabu-sabu (SS) dari Malaysia.

Hal itu terungkap ketika tim gabungan BNN Pusat dan BNN Jawa timur membekuk lima orang yang membawa SS seberat 18 kilogram. Yaitu, Febriadi, 35, warga Dumai, Riau; Hasan,33, warga Sampang; dan Andi Gunawan, 48, warga Dumai, Riau. Selain itu, Iskandar,55, warga Rupat, Bengkalis, dan Wati Sriayu, warga Brebes, Jawa Tengah.

Barang bukti yang diamankan dari lima tersangka yakni tiga ransel hitam yang di dalamnya berisi 15 bungkus sabu-sabu seberat 18 kilogram. Selain itu, 12 handphone berbagai merek, buku rekening dan ATM, serta paspor turut diamankan petugas.

Kabid Pemberantasan BNNP Jatim AKBP Wisnu Chandra menyatakan, penyelundupan narkoba dari Malaysia yang berhasil digagalkan itu melewati rute Selat Malaka, Pulau Rupat, Dumai, Lampung, lalu menuju Surabaya. ”Setelah kami tangkap, tersangka dan barang bukti diamankan di BNNP Riau. Lalu diserahkan kepada kami untuk disidik,” katanya kemarin (5/2).

Baca Juga :  200 Polisi Amankan Setengah Gram Sabu-Sabu

Hasil pemeriksaan dan pengembangan penyidikan, kelima tersangka merupakan jaringan dari pasutri Aldo dan Erlin. Menurut dia, pasutri asal Sokobanah tersebut menjadi pemodal atau bandar yang mendatangkan sabu-sabu dari Malaysia sebanyak 18 kilogram.

”Setelah kami menerima informasi bahwa akan ada pengiriman narkoba, kami lakukan pengintaian. Sekitar dua bulan pengintaian kami lakukan untuk bisa mengungkap kasus ini,” beber Wisnu Chandra.

Menurut dia, pasutri Aldo dan Erlin bukan kali pertama mendatangkan SS ke Sampang. Namun, jaringan penyelundupan barang haram tersebut baru terendus dan terungkap pada awal 2019 ini.

”Pasutri itu langsung kami sergap di rumahnya. Alhamdulillah tim kami bisa cepat membawa pasutri dan keluarganya di rumah tersebut tanpa perlawanan,” ujarnya.

Pihaknya memperoleh dukungan warga sekitar supaya pasutri itu ditangkap. Keberadaan pasutri tersebut meresahkan warga sekitar. ”Ternyata sudah lama pasutri ini mendatangkan dan mengedarkan sabu-sabu dari Malaysia,” ungkapnya.

Baca Juga :  PPK Kadur Bakal Polisikan Araop

Seluruh tersangka dijerat pasal 114 ayat 1, pasal 112 ayat 1, dan pasal 132 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Khusus pasutri Aldo dan Erlin juga terancam dikenakan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU). ”Seluruh tersangka kami tahan di BNNP Jatim,” pungkasnya.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengakui jaringan narkoba di Sampang cukup rapi dan sistematis. Penyelidikan dan penyidikan sulit menembus orang pertama. ”Itu dari polda atau BNNP sudah punya target sendiri. Lagi pula sekarang masih dalam momentum kegiatan operasi tumpas narkoba,” jelasnya.

Menurut dia, jaringan narkoba di Sampang tidak boleh berkembang biak. Karena itu, polisi butuh dukungan serta informasi dari masyarakat jika ada kejanggalan di lingkungan sekitar rumah. ”Kami apresiasi tim yang telah berhasil mengungkap jaringan narkoba di wilayah utara Sampang,” tandas Budi Wardiman.

SAMPANG – Penggeledahan rumah pasangan suami istri (pasutri) Aldo, 35, dan Erlin, 32, Sabtu (2/2) sekitar pukul 16.30 mulai ada titik terang. Warga Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Sampang, tersebut diduga terlibat penyelundupan narkoba jenis sabu-sabu (SS) dari Malaysia.

Hal itu terungkap ketika tim gabungan BNN Pusat dan BNN Jawa timur membekuk lima orang yang membawa SS seberat 18 kilogram. Yaitu, Febriadi, 35, warga Dumai, Riau; Hasan,33, warga Sampang; dan Andi Gunawan, 48, warga Dumai, Riau. Selain itu, Iskandar,55, warga Rupat, Bengkalis, dan Wati Sriayu, warga Brebes, Jawa Tengah.

Barang bukti yang diamankan dari lima tersangka yakni tiga ransel hitam yang di dalamnya berisi 15 bungkus sabu-sabu seberat 18 kilogram. Selain itu, 12 handphone berbagai merek, buku rekening dan ATM, serta paspor turut diamankan petugas.


Kabid Pemberantasan BNNP Jatim AKBP Wisnu Chandra menyatakan, penyelundupan narkoba dari Malaysia yang berhasil digagalkan itu melewati rute Selat Malaka, Pulau Rupat, Dumai, Lampung, lalu menuju Surabaya. ”Setelah kami tangkap, tersangka dan barang bukti diamankan di BNNP Riau. Lalu diserahkan kepada kami untuk disidik,” katanya kemarin (5/2).

Baca Juga :  Pilkada Pamekasan, Ini┬áCalon Pemegang Rekom PPP

Hasil pemeriksaan dan pengembangan penyidikan, kelima tersangka merupakan jaringan dari pasutri Aldo dan Erlin. Menurut dia, pasutri asal Sokobanah tersebut menjadi pemodal atau bandar yang mendatangkan sabu-sabu dari Malaysia sebanyak 18 kilogram.

”Setelah kami menerima informasi bahwa akan ada pengiriman narkoba, kami lakukan pengintaian. Sekitar dua bulan pengintaian kami lakukan untuk bisa mengungkap kasus ini,” beber Wisnu Chandra.

Menurut dia, pasutri Aldo dan Erlin bukan kali pertama mendatangkan SS ke Sampang. Namun, jaringan penyelundupan barang haram tersebut baru terendus dan terungkap pada awal 2019 ini.

”Pasutri itu langsung kami sergap di rumahnya. Alhamdulillah tim kami bisa cepat membawa pasutri dan keluarganya di rumah tersebut tanpa perlawanan,” ujarnya.

Pihaknya memperoleh dukungan warga sekitar supaya pasutri itu ditangkap. Keberadaan pasutri tersebut meresahkan warga sekitar. ”Ternyata sudah lama pasutri ini mendatangkan dan mengedarkan sabu-sabu dari Malaysia,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polisi Sita 5 Kilogram Sabu-Sabu

Seluruh tersangka dijerat pasal 114 ayat 1, pasal 112 ayat 1, dan pasal 132 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Khusus pasutri Aldo dan Erlin juga terancam dikenakan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU). ”Seluruh tersangka kami tahan di BNNP Jatim,” pungkasnya.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengakui jaringan narkoba di Sampang cukup rapi dan sistematis. Penyelidikan dan penyidikan sulit menembus orang pertama. ”Itu dari polda atau BNNP sudah punya target sendiri. Lagi pula sekarang masih dalam momentum kegiatan operasi tumpas narkoba,” jelasnya.

Menurut dia, jaringan narkoba di Sampang tidak boleh berkembang biak. Karena itu, polisi butuh dukungan serta informasi dari masyarakat jika ada kejanggalan di lingkungan sekitar rumah. ”Kami apresiasi tim yang telah berhasil mengungkap jaringan narkoba di wilayah utara Sampang,” tandas Budi Wardiman.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/