alexametrics
20.9 C
Madura
Sunday, August 14, 2022

Kontes Pendidikan

SIKLUS tahunan terulang lagi. Setiap pergantian tahun pendidikan. Perayaan semakin semarak. Bahkan, seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar ada yang menghabiskan biaya hingga puluhan juta.

HAFLATUL imtihan, wisuda, dan purnasiswa merupakan rutinitas tahunan yang disambut gembira. Berbagai kegiatan digelar untuk meluapkan kegembiraan itu. Mulai dari yang sederhana berupa seremonial kelulusan, pembagian rapor, pemberian penghargaan siswa berprestasi, pentas seni, tasyakuran, dan pengajian. Tapi, ada pula yang ditambah dengan pawai atau karnaval dengan berbagai penampilan.

Selain kegiatan yang dikoordinasi sekolah/madrasah, ada juga wali murid yang menambah kemeriahan dengan menggelar kegiatan mandiri. Semisal mengundang drumben, becak hias, odong-odong, jaran kenca’ beserta saronen-nya, tongtong perkusi, hingga pertunjukan seni yang lebih wah. Tentu saja banyak keluar rupiah.

Inilah momen lebaran bagi siswa. Juga momen senyum para pengusaha pernak-pernik hiburan untuk anak-anak. Inilah momen orang tua banyak mengeluarkan biaya. Perbedaan mensyukuri capaian fase pendidikan anak dengan gengsi sulit diterka. Wali murid tak mau anaknya bermata putih karena tidak sama dengan teman-temannya yang apangantan naik kuda diarak drumben, saronen, dan lain-lain.

Apa pun kondisi keuangan keluarga kadang memaksakan seseorang untuk merayakan kegembiraan yang sama dengan orang lain, meski dengan cara menggali jurang utang sedalam-dalamnya. Atau menjual barang-barang berharga agar anak tidak nelangsa karena teman-temannya yang nae’ jaran apajungan diarak drumben dan saronen.

Gengsi semakin tinggi jika ada sekolah berbeda di tempat berdekatan. Ekspresi kegembiraan atau wujud syukur dengan aneka kegiatan seolah diikompetisikan. Di sini, kompetisi tak resmi bukan antar individu siswa dan keluarganya. Jung-jungan semarak masa akhir pendidikan menjadi persaingan antarkelompok. Kelompok lembaga yang satu dengan lembaga yang lain.

Baca Juga :  INCAR Lancar agar Semua Sadar

Masyarakat, terutama wali murid, seolah diajak bersaing dalam kegiatan karnaval. Opini liar berkembang di masyarakat untuk membandingkan kegiatan sekolah A dan B yang berdekatan itu. Misal, sekolah barat nanggap drumben, jaran kencak, karnaval, pawai becak hias, dan lain-lain. Sementara sekolah timur hanya menggelar wisuda siswa kelas akhir dan temu wali murid.

Tahun berikutnya, sekolah timur tak mau ketinggalan. Berbagai kegiatan digelar. Persaingan antar lembaga semakin menjadi-jadi jika sekolah tidak menginjak rem. Namun, tidak sedikit sekolah yang justru terkesan memfasilitasi persaingan gengsi berbungkus pendidikan ini. Pihak sekolah tak berdaya jika tidak menuruti kemauan (wali) murid.

Mereka khawatir jumlah siswa semakin sedikit. Khawatir pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tidak ada yang mendaftar. Atau setidaknya jumlahnya semakin buncit. Jika itu yang terjadi, nasib sekolah semakin sekarat. Itu pula yang mendorong pihak sekolah melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan siswa baru.

Pawai haflatul imtihan atau apa pun nama kegiatannya pada akhir tahun pendidikan merupakan bagian kegembiraan siswa. Juga bentuk ungkapan syukur orang tua karena anaknya telah menyelesaikan pendidikan tingkat tertentu. Momen ini juga jadi berkah bagi pemilik usaha yang biasa meramaikan pawai.

Mungkin ini juga bentuk keterlibatan langsung orang tua pada proses pendidikan anak? Berapa pun uang tiada artinya asal anak tidak nespa melihat teman-temannya ekarjai. Padahal tidak sedikit orang tua yang berlindung di balik ungkapan bali’ aotanga etembang ana’ ta’ padha so kancana. Sementara untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga saja kadang kar-karkar colpe’. Bukankah ini justru menambah mudarat?

Baca Juga :  Punya Pengalaman Buruk, Madura United Krisis Pemain

Di sisi lain, momen ini dimanfaatkan sebagian orang untuk menunjukkan hasil kerja keras keluarga. Mereka pulang dari rantau demi merayakan kelulusan siswa. Berbagai kegiatan dihelat. Tidak hanya cukup sehari. Tidak hanya satu jenis kegiatan.

Tetapi, apakah tidak penting memikirkan pendidikan sosial? Kita mungkin sepakat jika pendidikan tidak jadi kontes semu yang justru meruntuhkan karakter anak didik dengan persaingan berbagai pentunjukan yang tidak sehat itu? Syukur atau pamer? Kita tidak patut memvonis. Jawaban hanya ada pada diri mereka.

Karnaval beserta segala pernak-perniknya sah-sah saja. Tapi, keterlibatan orang tua dalam pendidikan tidak hanya pada kegiatan ini. Akan lebih mulia jika orang tua turut serta mengawal pendidikan anak setiap waktu. Mulai capaian pelajaran hingga perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Jangan-jangan kita terjebak pada euforia tahunan, tapi abai pada substansi pendidikan yang adiluhung. Jangan-jangan kita suka merayakan karnaval, tapi menggerutu saat sekolah butuh bantuan tenaga maupun sumbangan finansial.

Sekolah memang tidak mengumumkan secara lantang untuk bersaing dalam hal ini. Tapi, praktik yang terjadi menjadikan masyarakat membentuk opini liar yang lama-kelamaan akan terbentuk kesepakatan majemuk bahwa harus ini dan harus itu.

Karena itu, sekolah harus bisa menjaga bandul ini agar tidak semakin liar. Pastikan remnya tidak aus agar kegiatan tahunan ini terkendali. Tidak menabrak substansi pendidikan itu sendiri. Bukan malah jadi bandar kontes pendidikan yang tidak sehat. Berani? (*)

SIKLUS tahunan terulang lagi. Setiap pergantian tahun pendidikan. Perayaan semakin semarak. Bahkan, seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar ada yang menghabiskan biaya hingga puluhan juta.

HAFLATUL imtihan, wisuda, dan purnasiswa merupakan rutinitas tahunan yang disambut gembira. Berbagai kegiatan digelar untuk meluapkan kegembiraan itu. Mulai dari yang sederhana berupa seremonial kelulusan, pembagian rapor, pemberian penghargaan siswa berprestasi, pentas seni, tasyakuran, dan pengajian. Tapi, ada pula yang ditambah dengan pawai atau karnaval dengan berbagai penampilan.

Selain kegiatan yang dikoordinasi sekolah/madrasah, ada juga wali murid yang menambah kemeriahan dengan menggelar kegiatan mandiri. Semisal mengundang drumben, becak hias, odong-odong, jaran kenca’ beserta saronen-nya, tongtong perkusi, hingga pertunjukan seni yang lebih wah. Tentu saja banyak keluar rupiah.


Inilah momen lebaran bagi siswa. Juga momen senyum para pengusaha pernak-pernik hiburan untuk anak-anak. Inilah momen orang tua banyak mengeluarkan biaya. Perbedaan mensyukuri capaian fase pendidikan anak dengan gengsi sulit diterka. Wali murid tak mau anaknya bermata putih karena tidak sama dengan teman-temannya yang apangantan naik kuda diarak drumben, saronen, dan lain-lain.

Apa pun kondisi keuangan keluarga kadang memaksakan seseorang untuk merayakan kegembiraan yang sama dengan orang lain, meski dengan cara menggali jurang utang sedalam-dalamnya. Atau menjual barang-barang berharga agar anak tidak nelangsa karena teman-temannya yang nae’ jaran apajungan diarak drumben dan saronen.

Gengsi semakin tinggi jika ada sekolah berbeda di tempat berdekatan. Ekspresi kegembiraan atau wujud syukur dengan aneka kegiatan seolah diikompetisikan. Di sini, kompetisi tak resmi bukan antar individu siswa dan keluarganya. Jung-jungan semarak masa akhir pendidikan menjadi persaingan antarkelompok. Kelompok lembaga yang satu dengan lembaga yang lain.

Baca Juga :  Gelar Pahlawan Nasional untuk M. Tabrani

Masyarakat, terutama wali murid, seolah diajak bersaing dalam kegiatan karnaval. Opini liar berkembang di masyarakat untuk membandingkan kegiatan sekolah A dan B yang berdekatan itu. Misal, sekolah barat nanggap drumben, jaran kencak, karnaval, pawai becak hias, dan lain-lain. Sementara sekolah timur hanya menggelar wisuda siswa kelas akhir dan temu wali murid.

- Advertisement -

Tahun berikutnya, sekolah timur tak mau ketinggalan. Berbagai kegiatan digelar. Persaingan antar lembaga semakin menjadi-jadi jika sekolah tidak menginjak rem. Namun, tidak sedikit sekolah yang justru terkesan memfasilitasi persaingan gengsi berbungkus pendidikan ini. Pihak sekolah tak berdaya jika tidak menuruti kemauan (wali) murid.

Mereka khawatir jumlah siswa semakin sedikit. Khawatir pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tidak ada yang mendaftar. Atau setidaknya jumlahnya semakin buncit. Jika itu yang terjadi, nasib sekolah semakin sekarat. Itu pula yang mendorong pihak sekolah melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan siswa baru.

Pawai haflatul imtihan atau apa pun nama kegiatannya pada akhir tahun pendidikan merupakan bagian kegembiraan siswa. Juga bentuk ungkapan syukur orang tua karena anaknya telah menyelesaikan pendidikan tingkat tertentu. Momen ini juga jadi berkah bagi pemilik usaha yang biasa meramaikan pawai.

Mungkin ini juga bentuk keterlibatan langsung orang tua pada proses pendidikan anak? Berapa pun uang tiada artinya asal anak tidak nespa melihat teman-temannya ekarjai. Padahal tidak sedikit orang tua yang berlindung di balik ungkapan bali’ aotanga etembang ana’ ta’ padha so kancana. Sementara untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga saja kadang kar-karkar colpe’. Bukankah ini justru menambah mudarat?

Baca Juga :  Bersatu Wujudkan Pilkada Damai

Di sisi lain, momen ini dimanfaatkan sebagian orang untuk menunjukkan hasil kerja keras keluarga. Mereka pulang dari rantau demi merayakan kelulusan siswa. Berbagai kegiatan dihelat. Tidak hanya cukup sehari. Tidak hanya satu jenis kegiatan.

Tetapi, apakah tidak penting memikirkan pendidikan sosial? Kita mungkin sepakat jika pendidikan tidak jadi kontes semu yang justru meruntuhkan karakter anak didik dengan persaingan berbagai pentunjukan yang tidak sehat itu? Syukur atau pamer? Kita tidak patut memvonis. Jawaban hanya ada pada diri mereka.

Karnaval beserta segala pernak-perniknya sah-sah saja. Tapi, keterlibatan orang tua dalam pendidikan tidak hanya pada kegiatan ini. Akan lebih mulia jika orang tua turut serta mengawal pendidikan anak setiap waktu. Mulai capaian pelajaran hingga perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Jangan-jangan kita terjebak pada euforia tahunan, tapi abai pada substansi pendidikan yang adiluhung. Jangan-jangan kita suka merayakan karnaval, tapi menggerutu saat sekolah butuh bantuan tenaga maupun sumbangan finansial.

Sekolah memang tidak mengumumkan secara lantang untuk bersaing dalam hal ini. Tapi, praktik yang terjadi menjadikan masyarakat membentuk opini liar yang lama-kelamaan akan terbentuk kesepakatan majemuk bahwa harus ini dan harus itu.

Karena itu, sekolah harus bisa menjaga bandul ini agar tidak semakin liar. Pastikan remnya tidak aus agar kegiatan tahunan ini terkendali. Tidak menabrak substansi pendidikan itu sendiri. Bukan malah jadi bandar kontes pendidikan yang tidak sehat. Berani? (*)

Artikel Terkait

INCAR Lancar agar Semua Sadar

Siap-Siap Mengenang Nama ”Mad”

Daya dan Laut

Blega Belum Lega

Amal Masjid

Most Read

Artikel Terbaru

/