alexametrics
21.9 C
Madura
Wednesday, May 25, 2022

Rujak Cingur dan Berhala Demokrasi

SIAPA yang tidak mengenal rujak cingur? Masakan asli Jawa Timur dan banyak dijajakan di Pulau Madura. Rujak cingur berisikan potongan lontong, tahu, tempe, sayur, dan buah-buahan, serta cingur atau moncong sapi yang disiram saus dari kacang dan petis. Tidak lupa melinjo atau kerupuk menjadi dressing yang menggugah selera. Bagi yang tinggal atau pernah tinggal di Jawa Timur, pasti tidak pernah menolak disuguhi kudapan ini.

Rujak cingur memiliki filosofi bahwa sapi, kedelai, sayur, dan melinjo tidak pernah berontak memunculkan egonya jika sudah disiram saus dari kacang dan petis. Rasa yang beragam, dipadukan dengan satu bumbu pengikat yang sangat kuat menjadikan cita rasanya istimewa. Maka selayaknya Indonesia pun demikian, Indonesia terdiri atas beragam agama, ideologi, mazhab, suku Jawa, Sunda, Batak, Madura, Bugis, Bali, Dayak, Papua, Minang, dan ratusan suku lain yang diikat oleh saus Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, menjadi sajian bernama Indonesia. Dalam kajian sosial antropologi ini disebut dengan Miteinander Leben, hidup bersama-sama.

Namun sejak beberapa waktu ke belakang, ruang publik kita menjadi mengerikan. Ruang virtual dipenuhi cacian dan hujatan, semua merasa paling suci, ada juga yang merasa paling Pancasila. Ironis sekali, sebagai bangsa dengan sejarah panjang soal multikulturalisme, sejak negara di Eropa masih tercerai-berai pada zaman kegelapan. Dalam hitungan sekejap, Indonesia seperti hendak berperang sipil di ruang virtual akibat polarisasi calon pemimpin.

Baca Juga :  Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital

Bukan hanya polarisasi, publik virtual atau yang biasa disebut netizen. Seperti menyembah calon pemimpin yang mereka dukung dan lupa bahwa mereka sama-sama berdosa. Karena itulah objektivitas yang harusnya ada ketika menikmati rujak cingur medsos.

Tahun 1981 di Prancis, seorang filsuf bernama Jean Baudrillard memublikasikan konsep hiperealitas. Asumsinya, kenyataan sejati tertutupi oleh kenyataan buatan seperti sebuah gerhana, dia menyebutnya simulation of simulacra. Konsep tersebut sedang teraplikasi pada kontestasi pemilu di Indonesia dan setelahnya.

Saat ini yang terjadi pada era masyarakat informasi, publik secara personal memiliki ”media-nya” sendiri. Dahulu ketika orang ingin beropini, perlu mengirim ke kantor berita, menerima suntingan redaksi, dan proses revisi yang cukup panjang. Kini medsos telah mengubah manusia memproduksi, menyunting, dan menyebarluaskan informasi secara luas tanpa batas ruang dan waktu.

Berita seperti kasus Afni, Ratna Sarumpaet, dan terakhir OTT Romahurmuziy bagaikan polusi yang menyebar di pernapasan kita semua ketika membuka medsos dan selalu ditunggangi kampanye gelap. Seolah kita lupa bahwa kebebasan dalam ruang publik terbatasi oleh kebebasan orang lain. Akibat kelupaan ini, kita dengan mudah menghujat, mencaci, dan yang paling ironis adalah menyembah apa dan siapa yang kita rasa benar.

Dalam teori Baudrillard di atas, medsos saat ini digunakan sebagai media yang menciptakan berhala demokrasi. Publik di sana saling menutupi keburukan berhala 01 maupun 02, serta saling menghina kerja baik mereka. Padahal jika kita semua menonton film dokumenter Sexy Killers, kita akan tahu bahwa mereka sejatinya sama saja dalam sudut pandang itu, meski tanpa dipungkiri jasa mereka untuk negara juga besar sejalan dengan dosanya.

Baca Juga :  Gara-Gara Narkoba, Kustilah Susul Teman ke Tahanan

Sayangnya, beberapa pihak bahkan menutup mata dari film itu, seketika dapat kita menyimpulkan; fanatisme berhala. Realitas Sexy Killers tertutupi oleh jasa BPJS, dan tol laut atau ijtimak ulama, dan OK OCE. Sudah tidak ada figur pemimpin, sekali lagi semakin kuat dapat disimpulkan, simulacrum berhala telah muncul.

Ada baiknya kita takar lagi idealnya berdemokrasi. Pilihan saudara sekalian bukanlah Tuhan, pasti ada salah, maka saling kritik dan terimalah dengan rasio akal sehat. Jurgen Habermas mungkin menangis ketika konsepnya tentang public sphere ternyata belum memunculkan rasionalitas komunikasi dalam ruang virtual. Dalam kasus lain, mungkin medsos yang gagal menjadi ruang publik sehingga memunculkan berhala-berhala baru.

Harusnya itu yang perlu kita takar karena publik kini tidak bisa lagi menikmati medsos seperti menikmati rujak cingur Madura. Seharusnya cebong, kampret, nasionalis, agamais, kapitalis, tradisionalis, dan modernis bersinergi dalam nikmatnya saus Pancasila. Pilpres sudah usai, abaikan provokasi, kita terima hasilnya dan menatap ke depan. Saatnya kita tuang lagi Pancasila sebagai bumbu pengikat kita. 

 

*)Alumnus Ilmu Komunikasi UTM

SIAPA yang tidak mengenal rujak cingur? Masakan asli Jawa Timur dan banyak dijajakan di Pulau Madura. Rujak cingur berisikan potongan lontong, tahu, tempe, sayur, dan buah-buahan, serta cingur atau moncong sapi yang disiram saus dari kacang dan petis. Tidak lupa melinjo atau kerupuk menjadi dressing yang menggugah selera. Bagi yang tinggal atau pernah tinggal di Jawa Timur, pasti tidak pernah menolak disuguhi kudapan ini.

Rujak cingur memiliki filosofi bahwa sapi, kedelai, sayur, dan melinjo tidak pernah berontak memunculkan egonya jika sudah disiram saus dari kacang dan petis. Rasa yang beragam, dipadukan dengan satu bumbu pengikat yang sangat kuat menjadikan cita rasanya istimewa. Maka selayaknya Indonesia pun demikian, Indonesia terdiri atas beragam agama, ideologi, mazhab, suku Jawa, Sunda, Batak, Madura, Bugis, Bali, Dayak, Papua, Minang, dan ratusan suku lain yang diikat oleh saus Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, menjadi sajian bernama Indonesia. Dalam kajian sosial antropologi ini disebut dengan Miteinander Leben, hidup bersama-sama.

Namun sejak beberapa waktu ke belakang, ruang publik kita menjadi mengerikan. Ruang virtual dipenuhi cacian dan hujatan, semua merasa paling suci, ada juga yang merasa paling Pancasila. Ironis sekali, sebagai bangsa dengan sejarah panjang soal multikulturalisme, sejak negara di Eropa masih tercerai-berai pada zaman kegelapan. Dalam hitungan sekejap, Indonesia seperti hendak berperang sipil di ruang virtual akibat polarisasi calon pemimpin.

Baca Juga :  Janji ke Baekdu Harapan ke Halla

Bukan hanya polarisasi, publik virtual atau yang biasa disebut netizen. Seperti menyembah calon pemimpin yang mereka dukung dan lupa bahwa mereka sama-sama berdosa. Karena itulah objektivitas yang harusnya ada ketika menikmati rujak cingur medsos.

Tahun 1981 di Prancis, seorang filsuf bernama Jean Baudrillard memublikasikan konsep hiperealitas. Asumsinya, kenyataan sejati tertutupi oleh kenyataan buatan seperti sebuah gerhana, dia menyebutnya simulation of simulacra. Konsep tersebut sedang teraplikasi pada kontestasi pemilu di Indonesia dan setelahnya.

Saat ini yang terjadi pada era masyarakat informasi, publik secara personal memiliki ”media-nya” sendiri. Dahulu ketika orang ingin beropini, perlu mengirim ke kantor berita, menerima suntingan redaksi, dan proses revisi yang cukup panjang. Kini medsos telah mengubah manusia memproduksi, menyunting, dan menyebarluaskan informasi secara luas tanpa batas ruang dan waktu.

Berita seperti kasus Afni, Ratna Sarumpaet, dan terakhir OTT Romahurmuziy bagaikan polusi yang menyebar di pernapasan kita semua ketika membuka medsos dan selalu ditunggangi kampanye gelap. Seolah kita lupa bahwa kebebasan dalam ruang publik terbatasi oleh kebebasan orang lain. Akibat kelupaan ini, kita dengan mudah menghujat, mencaci, dan yang paling ironis adalah menyembah apa dan siapa yang kita rasa benar.

Dalam teori Baudrillard di atas, medsos saat ini digunakan sebagai media yang menciptakan berhala demokrasi. Publik di sana saling menutupi keburukan berhala 01 maupun 02, serta saling menghina kerja baik mereka. Padahal jika kita semua menonton film dokumenter Sexy Killers, kita akan tahu bahwa mereka sejatinya sama saja dalam sudut pandang itu, meski tanpa dipungkiri jasa mereka untuk negara juga besar sejalan dengan dosanya.

Baca Juga :  Kashoggi Sampai Di Twitter Qahtani

Sayangnya, beberapa pihak bahkan menutup mata dari film itu, seketika dapat kita menyimpulkan; fanatisme berhala. Realitas Sexy Killers tertutupi oleh jasa BPJS, dan tol laut atau ijtimak ulama, dan OK OCE. Sudah tidak ada figur pemimpin, sekali lagi semakin kuat dapat disimpulkan, simulacrum berhala telah muncul.

Ada baiknya kita takar lagi idealnya berdemokrasi. Pilihan saudara sekalian bukanlah Tuhan, pasti ada salah, maka saling kritik dan terimalah dengan rasio akal sehat. Jurgen Habermas mungkin menangis ketika konsepnya tentang public sphere ternyata belum memunculkan rasionalitas komunikasi dalam ruang virtual. Dalam kasus lain, mungkin medsos yang gagal menjadi ruang publik sehingga memunculkan berhala-berhala baru.

Harusnya itu yang perlu kita takar karena publik kini tidak bisa lagi menikmati medsos seperti menikmati rujak cingur Madura. Seharusnya cebong, kampret, nasionalis, agamais, kapitalis, tradisionalis, dan modernis bersinergi dalam nikmatnya saus Pancasila. Pilpres sudah usai, abaikan provokasi, kita terima hasilnya dan menatap ke depan. Saatnya kita tuang lagi Pancasila sebagai bumbu pengikat kita. 

 

*)Alumnus Ilmu Komunikasi UTM

- Advertisement -

Artikel Terkait

HA dan Haji Idi

Dimensi Hukum Tindak Asusila

Yang Tidak Kiai Katakan

Jangan Nodai Kesucian Ramadan

Most Read

Artikel Terbaru

/