alexametrics
25.8 C
Madura
Thursday, August 11, 2022

Menko Airlangga: Pemerintah Dorong Peningkatan Produksi Jagung Nasional

JAKARTA – Untuk menguatkan ekosistem pangan pangan nasional, pemerintah terus mencari solusi. Salah satunya, meningkatkan produksi jagung dalam negeri, sekaligus memenuhi permintaan pasar ekspor.

Pemerintah telah menyiapkan kebijakan terkait percepatan pengembangan jagung. Caranya, menetapkan strategi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap Jagung 2022-2024.

Saat ini, beberapa negara pengekspor jagung menerapkan pembatasan ekspor guna memprioritaskan pemenuhan kebutuhan jagung dalam negeri. Akibatnya, harga jagung dunia naik. Kenaikan juga karena konflik Rusia – Ukraina.

Pada Juni 2022, rata-rata harga jagung mencapai USD 335,71 per ton. Harga jagung internasional mencapai harga tertinggi pada April 2022 sebesar USD 348,17 per ton.

Harga jagung dunia membaik pada Januari-Juni 2022, yang naik sebesar 21,53 % dibanding periode sama 2021, menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan ekspor jagung.

Melalui intensifikasi berupa peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi berupa perluasan areal tanam baru, pemerintah berharap dapat meningkatkan produksi jagung (baik untuk memenuhi ketersediaan di dalam negeri maupun memenuhi demand dari negara lain).

Baca Juga :  Pita Hitam untuk Kepergian Guru Budi

“Dengan harga global yang sekarang di angka USD 335 per ton atau setara Rp 5.000 per kilogram, Bapak Presiden memberi arahan agar dilakukan peningkatan produksi, termasuk ekstensifikasi dari lahan yang ada,” ujar Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai Rapat Internal Terbatas terkait Peningkatan Produksi dan Ekspor Jagung di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/8).

Airlangga menambahkan, perlu mendorong petani untuk menggunakan bibit/benih unggul (varietas hibrida jagung). “Ada 14 varietas yang diharapkan bisa meningkatkan produksi menjadi 10,68 sampai 13,70 ton per hektar. Pak Menteri Pertanian akan menyelesaikan regulasi dan kebijakan yang diperlukan,” tutur Airlangga.

Untuk meningkatkan produksi jagung nasional, kementan telah menentukan enam lokasi peningkatan produksi jagung nasional. Yaitu Provinsi Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan Utara. Total luas lahan 141.000 hektar. 86.000 hektar di antaranya areal tanam baru.

Baca Juga :  Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Keturunan Mangkunegara

Perkiraan produksi jagung dengan Kadar Air (KA) 27,81 % atau Jagung Pipilan Basah di Petani, hingga akhir tahun bisa mencapai 25,3 juta ton. Sedangkan perkiraan produksi jagung dengan KA 14 % atauJagung Simpan di Gudang mencapai 18,7 juta ton.

Sedangkan kebutuhan untuk industri, terutama industri pakan ternak sekitar 15 juta ton. Sehingga masih ada cadangan jagung nasional sekitar 3 juta ton (diprioritaskan untuk cadangan kebutuhan nasional).

Airlangga mengungkapkan, untuk meningkatkan produksi jagung nasional, pemerintah membuat beberapa kebijakan dan program. Misalnya memenuhi kebutuhan Alsintan untuk percepatan olah tanah, tanam dan panen, pasca panen (perontokan, pengeringan).

Selain itu, pemerintah juga menyediakan Silo dan Dryer di Sentra Produsen, atau penyediaan Mobile Dryer untuk menjangkau wilayah remote dan tersebar.

“Sesuai harapan Bapak Presiden, dengan adanya intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi, khususnya melalui perluasan lahan baru, kita bisa meningkatkan produksi jagung,” pungkas Airlangga. (map/fsr/hls/*/par)

JAKARTA – Untuk menguatkan ekosistem pangan pangan nasional, pemerintah terus mencari solusi. Salah satunya, meningkatkan produksi jagung dalam negeri, sekaligus memenuhi permintaan pasar ekspor.

Pemerintah telah menyiapkan kebijakan terkait percepatan pengembangan jagung. Caranya, menetapkan strategi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap Jagung 2022-2024.

Saat ini, beberapa negara pengekspor jagung menerapkan pembatasan ekspor guna memprioritaskan pemenuhan kebutuhan jagung dalam negeri. Akibatnya, harga jagung dunia naik. Kenaikan juga karena konflik Rusia – Ukraina.


Pada Juni 2022, rata-rata harga jagung mencapai USD 335,71 per ton. Harga jagung internasional mencapai harga tertinggi pada April 2022 sebesar USD 348,17 per ton.

Harga jagung dunia membaik pada Januari-Juni 2022, yang naik sebesar 21,53 % dibanding periode sama 2021, menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan ekspor jagung.

Melalui intensifikasi berupa peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi berupa perluasan areal tanam baru, pemerintah berharap dapat meningkatkan produksi jagung (baik untuk memenuhi ketersediaan di dalam negeri maupun memenuhi demand dari negara lain).

Baca Juga :  Fauzan Adima, Pemenang II Tokoh Pendidikan Madura Awards 2017

“Dengan harga global yang sekarang di angka USD 335 per ton atau setara Rp 5.000 per kilogram, Bapak Presiden memberi arahan agar dilakukan peningkatan produksi, termasuk ekstensifikasi dari lahan yang ada,” ujar Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai Rapat Internal Terbatas terkait Peningkatan Produksi dan Ekspor Jagung di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/8).

Airlangga menambahkan, perlu mendorong petani untuk menggunakan bibit/benih unggul (varietas hibrida jagung). “Ada 14 varietas yang diharapkan bisa meningkatkan produksi menjadi 10,68 sampai 13,70 ton per hektar. Pak Menteri Pertanian akan menyelesaikan regulasi dan kebijakan yang diperlukan,” tutur Airlangga.

Untuk meningkatkan produksi jagung nasional, kementan telah menentukan enam lokasi peningkatan produksi jagung nasional. Yaitu Provinsi Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan Utara. Total luas lahan 141.000 hektar. 86.000 hektar di antaranya areal tanam baru.

Baca Juga :  Belum Jadwalkan Paripurna Pembentukan AKD

Perkiraan produksi jagung dengan Kadar Air (KA) 27,81 % atau Jagung Pipilan Basah di Petani, hingga akhir tahun bisa mencapai 25,3 juta ton. Sedangkan perkiraan produksi jagung dengan KA 14 % atauJagung Simpan di Gudang mencapai 18,7 juta ton.

Sedangkan kebutuhan untuk industri, terutama industri pakan ternak sekitar 15 juta ton. Sehingga masih ada cadangan jagung nasional sekitar 3 juta ton (diprioritaskan untuk cadangan kebutuhan nasional).

Airlangga mengungkapkan, untuk meningkatkan produksi jagung nasional, pemerintah membuat beberapa kebijakan dan program. Misalnya memenuhi kebutuhan Alsintan untuk percepatan olah tanah, tanam dan panen, pasca panen (perontokan, pengeringan).

Selain itu, pemerintah juga menyediakan Silo dan Dryer di Sentra Produsen, atau penyediaan Mobile Dryer untuk menjangkau wilayah remote dan tersebar.

“Sesuai harapan Bapak Presiden, dengan adanya intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi, khususnya melalui perluasan lahan baru, kita bisa meningkatkan produksi jagung,” pungkas Airlangga. (map/fsr/hls/*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/