alexametrics
21.7 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Kasus Penembakan Jadi Atensi Polda

SAMPANG – Dukungan kepada aparat penegak hukum (APH) terutama Polres Sampang untuk mengusut tuntas kasus penembakan terus berdatangan. Senin (26/11) Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) dari Pamekasan mendatangi Mapolres Sampang.

Belasan orang yang tergabung dalam FPI dan LPI itu berkumpul di Mapolres Sampang. Mereka ditemui Wakapolres Sampang Kompol Suhartono sebelum perwakilan diminta masuk menemui Kapolres Sampang.

Abd. Azis Muhammad Sahid, panglima LPI Madura, mengatakan, tujuan kedatangannya adalah mendukung Polres Sampang supaya profesional menangani kasus penembakan tersebut. Pihaknya mencium ada permainan dan sandiwara dalam pengungkapan motif kasus tersebut.

Karena itu, pihaknya meminta polisi mengungkap motif yang sesungguhnya secara transparan dalam kasus penembakan tersebut. ”Jika kasus ini tidak ditangani serius, kami tidak yakin kondisi di Madura, khususnya Sampang, akan kondusif. Makanya, jangan main-main dalam kasus ini,” harapnya.

Pihaknya menilai, dalam kasus ini adalah antara penghina ulama dan pembela ulama. Pihaknya berkomitmen mendukung proses hukum yang akan dilakukan Polres Sampang dengan sebenar-benarnya. ”Kami minta pelaku diberi hukuman setimpal sesuai dengan aturan hukum,” paparnya.

Baca Juga :  Sepuluh Bulan Tersangkakan 109 Orang

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menerangkan, kasus penembakan yang menyebabkan meninggalnya Subaidi, 35, warga Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, diatensi langsung oleh Polda Jawa Timur. Buktinya, tim dari polda diturunkan untuk menangani kasus itu.

Menurut dia, Dirkrimum Polda Jawa Timur dengan anggotanya dan Puslabfor Cabang Surabaya beserta anggotanya sudah satu hari satu malam berada di Mapolres Sampang. Saat ini tim Dirkrimum Polda Jatim dan Kalabfor Polda Jatim bersama tim Reskrim Polres Sampang kembali turun ke tempat kejadian perkara (TKP).

Menurut Budi Wardiman, itu untuk memeriksa lagi sejumlah saksi sebelum, saat, dan sesudah kejadian penembakan. ”Iya kasus ini menjadi atensi polda. Tim dari polda sudah turun ke sini untuk membantu kami,” ungkapnya.

Dia menegaskan, seluruh barang bukti yang diamankan, baik dari korban maupun tersangka pelaku, dikirim ke Labfor Polda Jawa Timur. Berkaitan dengan hasil otopsi, Budi Wardiman mengaku belum keluar. ”Hasil otopsi belum keluar. Biasanya tujuh hari baru keluar. Untuk kasus ini belum,” ujarnya.

Baca Juga :  Konsumsi dan Edarkan Narkoba Perempuan Lulusan SD Ditangkap

Menyikapi simpang siurnya jenis senjata api (senpi), pihaknya menegaskan bahwa yang digunakan oleh tersangka pelaku adalah senpi jenis pen gun. Menurut dia, pen gun yang digunakan tersangka pelaku adalah jenis rakitan, bukan pabrikan.

”Pen gun itu masuk jenis senpi. Itu satu peluru dengan satu kali pakai. Pelurunya belum ditemukan. Makanya, kami minta kepada tim gegana polda dan tim pendeteksi logam untuk mencari proyektil di lokasi,” paparnya. ”Pengakuan tersangka, senjata tersebut diperoleh dari temannya dari Kalimantan,” sambung dia.

Berkenaan dengan motif penembakan, Budi Wardiman menegaskan tidak ada kaitannya dengan politik. Menurut dia, itu murni karena dipicu oleh sakit hati karena ungkapan di media sosial yang sifatnya hujatan atau olokan.

Menyikapi banyaknya dukungan dari beberapa pihak, Budi Wardiman mengaku bahwa itu merupakan salah satu apresiasi terhadap kinerja Polres Sampang. Dukungan tersebut menjadi pemicu untuk lebih giat dan profesional menangani kasus tersebut.

”Kami tidak main-main dalam kasus ini. Kami akan ungkap hingga ke akarnya, khususnya berkaitan dengan kepemilikan senpi,” pungkas Budi Wardiman.

SAMPANG – Dukungan kepada aparat penegak hukum (APH) terutama Polres Sampang untuk mengusut tuntas kasus penembakan terus berdatangan. Senin (26/11) Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) dari Pamekasan mendatangi Mapolres Sampang.

Belasan orang yang tergabung dalam FPI dan LPI itu berkumpul di Mapolres Sampang. Mereka ditemui Wakapolres Sampang Kompol Suhartono sebelum perwakilan diminta masuk menemui Kapolres Sampang.

Abd. Azis Muhammad Sahid, panglima LPI Madura, mengatakan, tujuan kedatangannya adalah mendukung Polres Sampang supaya profesional menangani kasus penembakan tersebut. Pihaknya mencium ada permainan dan sandiwara dalam pengungkapan motif kasus tersebut.

Karena itu, pihaknya meminta polisi mengungkap motif yang sesungguhnya secara transparan dalam kasus penembakan tersebut. ”Jika kasus ini tidak ditangani serius, kami tidak yakin kondisi di Madura, khususnya Sampang, akan kondusif. Makanya, jangan main-main dalam kasus ini,” harapnya.

Pihaknya menilai, dalam kasus ini adalah antara penghina ulama dan pembela ulama. Pihaknya berkomitmen mendukung proses hukum yang akan dilakukan Polres Sampang dengan sebenar-benarnya. ”Kami minta pelaku diberi hukuman setimpal sesuai dengan aturan hukum,” paparnya.

Baca Juga :  Ditagih Utang, Tebas Betis Teman

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menerangkan, kasus penembakan yang menyebabkan meninggalnya Subaidi, 35, warga Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, diatensi langsung oleh Polda Jawa Timur. Buktinya, tim dari polda diturunkan untuk menangani kasus itu.

Menurut dia, Dirkrimum Polda Jawa Timur dengan anggotanya dan Puslabfor Cabang Surabaya beserta anggotanya sudah satu hari satu malam berada di Mapolres Sampang. Saat ini tim Dirkrimum Polda Jatim dan Kalabfor Polda Jatim bersama tim Reskrim Polres Sampang kembali turun ke tempat kejadian perkara (TKP).

Menurut Budi Wardiman, itu untuk memeriksa lagi sejumlah saksi sebelum, saat, dan sesudah kejadian penembakan. ”Iya kasus ini menjadi atensi polda. Tim dari polda sudah turun ke sini untuk membantu kami,” ungkapnya.

Dia menegaskan, seluruh barang bukti yang diamankan, baik dari korban maupun tersangka pelaku, dikirim ke Labfor Polda Jawa Timur. Berkaitan dengan hasil otopsi, Budi Wardiman mengaku belum keluar. ”Hasil otopsi belum keluar. Biasanya tujuh hari baru keluar. Untuk kasus ini belum,” ujarnya.

Baca Juga :  Operasi Cipkon Incar Penjahat, Polisi Sita Belasan Motor

Menyikapi simpang siurnya jenis senjata api (senpi), pihaknya menegaskan bahwa yang digunakan oleh tersangka pelaku adalah senpi jenis pen gun. Menurut dia, pen gun yang digunakan tersangka pelaku adalah jenis rakitan, bukan pabrikan.

”Pen gun itu masuk jenis senpi. Itu satu peluru dengan satu kali pakai. Pelurunya belum ditemukan. Makanya, kami minta kepada tim gegana polda dan tim pendeteksi logam untuk mencari proyektil di lokasi,” paparnya. ”Pengakuan tersangka, senjata tersebut diperoleh dari temannya dari Kalimantan,” sambung dia.

Berkenaan dengan motif penembakan, Budi Wardiman menegaskan tidak ada kaitannya dengan politik. Menurut dia, itu murni karena dipicu oleh sakit hati karena ungkapan di media sosial yang sifatnya hujatan atau olokan.

Menyikapi banyaknya dukungan dari beberapa pihak, Budi Wardiman mengaku bahwa itu merupakan salah satu apresiasi terhadap kinerja Polres Sampang. Dukungan tersebut menjadi pemicu untuk lebih giat dan profesional menangani kasus tersebut.

”Kami tidak main-main dalam kasus ini. Kami akan ungkap hingga ke akarnya, khususnya berkaitan dengan kepemilikan senpi,” pungkas Budi Wardiman.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/