alexametrics
21.3 C
Madura
Friday, May 20, 2022

Disdag Tak Sanksi Penjual Rokok Bodong

PAMEKASAN – Peredaran rokok ilegal di Bangkalan masih marak. Barang tanpa cukai tersebut masih banyak beredar di sejumlah toko. Namun, belum ada penindakan tegas dari pemerintah. Dengan demikian, pedagang cukup lenggang untuk bisa menjual rokok bodong di Kota Salak.

Bebasnya peredaran rokok ilegal diakui Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bangkalan Budi Utomo. Pihaknya hanya melakukan sosialisasi. Belum ada penindakan berupa menyita barang dagangan. ”Sosialisasi kepada pedagang dan juga konsumen agar tidak membeli rokok dengan kemasan palsu atau tanpa cukai,” ucapnya kemarin (20/12).

Beberapa hari lalu disdag telah melaksanakan kegiatan sosialisasi larangan dan pemantauan langsung peredaran rokok ilegal. Cara itu diakui belum maksimal untuk menghentikan peredaran rokok bodong.

”Hasilnya memang belum bisa dirasakan secara maksimal. Kami sosialisasi ke kecamatan-kecamatan. Kami juga melaksanakan pemantauan ke berbagai pasar yang ada di Bangkalan,” jelas mantan kepala Dinas Perikanan Bangkalan itu kepada.

Baca Juga :  Kantor Bea Cukai Permudah Pengawasan Peredaran Rokok Ilegal

Jika memang banyak rokok tanpa cukai di pertokoan, pihaknya tidak melakukan sanksi. Hanya sebatas mengambil sampel jenis atau merek. Pedagang hanya diberikan imbauan agar tidak menjual rokok ilegal kembali. ”Kami pasang stiker larangan menjual rokok ilegal,” ucapnya.

Harga berbagai sampel rokok ilegal yang dikumpulkan dijual kisaran Rp 3 ribu sampai Rp 6 ribu. Ada 17 merek rokok yang diamankan sebagai sampel. Perlu sinergi semua pihak untuk langsung menutup pabrik rokok ilegal tersebut.

”Yang perlu ditindak itu produsennya. Di Bangkalan tidak ada produsen rokok seperti itu. Apalagi tidak ada petani yang menanam tembakau. Berarti rokok ini dari luar Bangkalan,” ujarnya.

Jika masih beredar, lanjut Budi, pihaknya akan memberlakukan sanksi kepada pedagang. Namun, tidak dengan mengambil semua rokok ilegal yang dijual. Hanya beberapa sampel yang akan diambil agar jera. ”Repot juga. Mau diambil semua, kasihan. Karena mereka pasti membeli juga,” tuturnya.

Baca Juga :  Gerebek Tersangka Penyekapan, Polisi Dilempari Bondet

Anggota Komisi B DPRD Bangkalan M. Husni Syakur menuding pemerintah belum maksimal mengawasi peredaran rokok ilegal. Menurut dia, rokok tanpa bea cukai ini masih marak beredar di masyarakat. ”Terkesan dibiarkan. Belum ada aksi sama sekali. Kami masih sering menemukan beredar di masyarakat,” ucapnya.

Menurut Husni, pelaku peredaran rokok ilegal masuk dalam kategori tindak pidana. Rokok ilegal bisa merugikan bagi masyarakat dan pemerintah karena melanggar peraturan. ”Kami sangat mengecam dengan perilaku peredaran rokok ilegal ini. Jelas melanggar hukum,” tandasnya.

- Advertisement -

PAMEKASAN – Peredaran rokok ilegal di Bangkalan masih marak. Barang tanpa cukai tersebut masih banyak beredar di sejumlah toko. Namun, belum ada penindakan tegas dari pemerintah. Dengan demikian, pedagang cukup lenggang untuk bisa menjual rokok bodong di Kota Salak.

Bebasnya peredaran rokok ilegal diakui Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bangkalan Budi Utomo. Pihaknya hanya melakukan sosialisasi. Belum ada penindakan berupa menyita barang dagangan. ”Sosialisasi kepada pedagang dan juga konsumen agar tidak membeli rokok dengan kemasan palsu atau tanpa cukai,” ucapnya kemarin (20/12).

Beberapa hari lalu disdag telah melaksanakan kegiatan sosialisasi larangan dan pemantauan langsung peredaran rokok ilegal. Cara itu diakui belum maksimal untuk menghentikan peredaran rokok bodong.


”Hasilnya memang belum bisa dirasakan secara maksimal. Kami sosialisasi ke kecamatan-kecamatan. Kami juga melaksanakan pemantauan ke berbagai pasar yang ada di Bangkalan,” jelas mantan kepala Dinas Perikanan Bangkalan itu kepada.

Baca Juga :  Bawa Celurit, Ditangkap Polisi

Jika memang banyak rokok tanpa cukai di pertokoan, pihaknya tidak melakukan sanksi. Hanya sebatas mengambil sampel jenis atau merek. Pedagang hanya diberikan imbauan agar tidak menjual rokok ilegal kembali. ”Kami pasang stiker larangan menjual rokok ilegal,” ucapnya.

Harga berbagai sampel rokok ilegal yang dikumpulkan dijual kisaran Rp 3 ribu sampai Rp 6 ribu. Ada 17 merek rokok yang diamankan sebagai sampel. Perlu sinergi semua pihak untuk langsung menutup pabrik rokok ilegal tersebut.

”Yang perlu ditindak itu produsennya. Di Bangkalan tidak ada produsen rokok seperti itu. Apalagi tidak ada petani yang menanam tembakau. Berarti rokok ini dari luar Bangkalan,” ujarnya.

Jika masih beredar, lanjut Budi, pihaknya akan memberlakukan sanksi kepada pedagang. Namun, tidak dengan mengambil semua rokok ilegal yang dijual. Hanya beberapa sampel yang akan diambil agar jera. ”Repot juga. Mau diambil semua, kasihan. Karena mereka pasti membeli juga,” tuturnya.

Baca Juga :  Kapolres Sumenep Perintahkan Tembak Debt Collector

Anggota Komisi B DPRD Bangkalan M. Husni Syakur menuding pemerintah belum maksimal mengawasi peredaran rokok ilegal. Menurut dia, rokok tanpa bea cukai ini masih marak beredar di masyarakat. ”Terkesan dibiarkan. Belum ada aksi sama sekali. Kami masih sering menemukan beredar di masyarakat,” ucapnya.

Menurut Husni, pelaku peredaran rokok ilegal masuk dalam kategori tindak pidana. Rokok ilegal bisa merugikan bagi masyarakat dan pemerintah karena melanggar peraturan. ”Kami sangat mengecam dengan perilaku peredaran rokok ilegal ini. Jelas melanggar hukum,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/