alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Percaya karena Tetangga, Uang Puluhan Juta Lenyap

SUMENEP – Aparat kepolisian tidak mau menjerat Nia Ekawati yang diduga melakukan penipuan hingga Rp 1 miliar kepada puluhan warga. Hal itu karena hingga Jumat (2/3) tidak ada laporan dari warga yang menjadi korban perempuan 25 tahun itu.

Dia Feronita, 38, warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep, tidak melapor ke polisi karena tidak memiliki bukti kuat seperti meterai dan kuitansi. Pada saat menyetorkan uang menggunakan buku dan ditulis. Jumlah kerugian Rp 15 juta. Dia pernah mendapatkan sembako. Tetapi, tidak sesuai dengan pesanan.

”Sembako yang sudah saya dapat beras, minyak, dan kelapa. Saya dapat pada pertengahan 2017. Saya tidak memakai meterai dan kuitansi karena percaya,” terangnya kemarin (2/3).

Awalnya dia memesan beras 10 kilogram dan minyak kelapa 50 liter. Terakhir, setor uang Jumat pagi sebelum Nia menghilang akhir Desember 2017. ”Cicilan yang saya setorkan Rp 800 ribu dan kedua Rp 750 ribu. Saya lupa berapa kali. Saya percaya karena Nia tetangga saya,” ujarnya.

Kerugian juga dialami Sri Wahyuni, 35. Warga Pandian itu mengatakan, kerugian dari investasi sembako itu Rp 27,5 juta. Barang yang diterima tidak utuh. Misal, kata dia, pesan beras 20 sak beras ukuran 25 kilogram hanya datang 10 sak. ”Pertama yang saya setor sedikit karena hanya coba-coba,” ucapnya.

Baca Juga :  Siagakan 1.105 Personel Gabungan

Uang yang disetorkan pertama Rp 8 juta di pertengahan 2017. Saat itu pesan minyak kelapa dan beras. Tapi tidak langsung datang. Menunggu hingga seminggu. Setelah barang datang, dia pesan lagi dengan menyetorkan Rp 4,9 juta. ”Awalnya enak, lancar. Makanya saya percaya. Tapi pas mau kabur, barang datang tidak utuh,” akunya.

Sri juga tidak melapor ke polisi karena tidak ada bukti kuitansi dan meterai. Warga yang mendapatkan kuitansi banyak. Tapi, tanda tangannya beda-beda. ”Yang ada bukti lengkap punya tetangga. Punya Yanti (Yuliyatin, Red), Bangselok. Kerugiannya Rp 11 juta,” jelasnya.

Kapolsek Kota Sumenep AKP Widiarti membenarkan ada korban melapor awal Februari. Namun, laporan tersebut dicabut karena kondisinya sedang hamil. ”Karena wira-wiri akhirnya dicabut,” tuturnya.

Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Abd. Mukit menjelaskan, pihaknya tidak menindaklanjuti karena tidak ada korban yang melapor. Pihaknya menyarankan warga yang merasa dirugikan agar melapor ke Polsek Kota atau ke polres. ”Kalau ada laporan, kami akan tindak lanjuti,” terangnya.

Mantan Kapolsek Lenteng itu berharap agar Nia tidak k emana-mana. Jika tidak ada laporan khawatir melarikan diri. ”Sebelum ada laporan kami tidak bisa bertindak. Misalkan ada jaminan dari keluarga, kami sebatas memediasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Ngaku Ditipu hingga Rp 77,3 Juta

Dugaan penipuan terungkap pada akhir 2017. Sejak saat itu Nia sudah tidak ada di rumahnya. Warga masih berharap dia pulang dan mengembalikan uang. Sebelumnya, Nia meminta korban menyetorkan investasi.

Uang itu dibelanjakan sembako dengan harga murah. Dengan harga miring itu warga tergiur. Mereka pun berbondong-bondong membeli sembako berupa beras, minyak kelapa, dan sejumlah jenis kebutuhan lain kepada Nia.

Pembelian dilakukan sejak November 2017. Biasanya pesanan datang dalam seminggu. Sejak akhir Desember barang sudah tidak datang. Bahkan, Nia menghilang tanpa jejak.

Muncul dugaan dia melarikan diri ke luar kota dengan naik bus. Sebab, sepeda motor miliknya diketahui berada di parkiran Terminal Arya Wiraraja. Polsek Kota kemudian memediasi antara warga yang menjadi korban dengan Nia di mapolres, Kamis (1/3). Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Pada kesempatan itu Nia yang didampingi keluarganya mengaku tidak sanggup mengembalikan uang yang telah dihabiskan. Meski begitu, dia sempat menawarkan untuk melunasi utangnya kepada para korban dengan cara mencicil. Nia berencana bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Permintaan itu langsung ditolak karena khawatir melarikan diri.

SUMENEP – Aparat kepolisian tidak mau menjerat Nia Ekawati yang diduga melakukan penipuan hingga Rp 1 miliar kepada puluhan warga. Hal itu karena hingga Jumat (2/3) tidak ada laporan dari warga yang menjadi korban perempuan 25 tahun itu.

Dia Feronita, 38, warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep, tidak melapor ke polisi karena tidak memiliki bukti kuat seperti meterai dan kuitansi. Pada saat menyetorkan uang menggunakan buku dan ditulis. Jumlah kerugian Rp 15 juta. Dia pernah mendapatkan sembako. Tetapi, tidak sesuai dengan pesanan.

”Sembako yang sudah saya dapat beras, minyak, dan kelapa. Saya dapat pada pertengahan 2017. Saya tidak memakai meterai dan kuitansi karena percaya,” terangnya kemarin (2/3).


Awalnya dia memesan beras 10 kilogram dan minyak kelapa 50 liter. Terakhir, setor uang Jumat pagi sebelum Nia menghilang akhir Desember 2017. ”Cicilan yang saya setorkan Rp 800 ribu dan kedua Rp 750 ribu. Saya lupa berapa kali. Saya percaya karena Nia tetangga saya,” ujarnya.

Kerugian juga dialami Sri Wahyuni, 35. Warga Pandian itu mengatakan, kerugian dari investasi sembako itu Rp 27,5 juta. Barang yang diterima tidak utuh. Misal, kata dia, pesan beras 20 sak beras ukuran 25 kilogram hanya datang 10 sak. ”Pertama yang saya setor sedikit karena hanya coba-coba,” ucapnya.

Baca Juga :  Kuasa Hukum Ancam Laporkan Penyidik ke Kapolri

Uang yang disetorkan pertama Rp 8 juta di pertengahan 2017. Saat itu pesan minyak kelapa dan beras. Tapi tidak langsung datang. Menunggu hingga seminggu. Setelah barang datang, dia pesan lagi dengan menyetorkan Rp 4,9 juta. ”Awalnya enak, lancar. Makanya saya percaya. Tapi pas mau kabur, barang datang tidak utuh,” akunya.

Sri juga tidak melapor ke polisi karena tidak ada bukti kuitansi dan meterai. Warga yang mendapatkan kuitansi banyak. Tapi, tanda tangannya beda-beda. ”Yang ada bukti lengkap punya tetangga. Punya Yanti (Yuliyatin, Red), Bangselok. Kerugiannya Rp 11 juta,” jelasnya.

Kapolsek Kota Sumenep AKP Widiarti membenarkan ada korban melapor awal Februari. Namun, laporan tersebut dicabut karena kondisinya sedang hamil. ”Karena wira-wiri akhirnya dicabut,” tuturnya.

Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Abd. Mukit menjelaskan, pihaknya tidak menindaklanjuti karena tidak ada korban yang melapor. Pihaknya menyarankan warga yang merasa dirugikan agar melapor ke Polsek Kota atau ke polres. ”Kalau ada laporan, kami akan tindak lanjuti,” terangnya.

Mantan Kapolsek Lenteng itu berharap agar Nia tidak k emana-mana. Jika tidak ada laporan khawatir melarikan diri. ”Sebelum ada laporan kami tidak bisa bertindak. Misalkan ada jaminan dari keluarga, kami sebatas memediasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Hindari Penipuan, Ini Saran Penggiat Keamanan Informasi kepada Masyarakat

Dugaan penipuan terungkap pada akhir 2017. Sejak saat itu Nia sudah tidak ada di rumahnya. Warga masih berharap dia pulang dan mengembalikan uang. Sebelumnya, Nia meminta korban menyetorkan investasi.

Uang itu dibelanjakan sembako dengan harga murah. Dengan harga miring itu warga tergiur. Mereka pun berbondong-bondong membeli sembako berupa beras, minyak kelapa, dan sejumlah jenis kebutuhan lain kepada Nia.

Pembelian dilakukan sejak November 2017. Biasanya pesanan datang dalam seminggu. Sejak akhir Desember barang sudah tidak datang. Bahkan, Nia menghilang tanpa jejak.

Muncul dugaan dia melarikan diri ke luar kota dengan naik bus. Sebab, sepeda motor miliknya diketahui berada di parkiran Terminal Arya Wiraraja. Polsek Kota kemudian memediasi antara warga yang menjadi korban dengan Nia di mapolres, Kamis (1/3). Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Pada kesempatan itu Nia yang didampingi keluarganya mengaku tidak sanggup mengembalikan uang yang telah dihabiskan. Meski begitu, dia sempat menawarkan untuk melunasi utangnya kepada para korban dengan cara mencicil. Nia berencana bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Permintaan itu langsung ditolak karena khawatir melarikan diri.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/