alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Santre Ngereng Keyae

KIAI adalah guru sekaligus juru ramal. Saya mendapatkan kesan itu setelah sepuluh tahun berjarak dengan pondok. Pada rentang sepuluh tahun itu, saya dihinggapi rindu dan keinginan membaca kisah enam tahun lalu saya bergumul dengan nahwu, tashrif, dan dinding kamar yang dingin.

Ternyata, selama enam tahun itu, ada satu sosok yang kental mengisi ingatan saya: kiai. Ia hadir dengan satu napas dan satu rupa: guru. Sebagai sosok guru, kiai saya begitu kuat membentuk dan mendogma saya.

Sorot matanya yang teduh. Tutur katanya yang lembut. Tingkah lakunya yang melangkah dengan ketukan satu-dua kesabaran. Seumpama tetesan air hujan yang melubangi batu kebebalan dalam diri saya.

Selain itu, kiai saya juga jenaka. Ketika hendak pamit pulang (undur diri dari pondok), saya mendapatkan ijazah hadis ”Khairunnas anfa’uhum anfaunnas”. Saya termangu. Bukankah hadis ini sering disampaikannya dalam beberapa pengajian?

Saya hanya bertanya dalam hati. ”Enggi,” saya menerima ijazah kiai. ”Kau harus jadi orang bermanfaat, Nak.”

”Enggi.”

”Kau harus mampu mengamalkan ilmumu di tengah masyarakatmu.”

”Enggi.”

”Arti hidupmu bisa kau raih dengan bermanfaat untuk orang lain.”

”Enggi.”

Saya berulang mengatakan ”enggi” meski dalam hati saya mencari-cari: apa sekiranya yang bermanfaat dalam diri saya untuk orang lain?

Enggi, saya ingin sekali mengucapkan kata itu lagi. Tapi, tidak dengan pertanyaan dalam hati. Saya ingin mengucapkan kata itu untuk menyatakan, bahwa ijazah kiai sepuluh tahun lalu itu kini sudah mulai saya pahami.

Baca Juga :  Satu Tahun Jual Miras Oplosan

Enggi, saya akan belajar dan mengamalkan ijazah ”menjadi orang bermanfaat.” ”Meski tidak sepenuhnya saya bisa, Kiai, saya akan berusaha. Saya akan berusaha.”

Sekadar diketahui, sudah menjadi tradisi di pondok, saban ada santri yang pamit hendak undur diri, kiai selalu memberinya ijazah berupa petuah atau nasihat. Setiap santri mendapatkan ijazah berbeda: jagalah salatmu, jagalah wudumu, jaga akhlakmu, jadilah orang yang bermanfaat dan lainnya.

Andai ditanya pemahaman pada ijazah kiai, saya ingin menggambarkan dalam satu narasi sederhana. Kebermanfaatan santri tidak harus menjadi seorang kiai, ustad, takmir masjid, dan lainnya. Kebermanfaatan santri adalah kemampuan untuk mengamalkan ilmu secara istikamah. Saya menemukan pemahaman seperti itu saat saya bergumul dengan teman-teman santri lintas pondok dan lintas profesi.

Tidak hanya itu, untuk menyelami makna jadilah yang bermanfaat bagi orang lain, ternyata saya harus menelusur perjalanan jauh ke belakang. Manfaat itu bukan sekadar kita memberi atau berbagi dengan orang lain. Bermanfaat itu juga bisa dimaknai sebagai upaya kita untuk menjadi teladan bagi orang lain. Dalam hal ini, saya dituntut untuk berpegang teguh sekaligus mengikuti jejak kiai.

Kesadaran lain yang timbul dalam diri saya, ijazah kiai adalah titik sumbu; titik ledak atas berbagai pelajaran yang disampaikan kiai. Lebih jauh, ijazah itu pengikat atau penyambung antara kiai dan santri. Dengan berusaha untuk bermanfaat pada orang lain, saya berusaha mengingat segala petuah dan gerak laku kiai. Dengan demikian, meski saya sudah berjarak sepuluh tahun dari pondok, sosok dan petuah kiai tetap segar dalam ingatan saya.

Baca Juga :  Madura Awards Dorong Perekonomian Masyarakat

Santre ngereng keyae (:sami’na waatha’na) merupakan satu prinsip yang cukup mendasar dan bermakna dalam diri santri. Apalagi di tengah krisis multi-dimensi ini. Hubungan kiai dan santri adalah hubungan yang membentuk jejaring dan pengaman sosial.

Kiai sebagai tokoh sentral memegang kata kunci dalam mengarahkan santri untuk membangun satu sinergi sesama santri. Sinergi ini dapat menjadi modal pembangun satu peradaban masyarakat yang berlandaskan Alquran dan As-Sunnah.

Lebih jauh, kiai sebagai tokoh kunci memiliki peran penting dalam mengendalikan kondisi sosial. Isu terorisme, liberalisme, radikalisme, ultra-nasional, dan isu lainnya akan mudah ditangkal jika santri tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Dengan kata lain, kiai yang mengemban amanah sebagai pewaris nabi akan senantiasa untuk menjaga integritas dan komitmen sosialnya.

Selaras dengan itu, santri yang mampu mengamalkan sami’na waatha’na pada kiai akan menjadi pion-pion dalam menciptakan satu tatanan yang harmoni. Mungkin dalam pemahaman seperti itu, aktualisasi nilai-nilai sami’na waatha’na pada kiai adalah model pengaman sosial yang melintasi ruang-waktu.

Dengan pengaman sosial ini, santri akan mampu memainkan peran dan fungsi sesuai dengan bidang dan profesinya.

 

*)Santri PP. Anwarul Abrar Sumenep dan alumni Nurul Jadid Probolinggo.

 

KUNCI:

KIAI adalah guru sekaligus juru ramal. Saya mendapatkan kesan itu setelah sepuluh tahun berjarak dengan pondok. Pada rentang sepuluh tahun itu, saya dihinggapi rindu dan keinginan membaca kisah enam tahun lalu saya bergumul dengan nahwu, tashrif, dan dinding kamar yang dingin.

Ternyata, selama enam tahun itu, ada satu sosok yang kental mengisi ingatan saya: kiai. Ia hadir dengan satu napas dan satu rupa: guru. Sebagai sosok guru, kiai saya begitu kuat membentuk dan mendogma saya.

Sorot matanya yang teduh. Tutur katanya yang lembut. Tingkah lakunya yang melangkah dengan ketukan satu-dua kesabaran. Seumpama tetesan air hujan yang melubangi batu kebebalan dalam diri saya.


Selain itu, kiai saya juga jenaka. Ketika hendak pamit pulang (undur diri dari pondok), saya mendapatkan ijazah hadis ”Khairunnas anfa’uhum anfaunnas”. Saya termangu. Bukankah hadis ini sering disampaikannya dalam beberapa pengajian?

Saya hanya bertanya dalam hati. ”Enggi,” saya menerima ijazah kiai. ”Kau harus jadi orang bermanfaat, Nak.”

”Enggi.”

”Kau harus mampu mengamalkan ilmumu di tengah masyarakatmu.”

”Enggi.”

”Arti hidupmu bisa kau raih dengan bermanfaat untuk orang lain.”

”Enggi.”

Saya berulang mengatakan ”enggi” meski dalam hati saya mencari-cari: apa sekiranya yang bermanfaat dalam diri saya untuk orang lain?

Enggi, saya ingin sekali mengucapkan kata itu lagi. Tapi, tidak dengan pertanyaan dalam hati. Saya ingin mengucapkan kata itu untuk menyatakan, bahwa ijazah kiai sepuluh tahun lalu itu kini sudah mulai saya pahami.

Baca Juga :  Satu Tahun Jual Miras Oplosan

Enggi, saya akan belajar dan mengamalkan ijazah ”menjadi orang bermanfaat.” ”Meski tidak sepenuhnya saya bisa, Kiai, saya akan berusaha. Saya akan berusaha.”

Sekadar diketahui, sudah menjadi tradisi di pondok, saban ada santri yang pamit hendak undur diri, kiai selalu memberinya ijazah berupa petuah atau nasihat. Setiap santri mendapatkan ijazah berbeda: jagalah salatmu, jagalah wudumu, jaga akhlakmu, jadilah orang yang bermanfaat dan lainnya.

Andai ditanya pemahaman pada ijazah kiai, saya ingin menggambarkan dalam satu narasi sederhana. Kebermanfaatan santri tidak harus menjadi seorang kiai, ustad, takmir masjid, dan lainnya. Kebermanfaatan santri adalah kemampuan untuk mengamalkan ilmu secara istikamah. Saya menemukan pemahaman seperti itu saat saya bergumul dengan teman-teman santri lintas pondok dan lintas profesi.

Tidak hanya itu, untuk menyelami makna jadilah yang bermanfaat bagi orang lain, ternyata saya harus menelusur perjalanan jauh ke belakang. Manfaat itu bukan sekadar kita memberi atau berbagi dengan orang lain. Bermanfaat itu juga bisa dimaknai sebagai upaya kita untuk menjadi teladan bagi orang lain. Dalam hal ini, saya dituntut untuk berpegang teguh sekaligus mengikuti jejak kiai.

Kesadaran lain yang timbul dalam diri saya, ijazah kiai adalah titik sumbu; titik ledak atas berbagai pelajaran yang disampaikan kiai. Lebih jauh, ijazah itu pengikat atau penyambung antara kiai dan santri. Dengan berusaha untuk bermanfaat pada orang lain, saya berusaha mengingat segala petuah dan gerak laku kiai. Dengan demikian, meski saya sudah berjarak sepuluh tahun dari pondok, sosok dan petuah kiai tetap segar dalam ingatan saya.

Baca Juga :  Madura Awards Dorong Perekonomian Masyarakat

Santre ngereng keyae (:sami’na waatha’na) merupakan satu prinsip yang cukup mendasar dan bermakna dalam diri santri. Apalagi di tengah krisis multi-dimensi ini. Hubungan kiai dan santri adalah hubungan yang membentuk jejaring dan pengaman sosial.

Kiai sebagai tokoh sentral memegang kata kunci dalam mengarahkan santri untuk membangun satu sinergi sesama santri. Sinergi ini dapat menjadi modal pembangun satu peradaban masyarakat yang berlandaskan Alquran dan As-Sunnah.

Lebih jauh, kiai sebagai tokoh kunci memiliki peran penting dalam mengendalikan kondisi sosial. Isu terorisme, liberalisme, radikalisme, ultra-nasional, dan isu lainnya akan mudah ditangkal jika santri tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Dengan kata lain, kiai yang mengemban amanah sebagai pewaris nabi akan senantiasa untuk menjaga integritas dan komitmen sosialnya.

Selaras dengan itu, santri yang mampu mengamalkan sami’na waatha’na pada kiai akan menjadi pion-pion dalam menciptakan satu tatanan yang harmoni. Mungkin dalam pemahaman seperti itu, aktualisasi nilai-nilai sami’na waatha’na pada kiai adalah model pengaman sosial yang melintasi ruang-waktu.

Dengan pengaman sosial ini, santri akan mampu memainkan peran dan fungsi sesuai dengan bidang dan profesinya.

 

*)Santri PP. Anwarul Abrar Sumenep dan alumni Nurul Jadid Probolinggo.

 

KUNCI:

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/