alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Melacak Alam Imaji Sastra Pelajar

BEDAH Karya Kuratorium Sastra Nasional Cipta Puisi dan Cerpen diselenggarakan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Sabtu (24/2). Gelaran ini mendatangkan kurator nasional dan mengundang para kontributor.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian akhir Festival Masa sekaligus pemberian penghargaan kepada naskah terpilih cipta puisi dan cerpen tingkat pelajar MTs/SMP, MA/SMA sederajat se-Kabupaten Sumenep.

KH Moh. Shalahuddin A. Warits selaku Kepala MA 1 Annuqayah menyampaikan, proses penerimaan naskah cipta puisi dan cerpen berlangsung 15 hari sejak pengumuman. Total naskah yang masuk 528 judul dengan rincian 480 puisi dan 48 cerpen. Semua naskah yang masuk kepada para kurator diberikan masukan dan catatan.

Melalui kegiatan kuratorium cipta puisi dan cerpen diharapkan menjadi media silaturahmi produktif antarlembaga pendidikan dan pelajar di pelbagai tingkatan dalam bentuk apresiasi karya.

Kegiatan tersebut mendatangkan Raudal Tanjung Banua (kurator cerpen), Faisal Kamandobat (kurator puisi), Kiai M. Faizi (kurator puisi), serta Mahendra sebagai pemandu acara.

Baca Juga :  PAUD dan PNFI Disdik Sampang Jagokan¬†Amirudin

Sastrawan sekaligus salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Kiai M. Faizi menyampaikan catatan secara umum tentang beberapa naskah puisi yang masuk. Dia menemukan puisi yang gaya kepenulisannya terkesan njelimet dan tidak mengesankan apa-apa. Bahkan tidak ada pesan yang disampaikan. Juga puisi yang mengabaikan logika dan hubungan kata per kata terlalu jauh.

Pun Faisal Kamandobat menyarankan agar dalam menulis puisi hendaknya lebih memperhatikan sisi pedantic. Artinya, setiap kata harus diperhitungkan cocok atau tidak, makna ini bagus atau tidak, kuat atau tidak memperluas atau menyempitkan makna, kira-kira efek dalam hati dan darah para pembaca meresap ke dalam tubuhnya.

Raudal Tanjung Banua memaparkan, secara umum kejomplangan antara cipta puisi dan cerpen yang masuk kepada panitia, lebih banyak naskah puisi daripada cerpen. Melihat realitas semacam ini dapat dikatakan jika puisi menjadi pilihan ekspresi.

Baca Juga :  Berharap Ada Pelayanan Publik di Area CFD

Menurut Raudal, naskah cerpen yang diikutsertakan dalam kegiatan ini tidak semua betul-betul cerpen. Ada yang berbentuk cerita anak, esai, opini, artikel, dan atau semacam catatan harian. Sementara cerpen yang dipilih bisa merepresentasikan hasil yang dicapai serta layak untuk dijadikan antologi.

Secara keseluruhan cerpen terpilih sudah melahirkan tema yang variatif. Sedangkan dari unsur gaya kepenulisan sudah ada cerpen yang  realis murni, simbolik, dan surealis.

Di akhir penyajian bedah karya, para kurator serta host membacakan puisinya. Faisal Kamandobat membacakan puisi Alangkah Tolol Patung Ini. Raudal membaca Bait-Bait Kepulauan. Dan Mahendra dengan Primbon Wanita Cantik Sekali-nya dari kumpulan puisi Kampung Terapung.

Kegiatan seperti ini, cipta puisi dan cerpen bagi pelajar merupakan ikhtiar untuk terus merawat tradisi tulis-menulis. Terutama bidang kesusastraan dan mempersiapkan calon sastrawan untuk terus selalu berposes dan berkarya. Semoga.

 

*)Waka Kesiswaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

 

BEDAH Karya Kuratorium Sastra Nasional Cipta Puisi dan Cerpen diselenggarakan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Sabtu (24/2). Gelaran ini mendatangkan kurator nasional dan mengundang para kontributor.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian akhir Festival Masa sekaligus pemberian penghargaan kepada naskah terpilih cipta puisi dan cerpen tingkat pelajar MTs/SMP, MA/SMA sederajat se-Kabupaten Sumenep.

KH Moh. Shalahuddin A. Warits selaku Kepala MA 1 Annuqayah menyampaikan, proses penerimaan naskah cipta puisi dan cerpen berlangsung 15 hari sejak pengumuman. Total naskah yang masuk 528 judul dengan rincian 480 puisi dan 48 cerpen. Semua naskah yang masuk kepada para kurator diberikan masukan dan catatan.


Melalui kegiatan kuratorium cipta puisi dan cerpen diharapkan menjadi media silaturahmi produktif antarlembaga pendidikan dan pelajar di pelbagai tingkatan dalam bentuk apresiasi karya.

Kegiatan tersebut mendatangkan Raudal Tanjung Banua (kurator cerpen), Faisal Kamandobat (kurator puisi), Kiai M. Faizi (kurator puisi), serta Mahendra sebagai pemandu acara.

Baca Juga :  Esai Basa Madura: Pameyatoran

Sastrawan sekaligus salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Kiai M. Faizi menyampaikan catatan secara umum tentang beberapa naskah puisi yang masuk. Dia menemukan puisi yang gaya kepenulisannya terkesan njelimet dan tidak mengesankan apa-apa. Bahkan tidak ada pesan yang disampaikan. Juga puisi yang mengabaikan logika dan hubungan kata per kata terlalu jauh.

Pun Faisal Kamandobat menyarankan agar dalam menulis puisi hendaknya lebih memperhatikan sisi pedantic. Artinya, setiap kata harus diperhitungkan cocok atau tidak, makna ini bagus atau tidak, kuat atau tidak memperluas atau menyempitkan makna, kira-kira efek dalam hati dan darah para pembaca meresap ke dalam tubuhnya.

Raudal Tanjung Banua memaparkan, secara umum kejomplangan antara cipta puisi dan cerpen yang masuk kepada panitia, lebih banyak naskah puisi daripada cerpen. Melihat realitas semacam ini dapat dikatakan jika puisi menjadi pilihan ekspresi.

Baca Juga :  DPRD Tunggu Surat Partai Terkait PAW terhadap Iskandar

Menurut Raudal, naskah cerpen yang diikutsertakan dalam kegiatan ini tidak semua betul-betul cerpen. Ada yang berbentuk cerita anak, esai, opini, artikel, dan atau semacam catatan harian. Sementara cerpen yang dipilih bisa merepresentasikan hasil yang dicapai serta layak untuk dijadikan antologi.

Secara keseluruhan cerpen terpilih sudah melahirkan tema yang variatif. Sedangkan dari unsur gaya kepenulisan sudah ada cerpen yang  realis murni, simbolik, dan surealis.

Di akhir penyajian bedah karya, para kurator serta host membacakan puisinya. Faisal Kamandobat membacakan puisi Alangkah Tolol Patung Ini. Raudal membaca Bait-Bait Kepulauan. Dan Mahendra dengan Primbon Wanita Cantik Sekali-nya dari kumpulan puisi Kampung Terapung.

Kegiatan seperti ini, cipta puisi dan cerpen bagi pelajar merupakan ikhtiar untuk terus merawat tradisi tulis-menulis. Terutama bidang kesusastraan dan mempersiapkan calon sastrawan untuk terus selalu berposes dan berkarya. Semoga.

 

*)Waka Kesiswaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/