alexametrics
29.4 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Curi Kotak Amal untuk Beli Narkoba

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Fenomena pencurian barang-barang milik masjid menjadi atensi aparat kepolisian. Pasalnya, peristiwa demi peristiwa yang merugikan tempat ibadah itu selalu terjadi. Dua belas orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut ditangkap dalam enam jam kemarin (26/1).

Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Adhi Putranto Utomo menerangkan, 12 pelaku itu ditangkap dalam sehari. Namun, dia belum bisa membeberkan identitas dan peran para tersangka itu. Sebab, selain 12 orang itu, masih ada yang menjadi incaran korps baju cokelat.

Adhi hanya menyebutkan bahwa belasan orang itu terkait dengan peristiwa pencurian dengan pemberatan (curat). Yakni, pencurian kotak amal di 20 tempat kejadian perkara (TKP). ”Dua belas (yang ditangkap). Masih ada yang akan kami tangkap,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Dia menuturkan, kedua belas pelaku asli Pamekasan. Penangkapan dimulai sejak pukul 06.00–14.00. Proses penangkapan pelaku lain yang berjejaring itu masih akan dilakukan. ”Kami akan kembangkan karena ada dua puluh TKP pencurian,” sambungnya.

Adhi mengungkapkan, motif pencurian kotak amal tersebut untuk bersenang-bersenang. Mereka ngembat barang-barang masjid itu untuk membeli narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). ”Untuk bersenang-senang, untuk membeli narkoba,” sambung pria yang suka olahraga dan ahli menembak itu.

Belasan tersangka yang ditangkap tersebut merupakan pelaku pencurian sejak 2020 hingga awal 2021. Saat ini mereka diamankan di Mapolres Pamekasan. Pasal yang disangkakan dalam perkara tersebut merujuk pada pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan (curat). Ancaman hukuman enam tahun penjara.

Salah satu masjid yang kerap menjadi korban pencurian adalah Masjid Al Ihsan. Masjid di Dusun Sobih, Jalan Basar, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, itu lima kali disatroni maling sejak 2019–2021.

Baca Juga :  Tersangka Beras Oplosan Tahanan Rumah

Selama 2019, tiga kali kehilangan. Dua kali kehilangan amplifier dan satu kali kotak amal. Pada akhir 2020, satu kali jadi korban pencurian. Juga berupa amplifier. Kemudian pada 20 Januari 2021, kembali jadi korban pencurian. Satu kotak amal sedekah jamaah diembat.

”Yang terakhir ini ditemukan tukang becak di Desa Bettet,” terang Ketua RT 02, RW 04, Kelurahan Bugih, Achmad Rida’i.

Dia mengatakan, pelaku pencurian tersebut tidak ada yang tertangkap mata warga. Diperkirakan, mereka beraksi setiap pukul 01.00 dan 02.00. ”Pencurian terakhir kemarin tidak mungkin pakai sepeda karena kotak amalnya besar,” sambungnya.

Rida’i menjelaskan, pencurian yang terjadi di masjid yang sedang direnovasi itu tidak terekam CCTV karena belum dilengkapi kamera pengintai. Sebab itu, pihaknya akan melengkapi CCTV sebagai antisipasi. ”Kami tidak melapor polisi. Tapi, kami berharap babinsa dan bhabinkamtibmas di sini ikut memantau,” harapnya.

Keterangan Rida’i yang memperkirakan pelaku tidak mengggunakan sepeda motor sangat mungkin terkait dengan peristiwa di Kecamatan Pegantenan dan Pakong. Enam kotak amal Masjid Al Amin Pegantenan dan Masjid Al Falah Pakong diembat pencuri pada hari yang sama sekitar pukul 02.00 Sabtu (23/1).

Empat kotak amal di Masjid Al Amin dibawa pelaku. Kotak amal dari kayu itu dibuang di beberapa tempat oleh pelaku setelah dibawa dan dibongkar. Satu kotak ditemukan di Desa Bicorong, Kecamatan Pakong. Beberapa kotak yang lain ditemukan di tempat lain dan diamankan di Mapolsek Pakong. Sedangkan kotak amal milik Masjid Al Falah ditemukan di Desa Seddur.

Baca Juga :  Kejari Pastikan Ada Tersangka Baru

Penelusuran Polsek Pakong, barang yang dicuri bukan hanya kotak amal. Maling itu juga mengambil sejumlah peralatan masjid. Barang-barang yang hilang di Masjid Al Falah Pakong berupa receiver closed circuit television (CCTV) dan dua kotak amal. Amplifier dan mik Masjid Al Falah juga raib dibawa pencuri.

Aksi pencurian itu dilakukan secara estafet dan bergilir dari Masjid Al Amin ke Masjid Al Falah. Pelaku diperkirakan berjumlah tiga orang dan mengendarai kendaraan multiguna atau multi purpose vehicle (MPV) putih.

Analisis sementara, mobil yang dipakai antara Toyota Avanza dan Suzuki Ertiga putih. Kemungkinan, mereka memang ahli dan berjejaring. ”Pelaku masih dalam penyelidikan kami. Yang jelas, mereka menggunakan mobil berdasar beberapa rekaman CCTV yang kami dapatkan,” ungkap Kapolsek Pakong Iptu Sutiyono.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan Ahmad menilai ada pergeseran perilaku dan akhlak. Terutama, anak muda terhadap tempat ibadah. Dulu, kata dia, orang tua sering mengingatkan bahwa masuk masjid itu ada etikanya. ”Jangankan mengambil sesuatu, masuk saja ada etikanya,” terangnya.

Dia mengatakan, akhlak anak muda cenderung tidak bersambung dengan guru dan masyayikh. Akibatnya, perilaku tidak mencerminkan kedamaian dan ketenteraman. ”Dulu, kita takut, apalagi mengambil kotak amal,” imbuhnya.

Pria yang menjabat rektor sejak 2014 itu berharap pendakwah fokus mendidik mental anak muda. Sebab, mereka lebih suka perilaku bebas dan berkiblat pada pergaulan di dunia internet yang cenderung tidak terkontrol. ”Sehingga fatwa ulama dan guru cenderung diabaikan,” katanya. (ky)

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Fenomena pencurian barang-barang milik masjid menjadi atensi aparat kepolisian. Pasalnya, peristiwa demi peristiwa yang merugikan tempat ibadah itu selalu terjadi. Dua belas orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut ditangkap dalam enam jam kemarin (26/1).

Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Adhi Putranto Utomo menerangkan, 12 pelaku itu ditangkap dalam sehari. Namun, dia belum bisa membeberkan identitas dan peran para tersangka itu. Sebab, selain 12 orang itu, masih ada yang menjadi incaran korps baju cokelat.

Adhi hanya menyebutkan bahwa belasan orang itu terkait dengan peristiwa pencurian dengan pemberatan (curat). Yakni, pencurian kotak amal di 20 tempat kejadian perkara (TKP). ”Dua belas (yang ditangkap). Masih ada yang akan kami tangkap,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).


Dia menuturkan, kedua belas pelaku asli Pamekasan. Penangkapan dimulai sejak pukul 06.00–14.00. Proses penangkapan pelaku lain yang berjejaring itu masih akan dilakukan. ”Kami akan kembangkan karena ada dua puluh TKP pencurian,” sambungnya.

Adhi mengungkapkan, motif pencurian kotak amal tersebut untuk bersenang-bersenang. Mereka ngembat barang-barang masjid itu untuk membeli narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). ”Untuk bersenang-senang, untuk membeli narkoba,” sambung pria yang suka olahraga dan ahli menembak itu.

Belasan tersangka yang ditangkap tersebut merupakan pelaku pencurian sejak 2020 hingga awal 2021. Saat ini mereka diamankan di Mapolres Pamekasan. Pasal yang disangkakan dalam perkara tersebut merujuk pada pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan (curat). Ancaman hukuman enam tahun penjara.

Salah satu masjid yang kerap menjadi korban pencurian adalah Masjid Al Ihsan. Masjid di Dusun Sobih, Jalan Basar, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, itu lima kali disatroni maling sejak 2019–2021.

Baca Juga :  Polisi Belum Periksa Guru BK

Selama 2019, tiga kali kehilangan. Dua kali kehilangan amplifier dan satu kali kotak amal. Pada akhir 2020, satu kali jadi korban pencurian. Juga berupa amplifier. Kemudian pada 20 Januari 2021, kembali jadi korban pencurian. Satu kotak amal sedekah jamaah diembat.

”Yang terakhir ini ditemukan tukang becak di Desa Bettet,” terang Ketua RT 02, RW 04, Kelurahan Bugih, Achmad Rida’i.

Dia mengatakan, pelaku pencurian tersebut tidak ada yang tertangkap mata warga. Diperkirakan, mereka beraksi setiap pukul 01.00 dan 02.00. ”Pencurian terakhir kemarin tidak mungkin pakai sepeda karena kotak amalnya besar,” sambungnya.

Rida’i menjelaskan, pencurian yang terjadi di masjid yang sedang direnovasi itu tidak terekam CCTV karena belum dilengkapi kamera pengintai. Sebab itu, pihaknya akan melengkapi CCTV sebagai antisipasi. ”Kami tidak melapor polisi. Tapi, kami berharap babinsa dan bhabinkamtibmas di sini ikut memantau,” harapnya.

Keterangan Rida’i yang memperkirakan pelaku tidak mengggunakan sepeda motor sangat mungkin terkait dengan peristiwa di Kecamatan Pegantenan dan Pakong. Enam kotak amal Masjid Al Amin Pegantenan dan Masjid Al Falah Pakong diembat pencuri pada hari yang sama sekitar pukul 02.00 Sabtu (23/1).

Empat kotak amal di Masjid Al Amin dibawa pelaku. Kotak amal dari kayu itu dibuang di beberapa tempat oleh pelaku setelah dibawa dan dibongkar. Satu kotak ditemukan di Desa Bicorong, Kecamatan Pakong. Beberapa kotak yang lain ditemukan di tempat lain dan diamankan di Mapolsek Pakong. Sedangkan kotak amal milik Masjid Al Falah ditemukan di Desa Seddur.

Baca Juga :  Hasil Pencurian Kotak Amal untuk Beli Narkoba dan Pesan Perempuan

Penelusuran Polsek Pakong, barang yang dicuri bukan hanya kotak amal. Maling itu juga mengambil sejumlah peralatan masjid. Barang-barang yang hilang di Masjid Al Falah Pakong berupa receiver closed circuit television (CCTV) dan dua kotak amal. Amplifier dan mik Masjid Al Falah juga raib dibawa pencuri.

Aksi pencurian itu dilakukan secara estafet dan bergilir dari Masjid Al Amin ke Masjid Al Falah. Pelaku diperkirakan berjumlah tiga orang dan mengendarai kendaraan multiguna atau multi purpose vehicle (MPV) putih.

Analisis sementara, mobil yang dipakai antara Toyota Avanza dan Suzuki Ertiga putih. Kemungkinan, mereka memang ahli dan berjejaring. ”Pelaku masih dalam penyelidikan kami. Yang jelas, mereka menggunakan mobil berdasar beberapa rekaman CCTV yang kami dapatkan,” ungkap Kapolsek Pakong Iptu Sutiyono.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan Ahmad menilai ada pergeseran perilaku dan akhlak. Terutama, anak muda terhadap tempat ibadah. Dulu, kata dia, orang tua sering mengingatkan bahwa masuk masjid itu ada etikanya. ”Jangankan mengambil sesuatu, masuk saja ada etikanya,” terangnya.

Dia mengatakan, akhlak anak muda cenderung tidak bersambung dengan guru dan masyayikh. Akibatnya, perilaku tidak mencerminkan kedamaian dan ketenteraman. ”Dulu, kita takut, apalagi mengambil kotak amal,” imbuhnya.

Pria yang menjabat rektor sejak 2014 itu berharap pendakwah fokus mendidik mental anak muda. Sebab, mereka lebih suka perilaku bebas dan berkiblat pada pergaulan di dunia internet yang cenderung tidak terkontrol. ”Sehingga fatwa ulama dan guru cenderung diabaikan,” katanya. (ky)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/