alexametrics
25.8 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Permintaan Domestik yang Solid Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional

JAKARTA – Aktivitas ekonomi domestik terus menunjukkan tren pemulihan yang terakselerasi. Angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2022 kembali berada di level ekspansif, yakni pada posisi 51,3. Posisi PMI Juli 2022 lebih tinggi dibanding Juni 2022 yang berada pada posisi 50,2.

Level ekspansif PMI Indonesia tercatat sejak September 2021 atau selama 11 bulan beruntun. Bahkan, level ekspansi Indonesia masih di atas beberapa negara ASEAN. Misalnya seperti Vietnam 51,2, Filipina 50,8, Malaysia 50,6, dan Myanmar yang masih mengalami kontraksi sebesar 46,5.

“Pencapaian ini berkat peran berbagai pihak dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN) pasca pandemi Covid-19. Khususnya mendorong peningkatan permintaan domestik dan mendukung kegiatan dunia usaha,” ujar Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Kinerja impresif pada aktivitas sektor riil tersebut menjadi bukti ketahanan ekonomi domestik di tengah berbagai tantangan global yang terus berlangsung. Kinerja tersebut berhasil dicapai di tengah adanya potensi perlambatan pemulihan global.

Berdasar laporan terbaru IMF, periode Juli 2022 menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun 2022 menjadi sebesar 3,2 % yoy, atau mengalami penurunan sebesar 0,4 % dibanding laporan April 2022. Hal itu berimplikasi pada potensi permintaan luar negeri yang diperkirakan akan melemah.

Berdasar hasil survei, level ekspansi PMI manufaktur Indonesia mengalami peningkatan tertinggi sejak April 2022. Umumnya, karena ditopang permintaan domestik yang semakin solid. Peningkatan permintaan domestik menjadi insentif bagi dunia usaha untuk terus meningkatkan produksi. Hasilnya, lapangan pekerjaan baru terbuka luas.

Aktivitas sektor riil yang semakin bergeliat juga dikonfirmasi oleh Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) pada Triwulan II 2022. Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 14,13 %, lebih tinggi dari SBT Triwulan I 2022 sebesar 8,71 %.

Baca Juga :  Pelatihan Jurnalistik Jadi Bekal Siswa Menulis

Peningkatan kinerja usaha sejalan dengan pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas di berbagai daerah. Perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) mendorong permintaan, serta ketersediaan sarana produksi.

Selain itu, menguatnya kapasitas output di berbagai sektor turut mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Juni 2022 bahkan telah mencapai US$ 141,07 miliar atau tumbuh sebesar 37,11 % ctc. Pencapaian di sisi ekspor itu menjadi penopang neraca perdagangan Indonesia yang secara konsisten telah mengalami surplus selama 26 bulan beruntun.

“Pemerintah akan terus mendorong bangkitnya aktivitas produksi. Khususnya pada sektor-sektor yang memiliki dampak pengganda yang besar. Selain itu, penyederhanaan berbagai regulasi juga terus diupayakan sebagai bentuk komitmen pemerintah meningkatkan kemudahan berusaha di Indonesia,” kata Airlangga.

Berbagai indikator makroekonomi yang semakin membaik menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi berbagai negara. Hingga Triwulan II 2022, realisasi investasi telah mencapai Rp 302,2 triliun atau meningkat 35,5 % yoy, dan menciptakan lapangan kerja sebanyak 320.534 Tenaga Kerja Indonesia.

Capaian investasi ini, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 163,2 triliun atau tumbuh 39,7 % yoy dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 138 triliun dengan pertumbuhan sebesar 30,8 % yoy.

Tantangan muncul dari kenaikan harga bahan baku internasional, sebagai dampak inflasi global. Namun demikian, inflasi Indonesia masih relatif terjaga di tengah peningkatan inflasi signifikan di berbagai negara.

Baca Juga :  Aksi Perampokan Tiga Begal Digagalkan Di Sampang

Pada Juli 2022, inflasi tercatat sebesar 0,64 % mtm, 3,85 % ytd dan 4,94 % yoy. Inflasi Juli terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai merah, tarif angkutan udara, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, dan cabai rawit.

Selain itu, inflasi inti juga tercatat naik menjadi 2,86 % yoy, lebih tinggi dari sebelumnya sebesar 2,63 % yoy. Hal itu menggambarkan bahwa fundamental ekonomi masih stabil.

Inflasi akibat krisis energi global dapat diredam dampaknya melalui kebijakan subsidi pemerintah. Sedangkan inflasi pangan lebih tinggi disebabkan gangguan suplai domestik pada komoditas volatile food akibat kondisi cuaca.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah telah menyusun pedoman langkah-langkah responsif. Antara lain menjaga keterjangkauan harga pangan melalui kegiatan operasi pasar, meningkatkan pasokan komoditas pangan melalui peningkatan produktivitas, dan perampingan distribusi pasokan komoditas pangan.

Termasuk, melakukan komunikasi efektif untuk membentuk ekspektasi masyarakat atas harga, melaksanakan kerja sama daerah untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan pangan pokok, serta mendukung terciptanya ekosistem stabilitas harga dengan menjaga keseimbangan sisi pasokan dan permintaan.

Terakhir, fundamental ekonomi yang tangguh terus didukung dengan reformasi regulasi yang afirmatif guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategi dan kebijakan yang tengah dioptimalkan lemerintah.

Misalnya peningkatan realisasi investasi dengan mengoptimalkan peran lembaga alternatif pembiayaan pembangunan ekonomi melalui Indonesia Investment Authority (INA), percepatan realisasi Proyek Strategis Nasional (PSN), dan peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas unggulan. Mulai dari batu bara, nikel, dan crude palm oil (CPO). (dep1/rep/fsr/*/par)

JAKARTA – Aktivitas ekonomi domestik terus menunjukkan tren pemulihan yang terakselerasi. Angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2022 kembali berada di level ekspansif, yakni pada posisi 51,3. Posisi PMI Juli 2022 lebih tinggi dibanding Juni 2022 yang berada pada posisi 50,2.

Level ekspansif PMI Indonesia tercatat sejak September 2021 atau selama 11 bulan beruntun. Bahkan, level ekspansi Indonesia masih di atas beberapa negara ASEAN. Misalnya seperti Vietnam 51,2, Filipina 50,8, Malaysia 50,6, dan Myanmar yang masih mengalami kontraksi sebesar 46,5.

“Pencapaian ini berkat peran berbagai pihak dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN) pasca pandemi Covid-19. Khususnya mendorong peningkatan permintaan domestik dan mendukung kegiatan dunia usaha,” ujar Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.


Kinerja impresif pada aktivitas sektor riil tersebut menjadi bukti ketahanan ekonomi domestik di tengah berbagai tantangan global yang terus berlangsung. Kinerja tersebut berhasil dicapai di tengah adanya potensi perlambatan pemulihan global.

Berdasar laporan terbaru IMF, periode Juli 2022 menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun 2022 menjadi sebesar 3,2 % yoy, atau mengalami penurunan sebesar 0,4 % dibanding laporan April 2022. Hal itu berimplikasi pada potensi permintaan luar negeri yang diperkirakan akan melemah.

Berdasar hasil survei, level ekspansi PMI manufaktur Indonesia mengalami peningkatan tertinggi sejak April 2022. Umumnya, karena ditopang permintaan domestik yang semakin solid. Peningkatan permintaan domestik menjadi insentif bagi dunia usaha untuk terus meningkatkan produksi. Hasilnya, lapangan pekerjaan baru terbuka luas.

Aktivitas sektor riil yang semakin bergeliat juga dikonfirmasi oleh Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) pada Triwulan II 2022. Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 14,13 %, lebih tinggi dari SBT Triwulan I 2022 sebesar 8,71 %.

Baca Juga :  KH Baddrut Tamam Penyambung Lidah Santri dan Kiai Kampung

Peningkatan kinerja usaha sejalan dengan pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas di berbagai daerah. Perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) mendorong permintaan, serta ketersediaan sarana produksi.

Selain itu, menguatnya kapasitas output di berbagai sektor turut mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Juni 2022 bahkan telah mencapai US$ 141,07 miliar atau tumbuh sebesar 37,11 % ctc. Pencapaian di sisi ekspor itu menjadi penopang neraca perdagangan Indonesia yang secara konsisten telah mengalami surplus selama 26 bulan beruntun.

“Pemerintah akan terus mendorong bangkitnya aktivitas produksi. Khususnya pada sektor-sektor yang memiliki dampak pengganda yang besar. Selain itu, penyederhanaan berbagai regulasi juga terus diupayakan sebagai bentuk komitmen pemerintah meningkatkan kemudahan berusaha di Indonesia,” kata Airlangga.

Berbagai indikator makroekonomi yang semakin membaik menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi berbagai negara. Hingga Triwulan II 2022, realisasi investasi telah mencapai Rp 302,2 triliun atau meningkat 35,5 % yoy, dan menciptakan lapangan kerja sebanyak 320.534 Tenaga Kerja Indonesia.

Capaian investasi ini, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 163,2 triliun atau tumbuh 39,7 % yoy dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 138 triliun dengan pertumbuhan sebesar 30,8 % yoy.

Tantangan muncul dari kenaikan harga bahan baku internasional, sebagai dampak inflasi global. Namun demikian, inflasi Indonesia masih relatif terjaga di tengah peningkatan inflasi signifikan di berbagai negara.

Baca Juga :  Airlangga: PPKM Mikro Diperpanjang, 43 Kabupaten/Kota Diperketat

Pada Juli 2022, inflasi tercatat sebesar 0,64 % mtm, 3,85 % ytd dan 4,94 % yoy. Inflasi Juli terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai merah, tarif angkutan udara, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, dan cabai rawit.

Selain itu, inflasi inti juga tercatat naik menjadi 2,86 % yoy, lebih tinggi dari sebelumnya sebesar 2,63 % yoy. Hal itu menggambarkan bahwa fundamental ekonomi masih stabil.

Inflasi akibat krisis energi global dapat diredam dampaknya melalui kebijakan subsidi pemerintah. Sedangkan inflasi pangan lebih tinggi disebabkan gangguan suplai domestik pada komoditas volatile food akibat kondisi cuaca.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah telah menyusun pedoman langkah-langkah responsif. Antara lain menjaga keterjangkauan harga pangan melalui kegiatan operasi pasar, meningkatkan pasokan komoditas pangan melalui peningkatan produktivitas, dan perampingan distribusi pasokan komoditas pangan.

Termasuk, melakukan komunikasi efektif untuk membentuk ekspektasi masyarakat atas harga, melaksanakan kerja sama daerah untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan pangan pokok, serta mendukung terciptanya ekosistem stabilitas harga dengan menjaga keseimbangan sisi pasokan dan permintaan.

Terakhir, fundamental ekonomi yang tangguh terus didukung dengan reformasi regulasi yang afirmatif guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategi dan kebijakan yang tengah dioptimalkan lemerintah.

Misalnya peningkatan realisasi investasi dengan mengoptimalkan peran lembaga alternatif pembiayaan pembangunan ekonomi melalui Indonesia Investment Authority (INA), percepatan realisasi Proyek Strategis Nasional (PSN), dan peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas unggulan. Mulai dari batu bara, nikel, dan crude palm oil (CPO). (dep1/rep/fsr/*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/