alexametrics
21 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Dua APMS di Kangean Lakukan Pelanggaran

SUMENEP – Dua agen premium dan minyak solar (APMS) di Pulau Kangean, Sumenep, dinilai bermasalah. Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pusat menemukan APMS 1 dan APMS 3 melanggar peraturan karena menjual bahan bakar minyak (BBM) ke pengepul dan pengecer.

Anggota Komite BPH Migas Hendry Ahmad Sabtu (3/3) mengungkapkan, dua APMS yang ada di Kangean menjual solar dan premium ke pengepul dan pengecer. Selain itu, dua APMS tersebut menjual premium dan solar lebih mahal dari harga yang ditetapkan pemerintah. Normalnya, harga premium Rp 6.650 per liter sedangkan solar Rp 5.150 per liter.

Kenyataannya, APMS menjual premium seharga Rp 1,5 juta per drum atau per 200 liter kepada pengepul dan pengecer. Dihitung, harga premium tersebut sekitar Rp 7.500 per liter. Akibatnya, harga premium eceran di Kangean mencapai Rp 9 ribu per liter.

Baca Juga :  Kuota Bensin Sumenep 52 Ribu Kiloliter

BPH Migas juga menemukan harga solar eceran mencapai Rp 7 ribu per liter di Kangean. Atas temuan itu, Hendry akan melaporkan temuan tersebut kepada pihak Pertamina untuk ditindaklanjuti.

”Kami menemukan pelanggaran dilakukan dua APMS yang ada di Kangean, yaitu APMS 1 dan APMS 3. Dua APMS itu menjual premium dan solar ke pengepul dan pengecer. Seharusnya mereka menjual BBM langsung ke pengguna,” ungkap dia.

Selain melapor ke Pertamina, Hendry juga akan melakukan kerja sama dengan kepolisian. Sebab, ada dua jenis sanksi yang dapat diberikan atas pelanggaran tersebut, yaitu sanksi administratif dan pidana.

”Kami minta tolong kepada pihak kepolisian untuk mengawasi permasalahan seperti ini. Peraturannya jelas, kalau menemukan pelanggaran, langsung ditindak. Kami tidak bisa menindak, kami menyediakan laporan,” jelasnya.

Untuk diketahui, APMS 1 terletak di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kangean, Sumenep. Sedangkan APMS 3 terletak di Desa Duko, Kecamatan Arjasa.

Baca Juga :  Tujuh Wisata Bakal Dikembangkan Tahun Ini

Ketua Komunitas Warga Kepulauan Kangean (KWKK) Saifudin mengaku ikut dalam sidak yang dilakukan BPH Migas. Menurut dia, selama ini harga BBM, khususnya premium dan solar, di Kangean memang tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, kecurigaan atas pelanggaran peraturan yang dilakukan APMS tercium sejak lama.

”Pada 31 Januari kami sudah mengadu ke DPR RI. Sidak ini tindak lanjutnya. Kami melapor karena selama ini sudah mencurigai pelanggaran yang dilakukan APMS di Kangean. Bayangkan, kami harus membeli premium dengan harga sembilan ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Jauh sekali dari harga yang ditetapkan pemerintah,” bebernya.

Dia berharap dengan adanya sidak seperti ini masyarakat di Pulau kangean dan pulau lain di Sumenep dapat menikmati BBM dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. ”Harapannya, setelah ini kami dapat menikmati BBM satu harga yang dijanjikan pemerintah,” pungkasnya.

SUMENEP – Dua agen premium dan minyak solar (APMS) di Pulau Kangean, Sumenep, dinilai bermasalah. Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pusat menemukan APMS 1 dan APMS 3 melanggar peraturan karena menjual bahan bakar minyak (BBM) ke pengepul dan pengecer.

Anggota Komite BPH Migas Hendry Ahmad Sabtu (3/3) mengungkapkan, dua APMS yang ada di Kangean menjual solar dan premium ke pengepul dan pengecer. Selain itu, dua APMS tersebut menjual premium dan solar lebih mahal dari harga yang ditetapkan pemerintah. Normalnya, harga premium Rp 6.650 per liter sedangkan solar Rp 5.150 per liter.

Kenyataannya, APMS menjual premium seharga Rp 1,5 juta per drum atau per 200 liter kepada pengepul dan pengecer. Dihitung, harga premium tersebut sekitar Rp 7.500 per liter. Akibatnya, harga premium eceran di Kangean mencapai Rp 9 ribu per liter.

Baca Juga :  Lagi, Uang Senilai Rp 12 Juta Dalam Jok Motor Raib

BPH Migas juga menemukan harga solar eceran mencapai Rp 7 ribu per liter di Kangean. Atas temuan itu, Hendry akan melaporkan temuan tersebut kepada pihak Pertamina untuk ditindaklanjuti.

”Kami menemukan pelanggaran dilakukan dua APMS yang ada di Kangean, yaitu APMS 1 dan APMS 3. Dua APMS itu menjual premium dan solar ke pengepul dan pengecer. Seharusnya mereka menjual BBM langsung ke pengguna,” ungkap dia.

Selain melapor ke Pertamina, Hendry juga akan melakukan kerja sama dengan kepolisian. Sebab, ada dua jenis sanksi yang dapat diberikan atas pelanggaran tersebut, yaitu sanksi administratif dan pidana.

”Kami minta tolong kepada pihak kepolisian untuk mengawasi permasalahan seperti ini. Peraturannya jelas, kalau menemukan pelanggaran, langsung ditindak. Kami tidak bisa menindak, kami menyediakan laporan,” jelasnya.

Untuk diketahui, APMS 1 terletak di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kangean, Sumenep. Sedangkan APMS 3 terletak di Desa Duko, Kecamatan Arjasa.

Baca Juga :  Satgas Bansos Janji Selidiki Pengoordinasian ATM Penerima PKH

Ketua Komunitas Warga Kepulauan Kangean (KWKK) Saifudin mengaku ikut dalam sidak yang dilakukan BPH Migas. Menurut dia, selama ini harga BBM, khususnya premium dan solar, di Kangean memang tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, kecurigaan atas pelanggaran peraturan yang dilakukan APMS tercium sejak lama.

”Pada 31 Januari kami sudah mengadu ke DPR RI. Sidak ini tindak lanjutnya. Kami melapor karena selama ini sudah mencurigai pelanggaran yang dilakukan APMS di Kangean. Bayangkan, kami harus membeli premium dengan harga sembilan ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Jauh sekali dari harga yang ditetapkan pemerintah,” bebernya.

Dia berharap dengan adanya sidak seperti ini masyarakat di Pulau kangean dan pulau lain di Sumenep dapat menikmati BBM dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. ”Harapannya, setelah ini kami dapat menikmati BBM satu harga yang dijanjikan pemerintah,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/