Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramadan, Adzan, dan Keteguhan yang Tak Pernah Berubah

H
Penulis: Hendriyanto❯

Ilustrasi muadzin mengumandangkan adzan
Ilustrasi muadzin mengumandangkan adzan


Advertisement

Oleh: Yulis Juwaidi

“Gerak pedati dan lenguh lembu,
Seember rumput dan gelegar cemeti,
Seakan suara adzan yang dikasetkan”
(Setua sais pedati, iwan fals)

Setiap Ramadan tiba, suasana Madura berubah. Langit terasa lebih hening menjelang magrib. Anak-anak berlarian membawa takjil. Ibu-ibu menyiapkan hidangan sederhana. Dan ketika adzan berkumandang, semua seakan berhenti sejenak.

Advertisement

Dulu, dalam lagu Situa Sais Pedati karya Iwan Fals, tergambar suara adzan yang diputar lewat kaset—sebuah simbol zaman ketika teknologi mulai masuk ke ruang spiritual masyarakat.

Itu potret perubahan sosial. Namun hari ini, di tengah digitalisasi dan pengeras suara modern, adzan tetap sama. Syairnya tidak berubah sedikit pun.

“Allahu Akbar” tetap menggema sebagaimana pertama kali dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah lebih dari 14 abad lalu. Ramadan justru membuat kita semakin sadar akan makna keabadian itu.

Advertisement

Di bulan suci, sambil menunggu maghrib, saat saya masih SD sering disuruh ibu membeli es batu di TKG, sebuah pabrik es satu-satunya di kotaku. Maklum zaman itu lemari es jarang yang punya.

Buka puasa minum air es memang terasa segar. Dan itu bisa dinikmati saat bunyi belanggur dari masjid  jamik berbunyi. Dulu sih boleh menyulut petasan besar. Lalu musholla depan rumah mengumandangkan adzan.

Adzan bukan hanya penanda waktu shalat, tetapi penanda sabar. Seharian menahan lapar dan dahaga, orang Madura menunggu suara magrib dengan hati berdebar. Ketika kalimat “Allahu Akbar” terdengar, bukan hanya puasa yang dituntaskan, ada rasa syukur yang meledak pelan di dada.

Di situlah kita seperti diingatkan pada Bilal. Sosok yang disiksa di padang pasir Makkah karena mempertahankan iman. Ditindih batu besar, tubuhnya terbakar matahari, tetapi lisannya tetap mengucap, “Ahad… Ahad…”. Ketabahan itulah yang melahirkan adzan sebagai panggilan kemerdekaan ruhani.

Ramadan Adalah Madrasah Ketabahan Itu

Orang Madura mengenal prinsip abhantal syahadat, asapo’ iman. Berbantal syahadat, berselimut iman. Prinsip ini terasa nyata di bulan puasa. Kesederhanaan sahur, kebersamaan tarawih di langgar kampung, tadarus hingga larut malam, semua membentuk keteguhan yang tidak riuh, tetapi kokoh.

Teknologi boleh mengubah cara suara diperdengarkan. Tetapi tidak bisa mengubah maknanya. Adzan tetap menjadi jangkar nilai di tengah dunia yang serba cepat. Ia tidak mengikuti tren, tidak menyesuaikan selera pasar, tidak mengalami revisi redaksi. Justru karena tidak berubah, ia menjadi peneguh.

Ramadan mengajarkan bahwa kekuatan bukan pada banyaknya perubahan, tetapi pada konsistensi menjaga yang hakiki. Seperti orang Madura yang memegang teguh harga diri dan kehormatan, adzan menjaga kemurnian pesan tauhidnya.

Setiap magrib di bulan Ramadan, ketika adzan berkumandang di Sampang, di pesisir, di kampung, di pesantren, yang kita dengar bukan hanya suara muazin. Kita mendengar gema ketabahan Bilal. Kita mendengar warisan iman para kiai. Kita mendengar panggilan untuk kembali kepada pusat kehidupan; Allah SWT.

Dan mungkin di situlah relevansinya hari ini. Di tengah dunia yang terus berubah, Ramadan menghadirkan adzan sebagai pengingat bahwa ada nilai yang tidak boleh digeser. Ada prinsip yang tidak perlu diperbarui. Ada iman yang harus dijaga, sebagaimana Bilal menjaganya di bawah himpitan batu.

Tidak berubah walau lebih 14 abad

Adzan tetap sama. Ramadan datang setiap tahun. Manusianya berganti, berubah-ubah. kadang lalai, kadang lupa. manusia terus belajar tentang sabar. Barangkali yang berubah bukan panggilannya, tetapi kedalaman kita dalam menjawabnya.

Dan ketika “Allahu Akbar” bergema sebagai  penanda buka puasa ramadan, kita seakan sadar bahwa keteguhan iman adalah warisan yang paling berharga, seperti orang Madura yang memegang prinsip, seperti ulama yang mengajarkan iman dan islam, Seperti Bilal dibawah himpitan batu. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Assessment Center UTM Jadi Mitra Strategis BKN

Assessment Center UTM Jadi Mitra Strategis BKN

Wakil Kepala BKN RI Suharmen mengatakan, pemetaan ASN yang presisi tak sekadar memberikan kepastian arah karier pegawai, tapi juga menjaga efektivitas pengembangan kompetensi agar selaras dengan kebutuhan organisasi.

Madura dan Masa Depan Investasi, Jangan Usir Peluang dengan Sikap dan Perilaku Ketidakpastian

Madura dan Masa Depan Investasi, Jangan Usir Peluang dengan Sikap dan Perilaku Ketidakpastian

Pulau ini memiliki tenaga kerja, posisi strategis yang terhubung dengan Surabaya melalui Jembatan Suramadu, serta potensi kelautan, pertanian, perdagangan, dan energi.

Cancel Vs Counter Culture: Memperjuangkan Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional

Cancel Vs Counter Culture: Memperjuangkan Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional

Pertarungan narasi sejarah antara poros cancel vs counter culture memberi makna satu hal penting: sejarah itu dinamis, tapi dendam politik masa lalu ternyata bisa awet sampai ratusan tahun.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer