alexametrics
23.5 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Kerugian Investasi Sembako Murah Capai Rp 1 Miliar

SUMENEPNia Ekawati, warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep, akhirnya muncul ke permukaan. Perempuan 25 tahun asal Jalan Teuku Umar Gang III ini sempat menjadi incaran puluhan orang karena meninggalkan rumah. Mereka adalah ”anggota” investasi sembako yang dia koordinasi.

Nia muncul di Aula Sutanto Polres Sumenep Kamis (1/3). Di tempat itu dia dipertemukan dengan puluhan orang yang merasa dirugikan. Proses mediasi berlangsung sekitar pukul 16.30–17.40.

Dugaan penipuan terungkap sejak akhir 2017. Sejak saat itu Nia sudah tidak ada di rumahnya. Namun, warga masih berharap dia pulang dan mengembalikan uang.

Sebelumnya Nia meminta korban menyetorkan investasi. Uang itu dibelanjakan sembako dengan harga murah. Dengan harga miring itu warga tergiur. Mereka pun berbondong-bondong membeli sembako berupa beras, minyak kelapa, dan sejumlah jenis kebutuhan lain kepada Nia.

Pembelian dilakukan sejak November 2017. Biasanya pesanan datang dalam seminggu. Sejak akhir Desember barang sudah tidak datang. Bahkan, Nia menghilang tanpa jejak.

Muncul dugaan dia melarikan diri ke luar kota dengan naik bus. Sebab, sepeda motor miliknya diketahui berada di parkiran Terminal Arya Wiraraja. Polsek Kota kemudian memediasi antara warga yang menjadi korban dengan Nia.

Termasuk mediasi di mapolres kemarin. Kedua belah pihak dipanggil. Namun, upaya penyelesaian masalah secara kekeluargaan itu tidak menemukan titik temu.

Baca Juga :  Kasus Pembunuhan Lisa, Polisi Kejar Penyimpan Celurit

Di depan puluhan korbannya, Nia yang didampingi keluarganya mengaku tidak sanggup mengembalikan uang yang telah dihabiskan. ”Kalau harus mengembalikan semua sekaligus saya tidak sanggup,” ucap Nia.

Meski begitu, Nia sempat menawarkan untuk melunasi utangnya kepada para korban dengan cara mencicil. Nia berencana untuk bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri.

Dalam pertemuan itu juga terungkap, untuk barang dia tidak mengulak dari Malang seperti dulu disampaikan kepada korban. Dia mengaku mendapatkan barang dari toko di Kota Sumenep.

”Kalau bekerja sebagai TKW itu sama saja kamu melarikan diri. Meskipun tidak (melarikan diri), butuh waktu berapa lama sampai uang kami kembali? Kami juga butuh makan,” ungkap Sukarno, 73, warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep.

Sukarno adalah satu dari 23 korban yang hadir dalam audiensi tersebut. Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sukarno mengaku telah tertipu dan mengalami kerugian hingga Rp 95 juta. Dia tergiur dengan tawaran harga sembako murah.

”Saya belum lama ikut kerja sama dengan Nia, sekitar satu bulan lebih. Karena tahu harga sembako rendah, saya tembak saja sekian puluh juta. Saya kira untung, ternyata malah buntung,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Yuhana, warga Desa Pandian. Dia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 37 juta. ”Kalau investasi saya lebih dari Rp 37 juta. Tapi memang sudah pernah ada barang yang datang. Jadi saya hitung ruginya sekitar Rp 37 juta,” kata dia.

Baca Juga :  Sales Mobil Tipu Pembeli Ratusan Juta

Kapolsek Kota AKP Widiarti mengatakan, jumlah korban dugaan penipuan Nia diperkirakan mencapai 80 orang. Dari jumlah tersebut, kerugian materi yang dialami para korban lebih Rp 1 miliar.

Sebelumnya, jelas perempuan yang menjadi mediator itu, pihak keluarga Nia sempat mengembalikan sebagian kerugian korban. Saat ini, kerugian korban yang belum dikembalikan diperkirakan mencapai Rp 800 juta.

Selama ini belum ada laporan resmi kepada pihak kepolisian mengenai kasus ini. Karena itu pihaknya belum melakukan penyelidikan dan hanya memediasi. ”Dari data yang diserahkan, jumlah korban mencapai 80 orang. Tapi kemungkinan masih ada tambahan lagi,” tuturnya.

Setelah audiensi, Widi menyarankan para korban melaporkan secara resmi. Meski diperkenankan pulang, Widi meminta agar Nia tidak menghilang lagi.

Kasatreskrim Polres Sumenep AKP Tego Supriyanto Marwoto mengatakan, pihaknya belum menerima laporan korban. Karena itu, polisi belum menetapkan Nia sebagai tersangka. Setelah mediasi memang ada laporan, tapi bukan dari korban, melainkan dari LSM.

”Kami belum bisa memproses kasus ini. LSM tersebut belum memiliki surat kuasa dari para korban. Khawatirnya nanti saat kami tanyai soal berapa kerugian dari masing-masing korban, yang bersangkutan tidak tahu,” jelasnya.

SUMENEPNia Ekawati, warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep, akhirnya muncul ke permukaan. Perempuan 25 tahun asal Jalan Teuku Umar Gang III ini sempat menjadi incaran puluhan orang karena meninggalkan rumah. Mereka adalah ”anggota” investasi sembako yang dia koordinasi.

Nia muncul di Aula Sutanto Polres Sumenep Kamis (1/3). Di tempat itu dia dipertemukan dengan puluhan orang yang merasa dirugikan. Proses mediasi berlangsung sekitar pukul 16.30–17.40.

Dugaan penipuan terungkap sejak akhir 2017. Sejak saat itu Nia sudah tidak ada di rumahnya. Namun, warga masih berharap dia pulang dan mengembalikan uang.


Sebelumnya Nia meminta korban menyetorkan investasi. Uang itu dibelanjakan sembako dengan harga murah. Dengan harga miring itu warga tergiur. Mereka pun berbondong-bondong membeli sembako berupa beras, minyak kelapa, dan sejumlah jenis kebutuhan lain kepada Nia.

Pembelian dilakukan sejak November 2017. Biasanya pesanan datang dalam seminggu. Sejak akhir Desember barang sudah tidak datang. Bahkan, Nia menghilang tanpa jejak.

Muncul dugaan dia melarikan diri ke luar kota dengan naik bus. Sebab, sepeda motor miliknya diketahui berada di parkiran Terminal Arya Wiraraja. Polsek Kota kemudian memediasi antara warga yang menjadi korban dengan Nia.

Termasuk mediasi di mapolres kemarin. Kedua belah pihak dipanggil. Namun, upaya penyelesaian masalah secara kekeluargaan itu tidak menemukan titik temu.

Baca Juga :  Pantai Jumiang Digerojok Rp 3,8 Miliar

Di depan puluhan korbannya, Nia yang didampingi keluarganya mengaku tidak sanggup mengembalikan uang yang telah dihabiskan. ”Kalau harus mengembalikan semua sekaligus saya tidak sanggup,” ucap Nia.

Meski begitu, Nia sempat menawarkan untuk melunasi utangnya kepada para korban dengan cara mencicil. Nia berencana untuk bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri.

Dalam pertemuan itu juga terungkap, untuk barang dia tidak mengulak dari Malang seperti dulu disampaikan kepada korban. Dia mengaku mendapatkan barang dari toko di Kota Sumenep.

”Kalau bekerja sebagai TKW itu sama saja kamu melarikan diri. Meskipun tidak (melarikan diri), butuh waktu berapa lama sampai uang kami kembali? Kami juga butuh makan,” ungkap Sukarno, 73, warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep.

Sukarno adalah satu dari 23 korban yang hadir dalam audiensi tersebut. Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sukarno mengaku telah tertipu dan mengalami kerugian hingga Rp 95 juta. Dia tergiur dengan tawaran harga sembako murah.

”Saya belum lama ikut kerja sama dengan Nia, sekitar satu bulan lebih. Karena tahu harga sembako rendah, saya tembak saja sekian puluh juta. Saya kira untung, ternyata malah buntung,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Yuhana, warga Desa Pandian. Dia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 37 juta. ”Kalau investasi saya lebih dari Rp 37 juta. Tapi memang sudah pernah ada barang yang datang. Jadi saya hitung ruginya sekitar Rp 37 juta,” kata dia.

Baca Juga :  Kasus Pembunuhan Lisa, Polisi Kejar Penyimpan Celurit

Kapolsek Kota AKP Widiarti mengatakan, jumlah korban dugaan penipuan Nia diperkirakan mencapai 80 orang. Dari jumlah tersebut, kerugian materi yang dialami para korban lebih Rp 1 miliar.

Sebelumnya, jelas perempuan yang menjadi mediator itu, pihak keluarga Nia sempat mengembalikan sebagian kerugian korban. Saat ini, kerugian korban yang belum dikembalikan diperkirakan mencapai Rp 800 juta.

Selama ini belum ada laporan resmi kepada pihak kepolisian mengenai kasus ini. Karena itu pihaknya belum melakukan penyelidikan dan hanya memediasi. ”Dari data yang diserahkan, jumlah korban mencapai 80 orang. Tapi kemungkinan masih ada tambahan lagi,” tuturnya.

Setelah audiensi, Widi menyarankan para korban melaporkan secara resmi. Meski diperkenankan pulang, Widi meminta agar Nia tidak menghilang lagi.

Kasatreskrim Polres Sumenep AKP Tego Supriyanto Marwoto mengatakan, pihaknya belum menerima laporan korban. Karena itu, polisi belum menetapkan Nia sebagai tersangka. Setelah mediasi memang ada laporan, tapi bukan dari korban, melainkan dari LSM.

”Kami belum bisa memproses kasus ini. LSM tersebut belum memiliki surat kuasa dari para korban. Khawatirnya nanti saat kami tanyai soal berapa kerugian dari masing-masing korban, yang bersangkutan tidak tahu,” jelasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/