alexametrics
21.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Polres Sampang Periksa Bendahara SMAN 1 Banyuates

SAMPANG – Dugaan penyelewengan bantuan siswa miskin (BSM) dan Program Indonesia Pintar (PIP) SMAN 1 Banyuates di tangan polisi. Korps Bhayangkara berusaha mengorek keterangan untuk mengungkap masalah tersebut. Kemarin (4/5), giliran Bendahara SMAN 1 Banyuates Dina Suhartini yang diperiksa di ruang Unit III Pidkor Reskrim Polres Sampang.

Pemeriksaan itu berkaitan dengan dugaan adanya penyelewengan bantuan siswa di sekolahnya. Kasus tersebut terungkap ke publik setelah siswa SMAN 1 Banyuates melakukan aksi demo ke kepala sekolah. Mereka juga mogok belajar pada Kamis (19/4).

Pada aksi tersebut, siswa termasuk penerima BSM dan PIP mengaku haknya tak pernah diberikan oleh pihak sekolah. Lalu, pada Sabtu (28/4) tokoh pemuda atas nama Ifan Budi Arista bersama empat siswa mendatangi Polres Sampang untuk melapor. Sebab, sehari sebelumnya, Jumat  (27/4) mereka tidak bertemu dengan tim penyidik.

Kasatreskrim Polres Sampang AKP Hery Kusnanto mengatakan, pihaknya sudah meminta keterangan sejumlah saksi. Mereka terdiri dari guru, staf, dan siswa. Menurut dia, terbaru yang diperiksa adalah bendahara sekolah.

Baca Juga :  Tiga Bulan Polres Sampang Tindak 4.929 Pelanggar Lalin

Sebelumnya, pemeriksaan sudah dilakukan kepada siswa dan beberapa guru di sekolah yang dipimpin Sugeng Harinanto tersebut. Sementara ini belum ada tersangka karena kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Akan tetapi, jika sudah menemukan bukti-bukti dan keterangan yang kuat kasus tersebut akan dinaikkan ke penyidikan. ”Laporan bahwa ada penyelewengan BSM dan PIP di SMAN 1 Banyuates sudah kami proses. Saksi-saksi sudah kami periksa. Statusnya masih penyelidikan,” terang Hery.

Pihak-pihak yang dinilai terlibat dalam kasus tersebut oleh pihaknya akan dipanggil. Bahkan, dalam waktu dekat kepala sekolah selaku terlapor juga akan dimintai keterangan. ”Kepala sekolahnya belum dipanggil. Sementara siswa, guru, dan staf. Tapi pasti segera kami panggil,” ujarnya.

Bendahara SMAN 1 Banyuates Dina Suhartini saat ditelepon melalui nomor selulernya tidak banyak bicara. Dia memilih untuk menutup telepon. ”Oh, masalah itu. Maaf, iya saya lagi di jalan,” ucapnya.

Baca Juga :  Gelar Operasi Patuh, Ini 3 Pelanggaran Terbanyak Yang Dijumpai Polisi

Kasi Pembinaan SMA/SMK Disdik Jawa Timur Wilayah Sampang Hendro Himawan mengatakan, siapa pun berhak melaporkan kejanggalan di lingkungan sekolah. Namun, secara administrasi di SMAN 1 Banyuates sudah benar. ”Tidak masalah jika dilaporkan. Itu hak siapa pun,” katanya.

Pihaknya juga tidak mempermasalahkan pemanggilan sejumlah saksi dari unsur sekolah ke Polres Sampang. Sebab, hal itu merupakan tugas dan hak penyidik jika menerimalaporan.”Silakan penyidik bekerja. Seperti apa hasilnya, silakan. Gitu aja,” tandasnya.

Sebelumnya, siswa SMAN 1 Banyuates mendemo kepala sekolah dengan tudingan jarang masuk. Mereka juga mempertanyakan pencairan dana BSM dan PIP. Sugeng mengakui memang jarang masuk ke sekolah dengan dalih sering menghadiri rapat. Namun, setiap tidak datang ke sekolah ada surat tugasnya.

Selama menjabat kepala sekolah dia dua kali mencairkan PIP. Khusus BSM, masih menunggu surat keputusan (SK) dari pusat. Karena itu, bantuan untuk 28 siswa itu belum cair.

SAMPANG – Dugaan penyelewengan bantuan siswa miskin (BSM) dan Program Indonesia Pintar (PIP) SMAN 1 Banyuates di tangan polisi. Korps Bhayangkara berusaha mengorek keterangan untuk mengungkap masalah tersebut. Kemarin (4/5), giliran Bendahara SMAN 1 Banyuates Dina Suhartini yang diperiksa di ruang Unit III Pidkor Reskrim Polres Sampang.

Pemeriksaan itu berkaitan dengan dugaan adanya penyelewengan bantuan siswa di sekolahnya. Kasus tersebut terungkap ke publik setelah siswa SMAN 1 Banyuates melakukan aksi demo ke kepala sekolah. Mereka juga mogok belajar pada Kamis (19/4).

Pada aksi tersebut, siswa termasuk penerima BSM dan PIP mengaku haknya tak pernah diberikan oleh pihak sekolah. Lalu, pada Sabtu (28/4) tokoh pemuda atas nama Ifan Budi Arista bersama empat siswa mendatangi Polres Sampang untuk melapor. Sebab, sehari sebelumnya, Jumat  (27/4) mereka tidak bertemu dengan tim penyidik.


Kasatreskrim Polres Sampang AKP Hery Kusnanto mengatakan, pihaknya sudah meminta keterangan sejumlah saksi. Mereka terdiri dari guru, staf, dan siswa. Menurut dia, terbaru yang diperiksa adalah bendahara sekolah.

Baca Juga :  Sadis, Enam Tersangka Habisi Pria 80 Tahun

Sebelumnya, pemeriksaan sudah dilakukan kepada siswa dan beberapa guru di sekolah yang dipimpin Sugeng Harinanto tersebut. Sementara ini belum ada tersangka karena kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Akan tetapi, jika sudah menemukan bukti-bukti dan keterangan yang kuat kasus tersebut akan dinaikkan ke penyidikan. ”Laporan bahwa ada penyelewengan BSM dan PIP di SMAN 1 Banyuates sudah kami proses. Saksi-saksi sudah kami periksa. Statusnya masih penyelidikan,” terang Hery.

Pihak-pihak yang dinilai terlibat dalam kasus tersebut oleh pihaknya akan dipanggil. Bahkan, dalam waktu dekat kepala sekolah selaku terlapor juga akan dimintai keterangan. ”Kepala sekolahnya belum dipanggil. Sementara siswa, guru, dan staf. Tapi pasti segera kami panggil,” ujarnya.

Bendahara SMAN 1 Banyuates Dina Suhartini saat ditelepon melalui nomor selulernya tidak banyak bicara. Dia memilih untuk menutup telepon. ”Oh, masalah itu. Maaf, iya saya lagi di jalan,” ucapnya.

Baca Juga :  Gelar Operasi Patuh, Ini 3 Pelanggaran Terbanyak Yang Dijumpai Polisi

Kasi Pembinaan SMA/SMK Disdik Jawa Timur Wilayah Sampang Hendro Himawan mengatakan, siapa pun berhak melaporkan kejanggalan di lingkungan sekolah. Namun, secara administrasi di SMAN 1 Banyuates sudah benar. ”Tidak masalah jika dilaporkan. Itu hak siapa pun,” katanya.

Pihaknya juga tidak mempermasalahkan pemanggilan sejumlah saksi dari unsur sekolah ke Polres Sampang. Sebab, hal itu merupakan tugas dan hak penyidik jika menerimalaporan.”Silakan penyidik bekerja. Seperti apa hasilnya, silakan. Gitu aja,” tandasnya.

Sebelumnya, siswa SMAN 1 Banyuates mendemo kepala sekolah dengan tudingan jarang masuk. Mereka juga mempertanyakan pencairan dana BSM dan PIP. Sugeng mengakui memang jarang masuk ke sekolah dengan dalih sering menghadiri rapat. Namun, setiap tidak datang ke sekolah ada surat tugasnya.

Selama menjabat kepala sekolah dia dua kali mencairkan PIP. Khusus BSM, masih menunggu surat keputusan (SK) dari pusat. Karena itu, bantuan untuk 28 siswa itu belum cair.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Kontingen Sampang Bawa Pulang 12 Medali

UIM Kuatkan Karakter Mahasiswa PG-PAUD

Suluh Damai Ramadan

Bekali Siswa Jelang Unas

Artikel Terbaru

/