alexametrics
27.9 C
Madura
Monday, May 16, 2022

KUPU Sutra Malang Binaan BRI Naik Kelas

Setelah Sepatu Ulat Sutra Samia Dipasarkan ke Mancanegara

JAKARTA – BRI komitmen membantu pelaku usaha memperluas pasar dan branding. Harapannya, para pelaku UMKM naik kelas dan meningkatkan skala usahanya. Seperti yang terjadi pada Koperasi Karya Usaha Petani Unggul (KUPU) Sutra asal Malang, Jawa Timur. Produk unggulannya, sepatu serat alam berbahan baku Sutra.

Pemilik KUPU Sutra Malang Arianto Nugroho menuturkan, sejak 2015 dirinya menekuni budidaya ulat Sutra Samia. Dalam perjalanannya, dia dikenalkan salah seorang koleganya kepada seorang akademisi asal Taiwan, Profesor Zhang.

Saat itu, Zhang sedang mencari potensi di negara-negara berkembang untuk budidaya ulat sutra samia. Itu untuk keperluan industri kain sutra di negaranya. Selain Indonesia, kata Arianto, Zhang juga menyasar Thailand, Vietnam dan Ethiopia.

Di Indonesia, Zhang melakukan seleksi. Arianto bukan calon tunggal. Namun, Arianto terpilih karena mampu mengembangkan ulat sutera dengan baik serta memenuhi kualitas yang dibutuhkan.

Setelah terpilih, Arianto meninggalkan usaha lamanya sebagai petani lobak yang diekspor ke Jepang. Dia pun merekrut beberapa petani dan anak muda untuk merintis usaha sutera yang awalnya baru berjumlah sekitar 30 orang.

Arianto pun mengekspor kepompong ulat sutra ke Taiwan. Sayangnya, usaha tersebut tidak bertahan lama karena terbentur regulasi. Pemerintah Indonesia menetapkan ekspor harus dalam bentuk barang setengah jadi atau barang jadi, bukan bahan baku industri.

“Saya tidak bisa kirim (ekspor) dan Taiwan tidak bisa nerima. Sempat bingung mau ngapain akhirnya kami riset dan dijadikan benang. Sekarang kami inovasi terus jadi kain,” ujar pria berusia 47 tahun itu.

Ternyata, ada banyak hal yang mendorong Arianto untuk terus berkembang. Sutra dari ulat sutra samia sangat diminati oleh negara luar karena termasuk eco friendly. Dalam pemanfaatannya tidak membunuh bakal ngengat dari ulat. Kemudian, bisa dicampur dengan bahan lain seperti kapas, rayon dan sebagainya.

Baca Juga :  Program Kartu Prakerja dan KUR Jadi Penyangga UMKM di Masa Pandemi

Saat melakukan pengembangan ulat sutra, Arianto juga membentuk ekosistem ekonomi yang kuat. Seperti pemberdayaan komunitas penyandang disabilitas dalam proses produksi sepatu serat alam miliknya.

Arianto juga sudah melakukan kolaborasi usaha dengan kelompok usaha tenun kain songket di Lombok. Pada 21 April, dia telah menjajaki kerja sama dengan pelaku UMKM lainnya di Sulawesi.

“Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat lokal setempat. Tujuannya, agar mereka dapat memanfaatkan kearifan lokal, jadi tidak hanya bergantung pada impor,” ukasnya.

“Kami berdayakan masyarakat dari budidaya, pintal tenun, menjadi produk sepatu dan sebagainya. Masih dalam satu lingkaran menjadi satu ekosistem usaha,” ulasnya.

Arianto mengungkapkan, pihaknya juga melibatkan komunitas disabilitas. “Dari petani, dari ibu-ibu setiap daerah kami bagi peran jadi satu lingkaran ekosistem usaha. Setelah ditenun, kami kembalikan ke teman artisan. Semua produk fashion, tidak hanya sepatu,” ulasnya.

Diberdayakan BRI
Ketika usahanya mulai berkembang, Arianto mendapat sokongan dari BRI sejak 2021. “Untuk pemasaran, BRI mendukung kami karena ini melibatkan padat karya. Terus dari segi branding, BRI juga mendukung kami. Ke depan, ketika kami ingin memperluas usaha, BRI sudah siap untuk akses permodalan” tuturnya.

Pembinaan yang dilakukan BRI melalui pelatihan yang diadakan bagi para pelaku UMKM. Bahkan pada 21 April lalu, Arianto akan kembali mendapatkan pelatihan bagi komunitas disabilitas yang terlibat dengan usahanya.

Baca Juga :  Disnakertrans Tak Siapkan Sarana-Prasarana

Arianto juga kerap diundang BRI dalam berbagai acara yang melibatkan pelaku UMKM. Salah satunya BRI UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

Hingga saat ini, komunitas usahanya telah melibatkan sekitar 200 orang. Jumlah itu menurun akibat pandemi dari sekitar 800 orang. Melalui pembinaan dari BRI, Arianto berharap dapat memperbesar usahanya untuk lebih memberdayakan masyarakat lokal dan memperkuat ekonomi di daerah.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pemberdayaan memang tidak hanya melalui akses permodalan. Perluasan akses pasar dan branding melalui pembinaan, pelatihan serta memfasilitas seperti melalui event BRI UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR juga merupakan komitmen berkelanjutan BRI untuk mendorong pelaku UMKM naik kelas dan memperbesar skala usahanya.

“Ini merupakan salah satu langkah nyata sekaligus komitmen BRI sebagai agent of development untuk memajukan UMKM Indonesia. Melalui berbagai pelatihan dan workshop, ditambah dengan pembinaan lainnya, saya yakin pelaku UMKM Indonesia akan lebih siap dan mampu bersaing di kancah internasional. Kami mendukung secara langsung upaya peningkatan kapasitas produksi dan kualitas pelaku UMKM,” ujarnya.

Dengan demikian, tambah Supari, pelaku usaha diharapkan memiliki semangat untuk terus mengembangkan usahanya dan memberdayakan masyarakat sekitar. Sehingga, ekonomi masyarakat di wilayah usaha binaan BRI lebih berdaya melalui pemanfaatan potensi dari sumber daya lokal.

“Karena sejatinya pemberdayaan UMKM yang merupakan upaya inklusi keuangan adalah salah satu jalan pengentasan kemiskinan dan pemerataan ekonomi,” pungkasnya. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

JAKARTA – BRI komitmen membantu pelaku usaha memperluas pasar dan branding. Harapannya, para pelaku UMKM naik kelas dan meningkatkan skala usahanya. Seperti yang terjadi pada Koperasi Karya Usaha Petani Unggul (KUPU) Sutra asal Malang, Jawa Timur. Produk unggulannya, sepatu serat alam berbahan baku Sutra.

Pemilik KUPU Sutra Malang Arianto Nugroho menuturkan, sejak 2015 dirinya menekuni budidaya ulat Sutra Samia. Dalam perjalanannya, dia dikenalkan salah seorang koleganya kepada seorang akademisi asal Taiwan, Profesor Zhang.

Saat itu, Zhang sedang mencari potensi di negara-negara berkembang untuk budidaya ulat sutra samia. Itu untuk keperluan industri kain sutra di negaranya. Selain Indonesia, kata Arianto, Zhang juga menyasar Thailand, Vietnam dan Ethiopia.

Di Indonesia, Zhang melakukan seleksi. Arianto bukan calon tunggal. Namun, Arianto terpilih karena mampu mengembangkan ulat sutera dengan baik serta memenuhi kualitas yang dibutuhkan.

Setelah terpilih, Arianto meninggalkan usaha lamanya sebagai petani lobak yang diekspor ke Jepang. Dia pun merekrut beberapa petani dan anak muda untuk merintis usaha sutera yang awalnya baru berjumlah sekitar 30 orang.

Arianto pun mengekspor kepompong ulat sutra ke Taiwan. Sayangnya, usaha tersebut tidak bertahan lama karena terbentur regulasi. Pemerintah Indonesia menetapkan ekspor harus dalam bentuk barang setengah jadi atau barang jadi, bukan bahan baku industri.

“Saya tidak bisa kirim (ekspor) dan Taiwan tidak bisa nerima. Sempat bingung mau ngapain akhirnya kami riset dan dijadikan benang. Sekarang kami inovasi terus jadi kain,” ujar pria berusia 47 tahun itu.

Ternyata, ada banyak hal yang mendorong Arianto untuk terus berkembang. Sutra dari ulat sutra samia sangat diminati oleh negara luar karena termasuk eco friendly. Dalam pemanfaatannya tidak membunuh bakal ngengat dari ulat. Kemudian, bisa dicampur dengan bahan lain seperti kapas, rayon dan sebagainya.

Baca Juga :  ID Food mulai Distribusikan Migor Curah dan Gula ke Pasar Tradisional di Kupang

Saat melakukan pengembangan ulat sutra, Arianto juga membentuk ekosistem ekonomi yang kuat. Seperti pemberdayaan komunitas penyandang disabilitas dalam proses produksi sepatu serat alam miliknya.

Arianto juga sudah melakukan kolaborasi usaha dengan kelompok usaha tenun kain songket di Lombok. Pada 21 April, dia telah menjajaki kerja sama dengan pelaku UMKM lainnya di Sulawesi.

“Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat lokal setempat. Tujuannya, agar mereka dapat memanfaatkan kearifan lokal, jadi tidak hanya bergantung pada impor,” ukasnya.

“Kami berdayakan masyarakat dari budidaya, pintal tenun, menjadi produk sepatu dan sebagainya. Masih dalam satu lingkaran menjadi satu ekosistem usaha,” ulasnya.

Arianto mengungkapkan, pihaknya juga melibatkan komunitas disabilitas. “Dari petani, dari ibu-ibu setiap daerah kami bagi peran jadi satu lingkaran ekosistem usaha. Setelah ditenun, kami kembalikan ke teman artisan. Semua produk fashion, tidak hanya sepatu,” ulasnya.

Diberdayakan BRI
Ketika usahanya mulai berkembang, Arianto mendapat sokongan dari BRI sejak 2021. “Untuk pemasaran, BRI mendukung kami karena ini melibatkan padat karya. Terus dari segi branding, BRI juga mendukung kami. Ke depan, ketika kami ingin memperluas usaha, BRI sudah siap untuk akses permodalan” tuturnya.

Pembinaan yang dilakukan BRI melalui pelatihan yang diadakan bagi para pelaku UMKM. Bahkan pada 21 April lalu, Arianto akan kembali mendapatkan pelatihan bagi komunitas disabilitas yang terlibat dengan usahanya.

Baca Juga :  Kejari Telusuri Kasus Kredit BRI

Arianto juga kerap diundang BRI dalam berbagai acara yang melibatkan pelaku UMKM. Salah satunya BRI UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

Hingga saat ini, komunitas usahanya telah melibatkan sekitar 200 orang. Jumlah itu menurun akibat pandemi dari sekitar 800 orang. Melalui pembinaan dari BRI, Arianto berharap dapat memperbesar usahanya untuk lebih memberdayakan masyarakat lokal dan memperkuat ekonomi di daerah.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pemberdayaan memang tidak hanya melalui akses permodalan. Perluasan akses pasar dan branding melalui pembinaan, pelatihan serta memfasilitas seperti melalui event BRI UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR juga merupakan komitmen berkelanjutan BRI untuk mendorong pelaku UMKM naik kelas dan memperbesar skala usahanya.

“Ini merupakan salah satu langkah nyata sekaligus komitmen BRI sebagai agent of development untuk memajukan UMKM Indonesia. Melalui berbagai pelatihan dan workshop, ditambah dengan pembinaan lainnya, saya yakin pelaku UMKM Indonesia akan lebih siap dan mampu bersaing di kancah internasional. Kami mendukung secara langsung upaya peningkatan kapasitas produksi dan kualitas pelaku UMKM,” ujarnya.

Dengan demikian, tambah Supari, pelaku usaha diharapkan memiliki semangat untuk terus mengembangkan usahanya dan memberdayakan masyarakat sekitar. Sehingga, ekonomi masyarakat di wilayah usaha binaan BRI lebih berdaya melalui pemanfaatan potensi dari sumber daya lokal.

“Karena sejatinya pemberdayaan UMKM yang merupakan upaya inklusi keuangan adalah salah satu jalan pengentasan kemiskinan dan pemerataan ekonomi,” pungkasnya. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

Artikel Terkait

Most Read

Satu Tahun Jual Miras Oplosan

TP4D Ujung Tombak Pencegahan Korupsi

PKL Sampang Tunggu Tempat Baru

Artikel Terbaru

/