Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Kedai
icon featured
Kedai

Gelar Pahlawan Nasional untuk M. Tabrani

oleh LUKMAN HAKIM AG.*

07 November 2021, 18: 45: 36 WIB | editor : Abdul Basri

Gelar Pahlawan Nasional untuk M. Tabrani

Share this      

UPAYA pengusulan Mohammad Tabrani sebagai pahlawan nasional baru dilakukan pada masa Mendikbud Muhadjir Effendy pada 2019. Padahal, bangsa Indonesia telah memiliki komitmen Sumpah Pemuda sejak 1928.

Sejarah Sumpah Pemuda tidak lepas dari peran M. Tabrani. Karena putra Madura kelahiran Pamekasan, 10 Oktober 1904 itu, penetapan Sumpah Pemuda tertunda dari 1926 ke 1928. Sebab, dia tidak setuju poin ketiga yang menyebut bahasa persatuan kita bahasa Melayu. Baginya, jika tumpah darah dan bangsa kita adalah Indonesia, mestinya bahasa persatuan juga bahasa Indonesia. Bukan bahasa Melayu.

Ide M. Tabrani itu sejalan dengan adagium Madura basa nantowagi bangsa (bahasa menentukan sebuah bangsa). Komitmen untuk berbangsa, bertumpah darah, dan bahasa satu ini menjadi spirit persatuan dan kesatuan Indonesia. Keragaman budaya, agama, etnis yang luar biasa ini diikat dengan komitmen itu untuk bersama-sama membangun negeri ini.

Baca juga: Tanda Tangan

Pemuda Visoner

Oktober merupakan bulan spesial bagi bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini Sumpah Pemuda diperingati setiap tahun. Selain itu, M. Tabrani, salah satu tokoh penting sejarah pemuda itu dilahirkan. Dia lahir di Pamekasan, 10 Oktober 1904.

Tabrani mengawali pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Pamekasan. Lulus saat usia 13 tahun pada 1917. Kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surabaya hingga 1921. Pendidikan selanjutnya ditempuh di Algemeene Middelbare School (AMS) Afd. AI Bandung selama dua tahun. Setelah itu, di Opleiding School Voor Indandsche Ambtenaren (OSVIA) Bandung, lulus 1925.

Meski mengenyam sekolah pendidikan pribumi untuk pegawai negeri sipil, Tabrani justru menekuni dua pers. Dari OSVIA, dia meneruskan belajar ilmu jurnalistik dan persuratkabaran ke Jerman. Berangkat dari Indonesia pada Agustus 1926 dan kembali dari Eropa akhir 1930. Tabrani juga pernah belajar stenografi bahasa Jerman di Den Haag, Belanda pada 1929.

Sebelum ke Jerman, Tabrani sudah terlibat dalam Kongres Pemuda Pertama pada 30 April 1926. Bahkan, si Anak Nakal Banyak Akal itu yang memimpin kongres. Dialah yang punya ide tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Namun, gagasan itu berbeda dengan alur pikiran Mohammad Yamin hingga terjadi perdebatan. Bahkan Yamin menyebut Tabrani ”tukang ngelamun”. Hingga akhirnya kongres ditunda 1928 dan menghasilkan Sumpah Pemuda yang kita kenal hingga saat ini. Ide bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan itu sudah muncul saat Tabrani berumur 22 tahun.

Tokoh Pers

Perjalanan hidup M. Tabrani Soerowitjitro banyak dilalui di dua pers. Selain memang menempuh pendidikan ilmu jurnalistik dan persuratkabaran, dia banyak memimpin media massa. Dia pernah menjadi wartawan Hindia Baroe di bawah pemimpin redaksi Agus Salim. Media itu kemudian dipimpin Tabrani.

Selain itu, Tabrani pernah memimpin Revee Politik dan memimpin Suluh Indonesia. Tabrani juga mendirikan dan memipin Sekolah Kita di Pamekasan. Dia juga pernah menangani Pemandangan dan Indonesia Merdeka. Media yang pernah dipimpin juga Tjahaja.

Selain memimpin media, Tabrani juga berperan dalam organisasi pers. Dia turut serta mendirikan dan mengajar di Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum di Jakarta. Pernah menjadi ketua Persatoean Djoernalis Asia dan Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) 1939–1940 serta menghadiri pembentukan Persatusn Wartawan Indonesia (PWI) di Solo pada 1946.

Saat berada di Belanda, Tabrani menulis buku tentang pers dan wartawan Indonesia berjudul Ons Wapen. Darah jurnalistik tidak hanya mengalir pada diri Tabrani. Selain dia, putra Soerowitjitro yang lain juga ada yang menekuni dunia jurnalistik. Mohammad Gani, misalnya. Dia menjadi redaktur harian Asia Raya di Djakarta.

Gelar Pahlawan

M. Tabrani telah ditetapkan sebagai Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan pada 19 Februari 1975. Surat keputusan itu diteken Menteri Sosial RI H. M. S. Mintaredja. Pada 3 Juli 1985 terbit Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor 22/VII/1985/PK/Jd yang ditandatangani oleh Mensos Nani Soedarsono.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI memberikan piagam penghargaan nomor 85161/MPK.G/KP/2019 kepada Muhammad Tabrani Soerowitjitro (di piagam tertulis ”Soerjowitjitro”) sebagai penggagas bahasa persatuan Indonesia. Piagam ini ditandatangani Mendikbud Muhadjir Effendy pada 6 Agustus 2019.

Setelah gaung upaya penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada M. Tabrani bergulir, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan juga mengeluarkan surat edaran (SE). Surat bernomor 005/2602/432.301/2020 itu ditujukan kepada lembaga pendidikan SD dan SMP agar membaca riwayat singkat M. Tabrani dan mengheningkan cipta sebelum memulai pelajaran pada 31 Oktober 2020 untuk mengenang dan meneladani sosok berjasa asal Pamekasan itu.

Balai Bahasa Jawa Timur menyelenggarakan sosialisasi pengajuan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional di Pamekasan pada 30 Maret 2021. Pada kesempatan itu terkumpul 60 tanda tangan orang yang sepakat, merekomendasikan, dan mengusulkan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional. Puluhan orang yang membubuhkan teken itu meliputi bupati, ketua DPRD, kepala balai bahasa, wartawan, guru, seniman, dan budayawan serta beberapa unsur lain.

Balai Bahasa Jawa Timur kembali menggelar acara terkait M. Tabrani pada semarak Bulan Bahasa 2021 di Sidoarjo, Jumat, 22 Oktober 2021. Kegiatan itu bertajuk Menjalin Indonesia dari Jawa Timur: Meretas Jalan Kepahlawanan M. Tabrani, penggagas bahasa bahasa persatuan Indonesia. Di forum itu terungkap bahwa Dinas Sosial Jawa Timur belum menerima usulan penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk M. Tabrani dari Pemkab Pamekasan.

Sejak Sumpah Pemuda 1928 kita sudah mengakui bahasa Indonesia. Namun, M. Tabrani belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Kita berutang jasa kepada tokoh yang wafat 12 Januari 1984 pada usia 80 tahun itu. Pemkab Pamekasan sebagai daerah tempat kelahiran M. Tabrani perlu lebih nyaring menyuarakan dan bergerak memproses usulan gelar pahlawan nasional kepada M. Tabrani.

Peran M. Tabrani untuk negeri ini memang tidak ada yang meragukan. Secara de facto, Tabrani sudah diakui sebagai penggagas bahasa persatuan. Namun, secara de jure dia belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Dibutuhkan keseriusan semua pihak agar usulan itu tidak sekadar wacana. Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikbud telah menyusun kajian pendahuluan tokoh penggagas bahasa persatuan Indonesia. Kajian itu digarap oleh Maryanto, Saefu Zaman, dan Anis Rahmawati pada 2019.

Kepada M. Tabrani, kita berutang budi.

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura, aktif di Lembaga Kajian Seni Budaya Pangesto Net_Think Community

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia