alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Berkedok Seminar, Guru Tertipu Nomor Kepala Madrasah

PAMEKASAN – Penipu tidak hanya menyasar orang tidak berpendidikan. Guru madrasah juga menjadi korban mereka untuk meraup keuntungan. Modus yang dilakukan juga terbilang cerdik.

Salah satu guru korban penipuan itu adalah Abdussukur. Pria 34 tahun asal warga Kecamatan Pakong itu mengajar di sebuah madrasah di Kecamatan Palengaan. Minggu (17/9) dia mendapatkan kiriman pesan singkat dari nomor 082380388025. Nomor tersebut mengatasnamakan kepala sekolah tempat dia mengajar.

Isi SMS itu menganjurkan agar Sukur menghubungi panitia seminar nasional ke nomor 085280919343. Nomor tersebut diakui sebagai direktorat pendidikan madrasah kemenag. Sebelum menghubungi nomor tersebut, dia mencoba menelepon kepala sekolah di nomor yang biasa digunakan.

Pada upaya tersebut tidak tersambung. Padahal pengakuan pemilik nomor saat itu sedang aktif. ”Sehingga saat itu saya mengira bahwa nomor Telkomsel yang mengirim SMS adalah nomor kepala madrasah,” terangnya Selasa (19/9).

Baca Juga :  Mantan Anggota DPRD Mengaku Gelapkan Mobdin Di Depan Majelis Hakim

Karena itu, Sukur menghubungi nomor yang disebut panitia seminar. Melalui sambungan telepon itu, si pelaku menyuruh Sukur ke anjungan tunai mandiri (ATM) untuk pencairan uang akomodasi. Sebab pembiayaan seminar itu dikatakan ditanggung kementerian.

”Ketika saya ke ATM, lalu dipandu untuk menekan nomor. Keluarlah bukti transfer. Saat itulah saya sadar bahwa itu adalah penipuan,” terangnya.

Sukur heran karena pelaku mengetahui nama madrasah, nama kepala madrasah, dan alamat secara jelas. Begitu juga nama dirinya dan sebagai guru yang mengajar dalam bidang tertentu.

”Pada hari yang bersamaan banyak guru lain yang mendapatkan SMS sama. Ini kok bisa tahu? Mendapatkan nomor dari mana dan alamat profilnya dari mana?” keluh pria yang mentransfer Rp 1.250.000 itu.

Senin (18/9), Sukur kemudian melapor ke polisi dan salah satu bank. Menurut dia, modus penipuan seperti itu menghantui masyarakat Pamekasan. ”Saya yakin uang itu sulit untuk bisa kembali. Setidaknya dengan laporan dan media ini, tidak ada korban berikutnya,” terangnya.

Baca Juga :  Gelar Patroli Kewilayahan, Polsek Kwanyar Sergap Pemuda yang Simpan SS

Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Syamsuri meminta kemenag tidak diam. Lembaga tersebut harus memberikan sosialisasi dan arahan agar tidak ada lagi korban. ”Sepengetahuan saya, sebelumnya juga sudah ada guru yang menjadi korban dengan modus sama. Uang yang ditransfer hampir Rp 10 juta,” terangnya.

Dia meminta data profil lembaga yang mungkin dikirim ke kemang betul-betul diamankan. Data tersebut tidak boleh bocor, sehingga memberi rasa aman dan nyaman kepada lembaga. ”Saya kira itu bisa terjadi karena ada data yang bocor. Kemungkinan, ketika mengirim data-data lewat internet,” terangnya.

PAMEKASAN – Penipu tidak hanya menyasar orang tidak berpendidikan. Guru madrasah juga menjadi korban mereka untuk meraup keuntungan. Modus yang dilakukan juga terbilang cerdik.

Salah satu guru korban penipuan itu adalah Abdussukur. Pria 34 tahun asal warga Kecamatan Pakong itu mengajar di sebuah madrasah di Kecamatan Palengaan. Minggu (17/9) dia mendapatkan kiriman pesan singkat dari nomor 082380388025. Nomor tersebut mengatasnamakan kepala sekolah tempat dia mengajar.

Isi SMS itu menganjurkan agar Sukur menghubungi panitia seminar nasional ke nomor 085280919343. Nomor tersebut diakui sebagai direktorat pendidikan madrasah kemenag. Sebelum menghubungi nomor tersebut, dia mencoba menelepon kepala sekolah di nomor yang biasa digunakan.

Pada upaya tersebut tidak tersambung. Padahal pengakuan pemilik nomor saat itu sedang aktif. ”Sehingga saat itu saya mengira bahwa nomor Telkomsel yang mengirim SMS adalah nomor kepala madrasah,” terangnya Selasa (19/9).

Baca Juga :  Berkas Perkara Penganiayaan Dilimpahkan ke Kejari

Karena itu, Sukur menghubungi nomor yang disebut panitia seminar. Melalui sambungan telepon itu, si pelaku menyuruh Sukur ke anjungan tunai mandiri (ATM) untuk pencairan uang akomodasi. Sebab pembiayaan seminar itu dikatakan ditanggung kementerian.

”Ketika saya ke ATM, lalu dipandu untuk menekan nomor. Keluarlah bukti transfer. Saat itulah saya sadar bahwa itu adalah penipuan,” terangnya.

Sukur heran karena pelaku mengetahui nama madrasah, nama kepala madrasah, dan alamat secara jelas. Begitu juga nama dirinya dan sebagai guru yang mengajar dalam bidang tertentu.

”Pada hari yang bersamaan banyak guru lain yang mendapatkan SMS sama. Ini kok bisa tahu? Mendapatkan nomor dari mana dan alamat profilnya dari mana?” keluh pria yang mentransfer Rp 1.250.000 itu.

Senin (18/9), Sukur kemudian melapor ke polisi dan salah satu bank. Menurut dia, modus penipuan seperti itu menghantui masyarakat Pamekasan. ”Saya yakin uang itu sulit untuk bisa kembali. Setidaknya dengan laporan dan media ini, tidak ada korban berikutnya,” terangnya.

Baca Juga :  Gelar Patroli Kewilayahan, Polsek Kwanyar Sergap Pemuda yang Simpan SS

Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Syamsuri meminta kemenag tidak diam. Lembaga tersebut harus memberikan sosialisasi dan arahan agar tidak ada lagi korban. ”Sepengetahuan saya, sebelumnya juga sudah ada guru yang menjadi korban dengan modus sama. Uang yang ditransfer hampir Rp 10 juta,” terangnya.

Dia meminta data profil lembaga yang mungkin dikirim ke kemang betul-betul diamankan. Data tersebut tidak boleh bocor, sehingga memberi rasa aman dan nyaman kepada lembaga. ”Saya kira itu bisa terjadi karena ada data yang bocor. Kemungkinan, ketika mengirim data-data lewat internet,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/