20.8 C
Madura
Friday, June 2, 2023

Bahasa Madura dalam Pusaran Pemilu

Guru di sekolah berusaha mengajar bahasa Madura di tengah keterbatasan bahan bacaan. Sementara di ruang terbuka banyak tokoh yang menulis seenak sendiri. Aspek edukasi terabaikan.

AROMA pemilihan 2024 sudah lama tercium. Berbagai cara dan upaya mulai dilakukan. Partai mulai memanaskan mesin. Para tokoh yang berniat maju sebagai calon juga mulai melakukan pendekatan-pendekatan.

Gejala itu, salah satunya, dengan mulai munculnya gambar-gambar tokoh di pinggir jalan. Gambar itu disertai tulisan dengan maksud menarik simpati pembaca. Mereka ingin dekat kepada masyarakat selaku calon pemilih. Termasuk, menggunakan tulisan berbahasa Madura.

Gambar dan tulisan itu, setidaknya, harus memuat tiga hal. Yakni, mengandung informasi tentang tokoh. Baik informasi latar belakang, keberhasilan, dan ada yang terang-terangan hendak mencalonkan diri tahun depan.

Yang kedua, gambar dan tulisan itu mengandung promosi. Promosi bahwa tokoh itu layak dipilih mewakili rakyat di eksekutif maupun legislatif. Dan, yang ketiga, sebagai media edukasi.

Poin ketiga ini yang menarik didiskusikan. Terutama media luar ruang yang menggunakan tulisan bahasa Madura. Tidak sedikit tulisan kurang tepat menurut ejaan tata bahasa Madura (paramasastra Madura).

Sebagai media edukasi, tulisan yang menyertai gambar tokoh itu semestinya memperhatikan kaidah bahasa Madura. Namun, yang menghiasi pohon justru merusak pemandangan dan mengganggu pengetahuan.

Baca Juga :  Ngopi Bareng, Minta Saran Jurnalis, KPU Sampang Ajak Sukseskan Pemilu

Sebagian orang latah pada tokoh yang punya gelar, jabatan, dan pangkat mentereng. Sehingga, setiap yang diucapkan dan ditulis ditelan mentah-mentah karena dianggap benar. Padahal masih perlu dipertimbangkan. Siapa pun tokoh yang menulis atau mengatakan itu.

Apalagi jika orang yang membaca itu memang tidak tahu. Dalam hal ini, tentang kaidah penulisan bahasa Madura. Orang itu akan meniru apa pun yang ditulis atau diucapkan tokoh berpangkat dan bergelar mentereng itu. Bila ini yang terjadi, akan menjadi kesalahan berantai.

Bila ini dibiarkan berlanjut, sama dengan menyumbang pembusukan bahasa Madura. Sungguh naif bila tokoh Madura yang menjadi salah seorang yang mempercepat pembusukan itu. Padahal, pemerintah berusaha untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah. Salah satunya dengan revitalisasi. Bahasa Madura termasuk program itu tahun ini.

Di sisi lain, saya husnuzan bahwa tulisan yang dipajang itu bukan karya tokoh yang gambarnya tersenyum di pinggir jalan. Tulisan itu dibuat oleh timnya, sementara si tokoh juga tidak tahu bahwa tulisan yang menyertainya itu ngala karebba dibi. Sehingga, si tokoh percaya diri dan mungkin senang dirinya merasa dekat dengan masyarakat.

Baca Juga :  AMSI dan Polda Jatim Antisipasi Potensi Friksi Sosial Tahun Politik

Jika ini disadari timnya, sebenarnya telah mempermalukan junjungannya di ruang terbuka. Karena itu, di internal tim hendaknya ada pendidikan menulis juga. Saya pikir ini menjadi bagian dari pendidikan politik partai. Lebih-lebih partai pemilik kursi parlemen yang punya jatah banpol dari pemerintah.

Saya apresiasi Anda yang menggunakan bahasa Madura untuk kepentingan pemilihan. Niat Anda untuk turut serta melestarikan bahasa daerah saya hargai, meski itu mungkin sangat jauh dibanding kepentingan politik yang dinomorwahidkan. Namun, alangkah lebih baik jika niat baik itu juga dilakukan dengan cara dan upaya yang baik pula.

Kita tentu sepakat bahwa selain untuk media informasi dan promosi (kampanye), tulisan yang menyertai gambar juga diikhtiarkan untuk mendidik. Namun, jika tak tahu, sebaiknya bertanya. Kata majalah Gong, malu bertanya, cari jawabannya. Bukan, malu bertanya, justru menyesatkan orang melalui gambar dan tulisan di pinggir jalan.

Demikian. Maaf saya menulis menggunakan bahasa Indonesia. Salam. (*)

*)Pemred Jawa Pos Radar Madura

Guru di sekolah berusaha mengajar bahasa Madura di tengah keterbatasan bahan bacaan. Sementara di ruang terbuka banyak tokoh yang menulis seenak sendiri. Aspek edukasi terabaikan.

AROMA pemilihan 2024 sudah lama tercium. Berbagai cara dan upaya mulai dilakukan. Partai mulai memanaskan mesin. Para tokoh yang berniat maju sebagai calon juga mulai melakukan pendekatan-pendekatan.

Gejala itu, salah satunya, dengan mulai munculnya gambar-gambar tokoh di pinggir jalan. Gambar itu disertai tulisan dengan maksud menarik simpati pembaca. Mereka ingin dekat kepada masyarakat selaku calon pemilih. Termasuk, menggunakan tulisan berbahasa Madura.


Gambar dan tulisan itu, setidaknya, harus memuat tiga hal. Yakni, mengandung informasi tentang tokoh. Baik informasi latar belakang, keberhasilan, dan ada yang terang-terangan hendak mencalonkan diri tahun depan.

Yang kedua, gambar dan tulisan itu mengandung promosi. Promosi bahwa tokoh itu layak dipilih mewakili rakyat di eksekutif maupun legislatif. Dan, yang ketiga, sebagai media edukasi.

Poin ketiga ini yang menarik didiskusikan. Terutama media luar ruang yang menggunakan tulisan bahasa Madura. Tidak sedikit tulisan kurang tepat menurut ejaan tata bahasa Madura (paramasastra Madura).

Sebagai media edukasi, tulisan yang menyertai gambar tokoh itu semestinya memperhatikan kaidah bahasa Madura. Namun, yang menghiasi pohon justru merusak pemandangan dan mengganggu pengetahuan.

- Advertisement -
Baca Juga :  New Normal: Politik Tubuh

Sebagian orang latah pada tokoh yang punya gelar, jabatan, dan pangkat mentereng. Sehingga, setiap yang diucapkan dan ditulis ditelan mentah-mentah karena dianggap benar. Padahal masih perlu dipertimbangkan. Siapa pun tokoh yang menulis atau mengatakan itu.

Apalagi jika orang yang membaca itu memang tidak tahu. Dalam hal ini, tentang kaidah penulisan bahasa Madura. Orang itu akan meniru apa pun yang ditulis atau diucapkan tokoh berpangkat dan bergelar mentereng itu. Bila ini yang terjadi, akan menjadi kesalahan berantai.

Bila ini dibiarkan berlanjut, sama dengan menyumbang pembusukan bahasa Madura. Sungguh naif bila tokoh Madura yang menjadi salah seorang yang mempercepat pembusukan itu. Padahal, pemerintah berusaha untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah. Salah satunya dengan revitalisasi. Bahasa Madura termasuk program itu tahun ini.

Di sisi lain, saya husnuzan bahwa tulisan yang dipajang itu bukan karya tokoh yang gambarnya tersenyum di pinggir jalan. Tulisan itu dibuat oleh timnya, sementara si tokoh juga tidak tahu bahwa tulisan yang menyertainya itu ngala karebba dibi. Sehingga, si tokoh percaya diri dan mungkin senang dirinya merasa dekat dengan masyarakat.

Baca Juga :  Mengawal Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional M. Tabrani

Jika ini disadari timnya, sebenarnya telah mempermalukan junjungannya di ruang terbuka. Karena itu, di internal tim hendaknya ada pendidikan menulis juga. Saya pikir ini menjadi bagian dari pendidikan politik partai. Lebih-lebih partai pemilik kursi parlemen yang punya jatah banpol dari pemerintah.

Saya apresiasi Anda yang menggunakan bahasa Madura untuk kepentingan pemilihan. Niat Anda untuk turut serta melestarikan bahasa daerah saya hargai, meski itu mungkin sangat jauh dibanding kepentingan politik yang dinomorwahidkan. Namun, alangkah lebih baik jika niat baik itu juga dilakukan dengan cara dan upaya yang baik pula.

Kita tentu sepakat bahwa selain untuk media informasi dan promosi (kampanye), tulisan yang menyertai gambar juga diikhtiarkan untuk mendidik. Namun, jika tak tahu, sebaiknya bertanya. Kata majalah Gong, malu bertanya, cari jawabannya. Bukan, malu bertanya, justru menyesatkan orang melalui gambar dan tulisan di pinggir jalan.

Demikian. Maaf saya menulis menggunakan bahasa Indonesia. Salam. (*)

*)Pemred Jawa Pos Radar Madura

Artikel Terkait

Sedekah Tani

Tertib Aset

Menjawab Keluhan Pelanggan

Most Read

Artikel Terbaru

/