Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Kedai
icon featured
Kedai

Amal Masjid

Oleh Lukman Hakim AG.

21 November 2021, 22: 14: 15 WIB | editor : Abdul Basri

Amal Masjid

Share this      

Penggalangan dana untuk pembangunan atau perbaikan masjid di jalan raya menjamur. Padahal, MUI Sampang dan Sumenep pernah mengeluarkan fatwa haram terhadap aktivitas itu.

BANYAK cara dilakukan untuk mengumpulkan dana sosial dan pembangunan masjid. Mulai menyebar proposal atau menjaring di jalan.

Salah seorang panitia pembangunan masjid mengungkap pendapatan dari galang dana di jalan. Dalam sehari bisa mengumpulkan uang hingga Rp 3 juta. Kadang lebih. Kadang juga tidak sampai segitu.

Baca juga: Ubah Nama

Pendapatan jutaan rupiah itu diperoleh saat awal-awal turun jalan. Saat ini pendapatan rata-rata hanya Rp 500 ribu.

Lokasi amal masjid ini di Sumenep. Tidak terlalu ramai. Tentu akan berbeda jika lokasinya di tempat yang ramai pengguna jalan. Di sepanjang jalan dari Burneh ke Blega misalkan. Di sepanjang jalan ini banyak titik amal masjid. Bahkan, antar titik ada yang berdekatan.

Aktivitas ini hampir merata di semua wilayah. Sampang dan Pamekasan juga punya. Bahkan di Pulau Jawa juga sama. Mal-amal bertebaran.

Amal masjid setidaknya bisa dilihat dari dua sisi. Pelaku dan pengguna jalan. Dari sisi pelaku atau panitia ini merupakan bentuk kemandirian masyarakat. Membangun atau memperbaiki tempat ibadah tanpa bergantung kepada pemerintah.

Kita tahu, untuk mendapat kucuran dana dari pemerintah tidak mudah. Harus menyiapkan semua berkas dan melalui tahapan.

Namun, sebenarnya ada cara lain selain turun jalan. Yakni, dengan cara memberdayakan jamaah masjid. Jamaah diajak untuk biasa mengisi kotak amal jariah masjid. Jangan-jangan kotak ini sering kosong sehingga masjid tak punya kas. Selain itu, jamaah diajak mengubah pola pikir. Bahwa sedekah itu tidak harus dengan uang nilai kecil.

Turun jalan menggalang dana merupakan salah satu cara agar masjid bagus dan mentereng. Tapi, harus dilakukan dengan cara tidak mengganggu pihak lain. Sebab, di Madura ini, ada aktivitas penggalangan dana untuk masjid dengan menutup satu jalur jalan. Padahal, lokasi amal masjid itu di jalan pelosok. Ini tentu mengganggu.

Ada juga yang menaruh drum di tengah. Yang tak kalah penting adalah, panitia agar tidak berjalan di tengah sehingga mengganggu pengendara. Bendera yang mereka kibar-kibarkan pastikan tidak mengenai pengguna jalan.

Sementara dari sisi pengguna jalan, amal masjid ini bisa jadi jalan untuk bersedekah tanpa perlu datang ke masjid. Berapa pun uang yang disedekahkan, tinggal lempar kepada panitia. Dengan kata lain, panitia amal masjid sekaligus menjadi fasilitator pengguna jalan untuk bersedekah.

Pengguna jalan tipe ini akan menyiapkan sejumlah uang sebelum bepergian. Uang itu kemudian diberikan kepada panitia pembangunan atau perbaikan masjid di jalan.

Tapi, ada juga pengguna jalan tipe lain. Yakni, menganggap amal masjid di jalan itu mengganggu. Ada juga yang menganggap bersedekah untuk masjid dengan cara dilempar itu sebagai bentuk melecehkan masjid. Orang seperti ini mungkin tidak akan menyiapkan uang dan memberi.

Selain itu, mungkin ada pendapat lain melihat fenomena amal masjid yang saat ini menjamur. Bahkan, ada aktivitas amal masjid di satu lokasi sudah lebih sepuluh tahun. Entah dengan masjid dan panitia sama atau berbeda.

Yang saya tidak tahu, apa pendapat para pejabat ketika melintasi jalan yang ada amal masjid. Bupati atau gubernur yang saat melakukan perjalanan dikawal. Pastilah mereka juga tahu bahwa banyak amal masjid.

Lalu, kelak jika Madura punya tol, apa masih ada amal masjid di jalan? 

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia