alexametrics
21.6 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Terdakwa Narkoba 19 Kilogram Dituntut Seumur Hidup

SAMPANG – Sidang kasus penyalahgunaan narkoba dengan terdakwa Ahmad Sakur terus berlanjut. Dalam sidang lanjutan tersebut, JPU Kejari Sampang menuntut Ahmad Sakur dengan hukuman penjara seumur hidup. Hal itu disampaikan JPU Kejari Sampang Munarwi kemarin (22/4).

Menurut Munarwi, sidang lanjutan dengan agenda pembacaan tuntutan digelar Selasa (21/4). Dikatakan, tuntutan seumur hidup kepada terdakwa dengan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu (SS) sebanyak 19 kilogram tersebut sudah sepengetahuan pimpinannya. ”Tuntutan itu tentunya berdasar pertimbangan dan fakta-fakta di persidangan,” ujarnya.

Dijelaskan, terdakwa didakwa dengan pasal 114 ayat 2 dan pasal 112 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau seumur hidup dan minimal 5 tahun. ”Selasa depan sidang lagi, agendanya pleidoi dari terdakwa,” ungkap jaksa kelahiran Kota Bahari itu.

Sementara itu, Moh. Hasan selaku penasihat hukum terdakwa mengaku sangat keberatan atas tuntutan JPU tersebut. Sebab, kliennya merasa tidak memiliki narkoba tersebut. ”Klien saya ini hanya sopir ekspedisi. Barang itu ditemukan di dalam mobil boks ekspedisi yang dikendarai klien saya. Artinya, barang itu diselundupkan,” terangnya.

Baca Juga :  Ajak Pemuda Ikut Berantas Narkoba

Hasan menegaskan akan mengajukan pleidoi atas tuntutan JPU tersebut. Menurut dia, banyak sekali kejanggalan yang terungkap dalam persidangan. ”Klien saya ini, saat proses pemeriksaan tidak didampingi penasihat hukum. Jika di-BAP ada, itu fiktif. Pengakuan klien saya, tidak pernah kenal dan memperkenalkan diri sebagai penasihat hukumnya,” ulasnya.

Dijelaskan, dugaan adanya tanda tangan penasihat hukum fiktif di BAP menguat JPU tidak mampu menghadirkan sang penasihat hukum. Padahal, majelis hakim minta penasihat hukum yang tanda tangan tersebut dihadirkan ke persidangan untuk memberikan keterangan secara verbal. Dia semakin yakin kliennya bakal divonis ringan.

”Perusahaan ekspedisi tempat klien saya bekerja tidak ikut campur, ada apa? Semestinya kan harus ada pertanggungjawaban juga dari perusahaan, tempat klien saya bekerja,” sesalnya.

Baca Juga :  Razia Kosan, Satpol PP Amankan Perempuan Berusia 21 Tahun Usai Nyabu

Hasan berharap majelis hakim menjatuhkan vonis dengan mempertimbangkan fakta-fakta persidangan dan menggunakan hati nurani. Menurut dia, tuntutan JPU dinilai terlalu berat. ”Harapan kami, divonis ringan. Sebab, benar-benar tidak tahu dan merasa tidak memiliki barang itu (narkoba, Red),” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Ahmad Sakur, warga Dusun Karang, Desa Maneron, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, ditangkap BNN Jatim di Jalan Raya Banyuates pada Rabu (7/8/2019). Saat itu, Ahmad Sakur sedang mengemudi mobil boks milik salah satu perusahaan ekspedisi. Setelah digeledah, di dalam mobil boks ditemukan narkoba jenis SS seberat 19 kilogram.

 

- Advertisement -

SAMPANG – Sidang kasus penyalahgunaan narkoba dengan terdakwa Ahmad Sakur terus berlanjut. Dalam sidang lanjutan tersebut, JPU Kejari Sampang menuntut Ahmad Sakur dengan hukuman penjara seumur hidup. Hal itu disampaikan JPU Kejari Sampang Munarwi kemarin (22/4).

Menurut Munarwi, sidang lanjutan dengan agenda pembacaan tuntutan digelar Selasa (21/4). Dikatakan, tuntutan seumur hidup kepada terdakwa dengan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu (SS) sebanyak 19 kilogram tersebut sudah sepengetahuan pimpinannya. ”Tuntutan itu tentunya berdasar pertimbangan dan fakta-fakta di persidangan,” ujarnya.

Dijelaskan, terdakwa didakwa dengan pasal 114 ayat 2 dan pasal 112 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau seumur hidup dan minimal 5 tahun. ”Selasa depan sidang lagi, agendanya pleidoi dari terdakwa,” ungkap jaksa kelahiran Kota Bahari itu.


Sementara itu, Moh. Hasan selaku penasihat hukum terdakwa mengaku sangat keberatan atas tuntutan JPU tersebut. Sebab, kliennya merasa tidak memiliki narkoba tersebut. ”Klien saya ini hanya sopir ekspedisi. Barang itu ditemukan di dalam mobil boks ekspedisi yang dikendarai klien saya. Artinya, barang itu diselundupkan,” terangnya.

Baca Juga :  Razia Kosan, Satpol PP Amankan Perempuan Berusia 21 Tahun Usai Nyabu

Hasan menegaskan akan mengajukan pleidoi atas tuntutan JPU tersebut. Menurut dia, banyak sekali kejanggalan yang terungkap dalam persidangan. ”Klien saya ini, saat proses pemeriksaan tidak didampingi penasihat hukum. Jika di-BAP ada, itu fiktif. Pengakuan klien saya, tidak pernah kenal dan memperkenalkan diri sebagai penasihat hukumnya,” ulasnya.

Dijelaskan, dugaan adanya tanda tangan penasihat hukum fiktif di BAP menguat JPU tidak mampu menghadirkan sang penasihat hukum. Padahal, majelis hakim minta penasihat hukum yang tanda tangan tersebut dihadirkan ke persidangan untuk memberikan keterangan secara verbal. Dia semakin yakin kliennya bakal divonis ringan.

”Perusahaan ekspedisi tempat klien saya bekerja tidak ikut campur, ada apa? Semestinya kan harus ada pertanggungjawaban juga dari perusahaan, tempat klien saya bekerja,” sesalnya.

Baca Juga :  FKRT Laporkan Oknum Aparat Desa Tapaan Ke Kejaksaan, Ini Pemicunya

Hasan berharap majelis hakim menjatuhkan vonis dengan mempertimbangkan fakta-fakta persidangan dan menggunakan hati nurani. Menurut dia, tuntutan JPU dinilai terlalu berat. ”Harapan kami, divonis ringan. Sebab, benar-benar tidak tahu dan merasa tidak memiliki barang itu (narkoba, Red),” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Ahmad Sakur, warga Dusun Karang, Desa Maneron, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, ditangkap BNN Jatim di Jalan Raya Banyuates pada Rabu (7/8/2019). Saat itu, Ahmad Sakur sedang mengemudi mobil boks milik salah satu perusahaan ekspedisi. Setelah digeledah, di dalam mobil boks ditemukan narkoba jenis SS seberat 19 kilogram.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/