alexametrics
20.7 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Menyelami Seluk Beluk Transaksi Syariah

BERAGAM transaksi berbasis syariah dewasa ini mulai gencar disosialisasikan dan diterapkan di Tanah Air. Tidak hanya pada kegiatan perbankan, model ini juga diterapkan dalam berbagai kegiatan usaha yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Transaksi syariah pun menjadi branding usaha dalam berbagai sektor.

Buku Akad Syariah karangan Irma Devita Purnamasari dan Suswinarno ini mencoba mengungkap lebih dalam seluk beluk transaksi syariah, baik yang dilakukan di dunia perbankan usaha perorangan. Termasuk juga dalam kegiatan kelompok masyarakat. Buku ini menunjukkan sejumlah fakta tentang keuntungan dan kelebihan dari kegiatan transaksional yang berbasis syariah.

Transaksi syariah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan transaksi lain yang bersifat konvensional. Titik tekan transaksi syariah berada pada akad yang dilakukan di awal setiap transaksi itu sendiri. Maka, akad syariah inilah yang kemudian menjadi ukuran kegiatan transaksi itu berbasis syariah atau tidak. Lalu, apa sebenarnya akad syariah?

Akad syariah pada dasarnya juga menganut asas kebebasan berkontrak seperti pada hukum positif. Para pihak bebas melakukan perjanjian dalam bentuk apa saja, sepanjang tidak melanggar syariat Islam, peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan kesusilaan. Jadi yang membedakan dengan asas kebebasan berkontrak yang dianut dalam hukum positif adalah aturan syariat Islam, yang melarang dibuatnya suatu perjanjian magrib (hlm 9).

Baca Juga :  Manusia Hanya Sesosok Hologram

 

Perbankan Syariah

Transaksi berbasis syariah memang lebih sering kita jumpai dalam kegiatan perbankan. Saat ini hampir semua bank di Indonesia sudah memiliki anak perusahaan yang secara langsung menganut perbankan syariah. Hal itu tentu berkaitan dengan pangsa pasar saat ini, dalam hal ini masyarakat lebih gandrung terhadap kegiatan perbankan syariah.

Banyak model yang diterapkan dalam kegiatan perbankan syariah. Semua model itu nyaris menggambarkan kesamaan hak antara penabung dengan pihak bank, sehingga terbangun kesan bahwa sistem perbankan syariah tidak melahirkan kerugian pada semua pihak. Semisal sistem wadiah (titipan), mudharabah  (bagi hasil), dan berbagai model lain yang saat ini sudah sangat populer di telinga masyarakat.

Pengertian mudharabah secara umum adalah kerja sama antara pemilik dana atau penanam modal dan pengelola modal untuk melakukan usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah (hlm 31). Dalam deposito mudharabah, nasabah bertindak sebagai pemilik dana yang berhak mendapatkan bagi hasil atas perputaran usaha yang dilakukan oleh bank.

Baca Juga :  Membuka Topeng Harun Yahya

Kendati memiliki banyak kemiripan dengan transaksi konvensional, akad syariah tentu memiliki keunggulan tersendiri. Salah satunya adalah kegiatan transaksi syariah sudah dipastikan sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dalam seluruh rentetan transaksinya terhindar dari praktik spekulasi atau judi, tipu muslihat, bunga, termasuk juga suap serta objek yang haram. Dengan demikian, transaski berbasis syariah merupakan jalan keluar untuk menyelamatkan harta manusia dari jeratan riba dan semacamnya.

Konsep syariah ini dapat diterapkan dalam praktik bisnis sehari-hari oleh siapa saja. Tidak harus beragama Islam; karena termasuk dalam koridor muamalah. Dalam mempelajari prinsip syariah, kita cukup membandingkan dengan prinsip hukum perjanjian konvensional yang diatur dalam hukum positif, dan selanjutnya memahami mekanisme alur pembiayaannya saja.

Dengan memahami alur dan perbandingan tersebut, mempelajari prinsip syariah menjadi sangat mudah dan menyenagkan (hlm 156). 

 

AHMAD WIYONO

Pegiat literasi, tinggal di Pamekasan.

BERAGAM transaksi berbasis syariah dewasa ini mulai gencar disosialisasikan dan diterapkan di Tanah Air. Tidak hanya pada kegiatan perbankan, model ini juga diterapkan dalam berbagai kegiatan usaha yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Transaksi syariah pun menjadi branding usaha dalam berbagai sektor.

Buku Akad Syariah karangan Irma Devita Purnamasari dan Suswinarno ini mencoba mengungkap lebih dalam seluk beluk transaksi syariah, baik yang dilakukan di dunia perbankan usaha perorangan. Termasuk juga dalam kegiatan kelompok masyarakat. Buku ini menunjukkan sejumlah fakta tentang keuntungan dan kelebihan dari kegiatan transaksional yang berbasis syariah.

Transaksi syariah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan transaksi lain yang bersifat konvensional. Titik tekan transaksi syariah berada pada akad yang dilakukan di awal setiap transaksi itu sendiri. Maka, akad syariah inilah yang kemudian menjadi ukuran kegiatan transaksi itu berbasis syariah atau tidak. Lalu, apa sebenarnya akad syariah?


Akad syariah pada dasarnya juga menganut asas kebebasan berkontrak seperti pada hukum positif. Para pihak bebas melakukan perjanjian dalam bentuk apa saja, sepanjang tidak melanggar syariat Islam, peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan kesusilaan. Jadi yang membedakan dengan asas kebebasan berkontrak yang dianut dalam hukum positif adalah aturan syariat Islam, yang melarang dibuatnya suatu perjanjian magrib (hlm 9).

Baca Juga :  Panwaslu Sampang Panggil Pj Bupati dan Kepala Bakesbangpol

 

Perbankan Syariah

Transaksi berbasis syariah memang lebih sering kita jumpai dalam kegiatan perbankan. Saat ini hampir semua bank di Indonesia sudah memiliki anak perusahaan yang secara langsung menganut perbankan syariah. Hal itu tentu berkaitan dengan pangsa pasar saat ini, dalam hal ini masyarakat lebih gandrung terhadap kegiatan perbankan syariah.

Banyak model yang diterapkan dalam kegiatan perbankan syariah. Semua model itu nyaris menggambarkan kesamaan hak antara penabung dengan pihak bank, sehingga terbangun kesan bahwa sistem perbankan syariah tidak melahirkan kerugian pada semua pihak. Semisal sistem wadiah (titipan), mudharabah  (bagi hasil), dan berbagai model lain yang saat ini sudah sangat populer di telinga masyarakat.

Pengertian mudharabah secara umum adalah kerja sama antara pemilik dana atau penanam modal dan pengelola modal untuk melakukan usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah (hlm 31). Dalam deposito mudharabah, nasabah bertindak sebagai pemilik dana yang berhak mendapatkan bagi hasil atas perputaran usaha yang dilakukan oleh bank.

Baca Juga :  Potensi Madura Harus Sejahterakan Rakyat

Kendati memiliki banyak kemiripan dengan transaksi konvensional, akad syariah tentu memiliki keunggulan tersendiri. Salah satunya adalah kegiatan transaksi syariah sudah dipastikan sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dalam seluruh rentetan transaksinya terhindar dari praktik spekulasi atau judi, tipu muslihat, bunga, termasuk juga suap serta objek yang haram. Dengan demikian, transaski berbasis syariah merupakan jalan keluar untuk menyelamatkan harta manusia dari jeratan riba dan semacamnya.

Konsep syariah ini dapat diterapkan dalam praktik bisnis sehari-hari oleh siapa saja. Tidak harus beragama Islam; karena termasuk dalam koridor muamalah. Dalam mempelajari prinsip syariah, kita cukup membandingkan dengan prinsip hukum perjanjian konvensional yang diatur dalam hukum positif, dan selanjutnya memahami mekanisme alur pembiayaannya saja.

Dengan memahami alur dan perbandingan tersebut, mempelajari prinsip syariah menjadi sangat mudah dan menyenagkan (hlm 156). 

 

AHMAD WIYONO

Pegiat literasi, tinggal di Pamekasan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

ASDP Operasikan Dua Kapal 20 Trip

Segera Relokasi Pedagang Karang Penang

Kasus Penurunan APK Dihentikan

Artikel Terbaru

/