Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Kedai
icon featured
Kedai
Sapi, Hewan Berharga bagi Orang Madura (5)

Pembangunan Terkesan Hanya Ramah pada Kaum Mewah

27 September 2021, 18: 07: 12 WIB | editor : Abdul Basri

Pembangunan Terkesan Hanya Ramah pada Kaum Mewah

Share this      

Saya nyaris kena semprot kencing sapi saat terjebak kemacetan di Pasar Tanah Merah. Tapi, ada yang lebih parah. Seorang kawan kena cipratan kotoran sapi di Pasar Keppo.

SEPERTI biasa, kawan saya itu selalu tampil rapih saat bekerja. Berangkat dari rumah di Karduluk dengan sepatu, celana, dan hem. Pagi itu dia keluar rumah dengan naik sepeda motor. Ke arah Pamekasan, tempat dia bertugas.

Sampai Kota Pamelingan, dia harus ke toko pakaian. Cari celana baru. Bukan karena hendak bertemu pacar atau selingkuhan. Bukan juga tidak menghargai istri yang telah menyiapkan pakaian di rumah. Dia terpaksa harus ganti celana baru karena ulah sapi.

Baca juga: Bantu Pekerjaan hingga Naikkan Kehormatan

Pakaian yang dipakai dari rumah berlumur calatthong sapi. Mau ngantor kok kena kotoran hewan kebanggaan orang Madura itu? Di Pasar Keppo peristiwa itu terjadi.

Hari itu dia berangkat kerja, tepat hari pasaran. Pelintas jalur selatan Madura pasti paham keruwetan jika pasaran sapi di tempat ini. Di tengah kemacetan itulah, seorang kawan itu tiba-tiba kena semprot cairan colekat tak nikmat. Padahal hari itu punya punya agenda bertemu orang penting di Bumi Ronggosukowati.

Cerita lain saya alami bersama istri dan anak. Sabtu pagi itu, langit Kota Salak cerah berawan sisik. Kami menuju Bumi Sumekar mengendarai sepeda motor. Sampai Pasar Tanah Merah sudah macet. Pikap bermuatan sapi berhenti di depan kami. Kami berusaha mendahului. Saat sepeda motor ada di pantat kanan pikap, tiba-tiba ada air mancur dari bak pikap ke samping kanan. Tepat di depan kami. Beruntung saya melaju pelan dan bisa mundur sedikit. Tapi, bau pesing tak bisa dihindari.

Salah satu yang dihindari saat bepergian adalah kemacetan. Karena itu, menghitung waktu yang tepat perlu dilakukan sebelum keluar rumah. Terutama kemacetan akibat pasar tumpah dan pasar sapi. Jika jalan ramai karena banyak orang mungkin lebih mudah dihalau dibanding keramaian akibat banyak hewan melintas.

Pemandangan sembilan hingga sepuluh sapi hanya dituntun satu atau dua orang saat pasaran merupakan hal biasa. Bukan perkara mudah mengondisikan sapi-sapi itu untuk berjalan sesuai keinginan. Jika oreng nontong sape la daddi salorong, sapa se bangal nyerrong? Hanya menunggu hingga sapi-sapi itu benar-benar sudah tidak jadi penguasa jalanan. Tapi, mungkin menunggu sambil menggerutu.

Hanya beberapa jenis kendaraan yang berani menerobos rombongan sapi. Terutama kendaraan besar atau mobil barang. Mobil kecil dan berharga pasti mengalah daripada kena kette’ atau kena sembur ail kecil atau air besar sapi.

Sapi hanya salah satu bagian kecil penyebab kemacetan. Banyak faktor lain yang menghambat kelancaran lalu lintas. Seperti semakin banyaknya jumlah kendaraan tapi minim penumpang, hingga masalah kesadaran.

Pembangunan dan pelebaran sudah dilakukan besar-besaran. Bahkan, pembangunan itu terkesan hanya ramah pada yang mewah dan tak ramah orang bawah dan kaum lemah. Jalan diperlebar sekaligus menggusur trotoar. Seningga, meminjam logika M. Faizi, sejatinya bukan pedagang yang menempati bahu jalan untuk berjualan hingga terjadi kemacetan. Tapi, karena pelebaran jalan telah mempersempit halaman rumah mereka. Bahkan, ada jalan raya yang tepat di depan pintu rumah warga.

Jika dulu ada kendaraan nenabrak pagar, mungkin nanti akan ada yang menabrak rumah warga karena pagarnya sudah digusur dampak pelebaran jalan. Jika dulu ada yang mengingatkan anak agar tidak ke jalan raya karena ramai, mungkin nanti ada yang kena tabrak begitu keluar dari pintu rumah.

Meningkatnya jumlah kendaraan disebabkan banyak faktor. Mulai dari kebutuhan hingga mudahnya cara mendapatkan. Berbagai tawaran menggiurkan berhasil meluluhkan orang untuk memiliki kendaraan sesuai keinginan.

Tapi meningkatnya jumlah kendaraan tidak berbanding lurus dengan kesadaran untuk tertib berlalu lintas. Salah satu penyebab kemacetan itu juga karena pengendara tidak tertib. Seperti memarkir kendaraan semau gue dan terobos jalur orang.

Mungkin kita memaklumi jika yang menyerobot jalan orang itu adalah sapi. Tapi, kita bisa dongkol jika yang menyerobot itu orang yang tak punya akal dan kesadaran hingga menyebabkan orang lain susah. Lebih-lebih jika yang terjebak kemacetan itu ambulans bermuatan pasien kritis.

Sampai kapan kemacetan rutin pasar itu akan terjadi, Bung? 

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia