alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Belajar dari Padi

Na’, odhi’ reya ja’ pakala ka padhi, jan aesse jan nondhu’.

BEGITU pesan orang tua dulu ketika saya masih kanak-kanak sampai mau beranjak dewasa. Berkali-kali. Nyaris setiap saya ulang tahun. Meski di desa saya, ulang tahun hanya dirayakan kecil-kecilan. Semacam ritus keagamaan dalam rangka mengharap keselamatan dunia-akhirat.

Ungkapan di atas lazim terdengar di tengah-tengah kita, masyarakat Madura terutama. Seakan memang tampak sederhana, tetapi jika dipikir kembali memiliki samudera ’ibrah (pelajaran) yang mendalam. Begitu bermakna.

Pertama, padi itu panutan para sufi. Mari kita bahas padi secara filosofis-sufistik. Jika berisi akan semakin merunduk karena beban yang dipikul semakin bertambah. Laiknya mengajarkan kita untuk tetap rendah diri (tawadlu’) meski diberkahi berbagai kenikmatan; ilmu, harta, pangkat atau dalam hal wanita sekalipun. Hal ini yang saat ini sulit ditemukan. Sebaliknya, ia akan tetap berdiri pongah terombang-ambing angin. Merasa hebat meski ia sebenarnya berada di titik nol tanpa guna.

Kadua, padi itu sosialis. Jika dilihat dari segi balaghah (ilmu tata bahasa), ungkapan di atas adalah majaz isthi’arah (perumpamaan dengan meminjam fungsi sesuatu yang lain). Barangkali yang kedua ini merupakan kelanjutan atau efek dari yang pertama. Padi yang berisi akan memberikan manfaat kepada kita berupa terpenuhinya kebutuhan primer.

Baca Juga :  Nilai SAKIP Tiga Kabupaten B

Tentunya juga oleh sebagian orang dijadikan sebagai sember penghasilan. Manjadi berbeda jika padi itu kosong. Ia tidak berguna. Bahkan malah hanya menyisakan kecewa bagi petani. Lalu dibuang percuma.

Jika dikaitkan dengan kehidupan modern saat ini, dua hal yang telah dijabarkan tadi menjadi penting untuk kita amini dalam kehidupan sehari-hari. Meski dilimpahi berbagai kenikmatan: rumah mewah, pekerjaan mapan, mobil ada, kesehatan terjamin, dan semuanya seakan sudah terasa lengkap, percayalah, kita tetaplah harus menjaga diri dari sifat takabur (sombong). Merasa lebih daripada yang lain tidak pernah berarti baik. Bahkan bisa menjadi ”sampah masyarakat” laiknya padi yang tidak berisi.

Akan tetapi, ketika seseorang tawadlu’, positive effect-nya adalah ia akan lebih bisa berbagi, lebih peduli, juga tidak apatis, hingga pada akhirnya ia dapat bermanfaat bagi yang lain. Sebagaimana padi yang berisi. Mengenyangkan dan menghasilkan uang.

Baca Juga :  KPU Sampang Tunggu Kiriman 78 Kotak Suara

Jan aesse, jan nondhu’ memang sederhana tapi bermakna. Saat ini kita tengah berada dalam kehidupan serbakapitalis. Ungkapan semacam ini perlu dipelajari dan dikaji kembali dengan harapan bisa dijadikan bekal untuk mengafirmasi diri. Suati hari nanti.

Terakhir untuk pemerintah serta semua pihak yang dianggap penting dan masyarakat umum dengan ekonomi mapan di negeri ini, dari padi kita bisa belajar menyadari bahwa merunduk adalah satu dari sekian proses untuk menjadi bijak. Melihat ke bawah. Melihat orang-orang yang ekonominya rendah. Melihat orang-orang yang memerlukan uluran tangan. Juga melihat orang-orang yang meneriakkan keadilan.

Semoga. Dan mari belajar dari padi! 

 

*) Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)

Instik Annuqayah Guluk-Guluk.

 

Na’, odhi’ reya ja’ pakala ka padhi, jan aesse jan nondhu’.

BEGITU pesan orang tua dulu ketika saya masih kanak-kanak sampai mau beranjak dewasa. Berkali-kali. Nyaris setiap saya ulang tahun. Meski di desa saya, ulang tahun hanya dirayakan kecil-kecilan. Semacam ritus keagamaan dalam rangka mengharap keselamatan dunia-akhirat.

Ungkapan di atas lazim terdengar di tengah-tengah kita, masyarakat Madura terutama. Seakan memang tampak sederhana, tetapi jika dipikir kembali memiliki samudera ’ibrah (pelajaran) yang mendalam. Begitu bermakna.


Pertama, padi itu panutan para sufi. Mari kita bahas padi secara filosofis-sufistik. Jika berisi akan semakin merunduk karena beban yang dipikul semakin bertambah. Laiknya mengajarkan kita untuk tetap rendah diri (tawadlu’) meski diberkahi berbagai kenikmatan; ilmu, harta, pangkat atau dalam hal wanita sekalipun. Hal ini yang saat ini sulit ditemukan. Sebaliknya, ia akan tetap berdiri pongah terombang-ambing angin. Merasa hebat meski ia sebenarnya berada di titik nol tanpa guna.

Kadua, padi itu sosialis. Jika dilihat dari segi balaghah (ilmu tata bahasa), ungkapan di atas adalah majaz isthi’arah (perumpamaan dengan meminjam fungsi sesuatu yang lain). Barangkali yang kedua ini merupakan kelanjutan atau efek dari yang pertama. Padi yang berisi akan memberikan manfaat kepada kita berupa terpenuhinya kebutuhan primer.

Baca Juga :  Penjurian Madura Awards Tuntas

Tentunya juga oleh sebagian orang dijadikan sebagai sember penghasilan. Manjadi berbeda jika padi itu kosong. Ia tidak berguna. Bahkan malah hanya menyisakan kecewa bagi petani. Lalu dibuang percuma.

Jika dikaitkan dengan kehidupan modern saat ini, dua hal yang telah dijabarkan tadi menjadi penting untuk kita amini dalam kehidupan sehari-hari. Meski dilimpahi berbagai kenikmatan: rumah mewah, pekerjaan mapan, mobil ada, kesehatan terjamin, dan semuanya seakan sudah terasa lengkap, percayalah, kita tetaplah harus menjaga diri dari sifat takabur (sombong). Merasa lebih daripada yang lain tidak pernah berarti baik. Bahkan bisa menjadi ”sampah masyarakat” laiknya padi yang tidak berisi.

Akan tetapi, ketika seseorang tawadlu’, positive effect-nya adalah ia akan lebih bisa berbagi, lebih peduli, juga tidak apatis, hingga pada akhirnya ia dapat bermanfaat bagi yang lain. Sebagaimana padi yang berisi. Mengenyangkan dan menghasilkan uang.

Baca Juga :  Nilai SAKIP Tiga Kabupaten B

Jan aesse, jan nondhu’ memang sederhana tapi bermakna. Saat ini kita tengah berada dalam kehidupan serbakapitalis. Ungkapan semacam ini perlu dipelajari dan dikaji kembali dengan harapan bisa dijadikan bekal untuk mengafirmasi diri. Suati hari nanti.

Terakhir untuk pemerintah serta semua pihak yang dianggap penting dan masyarakat umum dengan ekonomi mapan di negeri ini, dari padi kita bisa belajar menyadari bahwa merunduk adalah satu dari sekian proses untuk menjadi bijak. Melihat ke bawah. Melihat orang-orang yang ekonominya rendah. Melihat orang-orang yang memerlukan uluran tangan. Juga melihat orang-orang yang meneriakkan keadilan.

Semoga. Dan mari belajar dari padi! 

 

*) Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)

Instik Annuqayah Guluk-Guluk.

 

- Advertisement -
Previous articleGunong Pekol
Next articlePuisi Madura Lillah Totale*

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/