alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Penembak saat Pemilu Diganjar 8 Tahun

SAMPANG – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sampang menjatuhkan vonis delapan tahun kepada Muarah kemarin (17/10). Pria 44 tahun asal Desa/Kecamatan Banyuates itu dinyatakan melakukan tindak pidana penganiayaan serta memiliki senpi dan amunisi.

Sidang dipimpin Ketua PN Sampang Irianto Prijatna Utama. Sidang vonis dilaksanakan secara terbuka untuk umum. Namun, dijaga ketat aparat kepolisian. Empat orang dari keluarga terdakwa hadir dan mengikuti sidang hingga selesai.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Anton Zulkarnaen mengatakan, majelis hakim sebenarnya sepakat dengan tuntutannya. Bahwa, terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan serta memiliki senjata api (senpi) dan amunisi.

Namun, majelis hakim tidak bersepakat atas tuntutan hukuman pidana 15 tahun. Majelis hakim memutus perkara pidana kasus tersebut 8 tahun penjara. ”Lebih rendah tujuh tahun dari tuntutan kami,” katanya.

Terdakwa terbukti melanggar pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan serta pasal 1 ayat 1 UU Darurat 12/1951. Seluruh barang bukti atas pasal yang digunakan untuk menuntut terdakwa sudah diserahkan ke pengadilan.

Baca Juga :  Setelah Berulang Kali Tertunda, PN Sampang Kini Punya Ketua Lebih Muda

”Kami akan pikir-pikir dulu. Kami diberi waktu tujuh hari ke depan oleh majelis hakim untuk memutuskan apakah menerima atau tidak,” imbuhnya.

Sementara itu, Irianto Prijatna Utama mengatakan, vonis 8 tahun itu mengacu terhadap fakta di persidangan dan alat bukti. ”Kami beri waktu untuk pikir-pikir selama tujuh hari terhitung mulai besok kepada jaksa penuntut umum dan penasihat hukum terdakwa,” singkatnya.

Muarah selaku terdakwa saat diwawancarai usai menjalani sidang vonis atas perbuatannya mengatakan akan pikir-pikir dulu. Namun, dia mengatakan, kemungkinan besar akan melakukan banding. ”Saya akan pikir dulu. Insyaallah banding,” ucapnya.

Perkara ini bermula saat pemilihan umum (pemilu) di Desa Tapaan, Kecamatan Banyuates, Sampang, diwarnai keributan Rabu (17/4). Sekitar pukul 10.15, seorang simpatisan salah satu calon DPRD Sampang tertembak. Lokasinya tak jauh dari tempat pemungutan suara (TPS) 08.

Baca Juga :  Transaksi Sabu-sabu 117 Gram Berhasil Digagalkan

Insiden tersebut bermula saat Muarah bersama rekan-rekannya mengintimidasi dan mencoba merebut mandat saksi Moh. Farfar di sejumlah TPS Desa Tapaan. Kejadian itu lalu disampaikan kepada tim dan keluarga Farfar.

Mereka dikomando Moh. Wijdan, yang tak lain adalah keponakan Farfar, langsung mendatangi lokasi. Kedatangan Wijdan ke lokasi untuk mengklarifikasi terhadap tindakan Muarah. Sebab, berdasarkan laporan saksi, yang melakukan intimidasi dan mau merebut mandat saksi adalah Muarah.

Wijdan bertemu Muarah di tengah jalan. Muarah kemudian mengeluarkan senjata api (senpi) dan ditembakkan kepada Wijdan. Tapi, tembakannya meleset. Peluru malah mengenai pergelangan tangan kanan Mansur, simpatisan Farfar. Mansur merupakan warga Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang.

SAMPANG – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sampang menjatuhkan vonis delapan tahun kepada Muarah kemarin (17/10). Pria 44 tahun asal Desa/Kecamatan Banyuates itu dinyatakan melakukan tindak pidana penganiayaan serta memiliki senpi dan amunisi.

Sidang dipimpin Ketua PN Sampang Irianto Prijatna Utama. Sidang vonis dilaksanakan secara terbuka untuk umum. Namun, dijaga ketat aparat kepolisian. Empat orang dari keluarga terdakwa hadir dan mengikuti sidang hingga selesai.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Anton Zulkarnaen mengatakan, majelis hakim sebenarnya sepakat dengan tuntutannya. Bahwa, terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan serta memiliki senjata api (senpi) dan amunisi.


Namun, majelis hakim tidak bersepakat atas tuntutan hukuman pidana 15 tahun. Majelis hakim memutus perkara pidana kasus tersebut 8 tahun penjara. ”Lebih rendah tujuh tahun dari tuntutan kami,” katanya.

Terdakwa terbukti melanggar pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan serta pasal 1 ayat 1 UU Darurat 12/1951. Seluruh barang bukti atas pasal yang digunakan untuk menuntut terdakwa sudah diserahkan ke pengadilan.

Baca Juga :  Abaikan SK, Bakal Lawan Bupati di Pengadilan

”Kami akan pikir-pikir dulu. Kami diberi waktu tujuh hari ke depan oleh majelis hakim untuk memutuskan apakah menerima atau tidak,” imbuhnya.

Sementara itu, Irianto Prijatna Utama mengatakan, vonis 8 tahun itu mengacu terhadap fakta di persidangan dan alat bukti. ”Kami beri waktu untuk pikir-pikir selama tujuh hari terhitung mulai besok kepada jaksa penuntut umum dan penasihat hukum terdakwa,” singkatnya.

Muarah selaku terdakwa saat diwawancarai usai menjalani sidang vonis atas perbuatannya mengatakan akan pikir-pikir dulu. Namun, dia mengatakan, kemungkinan besar akan melakukan banding. ”Saya akan pikir dulu. Insyaallah banding,” ucapnya.

Perkara ini bermula saat pemilihan umum (pemilu) di Desa Tapaan, Kecamatan Banyuates, Sampang, diwarnai keributan Rabu (17/4). Sekitar pukul 10.15, seorang simpatisan salah satu calon DPRD Sampang tertembak. Lokasinya tak jauh dari tempat pemungutan suara (TPS) 08.

Baca Juga :  Pengungkapan Narkoba Berkutat di Pengguna

Insiden tersebut bermula saat Muarah bersama rekan-rekannya mengintimidasi dan mencoba merebut mandat saksi Moh. Farfar di sejumlah TPS Desa Tapaan. Kejadian itu lalu disampaikan kepada tim dan keluarga Farfar.

Mereka dikomando Moh. Wijdan, yang tak lain adalah keponakan Farfar, langsung mendatangi lokasi. Kedatangan Wijdan ke lokasi untuk mengklarifikasi terhadap tindakan Muarah. Sebab, berdasarkan laporan saksi, yang melakukan intimidasi dan mau merebut mandat saksi adalah Muarah.

Wijdan bertemu Muarah di tengah jalan. Muarah kemudian mengeluarkan senjata api (senpi) dan ditembakkan kepada Wijdan. Tapi, tembakannya meleset. Peluru malah mengenai pergelangan tangan kanan Mansur, simpatisan Farfar. Mansur merupakan warga Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/