alexametrics
25.1 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Pendidikan Tinggi Tidak Menjamin Tertib Berlalu Lintas

BANGKALAN – Kesadaran terhadap aturan berlalu lintas (lalin) rendah. Ribuan kasus terjadi sepanjang 2017. Jenis pelanggaran dan pelakunya berbeda-beda. Kalangan berpendidikan seperti mahasiswa dan pegawai juga masih sering melanggar.

Di Kabupaten Bangkalan misalnya. Data Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bangkalan terdapat 21.048 kendaraan yang ditilang. Kendaraan roda dua mendominasi jumlah pelanggaran sebanyak 19.414 kasus. Kemudian, kendaraan roda empat 1.067 kasus. Terdiri dari mobil pribadi, jip, sedan, kendaraan umum.

Tingginya pelanggaran berdampak pada kecelakaan. Sepanjang 2017, terjadi 77 kecelakaan di Kota Salak (selengkapnya lihat grafis). Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, angka kecelakaan di Kota Zikir dan Salawat menurun. Pada 2017, angka kecelakaan lebih dari seratu kasus.

Kasatlantas Polres Bangkalan AKP Inggit Prasetyanto menjelaskan, pelanggaran yang dilakukan di antaranya tidak melengkapi surat-surat kendaraan dan surat izin mengemudi (SIM). Juga, kendaraan tidak sesuai standar dan melanggar rambu lalin. Semua bentuk pelanggaran langsung disanksi tegas.

Baca Juga :  12 Hari, Ringkus 11 Budak Narkoba

”Langsung ditilang agar pelanggar bisa memperbaiki dan sadar untuk lebih tertib,” ungkapnya Jumat (29/12).

Kesadaran untuk menggunakan pelindung kepala juga masih rendah. Padahal, helm sangat penting untuk meminimalkan cedera saat terjadi kecelakaan. Selain itu, para pelanggar rata-rata dari kalangan swasta. Jumlahnya mencapai 17.669 orang. Sedangkan dari kalangan pelajar menduduki peringkat kedua dengan 2.843 orang.

Dari kalangan berpendidikan juga masih banyak. Untuk pelanggar dengan status mahasiswa, ada 279 orang. Sedangkan yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) lebih rendah, yakni 143 orang. ”Kebanyakan masalah kelengkapan surat dan melanggar rambu,” tutur perwira pertama dengan dua balok di pundaknya itu.

Menurut dia, pelanggaran lalin yang disengaja berpotensi terjadi kecelakaan. Namun kecelakaan juga bisa dipicu karena kelalaian pengendara. Misal mengantuk, bermain ponsel saat berkendara, dan tidak fokus. ”Kalau sudah melanggar, otomatis presentase naik untuk laka lantas,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Baca Juga :  Ratusan Warga Gunung Maddah Demo Kejari Sampang

Inggit menambahkan, pihaknya akan terus berupaya menekan angka laka lantas dan pelanggaran lalin. Untuk itu, dia mengimbau agar pengendara waspada dan patuh aturan lalin. ”Untuk pengguna jalan tetap patuhi aturan. Hormati sesama pengguna jalan. Sebisa mungkin meminimalkan pelanggaran,” pesannya.

Salah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bangkalan mengungkapkan, beberapa hari lalu dirinya juga ditilang petugas. Hal itu lantaran motor yang dikendarainya tidak dilengkapi dengan nomor polisi (nopol) kendaraan. Dia mengaku sudah dua kali melakukan pelanggaran lalin.

Karena merasa tindakannya salah, dia tidak mempersoalkan tindakan aparat kepolisian. ”Sebelumnya karena tidak pakai helm. Seharusnya memang harus lengkap. Helm untuk keselamatan, bukan untuk menghindari tilangan polisi,” tukas HAM, 23, warga asal Kecamatan Kota Bangkalan itu.

- Advertisement -

BANGKALAN – Kesadaran terhadap aturan berlalu lintas (lalin) rendah. Ribuan kasus terjadi sepanjang 2017. Jenis pelanggaran dan pelakunya berbeda-beda. Kalangan berpendidikan seperti mahasiswa dan pegawai juga masih sering melanggar.

Di Kabupaten Bangkalan misalnya. Data Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bangkalan terdapat 21.048 kendaraan yang ditilang. Kendaraan roda dua mendominasi jumlah pelanggaran sebanyak 19.414 kasus. Kemudian, kendaraan roda empat 1.067 kasus. Terdiri dari mobil pribadi, jip, sedan, kendaraan umum.

Tingginya pelanggaran berdampak pada kecelakaan. Sepanjang 2017, terjadi 77 kecelakaan di Kota Salak (selengkapnya lihat grafis). Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, angka kecelakaan di Kota Zikir dan Salawat menurun. Pada 2017, angka kecelakaan lebih dari seratu kasus.


Kasatlantas Polres Bangkalan AKP Inggit Prasetyanto menjelaskan, pelanggaran yang dilakukan di antaranya tidak melengkapi surat-surat kendaraan dan surat izin mengemudi (SIM). Juga, kendaraan tidak sesuai standar dan melanggar rambu lalin. Semua bentuk pelanggaran langsung disanksi tegas.

Baca Juga :  Tiga Terdakwa Pemerkosaan Disertai Pembunuhan Dituntut Hukuman Mati

”Langsung ditilang agar pelanggar bisa memperbaiki dan sadar untuk lebih tertib,” ungkapnya Jumat (29/12).

Kesadaran untuk menggunakan pelindung kepala juga masih rendah. Padahal, helm sangat penting untuk meminimalkan cedera saat terjadi kecelakaan. Selain itu, para pelanggar rata-rata dari kalangan swasta. Jumlahnya mencapai 17.669 orang. Sedangkan dari kalangan pelajar menduduki peringkat kedua dengan 2.843 orang.

Dari kalangan berpendidikan juga masih banyak. Untuk pelanggar dengan status mahasiswa, ada 279 orang. Sedangkan yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) lebih rendah, yakni 143 orang. ”Kebanyakan masalah kelengkapan surat dan melanggar rambu,” tutur perwira pertama dengan dua balok di pundaknya itu.

Menurut dia, pelanggaran lalin yang disengaja berpotensi terjadi kecelakaan. Namun kecelakaan juga bisa dipicu karena kelalaian pengendara. Misal mengantuk, bermain ponsel saat berkendara, dan tidak fokus. ”Kalau sudah melanggar, otomatis presentase naik untuk laka lantas,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Baca Juga :  Kapolres Minta Cegah Tindakan Anarkistis

Inggit menambahkan, pihaknya akan terus berupaya menekan angka laka lantas dan pelanggaran lalin. Untuk itu, dia mengimbau agar pengendara waspada dan patuh aturan lalin. ”Untuk pengguna jalan tetap patuhi aturan. Hormati sesama pengguna jalan. Sebisa mungkin meminimalkan pelanggaran,” pesannya.

Salah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bangkalan mengungkapkan, beberapa hari lalu dirinya juga ditilang petugas. Hal itu lantaran motor yang dikendarainya tidak dilengkapi dengan nomor polisi (nopol) kendaraan. Dia mengaku sudah dua kali melakukan pelanggaran lalin.

Karena merasa tindakannya salah, dia tidak mempersoalkan tindakan aparat kepolisian. ”Sebelumnya karena tidak pakai helm. Seharusnya memang harus lengkap. Helm untuk keselamatan, bukan untuk menghindari tilangan polisi,” tukas HAM, 23, warga asal Kecamatan Kota Bangkalan itu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/