Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Catatan
icon featured
Catatan

Madura Darurat Radikalisme

oleh: TAUFIK HASYIM*

14 November 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Madura Darurat Radikalisme

DIJAGA KETAT: Tim Densus 88 AT Polri melakukan penggeledahan rumah MA di Jalan dr. Cipto Gang 10 Nomor 03, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, Selasa (9/11). (ISTIMEWA)

Share this      

PASCA ditangkapnya terduga teroris di Sumenep dengan barang bukti, bikin tanda tanya besar di hati masyarakat Madura. Sebab, tidak mungkin aparat menangkap terduga teroris tanpa bukti. Bahkan, penulis yakin sang terduga sudah dipantau, disadap, dan diawasi beberapa bulan sebelumnya.

Benar kata seorang tokoh nasional beberapa tahun silam, bahwa ”sudah terbentuk jaringan poros Jakarta–Madura dalam membangun ideologi trans nasional dan radikalisme dengan dana besar di Madura. Bahkan, katanya dalam sebuah dialog, beberapa teroris pelaku bom bunuh diri, baik yang sudah ditangkap maupun yang belum ditangkap atau bahkan yang sudah dihukum mati, pernah bolak-balik datang ke Sumenep.

Madura yang dkenal dengan sifat adem, ayem, santun, dan halus, kini seakan berubah ”terlihat” ganas dan seram.

Baca juga: Wartawan, Stigma, dan Potensi Menyimpang

Madura Darurat Radikalisme

Taufik Hasyim  (ISTIMEWA)

Sebutlah beberapa kejadian sejak 2017 hingga sekarang. Mulai dari penghadangan terhadap KH Makruf Amin, pengajian yang isinya ”Banser” halal darahnya, caci maki di atas panggung, syiar agama yang isinya orasi kebencian, pernyataan NU mutanajjis, pernyataan KH Said Aqil sesat hingga kasus persekusi yang sedang hangat dibicarakan di Sumenep. Juga isu PKI yang muncul tiap November dan beberapa kasus lain. Lantas ada apa dengan Madura?

Benarkah para pelaku beberapa kejadian di atas berbuat atas nama agama dan sudah pasti benar? Dan benarkah pihak yang dianggap sesat, munafik, pro-kafir, pro-Tiongkok itu pasti salah? Benarkah NU mutanajjis? Apa yang salah dengan KH Makruf Amin hingga dihadang? Benarkah pemerintah anti-Islam? Sederet pertanyaan itu muncul di benak kita bersama. Bukankah tiap masalah bisa dibicarakan dengan baik? Lantas kenapa setiap masalah harus diwujudkan dengan unjuk rasa dan tablig akbar yang isinya hasutan dan ujaran kebencian?

Kita berharap supaya Indonesia yang belum satu abad merdeka ini tetap aman dan damai. Kita tidak ingin Indonesia seperti Suriah. Kita tidak ingin insiden meledaknya bom terjadi di Madura seperti pada Syekh Ramadhan al Buthi yang dibom saat pengajian di Masjid Syria hanya karena dianggap kurang islami oleh sesama muslim. Kita tidak ingin ada bom terjadi seperti di Mesir saat salat Jumat yang membunuh 200 orang, yang pelakunya sesama muslim.

Kita rindu situasi yang damai, sejuk seperti dulu. Bukankah kita tidak tahu siapa di antara kita yang paling benar di mata Allah? Bukankah kita sesama hamba yang derajatnya sama di mata Allah?

Siapakah kita jika dibanding makhluk Allah yang besar seperti planet, bumi, gunung, langit, matahari, bulan, dan bintang.

Kita sebagai manusia adalah makhluk yang kecil dan tak berdaya. Lantas, apa yang mendasari kita untuk sombong, angkuh, dan merasa benar sendiri hingga menganggap kelompok lain sesat, salah, munafik, dan pantas dipersekusi?

Tokoh muslim dunia berkata, bahwa ”Indonesia adalah surga dunia”. Azan berkumandang di seluruh desa tiap waktu salat, pesantren, dan madrasah di mana-mana. Pengajian hampir tiap malam di seluruh pelosok desa. Syiar agama menggema dan dibantu oleh pemerintah (termasuk MTQ). Maulid Nabi sebulan penuh juga tidak dilarang oleh pemerintah.

Di bidang kesehatan, sudah berdiri puskesmas di tiap kecamatan. Bahkan, di desa-desa sudah ada polindes.

Pasokan listrik aman, kebutuhan BBM selalu ada, kebutuhan LPG terpenuhi, bahan pokok juga tersedia, lantas kurang apa? Bukan berarti kami membela pemerintah. Pemerintah juga ada kekurangannya, tapi dengan segala kekurangannya. Mari kita syukuri nikmat bagi bangsa ini.

Hampir semua pejabat negara ada yang santri. Bahkan ada yang kiai, gubernur, menteri, bupati, kepala Kemenag, hingga di birokrasi mulai eselon 1 hingga paling bawah, bahkan tiap momen keagamaan, santri dan pesantren selalu terlibat (dan di MTQ saat ini, banyak dari dewan jurinya adalah pengasuh pesantren di Jatim). Ini adalah bukti bahwa keterlibatan umat Islam dan pesantren betul-betul ada pada kebijakan pemerintah. Lantas kurang Islam bagaimana?

Justru di saat acara syiar agama seperti MTQ ini, mereka tidak tampak muncul untuk memberi apresiasi dan dukungan, apakah MTQ dianggap bukan acara agama? Kita tentu bertanya, sebenarnya mereka membela siapa? Apakah membela Islam atau membela siapa?

Kita berharap kepada aparat agar lebih tegas dalam bersikap. Sebab, jika kelompok ini terus dibiarkan tumbuh subur, tentu kita bisa menganalisis apa yang akan terjadi pada Madura dan Indonesia beberapa puluh tahun ke depan.

Wallahu a’lam bis-sawab. (*)

*)Ketua PCNU Pamekasan dan Pengasuh Ponpes Sumber Anom Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia