24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Liburan sambil Tiduran

Oleh LUKMAN HAKIM AG*

Adakah tempat wisata di Madura yang intensitas pengunjungnya melebihi wisata religi? Tidak sedikit tempat wisata yang redup setelah bikin heboh hanya sesaat. Tapi, ada juga yang bertahan karena berhasil bikin wisatawan terkesan.

LIBUR Natal dan tahun baru bersamaan dengan libur sekolah. Adik-adik istirahat setelah masa belajar semester pertama. Masa-masa liburan ini dimanfaatkan untuk jalan-jalan bersama keluarga. Hasilnya bisa dilihat di media sosial.

Salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan. Makam guru para ulama itu tidak pernah sepi. Peziarah dari pelbagai penjuru negeri datang silih berganti. Lebih-lebih sejak Jembatan Suramadu beroperasi, memudahkan akses menuju kompleks pemakaman di Martajasah itu.

Kunjungan wisatawan luar Madura biasanya sepaket perjalanan dari makam Sunan Ampel Surabaya. Sebaliknya, peziarah asal Madura biasanya menjadikan makam Sunan Ampel menjadi lanjutan setelah keluar dari makam Ke Mad Kholil.

Banyaknya wisatawan bisa dilihat dari penuhnya area parkir oleh berbagai jenis kendaraan. Bus-bus pariwisata keluar masuk setiap saat. Lebih-lebih pada momen-momen tertentu.

Rabu (28/12) pagi saya mencoba menghitung bus yang keluar dari pesarean Syaikhona Kholil. Pengamatan dimulai sekitar pukul 06.30 hingga pukul 07.30. Hanya dalam satu jam itu, sebanyak 44 bus pariwisata meninggalkan Martajasah. Baik yang lewat Jalan RE Martadinata maupun melintasi Jalan Asmara (Jalan Kembar). Pada saat bersamaan ada dua bus peziarah masuk, plus satu bus antarkota antarprovinsi Sinar Jaya masuk Terminal Bangkalan.

Itu artinya, setidaknya ada 44 bus masuk sebelumnya. Baik malam maupun dini hari, sebelumnya akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Ada yang ke Makam Aer Mata Ebu atau ke arah Pamekasan, dan lanjut ke beberapa wisata religi di Sumenep. Tapi, lebih banyak yang kembali ngaspal ke Suramadu menuju Kota Pahlawan.

Baca Juga :  Catatan GM Jawa Pos Radar Madura: Identitas

Jika hitung kasar, tiap bus memuat 60 orang, berarti ada 2.640 peziarah dari pesarean Syaikhona Kholil. Hanya dalam satu jam, betapa banyak wisatawan yang berkunjung ke Bangkalan. Selain ke Ke Mad Kholil, wisatawan religi datang ke Bangkalan sebagian ke Sunan Cendana dan makam Aer Mata Ebu.

Magnet wisata religi memang lebih besar daripada objek wisata yang lain. Khususnya di Madura. Tanpa dipoles pun akan dikunjungi para peziarah. Sebab, kedatangan mereka bukan untuk jalan-jalan biasa. Ada motivasi lain yang menggerakkan mereka untuk menuju makam para tokoh itu. Apalagi, didukung oleh pamahaman tentang agama, ngalap barokah atau apalah namanya.

Itulah kelebihan wisata teligi. Tanpa campur tangan pemerintah sekalipun dikunjungi orang karena magnetnya besar. Otomatis terpromosikan sendiri tanpa anggaran negara yang selalu jadi dalih para pejabat untuk mengembangkan program yang menjadi tanggung jawabnya.

Namun, apakah potensi itu sudah dikelola dengan baik? Wisata warisan budaya itu akan semakin bagus bila didukung beberapa hal. Misalkan, ada paket terintegrasi beberapa objek wisata sehingga wisatawan bisa menikmati tempat lain.

Paket perjalanan wisata itu perlu didukung pemandu wisata yang paham betul tentang lokasi yang akan dikunjungi atau dia menyambut di lokasi. Pemandu yang menjelaskan segala hal kepada wisatawan.

Saya tidak tahu ini ada, atau ada tapi kurang bermanfaat atau memang tiada. Sepertinya menarik bila kacong-cebbing yang dipilih tiap tahun dengan uang rakyat itu diberdayakan. Kalau di daerah lain ada yang memanfaatkan kawan-kawan diskominfo. Atau ini menjadi bagian tugas dan fungsi pusat informasi pariwisata (tourism information center)? Apa kabar?

Tentu kita tidak ingin ada wisatawan berkunjung ke Asta Tinggi, tapi tidak tahu alamat kompleks pemakaman para raja tersebut karena hanya ikut rombongan. Sungguh rugi bila datang tapi tak paham tentang lokasi yang dikunjungi.

Baca Juga :  Poltera Buka Jalur SBMPN

Selanjutnya, keterlibatan masyarakat dengan pengembangan pariwisata. Misalkan dalam penyediaan suvenir tertentu yang khas sesuai tempat-tempat wisata itu. Tentu kita tidak ingin warga sekitar tempat wisata hanya kebagian sampah.

Beda dengan pengelolaan wisata alam dan buatan yang butuh nyali keseriusan untuk menarik minat calon wisatawan. Objek wisata yang dikelola pemerintah pun banyak yang ada seperti tiada. Bahkan, cemara udang yang berubah jadi tambak udang mengancam pamor Pantai Lombang.

Dalam sebuah diskusi tentang pengembangan wisata warisan budaya Jumat (9/12) saya sampaikan tiga kata kunci. Yakni, pastikan wisatawan yang berkunjung itu aman, nyaman, dan berkesan. Pastikan akses menuju lokasi tidak ada gangguan keamanan. Sesampainya di lokasi juga merasa nyaman, baik dari segi fasilitas maupun pelayanan. Setidaknya, tidak banyak sampah, dan untuk pipis dan BAB ada tempat khusus. Jangan-jangan masih ada tempat wisata tanpa toilet, atau ada tapi mampet dan tanpa air?

Bila tempat wisata tidak membuat pengunjung berkesan, tunggulah portal akan tertutup selamanya. Sebab, mereka tidak akan kembali. Sebaliknya, bila wisatawan berkesan, ada kemungkinan kembali dan mengajak orang-orang yang dicintai. Pengelola perlu menyadari bahwa kehadiran wisatawan sekaligus sebagai promotor dan pencegah bagi orang lain.

Libur akhir tahun ini Anda sudah berwisata ke mana? Hujan pergantian tahun membuat malas bergerak. Apalagi bila kantong sedang kering. Berselancar di media sosial menjadi pilihan untuk mengisi liburan sambil tiduran. Setelah bakar-bakar, jangan lupa kembali ngantor. Adik-adik juga kembali sekolah. (*)

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Oleh LUKMAN HAKIM AG*

Adakah tempat wisata di Madura yang intensitas pengunjungnya melebihi wisata religi? Tidak sedikit tempat wisata yang redup setelah bikin heboh hanya sesaat. Tapi, ada juga yang bertahan karena berhasil bikin wisatawan terkesan.

LIBUR Natal dan tahun baru bersamaan dengan libur sekolah. Adik-adik istirahat setelah masa belajar semester pertama. Masa-masa liburan ini dimanfaatkan untuk jalan-jalan bersama keluarga. Hasilnya bisa dilihat di media sosial.


Salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan. Makam guru para ulama itu tidak pernah sepi. Peziarah dari pelbagai penjuru negeri datang silih berganti. Lebih-lebih sejak Jembatan Suramadu beroperasi, memudahkan akses menuju kompleks pemakaman di Martajasah itu.

Kunjungan wisatawan luar Madura biasanya sepaket perjalanan dari makam Sunan Ampel Surabaya. Sebaliknya, peziarah asal Madura biasanya menjadikan makam Sunan Ampel menjadi lanjutan setelah keluar dari makam Ke Mad Kholil.

Banyaknya wisatawan bisa dilihat dari penuhnya area parkir oleh berbagai jenis kendaraan. Bus-bus pariwisata keluar masuk setiap saat. Lebih-lebih pada momen-momen tertentu.

Rabu (28/12) pagi saya mencoba menghitung bus yang keluar dari pesarean Syaikhona Kholil. Pengamatan dimulai sekitar pukul 06.30 hingga pukul 07.30. Hanya dalam satu jam itu, sebanyak 44 bus pariwisata meninggalkan Martajasah. Baik yang lewat Jalan RE Martadinata maupun melintasi Jalan Asmara (Jalan Kembar). Pada saat bersamaan ada dua bus peziarah masuk, plus satu bus antarkota antarprovinsi Sinar Jaya masuk Terminal Bangkalan.

- Advertisement -

Itu artinya, setidaknya ada 44 bus masuk sebelumnya. Baik malam maupun dini hari, sebelumnya akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Ada yang ke Makam Aer Mata Ebu atau ke arah Pamekasan, dan lanjut ke beberapa wisata religi di Sumenep. Tapi, lebih banyak yang kembali ngaspal ke Suramadu menuju Kota Pahlawan.

Baca Juga :  Dua Warga Kanada Sambangi Kantor Radar Madura, Ini Yang Mereka Lakukan

Jika hitung kasar, tiap bus memuat 60 orang, berarti ada 2.640 peziarah dari pesarean Syaikhona Kholil. Hanya dalam satu jam, betapa banyak wisatawan yang berkunjung ke Bangkalan. Selain ke Ke Mad Kholil, wisatawan religi datang ke Bangkalan sebagian ke Sunan Cendana dan makam Aer Mata Ebu.

Magnet wisata religi memang lebih besar daripada objek wisata yang lain. Khususnya di Madura. Tanpa dipoles pun akan dikunjungi para peziarah. Sebab, kedatangan mereka bukan untuk jalan-jalan biasa. Ada motivasi lain yang menggerakkan mereka untuk menuju makam para tokoh itu. Apalagi, didukung oleh pamahaman tentang agama, ngalap barokah atau apalah namanya.

Itulah kelebihan wisata teligi. Tanpa campur tangan pemerintah sekalipun dikunjungi orang karena magnetnya besar. Otomatis terpromosikan sendiri tanpa anggaran negara yang selalu jadi dalih para pejabat untuk mengembangkan program yang menjadi tanggung jawabnya.

Namun, apakah potensi itu sudah dikelola dengan baik? Wisata warisan budaya itu akan semakin bagus bila didukung beberapa hal. Misalkan, ada paket terintegrasi beberapa objek wisata sehingga wisatawan bisa menikmati tempat lain.

Paket perjalanan wisata itu perlu didukung pemandu wisata yang paham betul tentang lokasi yang akan dikunjungi atau dia menyambut di lokasi. Pemandu yang menjelaskan segala hal kepada wisatawan.

Saya tidak tahu ini ada, atau ada tapi kurang bermanfaat atau memang tiada. Sepertinya menarik bila kacong-cebbing yang dipilih tiap tahun dengan uang rakyat itu diberdayakan. Kalau di daerah lain ada yang memanfaatkan kawan-kawan diskominfo. Atau ini menjadi bagian tugas dan fungsi pusat informasi pariwisata (tourism information center)? Apa kabar?

Tentu kita tidak ingin ada wisatawan berkunjung ke Asta Tinggi, tapi tidak tahu alamat kompleks pemakaman para raja tersebut karena hanya ikut rombongan. Sungguh rugi bila datang tapi tak paham tentang lokasi yang dikunjungi.

Baca Juga :  Bersatu Wujudkan Pilkada Damai

Selanjutnya, keterlibatan masyarakat dengan pengembangan pariwisata. Misalkan dalam penyediaan suvenir tertentu yang khas sesuai tempat-tempat wisata itu. Tentu kita tidak ingin warga sekitar tempat wisata hanya kebagian sampah.

Beda dengan pengelolaan wisata alam dan buatan yang butuh nyali keseriusan untuk menarik minat calon wisatawan. Objek wisata yang dikelola pemerintah pun banyak yang ada seperti tiada. Bahkan, cemara udang yang berubah jadi tambak udang mengancam pamor Pantai Lombang.

Dalam sebuah diskusi tentang pengembangan wisata warisan budaya Jumat (9/12) saya sampaikan tiga kata kunci. Yakni, pastikan wisatawan yang berkunjung itu aman, nyaman, dan berkesan. Pastikan akses menuju lokasi tidak ada gangguan keamanan. Sesampainya di lokasi juga merasa nyaman, baik dari segi fasilitas maupun pelayanan. Setidaknya, tidak banyak sampah, dan untuk pipis dan BAB ada tempat khusus. Jangan-jangan masih ada tempat wisata tanpa toilet, atau ada tapi mampet dan tanpa air?

Bila tempat wisata tidak membuat pengunjung berkesan, tunggulah portal akan tertutup selamanya. Sebab, mereka tidak akan kembali. Sebaliknya, bila wisatawan berkesan, ada kemungkinan kembali dan mengajak orang-orang yang dicintai. Pengelola perlu menyadari bahwa kehadiran wisatawan sekaligus sebagai promotor dan pencegah bagi orang lain.

Libur akhir tahun ini Anda sudah berwisata ke mana? Hujan pergantian tahun membuat malas bergerak. Apalagi bila kantong sedang kering. Berselancar di media sosial menjadi pilihan untuk mengisi liburan sambil tiduran. Setelah bakar-bakar, jangan lupa kembali ngantor. Adik-adik juga kembali sekolah. (*)

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Artikel Terkait

Parkir Pelanggaran

Giur Parkir

Bali dan Road Race

Pelat Nomor Unik ( Oleh Lukman Hakim AG.*)

Kontes Pendidikan

Most Read

Artikel Terbaru

/