Saya bersyukur bahasa Madura makin digemari. Penggunaan bahasa tulis di media luar ruang semakin banyak. Lebih-lebih pada masa pemilihan umum (pemilu). Namun, pada saat bersamaan harus ada yang mengoreksi agar tidak justru mengantarkan pada ruang pembodohan massal.
BANYAK orang tersenyum pada musim tembakau tahun ini. Harga yang lumayan tidak hanya menguntungkan petani. Pedagang tembakau basah dan kering pasti dapat hasil.
Yang tak punya tembakau dan uang juga ketiban rezeki, asal mau bekerja. Sebab, tembakau membuka lapangan pekerjaan.
Sejak persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga pascapanen menyerap tenaga kerja.
Mereka yang tidak terkait langsung dengan tembakau juga akan bersyukur bila daun emas itu benar-benar mahal.
Sebab, petani tekka le-melle jika hasil pertanian mereka untung. Toko emas pasti ramai, deler motor juga pasti banyak pembeli (tapi untuk yang ini belakangan diobral melalui layanan kredit sehingga untuk bisa punya motor tidak harus menunggu panen tembakau).
Atau, mereka akan menepati janji bayar utang saat onggana bako.
Namun, semahal-mahalnya tembakau tidak membuat petani merdeka. Mereka selalu berada di posisi kalah.
Petani sebagai pemilik barang tidak bisa menentukan harga sendiri. Yang kuasa tetap pemilik modal. Kasus yang sama terjadi pada petani garam.
Harga tembakau kali ini lumayan bisa mengobati keterpurukan petani beberapa tahun.
Selain karena cuaca mendukung, harga tinggi kali ini karena banyak tanah dibiarkan kosong atau ditanami tanaman lain. Tidak sedikit petani yang jera setelah bertahun-tahun rugi.
Jauh sebelum musim panen, saya telah melihat dan membaca spanduk ajakan berdoa. Ajakan itu disertai foto dan nama Ketua Umum Paguyuban Pelopor Petani Pedagang Tembakau Se-Madura (P4TM) H. Khairul Umam (H. Her).
Dari Bangkalan hingga Sumenep ada. Tidak hanya di jalur utama Madura. Di jalan antar kecamatan kita mudah menjumpai.
Bahkan di Jalan Jokotole, Sumenep, terpampang dengan billboard ukuran besar.
Melalui media itu, Haji Her mengajak publik berdoa agar musim tembakau kali ini baik dan menguntungkan. Itu bagus. Namun, akan lebih baik jika tulisannya juga benar.
Ajakan itu selengkapnya tertulis: Bismillah, ngirèng adhu’a arengsareng moghâ-moghâ musèm bhâko taon samangkèn èparèngè bhâghus ben pojur. Jika diperhatikan, tulisan itu lebih dekat menggunakan ejaan 2011.
Namun, ada beberapa hal yang perlu dikoreksi. Mestinya ditulis ... ngèrèngadu’aareng-sarengmoghâ-moghâmosèmbhâkotaonsamangkènèparèngèbhâghustor pojhur (2011). Atau ...ngerengadu’aareng-sarengmoga-moga mosembakotaonsamangkeneparenge bagus tor pojur (1973).
Tulisan bahasa Madura di ruang terbuka yang juga perlu dikoreksi di simpang tiga pertemuan Jalan Asmara dengan Jalan Soekarno-Hatta, Bangkalan.
Plt Bupati Mohni mengimbau untuk menjaga kesehatan dengan booster imunisasi Covid-19. Di billboard itu terdapat tulisan Tan-tretan sadejeh reng Bangkalan.
Yang perlu dikoreksi adalah penulisan sadejeh. Tan-tretan dari kata taretan/tretan (1973) atau tarètan/trètan (2011).
Sadejeh ini mestinya ditulis sadaja (1973) atau sadhâjâ (2011). Penulisan reng itu benar menurut ejaan 1973, tapi salah menurut ejaan 2011.
Mestinya menggunakan taleng (è) menjadi rèng. Sama dengan kata Bangkalan. Benar menurut ejaan 1973. Namun perlu perbaikan untuk ejaan 2011 sehingga menjadi Bhângkalan.
Dengan demikian, jika hendak menulis dengan ejaan 1973 mestinya tan-tretan sadaja reng Bangkalan. Jika menggunakan ejaan 2011 ditulis tan-trètan sadhâjâ rèng Bhângkalan.
Selain itu, ada empat kata sangat populer. Namun, tiga kata di antanyanya sering salah tulis. Empat kata itu salam settong dhere Madhure.
Mestinya ditulis salam settong dhara Madura (1973) atau salam sèttong ḍârâ Madhurâ (2011).
Kesalahan juga terjadi pada tulisan mandher estoah di pinggir jalan. Mestinya ditulis mandar estowa (1973) atau mandhâr èstowa (2011).
Lalu, kekurangtepatan pada tulisan Mandhâpa Aghung Ronggosukowati. Mestinya itu ditulis Mandhapa Agung Ronggosukowati (1973) atau Manḍhâpa Aghung Ronggosukowati.
Andai kesalahan itu terjadi pada bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris dan bahasa Arab, saya yakin akan viral.
Orang yang fotonya terpampang di media luar ruang itu mungkin akan dirundung. Lima tulisan itu seolah tidak bermasalah karena memang tidak dibaca atau dibaca, tapi tidak tahu bahwa itu salah. Selain lima contoh itu, masih banyak yang sejenis.
Saya tetap berprasangka baik. Terima kasih telah turut melestarikan bahasa Madura. Kita terima pesannya dan kita aminkan doanya.
Namun, sebagai bentuk kecintaan kita pada bahasa Madura dan pengguna media luar ruang itu, kita punya kewajiban untuk mengingatkan.
Dengan cara itu saudara-saudara kita, baik penulis dan orang yang fotonya nampang maupun pembaca, sadar bahwa itu salah dan berkenan memperbaiki.
Saya berharap koreksi ini tidak menghentikan penggunaan bahasa Madura di ruang terbuka. Namun, jika hendak menulis lagi harus lebih cermat. Jika tidak paham sebaiknya bertanya.
Jika itu dibiarkan salah berarti Anda turut serta tidak mendidik masyarakat karena tulisan Anda berpotensi ditiru oleh mereka yang tidak tahu.
Khusus Anda yang sedang berebut kursi, saya doakan berhasil. Semoga bisa mendidik masyarakat dengan memberi contoh penulisan bahasa Madura yang baik dan benar. Salam. (*)