alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Idul Qurban; Kemanusiaan dan Cinta Sejati

IDUL Adha tidak bisa dipisahkan dari epos Ibrahim dan putranya, Ismail dalam suatu kisah penyembelihan yang memilukan. Hari untuk memperingatinya disebut dengan hari nahar (penyembelihan) atau Idul Kurban. Agar manusia senantiasa mengenang kisah itu sebagai sebuah kemenangan manusia dalam menaklukkan dirinya sendiri.

Kurban merupakan simbol kepatuhan puncak manusia terhadap Tuhan. Dalam kisah ini, Tuhan hendak menunjukkan martabat dan derajat manusia di atas makhluk yang lain sehingga layak menyandang predikat khalifatullah fil ardl.

Ali Syari’ati, filsuf muslim Iran, menyebut kisah pengorbanan Ismail oleh Ibrahim sebagai tahap terakhir dari evolusi dan idealisme, tahap kebebasan mutlak dan kepasrahan mutlak.

Kenapa Nabi Ibrahim harus mengorbankan putra tersayangnya? Apakah Allah haus darah? Apakah Allah menginginkan sakit dan penderitaan?

Allah Mahakasih Mahasayang. Dia hanya hendak mendidik manusia agar bisa merasakan seluruh kelaparan sebagaimana kelaparannya sendiri. Merasakan semua kesakitan orang lain sebagaimana sakitnya sendiri. Menghadapi penderitaan yang lainnya sebagaimana penderitaannya sendiri.

Dia hanya hendak mengajarkan pada Ibrahim, dan hakikatnya mengajarkan kita semua, agar dapat memberi cinta dan keadilan Allah secara adil bagi semua orang.

Tetapi, semakin tua Ibrahim, dia semakin dekat dengan putranya. Bahkan, lebih dekat daripada dengan Allah. Ibrahim, sebagaimana kita juga, telah mengembangkan kasih sayang individualis. Karenanya, dia tidak mampu untuk tidak berpihak jika seseorang bertengkar dengan putranya atau menjadi musuh putranya.

Baca Juga :  Bersyukur dengan Totalitas

Dia tidak dapat menyelesaikan perselisihan dengan benar-benar adil. Dia sangat mencintai putranya sedemikian besar karena tidak mampu memperlakukan semua kehidupan secara sama.

Ibrahim melihat yang lain sebagai kurang penting daripada Ismail. Dia tidak dapat melihat bobot dan kekuasaan dari kehidupan-kehidupan lain, serta tidak lebih mampu untuk mencintai Allah dengan cara yang benar.

Keadilannya, kasih sayangnya, perbuatan baiknya, dan persamaan terhadap yang lain menghilang ketika berhadapan dengan kasih sayang individualnya. Karena demikian besar kasih sayang kepada putranya, Ibrahim mulai membentuk suatu hubungan dengan dunia. Ilusi dan pertalian darah mulai mengubahnya sehingga tidak dapat bertindak sesuai dengan keadilan dan sifat-sifat Allah.

Ibrahim adalah manusia pilihan, manusia ideal, manusia percontohan. Keputusan untuk mengorbankan Ismail, putra kesayangannya, adalah buah dari tauhid sejati. Tauhid yang mampu menundukkan kasih sayang egois, sehingga menumbuhkan rasa keadilan universal, mengatasi sekat-sekat kasih sayang individu, keluarga, klan, golongan, bahkan agama.

Kisah Ibrahim yang hendak mengorbankan anak kesayangannya tidak lain merupakan citra perjuangan manusia yang hendak melepaskan sifat primordialnya yang cenderung mencintai dan menyayangi apa yang dianggap miliknya. Bahkan jika itu adalah anaknya sendiri.

Baca Juga :  Dari Ladang Jagung: Mencari Praktik Seni Penyadaran

Jadi, pesan kurban yang utama adalah keikhlasan kita untuk merelakan kepemilikan kita untuk kembali pada Allah Yang Mahabesar (Allahu akbar). Sebab, tiada Tuhan selain Allah, hanya bagi Dia-lah segala puji Allah (lailaha illa Allah, walillahilhamdu).

Kini saat Idul Kurban, kita berperan sebagai Ibrahim dan kelemahan Ibrahim adalah kecintaannya kepada Ismail. Dan dari gerbang cinta itu pula setan menggoda. Bayangkanlah diri kita sedang berada di puncak kebanggaan dan kemuliaan, hanya ada satu hal yang kita cintai; demi hal itu kita rela mengorbankan segala-galanya; dan hal itu adalah Ismail kita. Mungkin sekali Ismail kita adalah seorang manusia, benda, pangkat, kedudukan, dll.

Tuntunan makna kurban yang kita rayakan setiap tahun adalah peran kita sebagai Ibrahim. Jika dulu Ibrahim merelakan putra kesayangannya untuk dikorbankan, dalam kehidupan kita, Ismail bisa berupa kedudukan, profesi, uang, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, pakaian, keremajaan, atau apa pun yang menyebabkan kita terpenjara dalam kepemilikan semu dan keakuan fana. 

 

*)Dosen di STIT Aqidah Usymuni Sumenep. Aktif di elBina, Lembaga Kajian dan Penelitian Jawa Timur.

IDUL Adha tidak bisa dipisahkan dari epos Ibrahim dan putranya, Ismail dalam suatu kisah penyembelihan yang memilukan. Hari untuk memperingatinya disebut dengan hari nahar (penyembelihan) atau Idul Kurban. Agar manusia senantiasa mengenang kisah itu sebagai sebuah kemenangan manusia dalam menaklukkan dirinya sendiri.

Kurban merupakan simbol kepatuhan puncak manusia terhadap Tuhan. Dalam kisah ini, Tuhan hendak menunjukkan martabat dan derajat manusia di atas makhluk yang lain sehingga layak menyandang predikat khalifatullah fil ardl.

Ali Syari’ati, filsuf muslim Iran, menyebut kisah pengorbanan Ismail oleh Ibrahim sebagai tahap terakhir dari evolusi dan idealisme, tahap kebebasan mutlak dan kepasrahan mutlak.


Kenapa Nabi Ibrahim harus mengorbankan putra tersayangnya? Apakah Allah haus darah? Apakah Allah menginginkan sakit dan penderitaan?

Allah Mahakasih Mahasayang. Dia hanya hendak mendidik manusia agar bisa merasakan seluruh kelaparan sebagaimana kelaparannya sendiri. Merasakan semua kesakitan orang lain sebagaimana sakitnya sendiri. Menghadapi penderitaan yang lainnya sebagaimana penderitaannya sendiri.

Dia hanya hendak mengajarkan pada Ibrahim, dan hakikatnya mengajarkan kita semua, agar dapat memberi cinta dan keadilan Allah secara adil bagi semua orang.

Tetapi, semakin tua Ibrahim, dia semakin dekat dengan putranya. Bahkan, lebih dekat daripada dengan Allah. Ibrahim, sebagaimana kita juga, telah mengembangkan kasih sayang individualis. Karenanya, dia tidak mampu untuk tidak berpihak jika seseorang bertengkar dengan putranya atau menjadi musuh putranya.

Baca Juga :  Melecutkan Budaya Menulis dan Meneliti Guru

Dia tidak dapat menyelesaikan perselisihan dengan benar-benar adil. Dia sangat mencintai putranya sedemikian besar karena tidak mampu memperlakukan semua kehidupan secara sama.

Ibrahim melihat yang lain sebagai kurang penting daripada Ismail. Dia tidak dapat melihat bobot dan kekuasaan dari kehidupan-kehidupan lain, serta tidak lebih mampu untuk mencintai Allah dengan cara yang benar.

Keadilannya, kasih sayangnya, perbuatan baiknya, dan persamaan terhadap yang lain menghilang ketika berhadapan dengan kasih sayang individualnya. Karena demikian besar kasih sayang kepada putranya, Ibrahim mulai membentuk suatu hubungan dengan dunia. Ilusi dan pertalian darah mulai mengubahnya sehingga tidak dapat bertindak sesuai dengan keadilan dan sifat-sifat Allah.

Ibrahim adalah manusia pilihan, manusia ideal, manusia percontohan. Keputusan untuk mengorbankan Ismail, putra kesayangannya, adalah buah dari tauhid sejati. Tauhid yang mampu menundukkan kasih sayang egois, sehingga menumbuhkan rasa keadilan universal, mengatasi sekat-sekat kasih sayang individu, keluarga, klan, golongan, bahkan agama.

Kisah Ibrahim yang hendak mengorbankan anak kesayangannya tidak lain merupakan citra perjuangan manusia yang hendak melepaskan sifat primordialnya yang cenderung mencintai dan menyayangi apa yang dianggap miliknya. Bahkan jika itu adalah anaknya sendiri.

Baca Juga :  Bersyukur dengan Totalitas

Jadi, pesan kurban yang utama adalah keikhlasan kita untuk merelakan kepemilikan kita untuk kembali pada Allah Yang Mahabesar (Allahu akbar). Sebab, tiada Tuhan selain Allah, hanya bagi Dia-lah segala puji Allah (lailaha illa Allah, walillahilhamdu).

Kini saat Idul Kurban, kita berperan sebagai Ibrahim dan kelemahan Ibrahim adalah kecintaannya kepada Ismail. Dan dari gerbang cinta itu pula setan menggoda. Bayangkanlah diri kita sedang berada di puncak kebanggaan dan kemuliaan, hanya ada satu hal yang kita cintai; demi hal itu kita rela mengorbankan segala-galanya; dan hal itu adalah Ismail kita. Mungkin sekali Ismail kita adalah seorang manusia, benda, pangkat, kedudukan, dll.

Tuntunan makna kurban yang kita rayakan setiap tahun adalah peran kita sebagai Ibrahim. Jika dulu Ibrahim merelakan putra kesayangannya untuk dikorbankan, dalam kehidupan kita, Ismail bisa berupa kedudukan, profesi, uang, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, pakaian, keremajaan, atau apa pun yang menyebabkan kita terpenjara dalam kepemilikan semu dan keakuan fana. 

 

*)Dosen di STIT Aqidah Usymuni Sumenep. Aktif di elBina, Lembaga Kajian dan Penelitian Jawa Timur.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Paslon Mantap Resmi Menggugat ke MK

Lemper Beracun Telan Dana Rp 150 Juta

Satlantas Stop Pelayanan SIM

Artikel Terbaru

/