Senin, 29 Nov 2021
Radar Madura
Home / Kedai
icon featured
Kedai
Sapi, Hewan Berharga bagi Orang Madura (4)

Pilih Lahan Dekat Kuburan daripada Pasar Terpadu Miliaran

Oleh LUKMAN HAKIM AG.*

19 September 2021, 22: 08: 52 WIB | editor : Abdul Basri

Pilih Lahan Dekat Kuburan daripada Pasar Terpadu Miliaran

Share this      

Mohon kepada para pedagang sapi untuk tidak menggunakan area ini sebagai lahan perdagangan sapi karena lahan ini milik pribadi dan juga mengganggu kenyamanan masyarakat. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon kerja samanya.

DEMIKIAN pengumuman yang tertulis pada banner kuning di Desa/Kecamatan Batuan, Sumenep. Lahan ini mendadak menjadi pasar hewan di dekat kuburan menjelang Idul Adha 1442 H. Lahan ini mendadak menjadi tempat transaksi jual beli sapi karena pasar hewan ditutup pemerintah untuk menekan sebaran Covid-19.

Sejak pandemi Covid-19, baru tahun ini pemerintah memutuskan untuk menutup pasar hewan. Namun, kebijakan itu hanya kebijakan. Pasar hewan lebih banyak yang beroperasi. Hanya sebagian yang benar-benar tidak ada transaksi jual beli sapi menjelang Hari Raya Kurban itu.

Baca juga: Fondasi Budaya dan Doa yang Menyimpang

Suatu sore, lahan di Batuan itu mendadak ramai. Saya kira sedang ada adu balap kambing. Ternyata bukan. Tempat itu dipenuhi banyak orang beserta berekor-ekor sapi. Bahkan, warga yang datang meluber hingga ke Jalan Raya Lenteng.

Pemerintah memang tidak memperkenankan transaksi jual beli sapi di pasar hewan agar tidak terjadi kerumunan. Tapi, pedagang sapi tidak kalah akal. Mereka memang tidak melakukan rutinitas jual beli di pasar yang biasa mereka kunjungi. Namun, sore itu mereka justru ”membuat pasar mandiri” di luar pasar yang dikelola pemerintah.

Pak-bapak berseragam dinas lengkap dengan kendaraan operasional memang berada di lokasi ”pasar baru” itu. Namun, tidak sebanding dengan jumlah pengunjung, baik pedagang maupun warga yang hendak membeli sapi. Mungkin kedatangan mereka untuk ”memantau dan memberikan penyuluhan agar pengunjung tidak berkerumun”. Tugas mereka dilaksanakan, tapi belum tentu diindahkan.

Mereka mematuhi kebijakan pemerintah dengan tidak menggelar dagangan di pasar pemerintah. Transaksi mereka terjadi di luar itu. Namun, upaya pemerintah untuk mencegah kerumunan dengan menutup pasar hewan tidak sepenuhnya berhasil. Di lapangan mereka tetap berkumpul dan bergumul. Anda bisa bayangkan sendiri keramaian peristiwa pasar sapi.

Peristiwa ini memang tidak berlangsung lama. Namun, ini menunjukkan bahwa aktivitas jual beli pasar merupakan sebuah peristiwa yang sudah mengakar dan tidak mudah diatur pemerintah. Apalagi jika kebijakan itu hanya terkesan seremonial dan seolah-olah.

Di sisi lain, pemerintah sudah membangun pasar ternak terpadu di Desa Pakandangan Sangra, Kecamatan Bluto. Namun, pasar yang telah menghabiskan uang miliaran rupiah itu tidak banyak bermanfaat. Biarpun habis uang bermiliar-miliar, tapi jika tidak membuat pedagang nyaman pasti mubazir.

Keinginan dan tujuan pemerintah untuk menyediakan pasar ternak terpadu pasti baik. Tapi, dalam pelaksanaannya belum tentu dianggap baik bagi penerima manfaat. Bahkan, tawaran subsidi juga tidak membuat pedagang terpikat untuk menjual sapinya di tempat itu.

Masalah serupa terjadi pada Pasar Margalela. Pemerintah sudah membangun dengan uang yang tidak sedikit. Namun, fasilitas itu juga tidak banyak dilirik oleh pedagang. Berbagai cara sudah dilakukan oleh pemerintah untuk meramaikan pasar di Jalan Syamsul Arifin Sampang itu. Namun, belum berhasil menarik minat pedagang untuk berjualan.

Dari situ kita jadi mengerti, ternyata ada pasar yang menurut pemerintah baik tapi sepi. Di sisi lain, ada juga pasar benar-benar organik tanpa pemanis buatan yang selalu ramai pengunjung.

Sebesar apa pun uang yang dihabiskan untuk membangun, belum tentu bermanfaat. Apalagi jika terkesan membangun asal anggaran terserap. Kalau sahabat sapi merasa nyaman, lahan kuburan pun bisa jadi pasar. Sebaliknya, pasar yang dibangun dengan uang bermiliar-miliar dibiarkan mubazir.

Kita bisa melihat sendiri pasar yang digandrungi pedagang sapi. Bahkan, hingga menyebabkan kemacetan. (*/bersambung)

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia