Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Kedai
icon featured
Kedai

Lucu Penyu

Oleh Lukman Hakim AG.

25 Oktober 2021, 18: 57: 22 WIB | editor : Abdul Basri

Lucu Penyu

Share this      

Berita Terkait

Penemuan puluhan penyu di Pulau Karamian menarik dicermati. Selain karena satwa itu dilindungi, penyelesaiannya juga berliku. Dilepas, dimakan, atau dijual?

TEMPAT penemuan penyu (TPP) ini di Desa Karamian. Salah satu pulau di Kecamatan Masalembu, Sumenep. Jika Sakala merupakan pulau terluar Sumenep bagian timur, Karamian ini berada di ujung utara.

Pulau Sakala dekat Sulawesi. Pulau Karamian dekat Kalimantan Selatan. Jarak dari Sumenep daratan sama-sama jauh. Dari Pelabuhan Kalianget ke Sakala 151 mil lebih. Sedangkan dari pelabuhan yang sama ke Pulau Karamian lebih 164 mil.

Baca juga: Pembangunan Terkesan Hanya Ramah pada Kaum Mewah

Baru-baru ini Karamian menjadi perbincangan. Karena di pulau ini ditemukan sekitar 80 ekor penyu hijau. Puluhan penyu itu berada di dua tempat penampungan. Ada juga yang menduga itu penangkaran. Sehingga, muncul dugaan penyu itu sengaja dipelihara untuk kepentingan tertentu.

Kabar itu pun segera mencuat. Publik semakin penasaran siapa pemilik dan untuk keperluan apa. Penelusuran dilakukan tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur dan Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Probolinggo. Sebelum mereka sampai, camat bilang bahwa penyu-penyu lucu itu dijaga oleh pemerintah desa.

Berarti keberadaan penyu aman. Saya senang sambil membayangkan nanti akan ada peristiwa pelepasan. Penyu-penyu itu akan hidup bebas lagi seperti sebelum hidup dalam pagar terbatas itu.

Namun, ketika tim BBKSDA dan PSDKP sampai di pulau tersebut, puluhan penyu itu sudah tidak ada. Mereka kecele. Padahal, sebelumnya camat bilang bahwa penyu-penyu itu dijaga oleh pemerintah desa. Sementara polisi bilang penyu itu dilepas. Tapi sayang, tidak ada foto pelepasan.

Tak berselang lama ditemukan fakta baru. Beberapa penyu sudah jadi bangkai. Daging dan cangkang sudah terpisah. Usus dan kepala terserak. Sedangkan karapasnya tersimpan dalam boks ikan.

Informasi terbaru dari polisi menyebutkan bahwa puluhan penyu itu memang dilepas. Tapi, sebagian ada yang dikonsumsi. Polisi juga tahu pemilik penyu itu nelayan. Hasil tangkapan pelaut itu kemudian ditampung hingga banyak.

Polisi juga mengakui bahwa nelayan tergiur untuk menjual karena harganya yang menggiurkan. Namun, setelah diberi pembinaan, nelayan mengerti bahwa penyu itu termasuk satwa yang dilindungi. Akhirnya dilepas ke alam bebas.

Sampai di sini kita patut mengacungi jempol kinerja polisi yang telah melakukan upaya pendekatan kepada warga yang tidak paham. Namun, siapa yang telah tega membunuh beberapa penyu hijau itu? Dugaan kematian beberapa penyu itu akibat ulah manusia sangat kuat.

Dari bukti bangkai penyu dan keterangan yang menyebut kura-kura laut itu milik nelayan bisa jadi petunjuk BBKSDA dan PSDKP untuk menelisik pelaku/pemilik dan motif penampungan itu. Siapa nelayan yang menampung hingga mencapai puluhan dan untuk keperluan apa? Jika tidak tahu tentang penyu, sepertinya tidak mungkin menampungnya. Apalagi sampai sebanyak itu.

Untuk menelusuri nelayan yang disebutkan itu, bisa bekerja sama dengan ketua RT selaku kepanjangan tangan pemerintah di tingkat bawah. Jika benar itu milik nelayan, bisa dibina agar tidak mengulangi. Tapi jika nelayan se-Pulau Karamian tidak ada yang tahu dan mengakui kepemilikan penyu itu, ini menarik untuk dikembangkan. Bahkan, warga Karamian sendiri bisa mengajukan pertanyaan agar tidak kecipratan getah karena lokasi penampungan berada di pulau mereka.

Alasan jarak dan alat transportasi menjadi salah satu alasan tim BBKSDA tidak segera sampai di lokasi. Alasan serupa sering dilontarkan banyak pihak jika menangani masalah di kepulauan. Namun, bukan tidak mungkin untuk lebih intens melakukan pengawasan potensi kepulauan. Salah satunya dengan bekerja sama dengan pemerintah tingkat bawah dan pihak lain yang punya keinginan yang sama.

Alternatif kedua dengan membentuk kantor perwakilan agar lebih cepat dan gesit. Tidak harus menunggu tim dari Surabaya yang untuk sampai ke ratusan pulau di Kabupaten Sumenep butuh waktu lama. Sebab, pulau-pulau itu menyimpan banyak kekayaan. Selain potensi kelautan dan perikanan, ada burung kakaktua dan lainnya.

Saatnya semua pihak satu frekuensi untuk berpikir dan bertindak seirama. Tidak seperti saat ada penemuan penyu yang lucu karena antara A dan B tidak sama. Saya tetap menunggu oleh-oleh tim BBKSDA dan PSDKP dari Pulau Karamian dengan rasa penasaran.

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia