alexametrics
27.2 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Tingkatkan Ekspor ke Timteng, Mendag Zulhas Teken Perjanjian dengan UAE-CEPA

ABU DHABI – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan atau Zulhas meneken persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Emirat Arab atau Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE–CEPA). Kesepakatan itu ditandatangani selang sembilan bulan sejak diluncurkan oleh menteri perdagangan kedua negara.

Pencapaian tersebut sesuai dengan target yang diberikan oleh kedua kepala negara. Yaitu terselesaikannya perundingan dalam waktu kurang dari satu tahun. Penandatanganan IUAE–CEPA dilakukan oleh Mendag Zulhas dan Menteri Ekonomi Uni Emirat Arab (UEA) Abdulla bin Touq Al Marri.

Penandatanganan dilakukan bersamaan dengan kunjungan kerja Presiden Jokowi. Penandatanganan IUAE–CEPA menjadi momentum bersejarah. Sebab, ini kali pertama Indonesia memiliki perjanjian dagang dengan negara di Kawasan Teluk.

“Bapak Presiden Jokowi menyambut positif penyelesaian persetujuan IUAE–CEPA. Persetujuan ini menjadi pintu masuk Indonesia ke UEA yang merupakan hub untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara tujuan nontradisional. Misalnya seperti di kawasan Teluk, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan,” ucap Zulhas.

Penyelesaian IUAE–CEPA sekaligus menjadi momentum yang tepat untuk pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. “Sebab, Covid-19 membuat hampir seluruh negara di dunia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kita berharap, ketika IUAE-CEPA ini diimplementasikan, peningkatan kinerja sektor perdagangan dan investasi yang didorong melalui IUAE–CEPA dapat mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Termasuk, meningkatkan daya saing Indonesia,” tandas Zulhas.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan, perundingan IUAE-CEPA sangat bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu alasannya, terbukanya akses pasar ke UEA melalui penurunan dan penghapusan tarif bea masuk sekitar 94 persen dari total pos tarif dengan mekanisme penurunan secara langsung maupun bertahap saat perjanjian berlaku (entry into force).

Baca Juga :  Kemendag Ungkap Ada Sebanyak 31.553 Depot Air Minum Tak Higienis

Persetujuan IUAE-CEPA mencakup pengaturan di bidang perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, ekonomi Islam, ketentuan asal barang, prosedur kepabeanan dan fasilitasi perdagangan, kerja sama ekonomi, pengadaan barang dan jasa pemerintah, usaha kecil dan menengah, perdagangan digital, serta ketentuan hukum dan isu kelembagaan.

Isu ekonomi Islam dalam IUAE-CEPA juga menjadi satu catatan sejarah bagi Indonesia. Untuk kali pertama, isu ekonomi Islam/syariah dimasukkan sebagai salah satu cakupan persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif dengan negara mitra dagang Indonesia.

“Pengaturan pada bab terkait ekonomi Islam dalam IUAE–CEPA, yang merupakan terobosan unik bagi Indonesia dalam upaya pengembangan kerja sama terkait ekonomi Islam, antara lain melibatkan saling diakuinya sertifikasi halal masing-masing negara, usaha kecil dan menengah, serta ekonomi digital,” ulasnya.

“Masih dalam bab yang sama, turut diatur kerja sama pengembangan sektor ekonomi Islam yang mencakup bahan mentah, makanan dan minuman, obat-obatan dan kosmetik, modest fashion, pariwisata, media dan rekreasi, serta pembiayaan Islami (Islamic finance),” ungkap Djatmiko.

Berdasar analisis Cost Benefitdan PrognosaI UAE–CEPA, dalam 10 tahun sejak entry into force (EIF), ekspor Indonesia ke UEA diproyeksikan meningkat sebesar USD 844,4  juta atau meningkat  53,90 persen. Impor Indonesia dari UEA juga diproyeksikan meningkat 307,3 juta atau sekitar 18,26 persen. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengurangi defisit perdagangan dengan UEA.

Setelah  ditandatangani, proses berikutnya adalah ratifikasi atau pengesahan IUAE–CEPA yang akan dilakukan bersama oleh pemerintah dan DPR RI sebelum akhirnya nanti dapat berlaku dan dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha kedua negara.

Baca Juga :  Mendag Maksimalkan Implementasi Persetujuan IA-CEPA Jakarta dengan Australia

Sekilas Perdagangan Kedua Pihak
Total perdagangan Indonesia–UEA pada 2021 mencapai USD 4,0 miliar atau meningkat 37,88 persen dibanding tahun 2020 sebesar USD 2,9 miliar. Meski sempat turun pada 2019–2020, di tengah pandemi Covid-19, nilai perdagangan bilateral kembali naik signifikan.

Pada 2021, ekspor Indonesia ke UEA tercatat sebesar USD 1,9 miliar atau meningkat 52,15 persen dibanding ekspor tahun 2020 sebesar USD 1,2 miliar. Tren kenaikan ekspor Indonesia ke UEA selama 2017-2021 adalah 1,44 persen. Sementara itu, tren kenaikan total perdagangan pada periode  yang sama adalah 0,44  persen.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke UEA yaitu barang perhiasan dan bagiannya, minyak sawit dan turunannya, kendaraan bermotor, apparatus (peralatan) elektronik untuk telepon seluler, dan apparatus penerimaan untuk televisi.

Sementara itu, impor Indonesia dari UEA tahun 2021 tercatat USD 2,1miliar atau meningkat 27,33 persen dibanding impor tahun 2020 USD 1,7 juta. Komoditas impor utama Indonesia dari UEA yaitu produk setengah jadi dari besi atau baja, alumunium tidak ditempa, emas, sulfur, dan polimer propilena. (*/par)

ABU DHABI – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan atau Zulhas meneken persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Emirat Arab atau Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE–CEPA). Kesepakatan itu ditandatangani selang sembilan bulan sejak diluncurkan oleh menteri perdagangan kedua negara.

Pencapaian tersebut sesuai dengan target yang diberikan oleh kedua kepala negara. Yaitu terselesaikannya perundingan dalam waktu kurang dari satu tahun. Penandatanganan IUAE–CEPA dilakukan oleh Mendag Zulhas dan Menteri Ekonomi Uni Emirat Arab (UEA) Abdulla bin Touq Al Marri.

Penandatanganan dilakukan bersamaan dengan kunjungan kerja Presiden Jokowi. Penandatanganan IUAE–CEPA menjadi momentum bersejarah. Sebab, ini kali pertama Indonesia memiliki perjanjian dagang dengan negara di Kawasan Teluk.


“Bapak Presiden Jokowi menyambut positif penyelesaian persetujuan IUAE–CEPA. Persetujuan ini menjadi pintu masuk Indonesia ke UEA yang merupakan hub untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara tujuan nontradisional. Misalnya seperti di kawasan Teluk, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan,” ucap Zulhas.

Penyelesaian IUAE–CEPA sekaligus menjadi momentum yang tepat untuk pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. “Sebab, Covid-19 membuat hampir seluruh negara di dunia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kita berharap, ketika IUAE-CEPA ini diimplementasikan, peningkatan kinerja sektor perdagangan dan investasi yang didorong melalui IUAE–CEPA dapat mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Termasuk, meningkatkan daya saing Indonesia,” tandas Zulhas.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan, perundingan IUAE-CEPA sangat bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu alasannya, terbukanya akses pasar ke UEA melalui penurunan dan penghapusan tarif bea masuk sekitar 94 persen dari total pos tarif dengan mekanisme penurunan secara langsung maupun bertahap saat perjanjian berlaku (entry into force).

Baca Juga :  Kemendag Ungkap Ada Sebanyak 31.553 Depot Air Minum Tak Higienis

Persetujuan IUAE-CEPA mencakup pengaturan di bidang perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, ekonomi Islam, ketentuan asal barang, prosedur kepabeanan dan fasilitasi perdagangan, kerja sama ekonomi, pengadaan barang dan jasa pemerintah, usaha kecil dan menengah, perdagangan digital, serta ketentuan hukum dan isu kelembagaan.

Isu ekonomi Islam dalam IUAE-CEPA juga menjadi satu catatan sejarah bagi Indonesia. Untuk kali pertama, isu ekonomi Islam/syariah dimasukkan sebagai salah satu cakupan persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif dengan negara mitra dagang Indonesia.

“Pengaturan pada bab terkait ekonomi Islam dalam IUAE–CEPA, yang merupakan terobosan unik bagi Indonesia dalam upaya pengembangan kerja sama terkait ekonomi Islam, antara lain melibatkan saling diakuinya sertifikasi halal masing-masing negara, usaha kecil dan menengah, serta ekonomi digital,” ulasnya.

“Masih dalam bab yang sama, turut diatur kerja sama pengembangan sektor ekonomi Islam yang mencakup bahan mentah, makanan dan minuman, obat-obatan dan kosmetik, modest fashion, pariwisata, media dan rekreasi, serta pembiayaan Islami (Islamic finance),” ungkap Djatmiko.

Berdasar analisis Cost Benefitdan PrognosaI UAE–CEPA, dalam 10 tahun sejak entry into force (EIF), ekspor Indonesia ke UEA diproyeksikan meningkat sebesar USD 844,4  juta atau meningkat  53,90 persen. Impor Indonesia dari UEA juga diproyeksikan meningkat 307,3 juta atau sekitar 18,26 persen. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengurangi defisit perdagangan dengan UEA.

Setelah  ditandatangani, proses berikutnya adalah ratifikasi atau pengesahan IUAE–CEPA yang akan dilakukan bersama oleh pemerintah dan DPR RI sebelum akhirnya nanti dapat berlaku dan dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha kedua negara.

Baca Juga :  Wajah Baru Wakil Rakyat 2019–2024, Tiga Srikandi Masuk Parlemen

Sekilas Perdagangan Kedua Pihak
Total perdagangan Indonesia–UEA pada 2021 mencapai USD 4,0 miliar atau meningkat 37,88 persen dibanding tahun 2020 sebesar USD 2,9 miliar. Meski sempat turun pada 2019–2020, di tengah pandemi Covid-19, nilai perdagangan bilateral kembali naik signifikan.

Pada 2021, ekspor Indonesia ke UEA tercatat sebesar USD 1,9 miliar atau meningkat 52,15 persen dibanding ekspor tahun 2020 sebesar USD 1,2 miliar. Tren kenaikan ekspor Indonesia ke UEA selama 2017-2021 adalah 1,44 persen. Sementara itu, tren kenaikan total perdagangan pada periode  yang sama adalah 0,44  persen.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke UEA yaitu barang perhiasan dan bagiannya, minyak sawit dan turunannya, kendaraan bermotor, apparatus (peralatan) elektronik untuk telepon seluler, dan apparatus penerimaan untuk televisi.

Sementara itu, impor Indonesia dari UEA tahun 2021 tercatat USD 2,1miliar atau meningkat 27,33 persen dibanding impor tahun 2020 USD 1,7 juta. Komoditas impor utama Indonesia dari UEA yaitu produk setengah jadi dari besi atau baja, alumunium tidak ditempa, emas, sulfur, dan polimer propilena. (*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/